Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dibanding perjalanan berangkat. Khairul menurunkan kecepatan karena kakinya belum nyaman, sedangkan Emilya memandang jalan yang diterangi lampu kendaraan. Ia tidak merasa perlu mengisi setiap hening. Suara mesin dan angin malam cukup menjadi teman.
Ketika motor melewati jalan yang agak bergelombang, Khairul mengurangi kecepatan. Emilya menyadari ia berusaha menjaga agar kakinya tidak mendapat hentakan mendadak. Ia juga tidak berbelok ke jalan yang lebih gelap meski mungkin lebih sepi. Mereka melewati jalur yang sama saat berangkat.
'Terima kasih sudah tidak memaksa duduk di gazebo,' kata Emilya setelah beberapa saat.
'Aku memang seharusnya tidak memaksa.'
'Mas tidak memaksa. Aku hanya ingin Mas tahu kenapa aku memilih tempat ramai.'
'Aku senang kamu bilang. Jadi aku tidak perlu menebak-nebak.'
Emilya tersenyum kecil, walau Khairul tidak bisa melihatnya dari depan. Ia teringat betapa mudahnya ia menyusun dugaan sejak awal: Elisa sengaja menjodohkan mereka, Khairul pasti punya maksud tertentu, dan siapa pun yang membicarakan pernikahan berarti ingin menutup kebebasannya. Sebagian dugaan itu punya alasan, tetapi tak semuanya sudah terbukti.
Saat sampai di gang rumah Emilya, Khairul menepi pelan. Ia tidak masuk terlalu jauh sebelum Emilya memastikan tempat berhenti cukup terang. Lampu depan rumah menyala. Dari jendela, Emilya bisa melihat siluet keluarga Elisa masih bergerak di ruang tengah.
Khairul turun lebih dulu, lalu mematikan mesin. Ia berdiri dengan tumpuan hati-hati. Emilya membuka helm dan menyerahkannya. Tangannya hampir menyentuh tangan Khairul, tetapi ia menariknya sedikit dan meletakkan helm di jok.
'Mas bisa pulang sendiri?' tanyanya.
'Bisa. Nanti aku mengendarai pelan.'
'Kalau sakit tambah, jangan dipaksa. Besok periksa atau minta bantuan orang rumah.'
'Baik. Aku akan bilang ke keluargaku.'
Emilya mengangguk. Ia belum tahu apakah pertemuan berikutnya akan terjadi, jadi ia tidak mengatakan janji untuk bertemu lagi. Khairul pun tidak meminta kepastian. Ia hanya memastikan Emilya sudah sampai dengan selamat sebelum menyalakan motornya.
'Terima kasih untuk malam ini,' kata Khairul.
'Sama-sama. Terima kasih juga sudah mendengarkan soal tempat.'
'Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu tetap mau datang.'
Kalimat itu membuat Emilya terdiam sejenak. Ada banyak hal yang belum ia katakan. Ia masih merasa kesal karena Khairul membicarakan dirinya dengan Elisa dan membagikan potongan percakapan mereka. Malam ini ia sengaja tidak membuka persoalan itu, tetapi bukan berarti ia lupa.
'Mas,' panggilnya sebelum Khairul menaiki motor.
'Iya?'
Emilya meremas tali tasnya. 'Aku masih punya satu pertanyaan tentang chat yang Mas kirim ke Mbak Elisa.'
Senyum Khairul menghilang. Ia menurunkan kaki dari pijakan dan kembali menghadap Emilya. 'Tentang tangkapan layar itu?'
'Iya.'
'Aku bisa jelaskan. Tapi kalau kamu ingin membahasnya malam ini, aku akan dengar.'
Emilya menarik napas. 'Aku ingin tahu kenapa Mas merasa boleh mengirim percakapan kita.'
Khairul tidak segera menjawab. Ia tampak menimbang kata-katanya, sementara Emilya menunggu tanpa menarik pertanyaannya kembali. Malam itu ternyata belum benar-benar selesai.
Khairul menatap Emilya dengan wajah serius. Ia tidak mencoba menepis pertanyaan itu sebagai salah paham kecil. Kaki kanannya tetap terasa nyeri, tetapi kini perhatiannya tidak lagi tertuju ke sana.
'Aku memang mengirim tangkapan layar pada Elisa,' katanya. 'Aku tidak meminta izinmu dulu.'
'Kenapa?'
'Bu Elisa pernah meminta aku menyampaikan obrolan kita saat kamu menunjukkan penolakan,' jawab Khairul. 'Katanya ia bisa membantu memahami sikapmu. Aku menerima tawaran itu.'
'Lalu kenapa Mas mengirim tangkapan layar?'
'Aku bingung membaca beberapa jawabanmu. Aku memilih mengirim gambar percakapan sebagai konteks. Elisa tidak secara khusus meminta gambar, tapi aku melakukannya tanpa bertanya kepadamu. Itu keputusanku sendiri, bukan alasan untuk melempar kesalahan kepadanya.'
Emilya mendengarkan tanpa memotong. Ia sudah membaca beberapa gambar di ponsel Elisa, menyalinnya, lalu membacanya kembali. Di situ ada curhatnya, kisah yang dimintanya, dan pembicaraan tentang telepon yang dibalas dengan ketikan sebelum ia tertidur. Yang belum ia ketahui adalah seberapa banyak kiriman seluruhnya dan apakah ada orang lain yang menerima. Ia mencoba menanyakan hal-hal itu satu per satu.
'Mas mengirim semua chat kita?'
'Tidak semua. Beberapa bagian saja.'
'Berapa banyak?'
Khairul menunduk. 'Aku tidak menghitung. Ada lebih dari satu tangkapan layar. Aku seharusnya tidak melakukan itu tanpa bertanya.'
Emilya menghela napas. Ia merasa dadanya sesak, bukan karena terkejut, melainkan karena kekhawatiran yang sejak pagi ia tahan kini menjadi nyata. Ia membayangkan setiap candaan, kecemasan, dan kalimat yang ia tulis dalam keadaan santai telah berpindah ke layar orang lain.
'Mas tahu aku tidak suka orang membaca hal-hal pribadi,' katanya. 'Aku bahkan belum tahu apa yang Mas anggap pribadi.'
'Aku paham sekarang.'
'Bukan cuma sekarang. Aku ingin Mas mengerti bahwa minta bantuan tidak otomatis membuat chatku jadi milik orang lain.'
Khairul mengangguk. 'Kamu benar. Aku fokus pada niatku, bukan pada izinmu. Aku minta maaf.'
Emilya belum menjawab. Ia merasa satu permintaan maaf tidak cukup untuk menyelesaikan pertanyaan yang lebih besar: siapa yang menerima tangkapan layar itu? Apakah Elisa menunjukkannya kepada orang lain? Apakah percakapan itu dibaca rekan guru Khairul? Ia tidak ingin langsung menuduh, tetapi ia juga tidak mau mengecilkan kekhawatirannya sendiri.
'Selain Mbak Elisa, siapa yang melihat?'
'Setahuku hanya Elisa. Aku tidak mengirimnya ke grup atau rekan kerja.'
'Setahumu?'
'Aku tidak bisa menjamin apa yang Elisa lakukan setelah menerimanya. Aku tidak pernah memintanya menunjukkan ke orang lain. Tapi aku juga tidak berhak berasumsi dia pasti menyimpannya sendiri tanpa bertanya.'
Jawaban itu sedikit menenangkan sekaligus menyisakan ketidakpastian. Emilya menghargai bahwa Khairul tidak mengarang kepastian, tetapi ia belum siap menganggap semuanya selesai.
'Aku perlu waktu untuk memikirkan ini,' katanya.
'Tentu. Kamu tidak perlu memutuskan apa pun malam ini.'
'Aku juga belum tahu apakah aku mau bertemu lagi.'
Khairul menarik napas pelan. 'Aku mengerti. Aku tidak akan mengejar jawaban sekarang.'
Emilya mengangguk. Di balik jendela, suara keluarga Elisa terdengar samar. Ia tidak ingin membangunkan mereka atau membuat percakapan ini menjadi tontonan. Ia hanya ingin memastikan bahwa pertanyaan tersebut sudah diucapkan dan didengar.
'Besok aku akan bicara dengan Mbak Elisa sendiri,' katanya. 'Aku ingin tahu apa yang dia lihat dan siapa yang mungkin tahu.'
'Itu hakmu. Aku tidak akan melarang atau mengatur apa yang harus kamu tanyakan.'
'Dan setelah ini, jangan kirim chatku ke siapa pun lagi tanpa izin.'
'Tidak akan.'
Emilya menatapnya, mencari tanda bahwa ia hanya mengucapkan jawaban yang tepat. Khairul tidak tersenyum atau membuat janji berlebihan. Ia hanya mengangguk sekali, seolah mengerti bahwa kepercayaan tidak kembali karena kalimat indah.
'Kaki Mas sebaiknya diperiksa,' kata Emilya akhirnya. 'Jangan lupa.'
'Iya. Aku akan bilang ke rumah.'
Mereka berpisah tanpa pelukan atau janji kencan berikutnya. Khairul menunggu sampai Emilya masuk ke rumah, lalu pergi dengan motor pelan. Emilya berdiri sebentar di balik pintu, memastikan lampu motornya menjauh di ujung gang.
Malam itu ia tidak merasa bahwa kencan pertama mereka gagal seluruhnya. Ia juga tidak merasa semuanya berjalan baik. Ada bagian yang membuatnya nyaman, dan ada pelanggaran kepercayaan yang tidak boleh ditutupi oleh suasana romantis. Ia harus berbicara dengan Elisa dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sebelum menentukan langkah selanjutnya.
Di kamar, Emilya membuka laptop namun tidak langsung menulis. Ia mengingatkan dirinya bahwa Surabaya tetap menjadi rencananya, terlepas dari apakah hubungan dengan Khairul akan berlanjut. Hidup mandiri bukan ancaman untuk seseorang yang tepat. Kalau Khairul memang ingin mengenalnya, ia harus menerima bahwa Emilya berhak menentukan waktunya sendiri.
Ponselnya bergetar. Pesan Elisa masuk: 'Kamu sudah pulang? Besok kita ngobrol, ya.'
Emilya membaca kalimat itu dua kali. Ia belum tahu apakah kakaknya sudah mendengar percakapan di luar atau sekadar menunggu kabar. Ia mengetik bahwa dirinya sudah sampai, lalu menambahkan, 'Besok aku mau tanya soal tangkapan layar yang Mas Khairul kirim.'
Balasan Elisa belum datang. Emilya meletakkan ponsel di samping laptop dan menatap halaman kosong. Besok ia akan mendengar penjelasan kakaknya. Malam ini, ia membiarkan pertanyaan itu tetap terbuka.