Emilya tersenyum kecil. Ia tidak segera menyebut tanggal. Pembayaran kontrak masih dalam proses dan ia belum ingin membuat jadwal yang bertabrakan dengan kerja. Ia juga tidak ingin ajakan makan dianggap sebagai janji hubungan yang lebih besar.
Sore hari, ia berbicara dengan Elisa di teras. Ia menceritakan bahwa Khairul mengajaknya ke resto milik adik ibunya yang paling muda. Khairul pernah menanam modal ketika usaha itu dirintis dan dulu ikut membantu memasak, tetapi sekarang jarang terlibat langsung.
'Mas Khairul mengajakmu ke sana berdua?' tanya Elisa.
'Iya, tapi aku belum menerima tanggal. Aku ingin membicarakannya dulu. Aku tidak mau pergi diam-diam, dan aku juga tidak ingin Mbak memutuskan semuanya untukku.'
Elisa mengangguk. 'Kamu mau pergi karena ingin melihat restonya atau karena merasa harus menerima ajakan?'
'Karena aku penasaran. Aku juga ingin tahu pekerjaan dan tanggung jawabnya. Tapi kalau waktunya tidak cocok, aku akan menolak atau menunda.'
'Kalau begitu, pikirkan waktu dan transportasinya. Kita bisa bicarakan setelah kamu memutuskan.'
Emilya merasa lega karena Elisa tidak langsung mengubah ajakan itu menjadi pembicaraan tentang lamaran. Ia belum meminta izin dengan cara yang membuat dirinya kembali merasa seperti anak kecil. Ia hanya ingin keluarga mengetahui rencana, terutama karena mereka tinggal bersama dan masih berbagi urusan sehari-hari.
Mereka memeriksa kalender. Ada hari yang mungkin cocok sebelum Lebaran, asalkan Emilya menyelesaikan revisi dan pembayaran kontrak tidak memerlukan tindak lanjut mendadak. Elisa tidak menawarkan untuk menentukan pilihan. Emilya menandai tanggal itu sebagai kemungkinan.
Malamnya, ia mengirim pesan kepada Khairul: 'Aku sudah cerita kepada Mbak Elisa. Ada satu hari yang mungkin cocok, tapi aku mau pastikan dulu jadwal kerja. Kita bicarakan lagi besok.'
Khairul menjawab, 'Baik. Aku tidak akan menganggap tanggal itu sudah pasti.'
Emilya menyimpan ponsel. Ia merasa kunjungan tersebut bisa menjadi kesempatan untuk melihat sisi Khairul yang belum ia kenal, tetapi tidak perlu menjadikannya ujian tunggal. Ia ingin bertanya tentang modal dan pekerjaan dengan wajar, bukan memeriksa harta atau menjadikan penghasilan sebagai ukuran nilai seseorang.
Sebelum tidur, ia mencatat beberapa hal yang ingin diketahui: apa peran Khairul dalam usaha itu sekarang, bagaimana ia memandang uang dan tanggung jawab, serta apakah ia tetap menghormati jadwal kerja Emilya. Ia menutup buku. Pertanyaan itu bisa menunggu sampai mereka bertemu.
Pada malam yang mereka pilih, Khairul menjemput Emilya setelah Tarawih. Kakinya sudah dapat dipakai berjalan tanpa dipaksakan. Mereka tiba di resto, menyapa paman Khairul, lalu makan. Usai hidangan dibereskan, keduanya tetap duduk sebentar di area terbuka. Ia ingin memahami bagaimana Khairul membagi pekerjaannya. Lelaki itu menjelaskan bahwa mengajar merupakan pekerjaan utamanya, sementara kegiatan hadrah dan urusan sawah juga memerlukan waktu. Resto bukan sumber penghasilan yang ia kelola sehari-hari.
'Kalau ada pemasukan dari modal itu, apakah Mas menganggapnya penghasilan tetap?' tanya Emilya.
'Tidak selalu. Aku tidak mau membuat rencana berdasarkan uang yang belum pasti. Penghasilan dari usaha bisa berubah dan harus mengikuti kesepakatan dengan pemiliknya.'
Emilya mengangguk. Ia menyukai jawaban itu karena tidak menjanjikan bahwa semua kebutuhan masa depan akan selalu mudah. Ia sendiri memahami pendapatan menulis bisa berubah tergantung kontrak dan jadwal pembayaran.
'Kalau suatu saat menikah, bagaimana Mas membayangkan tanggung jawab keuangan?' tanyanya. 'Aku belum bertanya karena ingin menentukan apa-apa. Aku cuma ingin tahu cara Mas berpikir.'
Khairul menarik napas. 'Menurutku perlu dibicarakan terbuka. Aku tidak ingin menganggap uang dari satu pihak otomatis menjadi milik pihak lain. Kebutuhan rumah dan tanggung jawab keluarga harus dihitung bersama, sesuai keadaan nyata.'
'Dan pekerjaan menulis?'
'Kalau itu pekerjaanmu, waktunya perlu dihormati. Kita perlu menyepakati pembagian tugas rumah dan keuangan, bukan menganggap kamu harus berhenti karena sudah menikah.'
Emilya memandangnya beberapa detik. Jawaban itu menenangkan, tetapi ia tidak menganggap percakapan sekali ini sebagai jaminan. Ia ingin melihat apakah Khairul tetap berpikir demikian ketika menghadapi keputusan konkret.
'Mas juga punya tanggung jawab kepada keluarga dan sawah, kan?'
'Iya. Aku tidak bisa pura-pura semua waktuku bebas. Kalau suatu hubungan menjadi serius, aku perlu menjelaskan tanggung jawab itu supaya pasangan tahu apa yang dihadapi.'
Emilya menghargai pengakuan tersebut. Ia tidak ingin menikah dengan bayangan ideal yang menghapus pekerjaan, keluarga, dan kewajiban masing-masing. Ia ingin tahu bentuk hidup nyata, termasuk hal-hal yang mungkin sulit.
Khairul bertanya apakah Emilya ingin berbicara tentang penghasilannya. Emilya menjawab ia belum siap membagikan angka kontrak, terutama karena pembayaran belum masuk. Ia dapat menjelaskan bahwa pendapatannya tidak selalu stabil, tetapi belum ingin membuka seluruh rincian keuangan.
'Baik. Kamu berhak menentukan kapan membicarakannya,' kata Khairul.
'Aku ingin setiap pembicaraan soal uang berlangsung karena kita sama-sama siap, bukan karena keluarga sudah menganggap kita pasti menikah.'
'Aku setuju.'
Mereka membahas kemungkinan tanggung jawab secara umum, tanpa menyusun rencana pernikahan atau menentukan siapa harus membayar apa. Emilya merasa cukup untuk hari itu. Ia ingin mengamati bagaimana Khairul mengelola pekerjaan dan komitmen sebelum membawa pembicaraan lebih jauh.
Saat mereka bersiap pulang, Khairul bertanya apakah Emilya ingin membeli makanan untuk dibawa. Emilya menolak karena sudah kenyang. Ia tidak membujuk atau membungkus makanan tanpa diminta. Mereka membayar sesuai kesepakatan: Khairul mengundang, tetapi Emilya menawarkan membayar bagiannya. Setelah membicarakannya, Khairul membayar makanan dan Emilya membayar minumannya.
Emilya merasa pembagian itu sederhana dan adil. Tidak ada yang mencatatnya sebagai utang emosional. Mereka meninggalkan resto sesuai waktu yang telah disampaikan kepada Elisa.
Sisa Ramadan menjelang Lebaran berjalan cepat. Emilya membagi waktu antara revisi naskah, membantu Elisa menyiapkan rumah, dan memeriksa kabar pembayaran kontrak. Uangnya belum masuk, tetapi jadwal administrasi semakin jelas. Ia belum membeli tiket ke Surabaya; ia menunggu sampai dana benar-benar tersedia.
Khairul mengirim pesan untuk menanyakan rencana Lebaran. Ia tidak langsung mengundang Emilya ke rumah orang tuanya. Ia hanya berkata bahwa keluarganya ingin mengenal Emilya jika ia nyaman. Emilya membaca pesan itu beberapa kali sebelum menjawab.
'Aku mau membicarakannya dulu dengan Mbak Elisa dan Mas Ali. Aku belum ingin ada pembicaraan tanggal atau lamaran.'
Khairul membalas bahwa ia memahami. 'Aku juga akan menjelaskan kepada keluargaku bahwa kita masih berkenalan. Tidak ada keputusan yang harus dibuat saat berkunjung.'
Emilya merasa lega, tetapi ia tetap ingin memastikan keluarganya memahami hal yang sama. Saat makan malam, ia mengatakan bahwa Khairul mengundangnya berkunjung ke rumah orang tuanya pada hari Lebaran atau sesudahnya. Ia belum menerima karena ingin menyepakati batas terlebih dahulu.
Elisa bertanya apakah Emilya ingin pergi. Emilya menjawab ia bersedia jika kunjungan itu hanya perkenalan keluarga dan tidak menjadi pembicaraan tentang tanggal pernikahan.
Mas Ali mengangguk. 'Kamu boleh bertemu keluarganya tanpa langsung menjanjikan apa pun. Kalau ada pertanyaan yang membuatmu tidak nyaman, kamu bisa menjawab bahwa belum saatnya membahas itu.'
Elisa menambahkan bahwa ia dapat menemani jika Emilya menginginkan. Emilya berpikir sejenak. Ia ingin datang bersama kakaknya dan Mas Ali agar tidak merasa sendirian, tetapi tidak ingin mereka mengambil alih percakapan. Ia menyampaikan itu dengan jelas.
'Aku ingin kalian ikut, tapi biarkan aku menjawab sendiri. Kalau aku minta bantuan, baru bantu.'