Emilya menghubungi rekan penulisnya di Surabaya pada pagi hari. Ia bertanya apakah tawaran tempat tinggal sementara masih berlaku dan menyampaikan bahwa tanggalnya belum pasti. Ia juga menjelaskan bahwa ia ingin memastikan tidak merepotkan. Balasan datang siang hari: rekannya masih bersedia menampung, tetapi mereka perlu menyepakati jadwal setelah Emilya mendapat kepastian pembayaran.
Emilya berterima kasih dan berkata akan mengabari kembali. Ia tidak langsung memesan tiket. Ia membuka kalender, memeriksa tenggat kerja yang mungkin datang, lalu mencatat rentang waktu yang paling memungkinkan. Ia ingin pergi tanpa meninggalkan tanggung jawab pekerjaan.
Elisa melihatnya membandingkan jadwal. 'Sudah ada kabar dari temanmu?'
'Masih bersedia. Tapi tanggal harus dibicarakan lagi nanti.'
'Bagus, setidaknya kamu tahu tempatnya memungkinkan.'
Emilya mengangguk. Ia merasa lebih dekat pada rencana itu, tetapi juga paham bahwa ada banyak hal yang harus diatur. Ia membuat daftar dokumen, biaya, kebutuhan menulis, dan hal-hal yang harus diselesaikan di rumah sebelum berangkat.
Ia menghitung biaya perjalanan berdasarkan perkiraan harga yang ia ketahui dari informasi yang tersedia, lalu menambahkan cadangan. Ia tidak ingin mengandalkan bantuan orang lain untuk pengeluaran harian. Tinggal sementara di rumah rekan penulis tidak berarti biaya lain menjadi tanggung jawab temannya.
Sore itu, Khairul mengirim pesan menanyakan apakah Emilya sudah menghubungi rekannya. Emilya menjawab bahwa ia sudah mendapat kabar tawaran tempat tinggal masih berlaku, tetapi tanggal belum ditentukan. Khairul bertanya apakah Emilya ingin membicarakan anggaran dengannya.
Emilya membalas, 'Terima kasih, tapi aku ingin menyusun sendiri dulu. Nanti kalau aku butuh pendapat, aku bilang.'
Khairul menjawab, 'Baik. Aku tidak akan ikut mengatur.'
Emilya menyimpan ponsel dan melanjutkan daftar. Ia merasa senang Khairul bertanya, tetapi lebih senang lagi bahwa ia menerima penolakan tanpa menarik diri atau membuatnya merasa tidak tahu berterima kasih.
Malamnya, Elisa menawarkan meminjamkan koper kecil. Emilya berkata ia akan melihat barang-barang yang sudah ada sebelum memutuskan. Elisa tidak mengambil koper dari lemari atau mulai mengemas untuknya. Mereka membicarakan kebutuhan seperlunya, lalu berhenti ketika Emilya mengatakan masih terlalu awal.
Emilya sadar keluarganya mulai belajar membiarkannya mengatur sendiri. Ia tetap menerima dukungan, tetapi setiap bantuan datang sebagai tawaran, bukan keputusan yang dibuat tanpa bertanya.
Sebelum tidur, ia menambahkan beberapa catatan: memastikan tanggal pembayaran, mengonfirmasi rentang tinggal, memeriksa jadwal kerja, lalu baru membeli tiket. Urutan itu membuat rencananya terasa terukur.
Beberapa hari sebelum Lebaran, Emilya membuka kembali buku tabungan Hari Raya di meja ruang depan. Barang-barangnya telah datang dan didata sebelum malam pertama ia pergi bersama Khairul. Sebagian paket juga sudah diserahkan. Sekarang ia dan Elisa perlu mencocokkan catatan para penabung yang belum mengambil bagiannya.
'Yang ini sudah diambil kemarin,' kata Elisa sambil menunjuk sebuah baris.
Emilya memeriksa tanda pada lembar penerimaan, lalu menemukan catatan yang belum dipindahkan ke buku utama. Ia memperbaruinya. Di dekat pintu, beberapa kantong yang belum diambil masih tersusun dengan keterangan masing-masing.
Ini bukan uang sumbangan untuk dibagikan kepada keluarga yang dipilih Elisa. Orang-orang telah menabung, dan tabungannya dikembalikan dalam paket sembako sesuai catatan mereka. Emilya tidak bisa menambah penerima atau mengurangi bagian seseorang karena merasa jumlah paketnya akan terlihat lebih baik. Pekerjaannya memastikan barang sampai kepada orang yang berhak atas simpanannya sendiri.
Mas Ali membantu memindahkan kantong ke tempat yang mudah dijangkau. Salah satu anak ingin menempelkan pita dari potongan kertas warna. Elisa melarangnya menutup label nama. Emilya menahan tawa ketika si bocah bertanya apakah tulisannya kurang bagus.
'Bagus,' jawab Emilya. 'Tapi nama orang jangan diberi kumis. Nanti kita yang tidak bisa membaca.'
Anak itu mendengus, lalu menggambar kumis pada kertas lain. Mereka kembali bekerja dengan suara percakapan rumah yang biasa. Emilya tidak merasa perlu membuat kegiatan itu menjadi pelajaran besar tentang apa pun. Ia hanya ingin selesai mencocokkan sebelum membuka revisi yang masih menunggunya.
Seorang penabung datang bersama anaknya. Elisa memeriksa nama dan bagian yang tercatat, sementara Emilya mengambil paket dengan label yang sesuai. Mereka mencocokkan isinya sebelum menyerahkan. Orang itu bertanya tentang catatan simpanannya; Elisa menunjukkan baris yang dimaksud, lalu menerima konfirmasi penyerahan.
Sesudah mereka pergi, Emilya menghitung ulang paket yang masih berada di ruang depan. Angkanya tidak langsung cocok dengan jumlah nama yang belum ditandai. Ia meminta Elisa menunggu sebelum menyimpulkan ada barang kurang. Mereka membaca kembali daftar penyerahan yang dikerjakan sebelumnya.
Satu nama tercatat dua kali pada salinan kerja, bukan pada buku tabungannya. Emilya memberi tanda pada baris yang berulang dan menyimpan salinan itu bersama penjelasan, lalu menghitung sekali lagi. Jumlah kantong sekarang cocok dengan nama yang belum mengambil. Tidak ada paket tambahan yang harus dibeli untuk menutup kesalahan pencatatan.
'Kalau tadi langsung bilang kurang, kita sudah sibuk mencari siapa yang mengambil,' kata Elisa.
'Aku lebih ingin mencari bolpoin. Punyaku dari tadi dipakai anak-anak.'
Mas Ali mengambil bolpoin dari bawah buku gambar dan mengembalikannya. Emilya menunjuk satu nama yang belum dapat datang sendiri. Elisa akan menghubunginya untuk memastikan siapa yang boleh mengambil atas namanya. Mereka tidak menitipkan barang kepada orang yang kebetulan lewat hanya supaya ruang depan cepat kosong.
Menjelang berbuka, Emilya menutup buku setelah dua orang lagi mengambil paket. Nama yang masih tersisa ditandai agar tidak hilang di antara halaman lain. Ada waktu penyerahan yang harus mereka sepakati esok hari, tetapi seluruh barang sudah tersedia dan masing-masing bagian sudah jelas.
Ia mencuci tangan lalu membantu menata makanan berbuka. Ponselnya menerima pesan Khairul yang menanyakan apakah ia senggang malam nanti. Emilya menjawab bahwa ia ingin menyelesaikan pemeriksaan naskah setelah Tarawih. Ia dapat berkirim pesan sebentar, tetapi tidak menelepon panjang.
Khairul membalas bahwa ia juga akan menyiapkan bahan mengajar untuk pekan berikutnya. Emilya menyimpan ponsel dan duduk bersama keluarga saat waktu berbuka tiba. Catatan tabungan tidak dicampurkan dengan uang kontraknya sendiri, sedangkan keberangkatan ke Surabaya akan menunggu pembayaran pekerjaannya.
Keesokan harinya, penabung yang belum mengambil datang sesuai waktu yang disepakati. Untuk satu orang yang berhalangan, Elisa memastikan langsung nama anggota keluarganya yang akan mewakili. Sesudah paket terakhir diserahkan, Emilya dan Elisa mencocokkan tanda terima dengan buku utama, lalu menyimpan rekapnya. Ruang depan kembali lapang tanpa ada bagian tabungan orang yang masih tertinggal di sana.
Pagi itu, Khairul mengirim pesan kepada Emilya untuk menanyakan apakah ia bersedia berkunjung ke resto yang pernah ia ceritakan. Ia menambahkan bahwa ajakan itu bukan untuk hari itu juga; mereka bisa membicarakan waktu yang cocok dan memastikan Elisa mengetahui rencana mereka.
Emilya membaca pesan tersebut di sela menghitung tenggat. Ia belum pernah lupa bagaimana cerita tentang kepiting asam manis bermula. Dulu ia sempat menolak dibawakan karena merasa merepotkan, lalu Khairul benar-benar mengantar kepiting pada malam kencan pertama. Kini, setelah mereka berkenalan lebih lama, rasa ingin tahu itu masih ada. Namun ia ingin memastikan kunjungan tersebut berlangsung dengan nyaman.
Ia membalas, 'Aku bersedia mempertimbangkan. Tapi aku perlu bicara dulu dengan Mbak Elisa soal waktu dan cara pergi. Aku tidak ingin membuat rencana diam-diam.'
Khairul menjawab, 'Tentu. Kita tunggu sampai kamu siap dan keluargamu tahu. Kalau tidak jadi, tidak apa-apa.'