Hari-hari setelah Lebaran kembali dipenuhi pekerjaan. Emilya menyelesaikan revisi yang sempat tertunda dan menyusun daftar hal yang harus ia bereskan sebelum perjalanan. Rencana ke Surabaya tetap ada, tetapi belum bisa dianggap pasti. Ia menunggu pembayaran kontrak yang menjadi dasar anggarannya, bukan sekadar berharap uang itu datang tepat waktu.
Pagi itu, ia membuka surel dan membaca lagi pesan dari bagian administrasi platform novel digital. Pembayaran masih diproses. Tidak ada tanggal baru, hanya pemberitahuan bahwa berkas telah diterima. Emilya ingin segera mengirim pertanyaan, tetapi ia menahan diri sampai jam kerja dimulai agar pesannya tidak tenggelam di luar jam operasional.
Sambil menunggu, ia membuka catatan anggaran. Ia memisahkan biaya perjalanan, penginapan, makan, dan uang cadangan. Ia juga menulis jumlah yang tidak boleh disentuh karena harus dipakai untuk kebutuhan rumah dan kewajiban kerja. Angka-angka itu membuat rencana Surabaya terasa lebih nyata sekaligus mengingatkannya bahwa ia harus tetap realistis.
Elisa melihat Emilya menghitung ulang daftar itu. 'Kamu mau berangkat kalau pembayaran masuk?'
'Kalau jumlahnya sesuai kontrak dan jadwalnya masih masuk akal. Kalau tidak, aku tunda. Aku tidak mau pulang dengan utang hanya karena memaksakan rencana.'
Elisa mengangguk. Ia tidak mencoba membujuk Emilya untuk berangkat atau tinggal. 'Kamu sudah memikirkan batas pengeluaran. Itu bagus. Jangan lupa istirahat juga.'
Emilya berterima kasih. Ia senang kakaknya dapat mendukung tanpa mengambil alih keputusan. Ia kembali ke laptop untuk menyiapkan surel yang akan dikirim. Bahasanya sopan, menyebut nomor kontrak dan tanggal penyerahan naskah, lalu meminta perkiraan waktu pembayaran. Ia membaca ulang agar tidak terdengar menuduh. Setelah jam kerja dimulai, ia mengirimkannya.
Siang menjelang tanpa balasan. Emilya berusaha berkonsentrasi pada tulisan, meski sesekali matanya kembali ke kotak masuk. Ia mematikan notifikasi selama satu jam agar tidak terus memeriksa layar. Ia menyelesaikan dua paragraf yang perlu diperbaiki, lalu berdiri untuk membuat minuman. Rutinitas itu menahan pikirannya agar tidak menggantung pada satu kabar.
Menjelang sore, balasan masuk. Administrasi mengonfirmasi pembayaran sedang dijadwalkan dan meminta Emilya menunggu proses bank. Tidak ada rincian yang dapat dipastikan hari itu. Ia membaca pesan itu dua kali. Berkasnya tidak bermasalah, tetapi uang belum berada di rekening.
Emilya mengirim ucapan terima kasih dan mencatat statusnya. Ia tidak langsung membeli tiket. Ia hanya memperbarui anggaran dengan keterangan 'menunggu dana masuk'. Keputusan itu terasa kecil, tetapi ia tahu menepati batas yang dibuat sendiri lebih penting daripada terbawa semangat.
Khairul mengirim pesan menjelang malam, menanyakan apakah persiapan Surabaya berjalan. Emilya menjawab bahwa ia sudah mendapat kabar tentang proses pembayaran, tetapi belum menerima uangnya. Ia mengatakan tidak akan memesan apa pun sampai dana itu benar-benar masuk.
'Bagus. Jangan memaksakan jadwal hanya karena ingin cepat berangkat,' balas Khairul.
Emilya membaca kalimat itu dengan hati-hati. Ada masa ketika nasihat seperti itu terasa seperti seseorang sedang mengatur langkahnya. Kali ini Khairul tidak menambahkan syarat atau menawarkan mengambil alih biaya. Ia hanya menyetujui keputusan yang sudah dibuat Emilya.
'Aku memang mau mengatur ini sendiri. Kalau jadwal berubah, aku akan memberi tahu,' tulisnya.
Khairul menjawab bahwa ia mengerti. Mereka tidak membahas siapa yang akan membayar tiket atau apakah Emilya sebaiknya membatalkan perjalanan. Emilya bersyukur percakapan itu tidak menggeser pusat keputusan dari dirinya.
Malamnya, ia kembali memeriksa anggaran. Ia menurunkan sedikit dana untuk belanja yang tidak perlu dan memastikan tetap ada uang cadangan jika jadwal pulang berubah. Ia juga menulis pertanyaan untuk rekannya tentang hari yang paling cocok untuk bertemu. Pesan itu ia simpan sebagai draf, menunggu kepastian dana dan tanggal.
Sebelum tidur, Emilya melihat catatan di meja: kontrak, biaya, jadwal, dan pekerjaan. Semuanya belum selesai, tetapi kini ia tahu langkah berikutnya. Tunggu pembayaran, cek nominal, lalu putuskan. Ia tidak harus membuktikan kemandiriannya dengan mengambil risiko yang tidak sanggup ia tanggung.
Hari itu tidak memberinya tiket atau kepastian perjalanan. Namun Emilya merasa lebih siap karena ia menanyakan haknya dengan jelas dan menjaga uangnya dengan cermat. Surabaya tetap menjadi kemungkinan yang ia pilih sendiri. Ketika waktunya tepat, ia akan berangkat tanpa mengorbankan rasa aman yang sedang ia bangun.
Pembayaran kontrak akhirnya masuk beberapa hari kemudian. Emilya menerima notifikasi bank saat sedang menyunting naskah. Ia tidak langsung bersorak atau membuka aplikasi tiket. Ia memastikan nama pengirim dan jumlahnya cocok dengan kontrak, lalu menyimpan bukti transaksi di folder kerja. Baru setelah itu ia menarik napas panjang.
Jumlahnya sesuai dengan yang dijanjikan, meski ia tahu sebagian akan dipakai untuk kebutuhan lain. Ia kembali membuka catatan anggaran dan membagi dana sesuai pos. Ia menyisihkan pajak dan biaya rumah, kemudian menentukan batas untuk perjalanan. Ia menghitung ulang dua kali agar uang cadangan tidak tercampur dengan biaya makan atau transportasi.
Elisa ikut melihat tabel itu setelah Emilya meminta pendapatnya tentang satu pos. Elisa menunjukkan bahwa biaya perjalanan lokal belum dihitung. Emilya berterima kasih lalu menambahkan perkiraan, tetapi ia menolak ketika Elisa menawarkan membayar sebagian.
'Aku ingin mencoba mengatur ini dari uang kontrakku. Kalau nanti ada keadaan darurat, aku akan bilang. Tapi untuk rencana ini aku sudah menyiapkan anggaran.'
Elisa menerima jawabannya. 'Baik. Aku tetap bisa membantu mengecek rencana kalau kamu mau.'
Emilya menuliskan tanggal perjalanan yang masih tersedia, membandingkan harga dan aturan perubahan tiket. Ia tidak memilih jadwal termurah jika jamnya membuat perjalanan terlalu melelahkan atau sulit dijangkau. Ia memilih waktu siang, lalu membaca ulang ketentuan bagasi. Ia tidak ingin baru mengetahui batas barang setelah sampai di terminal.
Salah satu teman penulis dari komunitas daringnya tinggal di Surabaya dan telah menawarkan tempat menginap. Emilya menghubunginya kembali sebelum membuat reservasi. Setelah membicarakan jadwal mereka, ia memilih mencoba tinggal di Surabaya selama enam hari di penginapan sederhana. Ia ingin memiliki ruang kerja dan waktu pribadi tanpa merepotkan tuan rumah. Ia menjelaskan perubahan dari tawaran menginap di rumah rekannya itu; temannya menerima dan tetap bersedia menemuinya. Emilya memperbarui anggaran untuk biaya kamar selama enam hari beserta uang cadangan sebelum membeli tiket. Ia juga memastikan kembali tanggal pertemuan dengan rekannya itu. Mereka bertukar pesan singkat dan menemukan satu hari yang memungkinkan. Rekannya tidak memaksa Emilya datang pada jam tertentu; mereka sepakat mengonfirmasi lagi setelah tiket dibeli. Emilya mengirim tangkapan layar jadwal, tanpa membagikan rincian lain yang tidak perlu.
Ia kemudian membuka peta dan mencatat rute dari tempat turun ke penginapan yang telah ia pilih. Ia membandingkan biaya perjalanan dan memastikan tempat itu memiliki alamat serta informasi pemesanan yang jelas. Ia tidak memilih tempat yang melebihi anggaran hanya demi terlihat nyaman. Ia juga menulis nomor pemesanan dan informasi penting di buku catatan jika ponsel kehabisan daya.
Khairul menelepon malam itu setelah bertanya lewat pesan apakah Emilya punya waktu. Emilya menyanggupi panggilan singkat. Ia memberi tahu bahwa pembayaran sudah masuk dan ia sedang memilih tiket.
'Apa kamu ingin aku mengantar ke terminal?' tanya Khairul.
Emilya terdiam sebentar. Ia menghargai tawaran itu, tetapi ia ingin perjalanan ini benar-benar ia atur sendiri. 'Terima kasih. Aku sudah menyusun perjalanan bersama Mbak Elisa dan Mas Ali. Mereka mengantar sampai titik keberangkatan.'
'Baik. Aku tidak bermaksud mengambil alih.'
'Aku tahu. Aku hanya ingin menjalani rencana ini dengan caraku. Nanti aku kabari kalau sudah sampai, seperti yang biasa kulakukan dengan keluarga.'
Khairul mengiyakan. Ia tidak bertanya mengapa Emilya lebih memilih keluarga. Emilya merasa percakapan itu menunjukkan ia masih mampu menyampaikan batas tanpa membuatnya menjadi pertengkaran.
Setelah panggilan, Emilya membeli tiket. Ia menyimpan konfirmasi, mencatat waktu berangkat dan tiba, lalu mengirim informasi seperlunya kepada Elisa. Ia juga memberi tahu rekannya bahwa jadwalnya sudah pasti dan mereka dapat bertemu pada hari yang disepakati. Tidak ada perubahan mendadak atau keputusan yang dibuat atas desakan orang lain.
Hari-hari menjelang keberangkatan diisi dengan pekerjaan. Emilya menyelesaikan beberapa revisi, mengatur pesan otomatis untuk editor jika ia sedang dalam perjalanan, dan membuat daftar barang. Ia membawa pakaian secukupnya, perlengkapan kerja, pengisi daya, serta obat pribadi. Ia menolak membawa laptop kedua yang ditawarkan Elisa karena barang itu tidak diperlukan.
Mas Ali bertanya apakah ia ingin diantar sampai pintu masuk. Emilya menjawab iya, tetapi ia akan mengurus bagasi dan masuk sendiri. Mas Ali menyetujuinya. Mereka sepakat titik penjemputan saat kembali juga akan ditentukan setelah Emilya memastikan jadwal pulang.
Ia menghubungi Khairul untuk memberi tahu tanggal berangkat, tetapi tidak meminta izin. Ia menulis bahwa ia akan mengabari setelah sampai. Khairul membalas dengan doa agar perjalanan lancar, lalu bertanya apakah ia sudah menyiapkan anggaran cadangan. Emilya menjawab sudah.
'Aku senang kamu menjalankan rencanamu,' kata Khairul saat mereka kembali bertukar pesan.
Emilya tersenyum kecil. Ia tidak membutuhkan persetujuan Khairul, tetapi dukungan yang tidak mengikat terasa menyenangkan. Ia membalas terima kasih dan kembali ke daftar barang.
Malam sebelum keberangkatan, ia memeriksa dokumen sekali lagi. Tiket, alamat penginapan, jadwal bertemu rekannya, serta nomor penting tersimpan. Ia memastikan jumlah uang tunai secukupnya dan sisanya tetap aman di rekening. Setelah semuanya beres, ia menutup tas.
Surabaya kini bukan lagi angan-angan tanpa rencana. Emilya telah membayar perjalanan dari anggaran yang ia susun, mengatur tempat tinggal dan pekerjaan, serta menetapkan siapa yang perlu diberi kabar. Ia merasa gugup, tetapi kegugupan itu tidak membuatnya mundur. Ia akan menjalani perjalanan itu dengan tanggung jawabnya sendiri.