2 Bulan sebelumnya
“Bagaimana bisa ada yang tega melakukan ini.” Seorang laki-laki tinggi tegap menggelengkan kepalanya heran. Laki-laki 32 tahun itu tidak habis fikir akan hal yang disaksikannya.
“Menurutmu, kenapa payung ini menutupi wajah korban?” Tanya laki-laki berperut buncit disebelahnya. Namun yang ditanya hanya memandang sesuatu di depannya tanpa kata.
“Bram?” Panggil laki-laki buncit tersebut. “Kau masih belum terbiasa? Ini bukan pertama kalinya kita melihat mayat korban pembunuhan.” Bram tersentak, dan menoleh ke arah rekannya, Toni, yang lebih tua beberapa tahun darinya.
“Sepertinya, sesering apapun aku menyaksikan hal seperti ini, aku tidak akan pernah bisa terbiasa. Manusia memang setan yang sebenarnya.” Bram menggulung lengan jas hujannya dan memasang sarung tangan karet dengan tergesa-gesa. Agak sulit menggunakan sarung tangan di bawah guyuran air hujan.
“Anak ini kehabisan oksigen akibat jeratan di lehernya.” Kata seorang wanita berjas hujan putih, salah satu anggota tim forensik yang bertugas. Ia berusaha menjelaskan kepada Bram dan kawannya, yang tengah memeriksa leher korban.
“Dicekik dengan tali ya... Tapi melihat lebar bekas lukanya, sepertinya bukan tali biasa.” Bram mencoba menganalisa.
“Aku rasa dia dijerat semacam ikat pinggang. Kami harus segera membawanya untuk diperiksa lebih lanjut. Hujan ini gak membantu sama sekali.” Gerutu wanita tersebut sambil bergegas memanggil anggota lainnya untuk meminta bantuan memindahkan mayat korban. Dipungutnya payung merah yang tergeletak rapi memayungi wajah korban, kemudian membawanya.
Hujan deras mengguyur lahan persawahan pagi itu. Sesosok mayat ditemukan oleh petani yang hendak memeriksa keadaan tanamannya. Mayat seorang anak perempuan berumur sekitar 10 tahun, ditemukan dalam keadaan terlentang, mata terbelalak dan mulut ternganga, menandakan sebelum kematiannya, anak itu berusaha sekuat tenaga mencari udara untuk tetap bisa bernafas. Ia mengenakan dres kembang-kembang selutut yang kini sudah tidak lagi menawan. Rambutnya basah lepek terendam genangan air lumpur. Sebuah payung berwarna merah, terbuka disebelahnya, seolah sengaja ditaruh untuk melindungi mayat tersebut dari guyuran hujan yang memang turun sejak semalam.
Bram masih terus memperhatikan mayat anak perempuan itu, yang dimasukkan ke dalam kantung mayat dan digotong menuju ambulan. Kepalanya berdenyut. Memberi kabar kepada keluarga korban adalah salah satu hal terberat untuknya, karena Bram tau betul bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang berharga.
***
Seorang remaja laki-laki menangis sesenggukan di depan kamar mayat. Ingin sekali dia ikut masuk untuk melihat sosok adik perempuannya, tetapi kedua orangtuanya melarang. Entah untuk apa larangan itu diberikan, karena beridiri di luar sama menyakitkannya, bahkan lebih menyakitkan karena dia tak bisa melihat adiknya untuk terakhir kalinya. Tidak tahan lagi, remaja tersebut nekat mendorong pintu kamar mayat dan menyerbu masuk. Langkahnya pelan dan lunglai, dan semakin lemas ketika melihat sosok mungil putih pucat yang terbaring di meja stainless yang dingin.
Rena, adik perempuannya yang baru berusia 10 tahun, ditemukan meninggal di tengah persawahan. Rena, adik perempuannya yang cantik, yang selalu mengganggunya dan mengajaknya bermain, meninggal dengan tragis. Kenapa? Apa yang telah dilakukannya sehingga pantas untuk mati? Kesalahan apa yang bisa dilakukan oleh anak umur 10 tahun? Manusia macam apa yang menghukum seorang anak perempuan dengan cara sekejam ini??
Raffa, remaja kelas XII SMA itu, mengenggam tangan dingin adik kecilnya. Ibu dan ayahnya merangkulnya, berusaha menguatkan. Kedua orang tuanya tau betul bahwa Raffa sangat menyayangi anak perempuan mereka. Ayah Raffa bekerja di salah satu bank swasta, dan Ibunya adalah konsultan, yang tentu saja membuat keduanya jarang berada di rumah.
“Maafin Mama ya, Bang. Ini semua salah Mama. Harusnya Mama tetap di rumah menjaga kalian.” Ibu Raffa merengek memeluk anak sulungnya, sementara sang Ayah tak bisa berkata-kata melihat putri mungil semata wayangnya telah terbujur kaku.