Tenggat pengiriman semakin dekat. Emilya menerima catatan tambahan dari editor yang meminta satu bagian diperjelas sebelum berkas final dikirim. Ia membaca komentar itu sambil mengatur napas. Sebagian dirinya ingin panik karena merasa pekerjaannya tidak pernah selesai, tetapi ia tahu ia masih punya waktu jika mengatur fokus.
Ia mencatat bagian yang perlu diperjelas dan memperkirakan berapa lama tiap tugas akan memakan waktu. Setelah itu ia mengirim pesan kepada Elisa bahwa ia akan mengerjakan revisi sampai malam dan tidak bisa ikut menonton acara televisi bersama. Elisa membalas bahwa ia mengerti dan akan menyimpan makan malam.
Emilya mulai bekerja. Ia mematikan suara ponsel dan menutup tab yang tidak berhubungan dengan naskah. Saat menemui masalah pada alur, ia membuka kembali bab sebelumnya dan memeriksa urutan peristiwa. Ia tidak ingin menambah adegan hanya untuk mengejar panjang; setiap perubahan harus punya alasan.
Menjelang sore, Khairul mengirim pesan menanyakan apakah ia boleh menelepon malam nanti. Emilya sedang fokus dan belum melihat. Pesan itu tidak mengganggu karena notifikasi mati. Setelah menyelesaikan satu bagian, ia mengecek layar dan menjawab, 'Malam ini aku harus mengejar revisi. Besok sore bisa, kalau Mas senggang.'
Khairul membalas, 'Besok sore bisa. Semoga revisinya lancar.' Ia tidak meminta Emilya membuat pengecualian.
Emilya kembali bekerja. Menjelang malam, ia mendengar Elisa memanggil dari ruang tengah. 'Makan sudah siap. Mau makan sekarang atau nanti?'
Emilya berhenti sejenak. Ia menghitung waktu dan menyadari belum makan sejak sahur. 'Sekarang saja. Setelah itu aku lanjut.'
Mereka makan bersama. Elisa dan Mas Ali berbicara tentang urusan rumah, sementara Emilya hanya sesekali menyahut. Tak seorang pun meminta ia menceritakan naskah atau masalah dengan Khairul. Setelah makan, Emilya kembali ke kamar dan menyelesaikan revisi.
Pukul sepuluh malam, ia merasa lelah. Bagian yang diminta editor sudah jelas, tetapi belum sempat ia baca ulang. Ia menyimpan berkas dengan nama yang rapi dan membuat catatan untuk memeriksa besok pagi. Ia tidak mengirimnya dalam keadaan terburu-buru hanya demi bisa mengatakan selesai.
Sebelum tidur, ia mengirim pesan kepada Elisa bahwa ia akan mengirim naskah setelah membaca ulang. Elisa menjawab bahwa itu keputusan yang baik. Emilya lalu mengirim Khairul pesan singkat, 'Aku berhenti dulu. Besok lanjut. Selamat malam.'
'Selamat malam. Istirahat yang cukup,' jawab Khairul.
Emilya tersenyum. Ia tidak merasa harus melanjutkan percakapan karena Khairul menjawab dengan ramah. Ia mematikan ponsel dan tidur.
Pagi berikutnya, ia membaca ulang berkas dengan pikiran lebih segar. Ia menemukan dua kesalahan kecil dan membetulkannya. Setelah yakin, ia mengirim naskah final kepada editor. Rasa lega datang perlahan, bukan seperti kemenangan besar, tetapi cukup untuk membuatnya duduk santai beberapa menit.
Ia merasa berhasil menjaga tenggat tanpa mengabaikan kebutuhan tubuhnya. Bagi dirinya, itu juga bagian dari membangun kemandirian.
Emilya menunggu sampai ia memiliki ringkasan anggaran yang cukup jelas sebelum membicarakan Surabaya kepada Khairul. Ia tidak ingin percakapan itu terdengar seperti meminta izin atau meminta Khairul membayar biaya perjalanan. Ia ingin menjelaskan sebagai bagian dari hidupnya yang sedang ia atur.
Sore itu Emilya mengirim pesan untuk memastikan panggilan yang sudah mereka sepakati sehari sebelumnya. 'Mas, nanti waktu kita telepon, aku mau cerita soal rencana selepas Lebaran.' Khairul menjawab bahwa ia tetap senggang setelah mengajar. Emilya memilih tetap lewat telepon agar dapat membicarakannya dengan tenang.
Sore itu, mereka menelepon sesuai waktu yang disepakati. Khairul bertanya apakah Emilya nyaman memulai. Ia mengangguk meski lelaki itu tak dapat melihatnya.
'Aku ingin pergi ke Surabaya setelah Lebaran, mengunjungi rekan penulis yang pernah menawarkan tempat tinggal sementara,' kata Emilya. 'Aku ingin bekerja dan belajar mengatur hidup sendiri di luar rumah. Rencana ini sudah ada sebelum aku mengenal Mas.'
Khairul tidak langsung menjawab. Emilya membiarkan jeda itu. Ia tidak ingin mengisi keheningan dengan pembelaan atau meminta Khairul menyetujui.
'Terima kasih sudah cerita,' kata Khairul akhirnya. 'Berapa lama rencananya?'
'Belum pasti. Mungkin beberapa minggu, tergantung pekerjaan dan biaya. Pembayaran kontrakku belum ada tanggalnya, jadi aku belum membeli tiket atau menentukan hari.'
'Apakah kamu ingin aku memberi pendapat?'
Emilya merasa lega mendengar pertanyaan itu. 'Belum sekarang. Aku ingin Mas tahu dulu.'
'Baik. Aku mendengarkan.'
Emilya menjelaskan bahwa ia tidak sedang menjauh dari Khairul atau menguji keseriusannya. Ia ingin mencoba hidup mandiri karena itu tujuan yang penting baginya. Jika mereka terus saling mengenal, ia tidak ingin menyembunyikan rencana itu atau mengecilkannya agar hubungan terasa lebih mudah.
Khairul menarik napas pelan. 'Aku akui ada bagian diriku yang khawatir jarak membuat kita berhenti bicara. Tapi itu perasaanku. Aku tidak ingin menjadikannya alasan untuk meminta kamu membatalkan.'
Emilya mendengarkan. 'Aku mengerti Mas khawatir. Tapi aku tidak bisa menjadikan rasa khawatir itu sebagai satu-satunya pertimbangan.'
'Benar. Aku tidak meminta kamu melakukan itu.'
Mereka membicarakan hal praktis tanpa memutuskan apa pun. Khairul bertanya apakah Emilya sudah menghubungi rekannya. Emilya menjawab tawarannya sudah lama ada, tetapi ia belum mengonfirmasi ulang tanggal karena pembayaran kontrak belum pasti. Khairul berkata ia berharap semua urusannya lancar, lalu berhenti sebelum menawarkan untuk mengatur perjalanan.
'Aku akan mengurus sendiri tiket dan anggarannya,' kata Emilya. 'Kalau butuh bantuan, aku akan meminta.'
'Baik.'
Emilya merasa percakapan itu berjalan lebih baik daripada yang ia takutkan. Khairul tidak menyebut Surabaya sebagai ancaman bagi hubungan mereka. Ia juga tidak langsung menganggap dirinya berhak ikut menentukan.
Sebelum menutup telepon, Emilya mengakui hal yang belum ia ceritakan. Setelah mendengar Elisa berbicara di dapur tentang merobohkan hatinya dalam dua minggu, ia pernah berniat membalas.
'Aku sempat sengaja menanggapi chat Mas karena ingin membuat Mas menaruh harapan, lalu pergi tanpa bilang. Itu jahat. Tapi sebelum aku melihat screenshot itu, niatku sudah berubah. Aku sungguh ingin mengenal Mas. Aku tidak jadi pergi diam-diam untuk menyakiti Mas.'
Khairul terdiam. 'Aku tidak senang mendengar niat itu. Tapi terima kasih kamu mengatakan sendiri.'
'Aku tidak menceritakannya supaya Mas membenarkan tangkapan layar. Dua hal itu tetap kesalahan masing-masing. Aku ingin kita mulai berbicara tanpa menyembunyikan maksud.'
'Aku juga tidak akan memakai pengakuanmu untuk membenarkan tindakanku,' jawab Khairul. 'Kalau aku kecewa, aku bisa mengatakannya kepadamu.'
Emilya menarik napas. 'Surabaya tetap tujuanku, Mas. Itu bukan hukuman atau cara membuat Mas mengejar. Aku ingin berangkat karena ingin belajar hidup mandiri, seperti yang sudah kurencanakan sebelum kita kenal.'
Sebelum menutup telepon, Khairul berkata, 'Aku ingin tetap mengenalmu, tapi aku paham rencanamu tidak harus menunggu hubungan ini.'
Emilya menjawab, 'Itu yang ingin kudengar. Bukan persetujuan, hanya pengertian.'
Mereka mengakhiri panggilan sesuai waktu. Emilya kembali melihat anggaran dan mencatat bahwa ia telah memberi tahu Khairul. Ia tidak menulis 'Khairul setuju', sebab rencana itu bukan miliknya untuk disetujui. Ia hanya menulis bahwa mereka sudah membicarakannya dengan jujur.