Menjelang sahur, terdengar suara panci dari dapur dan percakapan Elisa dengan Mas Ali. Emilya keluar dari kamar setelah mandi, membawa ponsel yang ia tinggalkan semalaman di meja kamar. Ia tidur tidak nyenyak, bukan karena takut Khairul akan datang, melainkan karena pikirannya terus menyusun berbagai kemungkinan tentang tangkapan layar itu.
Elisa sedang menata makanan sahur. Ketika melihat Emilya, ia tidak langsung menanyakan kencan. Ia hanya menyodorkan segelas teh dan berkata, 'Kita bicara setelah makan, ya.'
Emilya mengangguk. Sikap itu membuatnya lebih mudah duduk. Ia tidak ingin pembicaraan pribadi dilakukan sambil berdiri di dapur atau di depan Mas Ali. Setelah makan sahur dan menunaikan salat Subuh, Elisa mengajaknya ke ruang belakang yang biasa dipakai menyimpan buku dan perlengkapan rumah.
'Aku mau dengar dari awal,' kata Emilya. 'Tapi sebelum itu, aku perlu bilang aku malu waktu tahu chatku dikirim ke Mbak.'
Elisa mengangguk perlahan. 'Aku mengerti.'
'Aku tidak sedang bilang Mbak menyebarkannya. Aku belum tahu itu. Aku sudah melihat beberapa gambar. Aku cuma belum tahu seluruh kirimannya dan apakah ada orang lain yang membacanya.'
'Yang kulihat dari Khairul adalah beberapa tangkapan layar. Dia mengirim langsung kepadaku.' Elisa berhenti sejenak. 'Aku tidak meneruskannya ke Mas Ali atau siapa pun.'
Emilya menatap kakaknya. 'Mbak yakin tidak pernah menunjukkan ke Mas Ali?'
'Tidak. Aku tidak merasa punya hak melakukan itu.'
Jawaban itu meringankan sebagian beban, tetapi bukan seluruhnya. Emilya masih merasa dadanya kaku. 'Waktu Mbak menerima itu, apa yang Mbak pikirkan?'
'Di sekolah aku pernah meminta Khairul menyampaikan obrolan kalian ketika kamu terlihat menolak,' kata Elisa. 'Aku menawarkan diri menerjemahkan sikapmu karena merasa paling mengenalmu. Aku yang memulainya. Setelah dia mengirim tangkapan layar, aku menerima dan menanggapinya tanpa bertanya kepadamu.'
'Kenapa Mbak tidak bilang kepadaku?'
Elisa menunduk. 'Aku mengira bantuanku akan memudahkan kalian berkenalan. Aku malah merasa boleh membicarakan jawabanmu tanpa kehadiranmu. Seharusnya aku bertanya kepadamu sebelum menawarkan bantuan seperti itu, bukan menunggu kamu mengetahuinya sendiri.'
Emilya meremas jari-jarinya. 'Aku bisa mengerti Mbak ingin membantu. Tapi aku tidak suka ketika orang lain memutuskan apa yang perlu aku tahu.'
'Aku salah karena membiarkan itu terjadi tanpa bicara denganmu.' Elisa menggeser kursinya sedikit lebih dekat, namun tidak menyentuh Emilya. 'Aku tidak akan meminta kamu memaklumi hanya karena niatku baik.'
Emilya diam. Ada bagian dari dirinya yang ingin segera memaafkan Elisa supaya suasana rumah kembali ringan. Bagian lain ingin mempertahankan rasa tidak nyaman itu sampai ia benar-benar merasa didengar. Ia tak perlu memilih salah satu saat itu juga.
'Mas Khairul bilang beberapa tangkapan layar. Apa Mbak tahu berapa?'
'Tidak ingat jumlahnya. Mungkin tiga atau empat gambar, tapi aku tidak berani memastikan.'
Emilya menarik napas. Ia menginginkan angka pasti, namun Elisa tidak mengarang jawaban. 'Apa Mbak masih menyimpannya?'
Elisa mengambil ponselnya. 'Aku bisa tunjukkan. Aku belum menghapusnya karena tidak tahu apakah kamu ingin melihat dulu atau ingin semuanya dihapus.'
'Jangan buka dulu. Aku belum yakin mau membaca ulang chat itu di ponsel Mbak.'
'Baik. Kamu yang menentukan.'
Emilya memandang kakaknya. Ia merasa malu karena bagian hidupnya yang ia sampaikan kepada Khairul kini terasa seperti barang yang berpindah tangan. Namun ia juga tahu Elisa telah menjawab pertanyaan dengan terbuka. Keduanya bisa benar: Elisa tidak menyebarkan pesan, dan Emilya tetap berhak marah karena tidak dilibatkan.
'Aku mau Mbak hapus setelah kita memastikan tidak ada salinan lain,' ujarnya. 'Tapi aku belum mau melihat semuanya sekarang.'
Elisa mengangguk. 'Kita bisa cek bersama kapan kamu siap. Aku tidak akan menyimpan atau meneruskannya.'
Emilya menatap jendela. Di luar, hari berjalan biasa. Ia merasa lega karena tidak menemukan bukti bahwa percakapan itu dibaca banyak orang, tetapi pengalaman kehilangan kendali atas kata-katanya tetap meninggalkan bekas.
'Untuk berikutnya, kalau ada orang yang bertanya tentang aku, jawab tentang perasaan orang itu saja. Jangan pakai chatku sebagai bukti.'
'Iya. Aku akan ingat.'
Elisa tidak membela diri lebih jauh. Emilya pun tidak memaksakan pelukan atau kata maaf yang belum siap ia berikan. Mereka menyepakati akan bicara lagi setelah Emilya memikirkan apa yang ingin dilakukan terhadap gambar-gambar itu.
Elisa memandang adiknya cukup lama sebelum menjawab. 'Aku tidak ingin kamu merasa harus memilih antara percaya kepadaku dan mengakui bahwa kamu terluka.'
Emilya menelan ludah. Ia tidak menyangka kakaknya akan mengatakan itu. 'Aku masih percaya Mbak tidak menyebarkan chatku. Tapi aku kecewa karena Mbak tidak bilang.'
'Dua hal itu bisa sama-sama benar.'
'Iya. Aku hanya butuh Mbak tidak menyuruhku cepat melupakan.'
Elisa mengangguk. 'Aku tidak akan. Kalau kamu perlu waktu, ambil waktu.'
Mereka duduk dalam diam. Emilya teringat masa-masa ketika Elisa sering membantunya menyelesaikan urusan keluarga dan menjadi orang pertama yang membaca tulisannya. Kedekatan itu membuat pelanggaran batas terasa lebih menyakitkan, tetapi juga membuat Emilya ingin memperbaiki hubungan, bukan menjauh selamanya.
'Aku mau minta maaf soal ponsel Mbak,' kata Emilya. 'Waktu Mbak meminta aku mengisi baterainya, aku membuka WA tanpa izin. Aku juga mengambil tangkapan layar, mengirimkannya ke nomorku sendiri, lalu menghapus gambar yang kubuat dari ponsel Mbak supaya tidak ketahuan. Aku tahu itu salah. Aku tidak cuma tidak sengaja melihat layar.'
Elisa tidak langsung menjawab. 'Aku menghargai kamu mengaku. Tapi aku juga paham kenapa kamu panik. Kita berdua perlu menjaga batas masing-masing.'
Emilya mengangguk. Ia tidak ingin menjadikan kesalahannya sendiri alasan untuk membatalkan keberatannya terhadap tindakan Khairul. Ia bisa meminta maaf karena membaca ponsel Elisa, sementara tetap berharap orang lain tidak membagikan pesannya.
'Kalau nanti aku butuh saran, aku akan bertanya langsung kepadamu,' kata Elisa. 'Kalau kamu tidak ingin membicarakannya, aku akan menghormati itu.'
'Dan kalau ada yang bertanya soal aku, Mbak bisa jawab bahwa mereka perlu bertanya kepadaku.'
'Baik.'
Elisa mengingat kembali percakapannya di sekolah. Saat itu ia benar-benar merasa dapat membantu ketika Khairul tidak memahami penolakan Emilya. Ia baru melihat bahwa tawarannya membuat kata-kata adiknya menjadi bahan tafsir tanpa dimintai persetujuan. Khairul memang memilih mengirim gambar; Elisa juga memilih menerima dan menafsirkannya.
'Aku seharusnya tidak meminta obrolan pribadi kalian untuk kutafsirkan tanpa persetujuanmu,' ucap Elisa. 'Bukan cuma seharusnya menghentikan gambar berikutnya. Tawaran awalku juga salah.'
Emilya tidak menyela. Penjelasan itu membantu ia memahami bagaimana kejadian berlangsung, tetapi tidak mengubah fakta bahwa ia tidak pernah dimintai izin. Ia berkata demikian dengan tenang, dan Elisa menerima tanpa membantah.
Emilya meminta Elisa menjelaskan topiknya tanpa membacakan semua pesan. Elisa mengakui ada percakapan tentang kegelisahan Emilya menghadapi pernikahan, keinginannya menikmati kebebasan, permintaan cerita Nabi dengan istrinya, dan panggilan yang membuat Khairul mengira ia ditinggal tidur. Bukan sekadar jadwal menulis. Rencana perjalanan Surabaya belum termasuk karena Emilya belum menceritakannya kepada Khairul. Setelah itu Elisa menghapus gambar dari percakapan dan galeri yang menyimpannya. Emilya juga menghapus salinan yang ia kirim kepada dirinya sendiri. Mereka tidak melakukan penghapusan itu untuk berpura-pura peristiwa tersebut tidak pernah terjadi.