Emilya membawa daftar pertanyaannya ke pertemuan berikutnya, tetapi tidak langsung membacakan semuanya. Ia ingin percakapan terasa seperti dialog, bukan wawancara. Khairul datang sesuai waktu dan mereka memilih duduk di tempat yang cukup tenang.
Emilya memulai dengan pembicaraan tentang tempat tinggal. Ia berkata ia masih belum dapat berjanji tinggal bersama keluarga Khairul atau pindah dekat mereka. Ia ingin mengetahui kewajiban yang akan membuat lokasi itu penting dan mempertimbangkan pilihan lain.
Khairul menjelaskan bahwa ia ingin tetap dapat membantu orang tuanya, tetapi ia tidak memiliki kewajiban yang mengharuskan pasangan tinggal serumah. Ia berkata selama ini ia mengira tinggal dekat akan menjadi pilihan paling mudah. Setelah berbicara dengan Emilya, ia menyadari mudah bagi dirinya belum tentu nyaman bagi pasangannya.
Emilya bertanya apakah ia bersedia mempertimbangkan tempat yang memberi keduanya ruang dan akses yang wajar kepada keluarga. Khairul menjawab ia bersedia, selama mereka dapat mengatur bantuan dan kunjungan dengan baik.
Emilya tidak merasa semua masalah selesai. Ia berkata mereka perlu mengetahui kebutuhan nyata jika benar-benar menuju pernikahan, termasuk biaya dan pekerjaan. Khairul mengakui ia belum memiliki perhitungan, sebab belum ada keputusan tinggal di mana.
Mereka lalu berbicara tentang pekerjaan rumah. Khairul mengatakan ia tidak ingin Emilya berhenti menulis. Ia juga mengerti bahwa pekerjaan rumah tidak bisa otomatis menjadi tanggung jawab Emilya. Namun jadwal mengajarnya dan kegiatan keluarga kadang berubah, sehingga mereka perlu fleksibel.
Emilya berkata fleksibel tidak berarti beban selalu jatuh pada orang yang ada di rumah. Jika ia sedang mengejar tenggat, ia tidak bisa mengambil alih semua tugas. Mereka perlu membicarakan pembagian berdasarkan kondisi masing-masing.
Khairul setuju. Ia juga menyampaikan bahwa ia ingin tetap mengajar dan mengikuti kegiatan hadrah. Emilya tidak meminta ia berhenti. Ia hanya ingin keduanya tidak menggunakan kegiatan sebagai alasan untuk mengabaikan pasangan.
Percakapan bergerak ke keuangan. Emilya menjelaskan kembali bahwa pendapatan menulis tidak selalu stabil. Ia ingin menabung dan memiliki dana pribadi. Khairul berkata penghasilan mengajarnya lebih teratur, tetapi ia tidak ingin menjanjikan akan menanggung semua hal atau menganggap penghasilan Emilya sebagai tambahan yang otomatis tersedia.
Emilya berkata mereka harus menetapkan kebutuhan dasar dan kewajiban kepada keluarga sebelum membuat anggaran rumah tangga. Khairul setuju. Mereka tidak menyebut angka, tetapi sepakat bahwa kedua pihak perlu mengetahui kondisi sebenarnya sebelum mengambil keputusan.
Khairul bertanya apakah pertanyaan-pertanyaan itu membuat Emilya merasa mereka tidak cocok. Emilya menjawab belum tentu. Ia tidak mencari jawaban yang sama persis, tetapi ingin melihat apakah mereka dapat menemukan kesepakatan tanpa salah satu merasa harus menyerah pada semua hal.
'Aku tidak ingin menerima pertunangan hanya supaya keluarga tenang,' katanya. 'Aku ingin tahu kita bisa membicarakan hal yang tidak nyaman.'
Khairul menjawab ia memahami. Ia juga ingin yakin Emilya memilihnya karena mengenal dirinya, bukan karena takut kehilangan kesempatan. Ia berkata ia tidak ingin membuat Emilya merasa dikejar waktu.
Mereka membahas bahwa beberapa perbedaan akan tetap ada. Emilya mungkin memerlukan waktu menyendiri setelah bekerja; Khairul mungkin memiliki kegiatan yang melibatkan keluarga atau hadrah. Mereka harus belajar menyampaikan kebutuhan sebelum kecewa menumpuk.
Emilya merasa pembicaraan berlangsung jujur, tetapi ia belum ingin membuat keputusan malam itu. Khairul tidak meminta jawaban. Mereka mengakhiri pertemuan sesuai waktu.
Emilya mengambil beberapa hari sebelum berbicara lagi dengan Khairul. Ia menyelesaikan revisi, menata anggaran, dan menjalani waktu bersama Elisa. Ia tidak menunda karena ingin menguji Khairul; ia hanya ingin memastikan jawabannya berasal dari pemikirannya sendiri.
Ia membaca ulang kolom kesepakatan dan pertanyaan yang belum terjawab. Mereka belum menentukan kota tempat tinggal atau pembagian pengeluaran, tetapi telah setuju membahasnya bersama dan tidak memaksakan keputusan. Mereka sama-sama ingin mempertahankan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga dengan batas yang sehat.
Emilya menyadari ia tidak membutuhkan semua detail selesai sebelum melangkah ke pertunangan. Namun ia perlu tahu bahwa hal penting tidak akan ditutupi atau diputuskan sepihak. Ia merasa Khairul telah menunjukkan kesediaan untuk mendengar, tetapi ia ingin menyampaikan syarat emosionalnya dengan jelas.
Ia menghubungi Khairul dan mengajak bertemu. Khairul menyetujui. Mereka bertemu di tempat yang telah dipilih bersama dan duduk berhadapan. Emilya memulai dengan mengatakan ia sudah memikirkan percakapan sebelumnya.
'Aku ingin melanjutkan hubungan ini ke pertunangan,' katanya. 'Tapi aku tidak ingin pertunangan berarti tanggal pernikahan langsung ditentukan atau semua pertanyaan dianggap selesai.'
Khairul mendengarkan dengan serius. Ia berkata ia juga ingin melamar Emilya, tetapi ia tidak ingin melakukannya sebelum memastikan Emilya benar-benar siap. Ia bertanya apakah Emilya menginginkan keluarga hadir dalam pembicaraan itu.
Emilya menjawab ia bersedia membicarakan pertunangan bersama keluarga, tetapi ia ingin mereka berdua menyetujui waktunya terlebih dahulu. Ia tidak ingin ada acara yang disiapkan sebelum ia mengatakan ya secara langsung.
'Aku mau memilih ini karena aku ingin, bukan karena merasa sudah terlalu jauh untuk mundur,' tambahnya.
Khairul mengangguk. Ia mengatakan ia memahami dan akan bertanya secara jelas, bukan menganggap sikap Emilya sebagai persetujuan. Emilya merasa lega karena mereka membicarakan cara melamar sebelum momen itu terjadi.
Mereka sepakat bahwa jika Khairul mengajukan lamaran, Emilya boleh menjawab pada saat itu atau meminta waktu. Khairul berkata ia berharap jawabannya iya, tetapi ia tidak akan menyalahkan Emilya jika ia membutuhkan waktu. Emilya berkata ia juga berharap hubungan mereka berhasil, tetapi ia ingin tetap bisa bertanya atau menunda jika ada hal yang belum jelas.
Khairul bertanya apakah Emilya siap memberi tahu keluarga bahwa mereka berencana menuju pertunangan. Emilya menjawab ia siap, asalkan mereka menyebutnya sebagai rencana yang belum memiliki tanggal. Mereka tidak akan mengumumkan pernikahan atau menyebut Emilya sebagai calon istri sebelum ia menerima lamaran.
Mereka mendiskusikan kapan keluarga dapat bertemu. Emilya memeriksa jadwal dan memilih waktu beberapa pekan ke depan agar ia dapat menyelesaikan pekerjaan dan tidak terburu-buru. Khairul memastikan jadwalnya juga memungkinkan. Mereka sepakat belum menentukan tanggal pernikahan; pertemuan itu hanya untuk membicarakan niat dan langkah menuju pertunangan.
Emilya merasa keputusan itu besar, tetapi tidak menakutkan. Ia tahu masih ada hal yang perlu diselesaikan. Namun ia melihat bahwa Khairul dapat mendengar batasnya dan menerima bahwa pertunangan tidak menghapus kemandirian.
Setelah pulang, ia memberi tahu Elisa bahwa ia setuju melangkah menuju pertunangan, tetapi belum menerima lamaran resmi. Elisa bertanya apakah Emilya merasa mantap. Emilya menjawab ia merasa siap untuk langkah itu, sambil tetap memahami bahwa ia dapat meminta waktu ketika lamaran diajukan.
Mas Ali mendukung dan mengingatkan bahwa keluarga akan membantu jika diminta, bukan mengambil alih pembicaraan. Emilya berterima kasih. Ia merasa keluarganya memahami bahwa dukungan terbaik adalah memberi ruang baginya untuk menjawab sendiri.
Emilya dan Khairul memastikan jadwal mereka sebelum mengundang keluarga. Emilya masih memiliki pekerjaan yang harus dikirim, sedangkan Khairul mengatur jadwal mengajar dan latihan hadrah. Mereka tidak ingin menentukan hari berdasarkan harapan lalu membatalkannya karena salah satu belum siap.
Setelah melihat kalender, mereka menemukan satu sore yang memungkinkan. Emilya mengusulkan agar pertemuan berlangsung di rumah Elisa, dengan keluarga inti saja. Ia ingin suasana yang cukup tenang untuk berbicara, bukan acara besar yang membuat jawaban terasa harus diberikan di depan banyak orang.
Khairul setuju. Ia bertanya apakah Emilya ingin ia datang bersama orang tuanya atau berbicara terlebih dahulu secara pribadi. Emilya menjawab ia bersedia keluarga hadir, tetapi ia ingin Khairul mengajukan pertanyaan langsung kepadanya dan memberi ruang untuk menjawab.
'Aku tidak mau semua orang bicara lalu aku tinggal mengangguk,' kata Emilya.
'Aku juga tidak mau begitu. Kamu yang akan menjawab. Keluarga hanya menjadi saksi dan memberi dukungan.'
Emilya memberi tahu Elisa bahwa Khairul dan orang tuanya akan datang. Ia menjelaskan maksud pertemuan dengan kalimat yang sama. Elisa bertanya apakah Emilya ingin ia menyiapkan sesuatu. Emilya menjawab makanan sederhana saja, tanpa dekorasi atau perlengkapan yang membuat suasana seperti pesta.
Elisa mengangguk. Ia berjanji tidak akan menyela atau memberi jawaban bagi Emilya. Mas Ali juga setuju hadir sebagai keluarga, bukan sebagai pihak yang akan bernegosiasi.
Hari-hari menjelang pertemuan tetap berjalan dengan pekerjaan. Emilya mengirim revisi lebih awal agar tidak memikirkan tenggat saat keluarga berkumpul. Ia memeriksa anggaran dan mengatur waktu istirahat. Ia tidak ingin membuat acara itu menjadi satu-satunya hal dalam pikirannya.
Malam sebelum pertemuan, Emilya memastikan jadwal sudah jelas. Ia mengirim pesan kepada Khairul bahwa ia siap bertemu sesuai rencana. Khairul membalas dengan ucapan terima kasih dan mengatakan ia tidak akan datang dengan prasangka bahwa jawabannya pasti iya.
Emilya merasa gugup, tetapi bukan karena takut kehilangan kendali. Ia telah menjelaskan apa yang ia inginkan. Besok ia akan mendengarkan Khairul dan memilih jawaban yang sesuai dengan perasaannya.
Pada sore yang telah disepakati, rumah Elisa terasa lebih tenang dari biasanya. Emilya membantu menyiapkan minuman, lalu duduk bersama Elisa dan Mas Ali di ruang keluarga. Tidak ada hiasan khusus. Mereka hanya menata kursi agar semua orang dapat duduk dan berbicara dengan nyaman.
Khairul datang bersama orang tuanya sesuai waktu. Mereka menyapa satu sama lain dengan hangat dan berbincang ringan terlebih dahulu. Emilya menyukai bahwa tidak ada yang langsung memulai pembicaraan sebelum semua orang duduk dengan tenang.
Ayah Khairul berkata mereka datang untuk berbagi niat dan saling mengenal, bukan menentukan tanggal pernikahan. Elisa mengangguk dan mengatakan Emilya akan menjawab sendiri pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Semua menyetujui.
Khairul kemudian meminta izin berbicara kepada Emilya. Ia duduk berhadapan dengannya, dengan kedua keluarga tetap berada di ruangan yang sama tetapi tidak menginterupsi. Ia terlihat gugup, namun berusaha berbicara dengan jelas.
'Emilya, aku sudah mengenalmu selama ini dan masih ingin terus mengenalmu. Aku tahu pekerjaanmu, keluargamu, serta rencana hidupmu penting. Aku ingin bertanya apakah kamu bersedia bertunangan denganku dan melanjutkan hubungan ini menuju pernikahan, setelah kita menyepakati kesiapan dan waktunya bersama.'
Emilya mendengarkan sampai selesai. Ia memperhatikan bahwa Khairul tidak menyebut tanggal atau menganggap jawaban telah diberikan. Ia juga tidak mengatakan bahwa keluarga sudah sepakat atas nama mereka.
Emilya menarik napas. Ia telah membayangkan momen ini, tetapi mendengar pertanyaan secara langsung membuatnya terasa nyata. Ia berkata, 'Aku bersedia menerima lamaranmu untuk bertunangan. Tapi aku ingin jelas bahwa hari ini kita belum menentukan tanggal pernikahan. Kita masih perlu membicarakan beberapa hal dengan keluarga dan satu sama lain.'
Khairul tersenyum lega, namun ia tetap bertanya, 'Kamu menjawab iya karena memang ingin?'
'Iya. Aku sudah memikirkannya. Aku tidak menjawab karena keluargaku hadir atau karena takut mengecewakan siapa pun.'
Elisa menunduk dengan mata berkaca-kaca, tetapi tidak menyela. Mas Ali tersenyum. Orang tua Khairul mengucapkan selamat dengan hangat tanpa langsung membahas tanggal. Emilya merasa keputusan itu tetap menjadi miliknya meski keluarga menyaksikan.
Khairul mengucapkan terima kasih. Mereka menyepakati bahwa pertunangan dimulai hari itu, tanpa cincin atau perayaan tambahan. Pengumuman kepada keluarga lebih luas dan tanggal pernikahan akan mereka bicarakan kemudian.
Emilya mengangguk setelah penjelasan itu disepakati. Ia tidak perlu mengulang jawabannya di hadapan rombongan lain agar keputusan sore tersebut dianggap sungguh-sungguh.
Orang tua Khairul berkata mereka senang, tetapi tidak meminta Emilya memberi tanggal. Ayahnya mengatakan mereka dapat menentukan langkah berikutnya setelah Emilya dan Khairul berbicara tentang hal-hal yang belum selesai. Elisa menyambut sikap itu.
Setelah suasana lebih santai, keluarga berbincang tentang pekerjaan dan kegiatan. Emilya merasa pertemuan itu tidak berubah menjadi rapat pernikahan. Mereka makan bersama dan menikmati waktu tanpa membuat rencana besar sebelum waktunya.
Sebelum pulang, Khairul bertanya apakah Emilya ingin berbicara sebentar secara pribadi. Emilya setuju, lalu mereka berdiri di teras yang masih dapat terlihat dari ruang keluarga. Khairul berkata ia bahagia, tetapi ingin memastikan ia tidak menafsirkan jawaban Emilya lebih jauh.
Emilya menjawab bahwa ia menerima pertunangan dan niat menuju pernikahan, namun tanggal dan persiapan harus dibicarakan. Ia ingin mereka tetap menyelesaikan pertanyaan tentang tempat tinggal, keuangan, dan tanggung jawab keluarga.
Khairul setuju. Ia berkata mereka akan melanjutkan pembicaraan itu dalam waktu yang disepakati, bukan menjadikan lamaran sebagai tanda bahwa semua pertanyaan selesai.
Sesudah percakapan di teras selesai, Khairul kembali ke ruang keluarga dan berpamitan bersama orang tuanya. Emilya berdiri di ambang pintu sambil melambaikan tangan. Setelah kendaraan pergi, ia menutup pintu dan membantu Elisa membawa gelas ke dapur. Kakaknya tidak meminta penjelasan baru; mereka saling tersenyum sebelum merapikan sisa hidangan. Malam itu Emilya menulis bahwa ia telah menerima lamaran Khairul untuk bertunangan. Ia bahagia, dan ia ingin pembicaraan mengenai tempat tinggal, uang, serta kesiapan menikah tetap dilanjutkan dengan jujur.