Setelah kakinya pulih cukup baik, Khairul kembali mengajar dan melatih hadrah dengan jadwal yang dikurangi. Ia tidak mencoba mengganti semua kegiatan yang tertunda sekaligus. Bu Asti membantu mengatur ulang beberapa tugas sekolah, sementara Khairul belajar menyisakan waktu untuk beristirahat.
Suatu sore, ia melihat notifikasi pesan dari Emilya. 'Aku sudah menyelesaikan revisi tahap pertama. Kalau Mas senggang, aku ingin bicara sebentar soal cara kita berkomunikasi.'
Khairul membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab. Ia tidak ingin memperlakukannya sebagai tanda bahwa semua masalah sudah selesai. 'Aku senggang setelah magrib. Kalau kamu lebih nyaman lewat telepon, kita bisa telepon. Kalau ingin pesan saja juga boleh.'
Emilya memilih panggilan singkat. Ia ingin membicarakan hal konkret, bukan menilai perasaan mereka secara keseluruhan. Ketika telepon tersambung, Khairul menyapanya dan bertanya apakah waktunya masih cocok. Emilya menjawab iya.
'Aku ingin menjelaskan jadwalku,' katanya. 'Kalau aku sedang mengejar tenggat, aku bisa lama membalas. Kadang aku baru membalas setelah beberapa jam. Aku tidak ingin Mas menganggap itu tanda aku marah.'
'Baik. Aku juga bisa memberi kabar kalau sedang mengajar atau latihan, supaya kamu tidak menunggu tanpa tahu.'
'Tidak harus setiap saat melaporkan posisi. Aku hanya ingin kita tidak menafsirkan diam sebagai hukuman.'
Khairul menerima koreksi itu. 'Benar. Aku tadi hampir membuat aturan laporan, padahal bukan itu yang kamu minta.'
Emilya tersenyum kecil. 'Kita tidak perlu membuat jadwal balas pesan seperti jadwal sekolah.'
'Setuju. Bagaimana kalau kita sepakat bahwa kalau salah satu sibuk, cukup bilang saat sempat. Tidak perlu menjelaskan panjang.'
'Itu lebih masuk akal.'
Mereka membahas kebiasaan masing-masing. Emilya mengatakan ia kadang menulis sampai malam dan mematikan notifikasi agar bisa berkonsentrasi. Khairul mengatakan ia sering membuka ponsel setelah kegiatan selesai, tetapi akan berusaha tidak mengirim pesan berulang hanya karena belum mendapat balasan.
'Kalau aku tidak membalas, Mas boleh bertanya lagi setelah beberapa waktu kalau memang penting,' kata Emilya. 'Tapi jangan mengirim banyak pesan untuk memastikan aku masih tertarik.'
'Baik. Kalau ada yang penting, aku tulis satu pesan dengan jelas.'
Emilya merasa lebih nyaman karena percakapan itu bukan permintaan agar ia memberi akses penuh pada waktunya. Ia pun bertanya apa yang Khairul butuhkan. Khairul menjawab bahwa ia menghargai kejujuran, termasuk jika Emilya tidak ingin berbicara. Ia menambahkan bahwa ia tidak ingin perasaan cemasnya menjadi tanggung jawab Emilya.
'Kalau begitu, kita coba saja dulu,' kata Emilya. 'Bukan janji bahwa semuanya pasti berjalan.'
'Aku mengerti. Kita mencoba cara komunikasi yang lebih sehat, bukan langsung menetapkan masa depan.'
Sebelum mengakhiri panggilan, Emilya menambahkan satu hal yang belum ingin ia lewatkan: Elisa tidak lagi menjadi tempat Khairul mencari tafsir atas diamnya. Ia ingin mendengar apakah Khairul bersedia menjalankannya.
'Aku tidak akan meminta Elisa menebak perasaanmu atau menunjukkan chatmu lagi. Kalau aku bingung, aku akan bertanya langsung kepadamu. Kalau kamu belum mau menjawab, aku harus menghormati itu,' kata Khairul.
Panggilan berakhir setelah beberapa menit. Khairul tidak meminta mereka berbicara lagi esok hari. Emilya juga tidak mengakhiri dengan janji akan segera bertemu. Mereka telah menyepakati sesuatu yang bisa diuji melalui kebiasaan, bukan kalimat romantis.
Malam itu, Emilya kembali menulis. Ia mematikan notifikasi dan membiarkan ponselnya di meja. Khairul menjalani latihan ringan di rumah, lalu mengirim satu pesan bahwa ia sudah selesai dengan urusan hari itu. Emilya baru membalas keesokan paginya. Khairul tidak mengirim pesan tambahan.
Saat membaca balasan Emilya, ia merasa lega tetapi tidak menjadikannya bukti bahwa ia telah mendapatkan kembali kepercayaan penuh. Ia perlu terus menjaga kesepakatan itu, terutama ketika rasa cemasnya muncul lagi.
Suatu sore, Elisa menerima pesan Khairul yang menanyakan apakah Emilya sedang sibuk. Ia membacanya di ruang depan sementara Emilya berada di kamar. Untuk sesaat, kebiasaan lama muncul: Elisa ingin mengecek suasana hati adiknya dan menjawab bahwa Emilya sedang menulis.
Namun ia berhenti. Mereka sudah sepakat bahwa Elisa tidak menjadi perantara untuk percakapan yang seharusnya berlangsung langsung. Ia membalas, 'Aku tidak bisa menjawab jadwal atau perasaan Emilya. Silakan tanya langsung kepadanya.'
Setelah mengirim, Elisa merasa sedikit canggung. Khairul menjawab bahwa ia mengerti dan berterima kasih. Ia tidak menanyakan apakah Emilya marah atau meminta Elisa membujuknya.
Elisa mengetuk pintu kamar. 'Khairul tadi bertanya apakah kamu sibuk. Aku bilang dia perlu bertanya langsung kepadamu.'
Emilya menoleh dari laptop. 'Terima kasih sudah bilang. Aku memang sedang mengerjakan revisi.'
'Kalau kamu mau, aku bisa bilang begitu.'
'Tidak usah. Biar aku yang jawab kalau aku sudah selesai.'
Elisa mengangguk. Ia tidak mengambil ponsel Emilya atau menyampaikan pesan tambahan. Emilya kembali bekerja, merasakan bahwa kali ini batas mereka dijalankan tanpa perlu mengulang pembicaraan panjang.
Dua jam kemudian, Emilya mengirim pesan kepada Khairul: 'Aku baru selesai. Tadi memang sibuk. Ada yang perlu Mas tanyakan?'
Khairul menjawab bahwa ia hanya ingin mengajak bicara sebentar dan tidak ada hal mendesak. Emilya berkata ia bersedia bertukar pesan beberapa menit. Mereka membicarakan buku yang sedang dibaca Khairul untuk persiapan mengajar, lalu Emilya bercerita bahwa revisi novelnya berjalan lebih baik.
'Kalau kamu sibuk, kita bisa lanjut lain waktu,' kata Khairul setelah beberapa pesan.
Emilya tersenyum. 'Aku memang mau istirahat sebentar. Nanti lanjut lagi lain kali.'
'Baik. Terima kasih sudah memberi tahu.'
Percakapan selesai. Emilya tidak merasa perlu menjelaskan bahwa ia sedang lelah atau meminta maaf karena berhenti. Ia juga tidak menilai Khairul dari satu sore saja. Ia hanya melihat bahwa ia bertanya langsung dan menerima jawaban.
Dua hari kemudian, Khairul mengirim pesan langsung kepada Emilya: 'Aku mau tanya apakah kamu bersedia berbicara sebentar malam ini. Kalau sedang sibuk, tidak apa-apa.' Emilya sedang menyelesaikan satu adegan dan menjawab bahwa ia bisa setelah pukul delapan.
Khairul menunggu sampai waktu yang disepakati. Ketika ia menelepon, ia bertanya lebih dulu apakah Emilya masih nyaman berbicara. Emilya menjawab iya, lalu mereka membahas kegiatan sehari-hari. Khairul bercerita tentang jadwal mengajar yang ia atur ulang; Emilya menceritakan revisi novel.
Di tengah percakapan, Emilya berkata, 'Aku mau bilang, waktu itu Mbak Elisa menyampaikan bahwa Mas bertanya kepadanya soal jadwalku. Dia sudah menyuruh Mas bertanya langsung. Aku tidak marah, tapi aku ingin tahu apakah Mas mengerti kenapa aku minta begitu.'
'Karena jadwal dan perasaanmu bukan informasi yang Elisa harus wakili. Aku seharusnya bertanya kepadamu, bukan mencari jawaban lewat dia.'
'Betul. Kalau aku belum membalas, itu bukan berarti Mbak Elisa perlu menjelaskan untukku.'
'Aku mengerti. Aku akan mengingat itu.'
Emilya tidak meminta Khairul membuktikan apa pun dengan sumpah. Ia hanya ingin mendengar bahwa ia memahami hal yang spesifik. Khairul tidak mengalihkan pembicaraan atau membela diri dengan alasan ia khawatir.
'Kalau aku bertanya langsung dan kamu belum siap menjawab, aku harus menerima belum ada jawaban,' lanjut Khairul.
'Ya. Dan aku juga akan berusaha tidak meminta Mbak menjawabkan hal-hal yang sebenarnya bisa kusampaikan sendiri.'
Mereka berbicara beberapa menit lagi tentang cara mengakhiri percakapan saat salah satu sibuk. Emilya berkata ia akan memberi tahu jika perlu berhenti; Khairul menjawab bahwa ia tidak akan meminta penjelasan panjang. Ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh, Emilya berkata ia ingin kembali bekerja.