Sesudah menulis beberapa catatan tentang lamaran, Emilya kembali memeriksa ponselnya. Khairul dan kedua orang tuanya telah pulang. Elisa sedang menyimpan gelas, sementara Mas Ali menggeser kursi yang tadi dipakai tamu. Rumah itu tidak berubah, tetapi Emilya merasa ada sesuatu yang berbeda ketika melihat namanya pada pesan Khairul.
'Sudah sampai, Ukhti. Jangan begadang.'
Emilya menatap kalimat itu. Astaga, orang yang tadi datang bersama keluarga untuk melamarnya kini kembali menyuruhnya tidur seperti biasa. Ia tersenyum sendiri, kemudian menjawab bahwa ia masih harus memeriksa satu bagian naskah. Khairul membalas dengan doa singkat. Tidak ada pertanyaan kedua yang harus dijawab agar jawaban iya tadi dianggap sungguh-sungguh.
Emilya teringat perjalanan ke Surabaya yang sudah dijalaninya sendiri. Ia berangkat, bertemu rekan penulis, mengurus keperluannya, lalu kembali karena memang memilih pulang. Perjalanan itu tidak mengharuskannya memutuskan hubungan, dan menerima lamaran tidak membuat pengalaman tersebut hilang. Ia ingin menjaga keberanian yang baru dipelajarinya ketika keputusan berikutnya datang. Kelak ia mungkin perlu bepergian lagi untuk pekerjaan atau untuk dirinya sendiri. Hal itu akan dibicarakan dengan Khairul, tanpa menjadikan setiap kesempatan keluar rumah sebagai ujian kesetiaan. Ia belum mempunyai rencana perjalanan baru malam itu. Cukup menyadari bahwa pintu yang dahulu terasa selalu tertutup tidak kembali terkunci hanya karena ia telah mengucapkan iya.
Elisa melihat senyumnya ketika melewati pintu kamar. 'Sudah tenang?'
'Belum tahu. Tadi rasanya seperti harus mengingat semua yang mau kukatakan.'
'Sekarang sudah selesai. Gelasnya juga sudah dicuci.'
Emilya tertawa. Kakaknya tidak mengeluarkan daftar persiapan pernikahan. Ia hanya menanyakan apakah Emilya ingin makan lagi sebelum tidur. Setelah pertemuan keluarga yang menegangkan itu, tawaran sederhana tersebut justru menolongnya kembali merasa berada di rumah sendiri.
Beberapa hari kemudian, Emilya dan Khairul membicarakan cincin. Mereka belum mempunyai tanda pertunangan ketika lamaran diterima. Emilya tidak keberatan memilihnya, tetapi ingin sesuatu yang nyaman dan sesuai kemampuan. Ia tidak memerlukan pertemuan keluarga kedua untuk mengulang jawaban yang sudah disampaikannya. Mereka memilih melihat beberapa pilihan pada waktu senggang.
Khairul memperhatikan Emilya menggerakkan jari setelah mencoba satu cincin. 'Kurang besar?'
'Aku sedang membayangkan mengetik.'
'Bukan membayangkan genggam tangan suami?'
Emilya menoleh dengan muka panas. 'Mas masih calon. Jangan maju sendiri.'
Khairul tertawa cukup keras sampai penjaga toko ikut tersenyum. Mereka akhirnya memilih bentuk sederhana. Emilya boleh melepasnya ketika bekerja jika terasa mengganggu. Benda kecil itu tidak memerlukan foto yang dikirim ke setiap grup. Keluarga dekat sudah mengetahui pertunangan mereka dari pertemuan yang sebenarnya, bukan dari bukti yang harus terus diperbarui.
Kunjungan berikutnya ke rumah Elisa digunakan untuk membicarakan hal yang belum selesai. Khairul datang selepas mengajar, membawa catatan pengeluaran dan jadwalnya sendiri. Emilya meletakkan kalkulator di meja. Melihat kedua benda itu, Khairul menghela napas dengan sengaja dibuat berat.
'Biasanya Ukhti pegang pulpen buat bikin tokoh menderita. Sekarang giliranku?'
'Kalau Mas menyembunyikan utang, mungkin.'
Candaan itu berhenti pada tempatnya. Mereka membicarakan penghasilan mengajar, pekerjaan menulis yang tidak selalu dibayar pada waktu sama, biaya perjalanan, dan bantuan rutin kepada keluarga. Emilya menyebut jumlah yang dapat dipakai untuk rencana bersama. Ia tidak menyerahkan seluruh kendali rekeningnya, dan Khairul tidak memintanya melakukan itu.
Keduanya ingin tetap bekerja setelah menikah. Bagi Emilya, hal itu bukan rencana baru yang boleh dibatalkan karena lamaran telah diterima. Khairul mengatakan ia memahaminya. Ia pun ingin tetap mengajar dan menjalankan kegiatan hadrah tanpa mengisi seluruh waktu luangnya. Mereka belum menentukan tanggal pernikahan. Sebelum memilih hari, mereka ingin tahu bagaimana kehidupan sehari-hari akan dimulai.
Jawaban itu mereka sampaikan kepada keluarga ketika ditanya. Tidak ada perkiraan bulan yang diberikan hanya untuk menutup percakapan. Khairul menyebut keputusan tersebut sebagai keputusan berdua. Emilya tidak dijadikan perempuan yang menghambat rencana seorang lelaki yang konon sudah siap dalam segala hal. Khairul sendiri masih harus memikirkan perjalanan kerja dan kemampuannya menanggung biaya rumah.
Di tengah pembicaraan itu, editor menawarkan pekerjaan baru kepada Emilya. Jadwalnya cukup rapat. Emilya membaca rincian, menanyakan tahap revisi dan pembayaran, lalu meminta penyesuaian tenggat sebelum menerima. Ia memberi kabar kepada Khairul karena waktu bertemu mereka akan berubah. Ia tidak menyerahkan keputusan menerima kontrak kepada calon suaminya.
'Aku tertarik, tapi beberapa malam mungkin tidak bisa lama-lama menelepon,' katanya.
'Nanti kalau aku kangen?'
'Baca lagi pesan lama. Yang boleh dibaca Mas sendiri.'
Khairul berhenti bercanda. Ia mengerti bagian terakhir itu tidak sepenuhnya gurauan. Kepercayaan yang pernah retak karena percakapan pribadi dibagikan tidak selesai hanya dengan sebuah lamaran. Ia menjawab bahwa ia akan memberi ruang bekerja dan tidak meneruskan percakapan mereka tanpa izin. Emilya juga tetap memegang tanggung jawabnya atas pelanggaran privasi yang pernah dilakukannya.
Kesepakatan mereka segera bertemu keadaan biasa. Pada suatu sore, jadwal Khairul berubah karena tugas sekolah. Makan bersama yang sudah direncanakan harus dipindah. Ia memberi kabar sebelum Emilya bersiap. Emilya kecewa sedikit, tetapi tidak harus duduk menunggu tanpa tahu apakah Khairul sedang datang. Mereka memilih hari lain sesudah pengiriman naskahnya.
Emilya pun mengalami hal serupa ketika revisi memerlukan waktu lebih lama. Ia mengatakannya langsung, tanpa menghilang lalu berharap Khairul menebak maksud statusnya. Percakapan mereka kadang hanya beberapa kalimat. Aneh juga, pikir Emilya, hal yang dulu terasa begitu mengancam ternyata dapat diselesaikan tanpa membuat satu sama lain gelisah semalaman.
Pada akhir pekan mereka membuka catatan tempat tinggal. Emilya membutuhkan meja yang dapat dipakai bekerja dengan tenang. Khairul membutuhkan rute menuju sekolah yang dapat dijalani setiap hari. Rumah dekat salah satu keluarga mungkin membantu, tetapi tidak boleh membuat keduanya merasa selalu berada di tempat orang lain. Mereka sepakat mengumpulkan biaya sewa dan waktu tempuh sebelum menentukan pilihan.
Ketika Khairul pulang, Emilya kembali ke laptop. Ia meletakkan cincin dalam kotak kecil agar jarinya lebih nyaman di atas papan ketik. Sesekali matanya masih meliriknya dan ia tersenyum sendiri. Ia telah menerima lamaran, tetapi tetap harus menyelesaikan adegan yang ditunggu editor. Untuk malam itu, kedua hal tersebut boleh membuatnya bahagia pada waktu yang sama.