Perjalanan berlangsung tenang. Elisa mengajak Emilya membicarakan hal ringan agar pikirannya tidak terus berputar. Mas Ali mengemudi dengan santai. Emilya memegang hadiah kecil yang mereka bawa dan sesekali memeriksa ponsel untuk memastikan alamat masih benar.
Saat tiba, Khairul menyambut mereka di depan rumah. Ia menyapa Elisa dan Mas Ali, lalu bertanya kepada Emilya apakah perjalanannya nyaman. Emilya menjawab iya. Ia memperkenalkan diri kepada orang tua Khairul dengan sopan. Mereka menyambut rombongan itu dengan ramah.
Emilya duduk di ruang tamu bersama keluarga. Ia memilih tempat duduk yang tidak membuatnya terpojok dan memastikan ia dapat melihat pintu serta orang-orang di sekitarnya. Khairul duduk tidak terlalu dekat. Sikap sederhana itu membuatnya merasa lebih santai.
Percakapan awal berlangsung tentang perjalanan dan suasana Lebaran. Orang tua Khairul bertanya tentang pekerjaan Emilya. Ia menjelaskan bahwa dirinya menulis novel dan sedang menyelesaikan beberapa revisi. Mereka bertanya apakah pekerjaannya dilakukan dari rumah. Emilya menjawab sebagian besar memang begitu, tetapi tetap ada tenggat dan proses kontrak.
Orang tua Khairul bertanya bagaimana mereka mulai berkenalan. Khairul menjelaskan bahwa ia meminta nomor Emilya melalui Bu Asti dan kemudian menghubunginya. Ia tidak mengatakan bahwa keluarga telah menjodohkan mereka atau bahwa Emilya sudah menyetujui hubungan serius.
Emilya menambahkan, 'Kami masih saling mengenal. Saya datang untuk silaturahmi, belum untuk membicarakan keputusan besar.'
Orang tua Khairul mengangguk. Mereka tidak terlihat tersinggung. Mereka bertanya tentang keluarga Emilya dan kegiatan menulisnya, lalu membicarakan hal-hal ringan seputar Lebaran.
Elisa ikut berbicara seperlunya, tetapi tidak menceritakan hal pribadi Emilya. Mas Ali juga menjaga percakapan tetap santai. Emilya merasakan dukungan mereka tanpa kehilangan suaranya sendiri.
Khairul beberapa kali menawarkan minuman, tetapi bertanya lebih dulu apa yang Emilya inginkan. Ia memilih teh. Tidak ada yang memaksa dirinya makan lebih banyak atau duduk lebih lama dari kenyamanan.
Saat mereka duduk, ibu Khairul menawarkan beberapa hidangan. Emilya mengambil porsi kecil lebih dulu. Ia berterima kasih dan berkata semuanya tampak mengundang selera. Percakapan berkembang tentang makanan Lebaran, perjalanan keluarga, dan cuaca yang panas. Tak seorang pun langsung mengarahkan obrolan pada lamaran.
'Apa yang paling kamu sukai dari menulis?' tanya ibu Khairul.
Emilya berpikir sejenak. 'Saya suka bisa membuat tokoh belajar mengambil keputusan. Kadang mereka lambat, tapi saya ingin mereka punya alasan sendiri sebelum berubah.'
Khairul tersenyum tipis, tetapi tidak menyela. Emilya menyadari ia tidak perlu membuat ceritanya terdengar hebat. Ia cukup menjawab apa yang memang ia rasakan.
Ibu Khairul bertanya apakah Emilya bisa bekerja dari mana saja. Emilya mengatakan bisa, selama ada internet dan ia dapat mengatur waktu. Ia sedang mempertimbangkan perjalanan ke Surabaya untuk bertemu rekan penulis dan mencoba rutinitas baru. Rencana itu belum pasti karena ia menunggu pembayaran kontrak, dan ia belum membeli tiket.
Khairul tidak tampak terkejut. Ia telah mengetahui rencana tersebut, tetapi Emilya senang dapat menyampaikannya sendiri kepada keluarganya. Ia tidak ingin perjalanan itu hanya dikenal sebagai sesuatu yang disetujui Khairul.
'Semoga rencananya lancar,' kata ayah Khairul. 'Yang penting kamu sudah memperhitungkan biaya dan waktunya.'
'Saya sedang menyusunnya,' jawab Emilya. 'Saya ingin berangkat kalau memang sanggup, bukan karena terburu-buru.'
Setelah percakapan tentang pekerjaan, salah satu orang tua Khairul bertanya apakah Emilya dan Khairul sudah memiliki rencana ke depan. Pertanyaan itu disampaikan dengan nada ingin tahu, tetapi Emilya tetap merasakan jantungnya berdebar.
Khairul memandang Emilya sebentar, memberi ruang baginya untuk menjawab. Ia tidak langsung berkata bahwa mereka berniat menikah. Emilya menarik napas dan menyampaikan kalimat yang telah ia siapkan.
'Kami masih berkenalan. Saya belum membuat keputusan tentang pernikahan. Saya ingin menjalani rencana kerja dan perjalanan yang sudah saya susun setelah Lebaran.'
Orang tua Khairul mengangguk. 'Baik. Yang penting kalian saling mengenal dengan jujur.'
Emilya merasa ketegangan di bahunya sedikit berkurang. Ia tidak tahu apakah pertanyaan itu akan berlanjut, tetapi jawaban pertamanya diterima tanpa bantahan.
Waktu kunjungan hampir selesai. Emilya meminta izin pulang karena masih ada pekerjaan dan ingin beristirahat. Khairul tidak meminta mereka tinggal lebih lama. Orang tuanya mengucapkan terima kasih atas kedatangan mereka dan berharap mereka dapat bersilaturahmi lagi pada waktu yang nyaman.
Emilya membalas dengan sopan. Ia merasa pertemuan itu berjalan baik karena ia dapat menjawab sendiri dan pulang saat ia pilih. Tidak ada tanggal yang ditetapkan, dan tidak ada keputusan yang dibuat atas namanya.
Di perjalanan pulang, Elisa bertanya apakah Emilya merasa nyaman. Emilya menjawab bahwa ia sempat gugup ketika ditanya tentang masa depan, tetapi lega karena bisa mengatakan belum siap menentukan apa pun.
'Mas Khairul tidak menjawab untukmu,' kata Elisa.
'Iya. Itu membuatku lebih tenang.'
Mas Ali bertanya apakah mereka ingin berhenti sebentar. Emilya menjawab tidak, ia ingin pulang. Mereka melanjutkan perjalanan tanpa membahas pertanyaan itu berulang kali.
Sesampainya di rumah, Emilya melepas alas kaki dan duduk sebentar di ruang tamu. Ia merasa pertemuan itu cukup melelahkan, tetapi bukan karena ada pertengkaran. Ia hanya perlu waktu untuk memproses wajah, suara, dan percakapan baru.
Elisa bertanya apakah Emilya ingin menceritakan lebih banyak. Emilya berkata ia ingin beristirahat dahulu. Elisa menerima dan tidak mengejar cerita. Mas Ali mengambilkan air, lalu membiarkan Emilya duduk sendiri beberapa menit.
Setelah lebih tenang, Emilya mengirim pesan kepada Khairul bahwa ia sudah sampai. Khairul membalas bahwa ia juga berterima kasih atas kunjungannya. Ia tidak bertanya apakah Emilya menyukai keluarganya atau apakah ia kini siap mengambil langkah berikutnya.
Emilya menulis, 'Terima kasih sudah membiarkan aku menjawab sendiri tadi. Aku masih perlu memikirkan pertemuan itu.'
Khairul membalas, 'Tentu. Aku tidak akan meminta jawaban malam ini.'
Emilya merasa lega. Ia tidak mengatakan bahwa pertemuan itu membuatnya yakin atau tidak yakin. Ia masih ingin mengenal keluarga Khairul perlahan-lahan, sama seperti ia masih mengenal Khairul.
Malam itu, ia menulis catatan singkat tentang kunjungan. Ia mencatat bahwa orang tua Khairul menerima penjelasannya, pertanyaan masa depan tidak berkembang menjadi desakan, dan Khairul tidak membuat keputusan atas namanya. Ia juga menuliskan bahwa rasa gugupnya tetap nyata dan ia butuh waktu.
Keesokan harinya, Emilya kembali mengecek surel tentang pembayaran kontrak. Belum ada kepastian baru. Ia tidak mengubah rencana Surabaya, tetapi juga tidak membuat tanggal sebelum dana masuk. Ia menandai satu tanggal untuk menanyakan kembali sesuai prosedur.