Elisa menyetujui. Ia tidak tersinggung karena diminta tidak menjadi juru bicara. Mereka membicarakan waktu yang mungkin cocok, menyesuaikannya dengan kunjungan keluarga lain dan pekerjaan Emilya.
Esok harinya, Emilya menyampaikan kepada Khairul bahwa ia bersedia berkunjung bersama Elisa dan Mas Ali, asalkan keluarga Khairul tahu mereka datang untuk bersilaturahmi dan berkenalan. Khairul menjawab bahwa ia akan menyampaikannya kepada orang tuanya dengan jelas.
Emilya bertanya apakah ia dapat berbicara sebentar dengan orang tua Khairul sendiri saat kunjungan. Khairul menjawab tentu saja. Ia tidak akan menjawab pertanyaan atas nama Emilya atau menyampaikan persetujuan yang belum diberikan.
Malam itu, Emilya menyiapkan beberapa pakaian Lebaran. Ia memilih yang membuatnya nyaman, bukan yang ia pikir akan membuat keluarga Khairul langsung menyukainya. Ia sadar dirinya tidak sedang mengikuti audisi menjadi menantu. Ia hanya akan datang sebagai Emilya, seseorang yang masih mengenal Khairul.
Sebelum tidur, ia memeriksa kembali kalender pekerjaan. Ada satu revisi kecil yang harus dikirim sebelum hari raya. Ia menandai waktunya agar kunjungan keluarga tidak membuat pekerjaan tertinggal. Ia ingin menjalani Lebaran tanpa meninggalkan tanggung jawab yang masih ada.
Elisa membantu Emilya memilih waktu kunjungan yang tidak bertabrakan dengan jadwal keluarga mereka. Mereka membuka kalender dan memeriksa acara yang sudah direncanakan. Emilya menolak satu waktu yang terlalu padat karena ia tahu akan lelah dan tidak dapat hadir dengan tenang.
'Kalau kita pergi setelah makan siang, kamu masih punya waktu istirahat pagi,' kata Elisa.
Emilya setuju, lalu memastikan Mas Ali juga dapat ikut. Mereka sepakat berangkat bersama setelah makan siang pada hari kedua Lebaran dan pulang sore harinya. Tidak ada rencana menginap atau memperpanjang kunjungan tanpa kesepakatan.
Elisa bertanya apakah Emilya ingin membicarakan batas tentang pernikahan sebelum pergi. Emilya menjawab ia ingin menyampaikan sendiri bila topik itu muncul. Ia tidak ingin keluarga Khairul mendapat kesan bahwa Elisa melarang atau mengatur hubungan mereka.
'Aku bisa duduk di dekatmu dan mendukung, tapi aku tidak akan menjawab menggantikanmu,' kata Elisa.
'Terima kasih, Mbak. Itu yang aku butuhkan.'
Mereka juga sepakat bahwa jika kunjungan terasa terlalu ramai atau pembicaraan mulai membuat Emilya tidak nyaman, ia boleh meminta pulang. Elisa dan Mas Ali akan menerima isyaratnya. Kesepakatan itu membuat Emilya lebih tenang, meski ia tetap sedikit gugup.
Khairul mengabari bahwa orang tuanya mengetahui rencana kunjungan. Ia telah mengatakan bahwa Emilya datang bersama kakak dan suaminya untuk bersilaturahmi. Mereka belum menentukan apa pun. Emilya membaca pesan itu dan bertanya apakah ia telah menyampaikan bahwa Emilya ingin menjawab sendiri pertanyaan tentang masa depannya.
'Sudah. Aku bilang kita masih saling mengenal dan keputusan ada pada kita masing-masing.'
Emilya merasa senang, tetapi ia tidak menganggapnya jaminan bahwa tak akan ada pertanyaan. Keluarga mungkin bertanya karena ingin tahu, bukan karena ingin menekan. Ia tetap menyiapkan jawaban yang jujur.
Menjelang Lebaran, ia menyelesaikan revisi terakhir dan mengirimkannya kepada editor. Setelah itu, ia mematikan laptop dan menyiapkan hadiah sederhana untuk dibawa. Ia bertanya kepada Elisa apakah hadiah itu sesuai, lalu memutuskan sendiri memilih makanan yang mudah dibawa dan tidak berlebihan.
'Aku takut nanti mereka menganggap kita datang membawa maksud tertentu,' ujar Emilya.
'Silaturahmi memang punya maksud: saling mengenal dan menjaga hubungan baik. Tapi kamu tidak sedang membawa janji,' jawab Elisa.
Emilya mengangguk. Kalimat itu membantunya membedakan niat berkunjung dari niat menikah. Ia bisa bersikap sopan tanpa mengiyakan hal yang belum ia pilih.
Pagi Lebaran, Emilya bangun lebih awal. Ia menjalani kegiatan keluarga dan menyapa kerabat yang datang. Setelah itu, ia kembali memeriksa pesan dari Khairul mengenai waktu kunjungan. Mereka sepakat datang pada hari yang telah dibicarakan setelah suasana keluarga lebih tenang.
Khairul mengirim salam Lebaran dan ucapan maaf. Emilya membalas dengan hangat. Mereka tidak menjadikan ucapan itu pembuka untuk membicarakan lamaran. Percakapan mereka singkat dan sesuai kesepakatan.
Sore itu, Emilya duduk bersama Elisa dan Mas Ali. Mereka memastikan rencana esok hari masih cocok. Emilya berkata ia ingin tetap pergi, tetapi meminta mereka pulang jika ia memberi isyarat. Elisa menjawab bahwa mereka akan mengikuti pilihannya.
Emilya tidur dengan sedikit gugup, tetapi tidak lagi merasa seluruh kendali berada di tangan keluarga lain. Ia telah menyepakati waktu, pendamping, dan cara pulang. Itu cukup untuk menghadapi kunjungan esok hari.
Pagi berikutnya, ia bangun dengan suara keluarga yang bersiap menyambut kerabat. Ia membantu Elisa menata makanan, menyapa tamu yang datang, dan membalas ucapan dari teman-temannya. Kegiatan itu membuat pikirannya tidak terus tertuju pada rumah Khairul. Ketika ada sepupu bertanya apakah ia sedang dekat dengan seseorang, Emilya hanya menjawab bahwa ia sedang mengenal teman baru. Ia tidak merasa perlu membuat pengumuman lebih dari itu.
Setelah rumah mulai sepi, ia berganti pakaian dan memeriksa barang-barang yang akan dibawa. Hadiah sederhana sudah dibungkus rapi. Ia membawa tas kecil berisi ponsel, dompet, dan obat yang biasa ia perlukan. Tidak ada barang yang disiapkan untuk menginap, karena sejak awal mereka sepakat kunjungan itu hanya beberapa jam.
Elisa bertanya apakah Emilya masih ingin pergi. Pertanyaan itu tidak dimaksudkan untuk membatalkan, hanya memberi kesempatan untuk mengubah pikiran. Emilya memikirkan jawabannya dengan jujur. Ia masih gugup, tetapi rasa gugup bukan alasan untuk menolak sesuatu yang memang ingin ia lakukan.
'Aku masih mau. Kalau nanti aku berubah pikiran, aku akan bilang.'
'Baik. Kita berangkat sesuai rencanamu.'
Mas Ali memastikan kendaraan siap dan rute sudah jelas. Emilya meminta agar mereka tidak terburu-buru. Ia ingin menikmati hari raya tanpa harus merasa ada tenggat untuk sampai atau harus tinggal sampai waktu tertentu. Mas Ali menyanggupi.
Sesudah makan siang pada hari kedua Lebaran, Emilya berangkat bersama Elisa dan Mas Ali. Ia tidak membawa barang untuk menginap. Khairul sudah mengetahui mereka datang untuk bersilaturahmi dan masih saling mengenal. Pembayaran kontraknya belum masuk, dan tiket Surabaya belum ia beli. Kunjungan itu tidak mengubah rencana yang akan ia jalani setelah dananya tersedia.