Emilya mempercepat langkah menuju tempat yang lebih ramai. Bukan karena marah, melainkan karena gurauan Khairul membuat pipinya panas dan pikirannya bergerak ke mana-mana. Ia memilih jalan di sisi yang diterangi lampu dan menjauh dari gazebo bambu yang remang. Suara band lokal terdengar makin jelas, bercampur riuh pengunjung yang bercakap dan memesan makanan.
Khairul tidak mengejarnya dengan langkah cepat. Kaki kanannya masih terasa nyeri, jadi ia berjalan hati-hati. Ketika Emilya menoleh, ia melihat Khairul tertinggal beberapa langkah. Rasa malu yang tadi menguasai dirinya seketika berganti khawatir.
'Mas, jalannya pelan saja. Kaki Mas sakit.'
'Masih bisa jalan, Ukhti.'
'Bisa jalan bukan berarti harus dipaksa.' Emilya berhenti menunggu. 'Kalau memang harus pulang atau duduk dulu, bilang saja. Aku tidak akan menganggap Mas ingkar janji.'
Khairul tampak hendak membalas dengan candaan, tetapi akhirnya hanya mengangguk. 'Baik. Aku bilang kalau sakitnya tambah.'
Emilya memilih meja kosong di tepi area makan, cukup dekat dengan band tetapi tidak tepat di depan pengeras suara. Kursinya menghadap panggung kecil dan jalan setapak, sementara ada ruang di antara dirinya dan Khairul. Tempat itu terbuka, terang, dan tidak terlalu terpencil. Ia merasa napasnya lebih leluasa dibanding saat tadi berdiri di dekat gazebo.
Khairul menarik kursi dengan tangan, lalu menunggu sampai Emilya duduk lebih dulu. Ia tidak mengulurkan tangan untuk membantunya atau merapatkan kursinya. Hal kecil itu membuat Emilya sedikit lega. Ia belum tahu bagaimana seharusnya menjalani kencan pertama, tapi setidaknya ia tidak perlu menjelaskan setiap kali ingin menjaga jarak.
'Maaf soal gurauanku tadi,' kata Khairul setelah mereka duduk. Suaranya lebih rendah daripada saat bercanda di jalan. 'Aku cuma ingin mencairkan suasana. Tapi kalau membuatmu tidak nyaman, ya berarti aku salah memilih kata.'
Emilya memainkan ujung lengan jaketnya. 'Aku tahu Mas bercanda. Cuma aku memang gugup. Berboncengan saja sudah cukup membuatku kikuk, lalu Mas membahas tempat tertutup.'
'Paham.' Khairul mengangguk, tidak tertawa lagi. 'Kita di sini saja. Kalau kamu ingin pulang lebih awal, bilang. Aku tidak akan memaksa kita menghabiskan malam sampai selesai.'
Emilya mengangkat mata. 'Mas tidak tersinggung?'
'Kenapa harus tersinggung? Kamu sedang bilang apa yang membuatmu nyaman. Seharusnya aku mendengarkan.'
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi Emilya tidak langsung percaya sepenuhnya. Selama ini ia terbiasa mendengar orang dewasa mengatakan bahwa niat baik seharusnya cukup. Namun niat baik tidak selalu membuatnya merasa aman. Ia memilih menyimpan keraguan itu, bukan mengubahnya menjadi tuduhan pada orang yang baru dikenalnya.
Seorang pelayan datang membawa daftar menu. Emilya meminta waktu membaca, sementara Khairul memesan minuman hangat untuk dirinya dan air mineral untuk Emilya. Ia sempat hendak menambahkan makanan, lalu berhenti dan bertanya apakah Emilya ingin memesan sendiri. Emilya mengangguk dan memilih makanan ringan yang bisa mereka bagi.
'Mas tidak perlu terus minta izin untuk setiap hal,' katanya saat daftar menu ditutup. 'Tapi soal tempat tadi memang penting.'
'Baik. Aku belajar membedakannya.' Khairul tersenyum kecil. 'Kalau aku keliru lagi, bilang saja. Jangan merasa harus menahan cuma supaya suasana tetap enak.'
Emilya tidak menjawab langsung. Ia mendengar penyanyi di panggung membawakan lagu lama, sementara suara gitar kadang tertutup obrolan meja sekitar. Untuk pertama kalinya malam itu, ia bisa menatap sekeliling tanpa merasa semua orang sedang memperhatikan mereka.
'Di sini lebih nyaman,' katanya akhirnya.
'Syukurlah.' Khairul memandang tempat duduknya sendiri, seolah memastikan tidak terlalu dekat. 'Kalau begitu kita tetap di sini.'
Makanan datang. Mereka membagi piring tanpa membuatnya menjadi momen yang terlalu intim. Emilya mengambil bagian lebih dulu, lalu Khairul menyusul. Ia melihat Khairul sedikit menahan berat tubuh di kaki kiri, tetapi lelaki itu berusaha menyembunyikannya. Emilya tidak ingin menjadikan rasa sakitnya alasan untuk mengendalikan malam. Ia hanya bertanya sekali, dan Khairul menjawab bahwa ia masih sanggup duduk.
Band memainkan lagu berikutnya. Khairul bercerita singkat tentang latihan hadrah yang harus ia siapkan, lalu berhenti ketika menyadari Emilya menatap panggung. Ia tidak menuntut perhatian penuh. Emilya menghargai itu, walau ia belum tahu apakah diam mereka terasa canggung atau justru menenangkan.
Kencan itu baru dimulai, pikir Emilya. Ia belum harus memutuskan apakah Khairul cocok menjadi bagian dari masa depannya. Malam ini cukup baginya untuk melihat apakah ia bisa mengatakan tidak nyaman tanpa dihukum oleh perubahan sikap. Untuk sementara, Khairul menerima batas yang ia ucapkan.
Emilya memandang panggung kecil ketika lagu selesai. Tepuk tangan terdengar menyebar di antara meja-meja. Beberapa orang bersiul, sebagian lain tetap sibuk dengan makanan. Ia menyukai suasana semacam itu: ramai secukupnya, tetapi tidak menuntut siapa pun menjadi pusat perhatian.
'Mas sering datang ke sini?' tanyanya.
'Tidak sering. Biasanya kalau ada urusan atau diajak teman.'
'Berarti Mas juga tidak hafal tempat makan yang enak.'
'Kalau begitu reputasiku sebagai pemandu malam ini langsung turun.'
'Dari awal aku tidak mengira Mas pemandu profesional.'
Khairul tertawa pelan. 'Bagus. Ekspektasinya rendah, jadi peluang mengecewakan juga kecil.'
Emilya tersenyum. Percakapan ringan itu membantu mengurai gugupnya. Ia tidak harus menjelaskan semua yang ada di pikirannya, dan Khairul tidak mengubah setiap jawaban menjadi tanda bahwa ia menyukai atau menolak lelaki itu. Mereka hanya duduk, menikmati makanan, dan sesekali memperhatikan band.
Seorang anak kecil berlari melewati meja mereka, dikejar ibunya sambil meminta maaf kepada pengunjung. Emilya menggeser gelas agar tidak tersenggol. Khairul ikut menahan piring. Gerakan mereka bersamaan, lalu keduanya saling pandang sebentar.
'Kerja sama pertama kita,' ujar Khairul.
'Baru menyelamatkan piring.'
'Semua hal besar dimulai dari sesuatu yang kecil.'
'Jangan mulai membuat puisi.'
Khairul mengangkat kedua tangan, menyerah. 'Baik. Puisinya kusimpan.'
Emilya merasa pipinya kembali hangat, tetapi kali ini bukan karena takut. Ia tetap menyadari mereka baru mulai mengenal satu sama lain. Rasa nyaman sesaat bukan janji, dan ia tidak ingin mempercepat maknanya. Ia membiarkan malam berjalan pelan, sesuai batas yang tadi ia ucapkan.
Lagu di panggung berganti menjadi irama yang lebih cepat. Beberapa pengunjung berdiri mendekat untuk ikut bertepuk tangan, sedangkan Emilya tetap duduk di kursinya. Ia sempat menoleh ke arah gazebo yang mereka tinggalkan. Dari meja itu, tempat tersebut tampak semakin gelap dibanding area makan.
'Mas memang lebih suka duduk di sana?' tanyanya.
'Awalnya kupikir pemandangannya lebih enak. Tapi kalau kamu kurang nyaman, tidak perlu dipaksakan.'
'Bukan cuma karena gelap. Aku belum biasa pergi berdua seperti ini.'
Khairul memutar gelasnya perlahan. 'Terima kasih sudah bilang. Aku juga belum sering mengajak seseorang keluar dengan niat mengenal lebih dekat. Jadi mungkin sama-sama kikuk.'
Emilya menahan tawa. 'Mas kelihatannya tidak kikuk. Dari tadi banyak bicara.'
'Banyak bicara bukan berarti tidak gugup. Kadang justru karena gugup, mulut jadi jalan sendiri.' Ia tersenyum, lalu cepat-cepat menambahkan, 'Tapi kalau terlalu ramai, bilang juga.'
Kali ini Emilya tertawa kecil. Khairul tidak berusaha menariknya mendekat atau meminta ia menatapnya terus. Ia membiarkan percakapan berpindah dari satu hal ke hal lain. Mereka membicarakan suara band, makanan, dan betapa sulitnya menemukan tempat yang tidak terlalu bising di sekitar pantai.
Di sela percakapan, Khairul kembali menggeser posisi duduknya. Raut wajahnya sedikit berubah. Emilya melihatnya dan meletakkan gelas.
'Kakinya tambah sakit?'
'Sedikit. Sepertinya karena tadi berjalan agak jauh.'
'Kita bisa pulang.'
'Aku tidak mau membuatmu kecewa. Kamu sudah bersiap dan kita baru duduk sebentar.'
'Mas, aku yang memutuskan apakah aku kecewa. Kalau kaki Mas sakit, kita pulang saja.' Emilya berusaha menjaga suaranya tetap tenang. 'Aku tidak akan menilai kencan ini dari berapa lama kita duduk.'