Menjelang sore, kaki Khairul terasa lebih nyeri ketika ia mencoba berjalan dari kamar ke ruang depan. Ibunya menyarankan agar ia tidak mengendarai motor dulu. Khairul sempat ingin mengatakan bahwa rasa sakitnya akan hilang sendiri, tetapi ia teringat bagaimana ia menyembunyikan cedera itu dari Emilya demi mempertahankan rencana kencan.
'Aku minta diantar periksa,' katanya akhirnya.
Ibunya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Khairul menyimpan ponsel di saku. Ia tidak mengirim pesan kepada Emilya untuk memberi tahu tentang pemeriksaan, sebab ia sudah berjanji tidak menghubungi lebih dulu. Informasi itu tidak perlu dijadikan cara untuk mendapatkan perhatian.
Sementara itu, Emilya menuntaskan beberapa pekerjaan rumah dan mencoba kembali menulis. Sebelum magrib, ia menerima pesan dari Elisa bahwa Khairul akan pergi memeriksakan kaki dengan keluarganya. Emilya membaca kabar itu dan tidak merasa harus membalas atau menawarkan diri. Ia berharap Khairul baik-baik saja, tetapi ia tahu perhatian tidak harus selalu berarti mendekat.
Malamnya, Emilya memeriksa kembali pesan yang ia kirim. Ia ingin berbicara langsung tentang salinan di ponsel Khairul, bukan memperpanjang percakapan melalui teks. Ia menulis pesan singkat, 'Kalau Mas sudah pulang dan tidak terlalu capek, aku ingin bicara sebentar lewat telepon. Kalau belum bisa, besok saja.'
Khairul membalas setelah beberapa menit. 'Aku sudah pulang. Dokter menyarankan istirahat dan kompres. Aku bisa bicara, tapi kalau kamu lelah kita tunda.'
Emilya membaca jawaban itu dan menyadari Khairul tidak langsung menganggap ajakan bicara sebagai tanda bahwa semuanya pulih. Ia membalas bahwa ia punya waktu sebentar. Mereka sepakat menelepon, bukan bertemu, agar Khairul tidak perlu keluar lagi.
Panggilan dimulai dengan suara Khairul yang lebih pelan dari biasanya. Ia menjelaskan bahwa ia sudah menghapus tangkapan layar dari ponselnya setelah mengirimkannya kepada Elisa. Ia tidak memiliki salinan di folder lain. Emilya bertanya apakah ia pernah mengirim gambar itu kepada siapa pun selain Elisa.
'Tidak. Hanya Elisa,' jawab Khairul. 'Aku tidak pernah mengirim ke grup atau rekan sekolah.'
Emilya membiarkan jeda beberapa detik. 'Aku ingin percaya jawaban itu, tapi rasa percayaku belum langsung kembali.'
'Aku mengerti.'
'Mas tidak perlu bilang mengerti kalau sebenarnya berharap aku segera melupakan.'
'Aku tidak berharap begitu. Aku ingin kamu bisa menilai dari apa yang kulakukan setelah ini.'
Emilya bersandar di kursi. Ia belum merasa nyaman, tetapi percakapan itu tidak berubah menjadi perdebatan. Khairul tidak menjelaskan ulang niat baiknya, dan ia tidak meminta Emilya menyelamatkan perasaannya.
'Aku juga sudah mengaku kepada Mbak Elisa,' kata Emilya. 'Aku membuka WA-nya, mengambil screenshot, mengirim ke nomorku sendiri, lalu menghapus jejak di ponselnya. Aku sudah meminta maaf dan menghapus salinan yang kusimpan. Aku panik, tapi itu tetap bukan alasan untuk membuka percakapan orang tanpa izin.'
Khairul terdiam di ujung telepon. 'Terima kasih sudah jujur. Aku tidak akan memakai itu untuk membenarkan tindakanku sendiri.'
'Aku sudah minta maaf kepada Mbak Elisa. Aku ingin Mas tahu kejadiannya dengan benar.'
'Ya. Aku paham kamu ingin tahu apa yang terjadi pada percakapanmu.'
Emilya merasa bahunya sedikit turun. Ia sudah berbicara dengan Elisa, sementara Khairul masih perlu menunjukkan bahwa batas privasi bukan sekadar kesepakatan saat ia takut kehilangan kesempatan. Namun malam itu mereka telah mengucapkan hal-hal yang sebelumnya hanya disimpan dalam kepala.
'Kaki Mas bagaimana?' tanyanya.
'Masih nyeri, tapi sudah diperiksa. Aku harus istirahat dulu.'
'Bagus. Jangan dipaksa.'
'Tidak akan. Dan aku tidak akan datang ke rumah tanpa kamu minta.'
'Terima kasih.' Emilya berhenti sejenak. 'Aku belum tahu kapan mau bertemu lagi.'
'Aku tidak akan menanyakan sekarang.'
Mereka menutup panggilan tanpa janji. Emilya menyimpan ponsel dan kembali ke meja kerja. Ia tidak merasa hubungan mereka selesai, juga tidak merasa semuanya telah pulih. Jarak yang ia tentukan malam itu bukan hukuman. Itu ruang agar ia bisa mendengar dirinya sendiri sebelum memilih langkah berikutnya.
Masih ada satu hal yang Emilya ingin tanyakan setelah percakapan mengenai tangkapan layar. Mengapa dulu ia bisa melihat status Khairul dari nomor WA khusus, padahal lelaki itu berkata hanya mendapat satu nomor dari Bu Asti?
Ia menanyakannya pada Senin malam, ketika Khairul sedang beristirahat di rumah. Kali ini Emilya tidak ingin menguji jawaban sambil menyiapkan kesimpulan bahwa semua orang berbohong.
'Bisa Mas periksa pesan asli dari Bu Asti? Aku ingin tahu nomorku yang mana yang waktu itu dikirim. Kalau perlu bertanya kepada beliau dan Mbak Elisa, aku setuju untuk urusan ini saja.'
Khairul membuka kembali percakapan yang dimaksud. Ia tidak mengirim tangkapan layar percakapan lain kepada Elisa. Yang ia periksa adalah kiriman kontak saat pertama meminta nomor Emilya.
'Yang dikirim satu kartu kontak,' katanya beberapa saat kemudian. 'Aku baru membuka rinciannya sekarang. Ternyata ada dua nomor di dalamnya.'
Emilya memintanya menyebut beberapa angka terakhir, lalu mencocokkan dengan dua nomornya sendiri. Keduanya sesuai. Nomor pertama yang dipakai Khairul untuk menyapa adalah nomor umum. Nomor khusus juga ikut tersimpan ketika ia menyimpan kartu kontak itu, meskipun ia tidak memakainya untuk memulai chat.
'Jadi waktu Mas bilang cuma satu?'
'Aku mengira satu kontak itu satu nomor. Aku belum memeriksa rinciannya. Waktu balasan statusmu muncul dari nomor berbeda, aku memang kaget. Tapi seharusnya aku mengecek dulu sebelum menjawab seolah-olah sudah tahu.'
Mereka belum berhenti pada dugaan itu. Dengan persetujuan Emilya, Khairul menanyakan kiriman awal tersebut kepada Bu Asti. Keesokan harinya Bu Asti mengonfirmasi bahwa ia meneruskan kartu kontak yang diperolehnya dari Elisa. Ia juga tidak memeriksa bahwa di dalamnya terdapat dua nomor.
Elisa mengingat permintaan itu ketika Emilya bertanya langsung. Bu Asti meminta kontak adiknya, tetapi saat itu belum mengatakan bahwa Khairul yang ingin berkenalan. Elisa baru mengetahui kedekatan mereka belakangan, seperti yang sudah pernah diceritakannya. Emilya tidak menyukai nomornya diteruskan tanpa ditanya, namun setidaknya urutannya kini diketahui dari kiriman yang benar-benar diperiksa.
'Kalau ada orang meminta lagi, tanyakan kepadaku dulu, Bak,' katanya.
Elisa menyetujui. Khairul juga mengakui bahwa jawabannya yang dulu tidak lengkap telah membuat Emilya semakin curiga. Ia tidak meminta Emilya menganggap kecurigaannya konyol hanya karena asal kedua nomor akhirnya jelas.
'Aku juga terlalu cepat yakin Mas sedang berbohong,' kata Emilya. 'Makanya sekarang aku ingin bertanya sampai tahu, bukan menebak terus.'
Setelah membicarakannya, Emilya mengizinkan Khairul menggunakan nomor khusus untuk menghubunginya, dengan permintaan agar tidak diteruskan lagi kepada orang lain. Khairul memastikan ia menyimpan keterangan kedua nomor dengan benar. Tidak ada nomor rahasia yang masih perlu mereka cari asalnya; yang tersisa adalah kebiasaan meminta izin sebelum membagikannya.