Khairul diam sejenak, tampak menerima bahwa kali ini jawabannya tidak bisa berupa candaan. 'Kalau kita istirahat sepuluh menit, lalu pulang, bagaimana?'
'Boleh. Tapi kalau makin sakit, kita langsung pulang.'
'Setuju.'
Emilya merasa lega karena mereka membuat kesepakatan jelas. Ia tidak ingin mengulang kebiasaan menerima sesuatu hanya untuk membuat orang lain senang. Malam ini ia sedang mencoba hadir sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai tokoh yang harus selalu menyenangkan lawan bicara.
Khairul mengajukan pertanyaan tentang pekerjaannya menulis. Ia tahu Emilya menulis novel, tetapi tidak meminta ia menceritakan bagian yang belum ingin dibagikan. Emilya menjelaskan bahwa ia sedang mengurus kontrak dan menyusun beberapa rencana setelah Lebaran. Ada target menulis yang mesti ia selesaikan, juga pemasukan yang masih harus ditunggu.
'Bagaimana Mas menyempatkan menulis di sela mengajar?' tanya Emilya.
'Biasanya malam atau waktu senggang. Mengajar tetap pekerjaan utamaku, dan latihan hadrah juga punya jadwal sendiri.'
Emilya mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh soal penghasilan, karena belum merasa perlu mengukur seseorang dari angka. Yang ia ingin tahu justru apakah Khairul menganggap pekerjaannya nyata atau hanya hobi.
'Banyak orang menganggap menulis itu sekadar main ponsel,' katanya. 'Padahal ada tenggat, kontrak, revisi, dan kadang pembayaran yang mundur.'
'Kalau itu pekerjaanmu, aku harus menghormati waktunya. Aku mungkin tidak paham semua prosesnya, tapi bisa belajar.'
'Jangan buru-buru bilang bisa memahami. Nanti kalau jadwalku berantakan, Mas baru tahu.'
'Kalau begitu, nanti aku bertanya dulu, bukan menyimpulkan.'
Emilya menatapnya beberapa detik. Kalimat itu membuatnya teringat bahwa ia belum menceritakan seluruh hal yang sedang dipikirkannya. Ia masih menyimpan rencana Surabaya rapat-rapat, termasuk rumah rekan penulis yang telah bersedia menampungnya. Ia tidak siap membicarakannya pada kencan pertama, dan Khairul tidak bertanya ke mana ia akan pergi setelah Lebaran.
Pelayan datang mengangkat piring kosong. Khairul membayar pesanannya setelah memastikan Emilya tidak keberatan. Emilya menawarkan membagi biaya, tetapi Khairul berkata ia yang mengajak dan tidak keberatan membayar malam itu. Ia tidak membuatnya terdengar seperti utang atau alasan untuk meminta balasan.
'Terima kasih,' kata Emilya. 'Lain kali kalau ada, kita bisa bergantian atau masing-masing.'
'Baik. Malam ini ajakanku, jadi aku yang bayar. Tidak ada kewajiban untuk malam berikutnya.'
Emilya tersenyum, kali ini lebih tulus. 'Bagus kalau Mas paham begitu.'
Mereka duduk sebentar lagi. Lagu di panggung berakhir, lalu pembawa acara mengumumkan jeda sebelum penampilan berikutnya. Khairul memeriksa kakinya dan mengaku rasa nyerinya belum reda. Emilya berdiri lebih dulu, tetapi tidak mengulurkan tangan tanpa diminta.
'Mas bisa berdiri sendiri?'
'Bisa. Terima kasih sudah tanya.'
Mereka berjalan kembali ke arah motor pelan-pelan. Emilya memilih sisi yang lebih rata dan terang. Khairul mengikutinya tanpa mengatakan bahwa ia berlebihan. Di jalan, Emilya mulai berpikir bahwa batas bukan sesuatu yang merusak suasana. Kadang batas justru membuatnya mampu tetap tinggal.
Mereka berhenti sejenak di dekat area parkir. Khairul ingin memastikan motornya tidak menghalangi kendaraan lain, sementara Emilya menunggu di bawah lampu. Kaki kanannya kembali terasa ngilu saat ia memindahkan tumpuan. Ia menggigit bibir menahan keluhan.
'Duduk sebentar saja,' kata Emilya.
'Tidak apa-apa. Tinggal naik motor.'
'Mas tadi setuju bilang kalau tambah sakit. Sekarang kelihatan tambah sakit.'
Khairul menghela napas, lalu duduk di bangku beton dekat parkiran. 'Benar. Aku agak sulit menepati kesepakatan sendiri.'
'Bukan cuma Mas. Banyak orang begitu.' Emilya ikut duduk dengan jarak yang nyaman. 'Tapi kalau kita sudah sepakat, setidaknya dicoba.'
Khairul menunduk menatap sepatunya. 'Sore tadi aku terpeleset saat turun dari undakan rumah. Kukira cuma keseleo ringan. Aku tidak bilang sebelum berangkat karena takut kamu minta membatalkan.'
Emilya memandangnya. 'Jadi Mas tahu aku mungkin membatalkan kalau tahu?'
'Iya.'
'Dan Mas tetap memilih tidak bilang?'
Khairul tampak menyadari bahwa jawaban jujurnya membuat posisinya kurang baik. 'Aku salah. Aku takut kecewa, lalu malah membuatmu tidak punya informasi untuk memilih. Seharusnya aku bilang sejak awal dan membiarkanmu memutuskan.'
Emilya tak langsung membalas. Ia merasa ada dua sisi dalam dirinya yang berdebat. Satu sisi ingin mengatakan bahwa itu bukan masalah besar. Sisi lain mengingatkannya bahwa ia ingin mengenal Khairul sebagai orang yang bisa menghormati keputusan, bukan sekadar menyenangkan pada saat-saat mudah.
'Aku senang Mas jujur sekarang,' ujarnya. 'Tapi jangan sembunyikan hal penting hanya karena takut aku tidak setuju. Aku lebih nyaman membuat keputusan sendiri daripada diberi kejutan.'
'Baik. Aku minta maaf.'
'Mas tidak harus minta maaf berkali-kali. Yang penting lain kali bilang.'
Khairul mengangguk. Mereka duduk sampai nyeri di kaki itu sedikit reda. Suara band di kejauhan kini terdengar seperti latar, bukan sesuatu yang harus mereka ikuti. Emilya merasakan suasana lebih tenang ketika tidak ada tuntutan untuk mengisi setiap jeda dengan kata-kata.
'Mas suka lagu-lagu begini?' tanyanya.
'Kadang. Aku tidak hafal semuanya. Kalau lagu hadrah, aku lebih hafal karena sering latihan.'
'Mas melatih hadrah santriwati, kan?'
'Ya. Anak-anak sedang menyiapkan penampilan. Aku juga mengajar di sekolah. Jadwalnya kadang bertabrakan, tapi masih bisa diatur.'
Emilya mengangguk. Ia teringat cerita Elisa tentang pekerjaan Khairul, tetapi tidak ingin menjadikan malam ini wawancara. 'Kalau banyak kegiatan, kapan Mas istirahat?'
'Biasanya kalau sudah terlalu capek.'
'Itu bukan jadwal istirahat. Itu badan yang sudah protes.'
Khairul tertawa. 'Benar juga. Mungkin perlu belajar mengatur waktu.'
'Mas tidak harus mengubah semuanya malam ini.'
'Aku tahu.' Ia melihat Emilya. 'Aku cuma menjawab pertanyaanmu.'
Jawaban itu membuat Emilya tersenyum. Ia menyukai bahwa Khairul tidak menjadikan percakapan sederhana sebagai janji besar. Mereka belum saling mengenal cukup dalam untuk membuat kesimpulan tentang hidup masing-masing.
Khairul lalu bertanya apakah Emilya sering datang ke pantai. Emilya menjawab jarang, sebab ia lebih sering tinggal di rumah menulis. Ia senang membayangkan perjalanan jauh, tetapi belum benar-benar menjalani hidup mandiri yang ia inginkan. Kalimat itu hampir membuatnya menyebut Surabaya, tetapi ia belum siap. Ia memilih mengatakan bahwa ada rencana selepas Lebaran yang masih menunggu urusan uang dan pekerjaan.
'Semoga lancar,' kata Khairul. 'Kalau kamu ingin cerita lebih banyak, aku dengar. Kalau belum, tidak apa-apa.'
'Belum malam ini.'
'Baik.'
Emilya menunggu apakah akan ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada. Khairul hanya mengangguk dan mengalihkan pandangan ke arah lampu-lampu di sekitar parkir. Ia tidak mengejar informasi yang sengaja Emilya tahan. Itu membuat Emilya merasa ia boleh menyimpan sebagian hidupnya sendiri.
Setelah beberapa menit, Khairul mencoba berdiri. Kali ini ia melakukannya dengan lebih hati-hati. Nyeri tetap ada, tapi ia mampu menapak tanpa meringis. Emilya memastikan ia stabil sebelum mereka berjalan ke motor.
'Kalau sakit, bilang. Aku tidak akan marah,' kata Emilya.
'Aku ingat.'
Khairul menyalakan motor, lalu menunggu Emilya memakai helm. Ia kembali mengingatkan agar Emilya duduk dengan nyaman, tanpa menyuruhnya memegang pinggangnya. Emilya memilih memegang besi di belakang jok seperti sebelumnya. Ia tahu itu mungkin tampak kaku, tetapi untuk malam pertama ia ingin mempertahankan jarak yang terasa aman.
Motor melaju pelan meninggalkan pantai. Tidak ada yang mengatakan kencan itu sempurna. Emilya pun tidak tahu apakah ia akan mau pergi lagi. Tetapi ia merasa lebih tenang karena beberapa kali ia berbicara jujur dan Khairul mendengarkan.