Rumah pertama yang sungguh-sungguh mereka pertimbangkan mempunyai kamar kecil dengan cahaya pagi yang disukai Emilya. Ia berdiri di ambangnya dan membayangkan meja kerjanya berada di dekat jendela. Di ruang depan, Khairul sedang menanyakan jarak menuju sekolah. Untuk beberapa menit, keduanya sama-sama terlalu mudah membayangkan barang sendiri sudah berada di sana.
Sesudah keluar, mereka duduk di warung dan membandingkan kesan. Emilya menyukai suasananya. Khairul menyukai rutenya. Namun, angka sewa yang disebutkan belum mencakup seluruh biaya. Mereka meminta rincian tertulis mengenai utilitas, pemasangan internet, biaya awal, dan tanggung jawab atas bagian bangunan yang perlu diperbaiki. Mereka pulang tanpa meninggalkan uang tanda jadi.
'Kalau langsung dikasih meja, aku mungkin susah diajak pulang,' kata Emilya.
'Untung belum ada dapurnya yang bikin aku ingin jadi koki lagi.'
'Mas pernah jadi koki. Bukan berarti boleh memilih rumah dari dapur saja.'
'Sama seperti penulis tidak boleh memilih dari jendela saja, kan?'
Emilya tertawa, lalu mengakui bahwa mereka sama-sama melihat bagian yang paling dekat dengan hidup sendiri. Rumah itu akan dipakai berdua. Ia tidak boleh menganggap perjalanan Khairul perkara kecil hanya karena pekerjaan menulisnya dapat dilakukan di kamar. Khairul pun tidak menyebut kebutuhan ruang kerja sebagai keinginan tambahan yang dapat disingkirkan jika biaya terasa berat.
Rincian yang tiba beberapa hari kemudian mengubah hitungan mereka. Biaya awal dan pengeluaran lain membuat sisa simpanan terlalu kecil. Emilya memakai perkiraan penghasilan yang lebih rendah, tanpa memasukkan kontrak berikutnya yang belum ada. Khairul menambahkan ongkos perjalanan pada hari mengajar. Angka yang tampak cukup pada percakapan di warung kini hanya menyisakan sedikit ruang untuk kebutuhan mendadak.
Khairul menawarkan menanggung bagian lebih besar. Emilya menanyakan apakah ia dapat melakukannya tanpa mengurangi kebutuhan penting dan bantuan yang sudah menjadi komitmennya kepada orang tua. Khairul kembali menghitung. Ia tidak tersinggung, tetapi juga tidak dapat mempertahankan tawaran semudah saat mengucapkannya. Mereka memilih melihat kemampuan yang bisa dijaga, bukan kemurahan hati pada satu sore.
Orang tua Khairul menawarkan bantuan biaya awal ketika mengetahui pencarian mereka. Khairul berterima kasih dan menanyakan bentuk bantuannya. Ia tidak menerima atas nama Emilya. Setelah dibicarakan, tawaran itu memang dimaksudkan sebagai pertolongan, tanpa permintaan memilih rumah atau mempercepat tanggal. Namun, biaya bulanan tetap harus sanggup mereka tanggung sendiri.
Elisa juga menawarkan beberapa barang rumah yang masih layak, termasuk meja kecil. Emilya ingin menerimanya jika kelak diperlukan. Untuk saat itu ia meminta kakaknya menyimpannya dahulu. Belum ada tempat yang dipilih. Ia tidak ingin tumpukan barang di ruang tengah berubah menjadi alasan bahwa ia harus segera pindah agar semua orang tidak kerepotan.
Sesudah membicarakan kekhawatiran mengenai biaya rumah dengan ibunya, Khairul datang dengan raut yang sulit dibaca. Emilya sempat mengira keluarganya kecewa. Rupanya ibunya justru memastikan ia masih akan makan teratur kalau suatu hari pindah. Sebagai anak semata wayang, Khairul belum pernah sepenuhnya lepas dari pertanyaan semacam itu. Ia tertawa saat menceritakannya, lalu mengakui perhatian tersebut tidak boleh dialihkan menjadi kewajiban Emilya untuk mengurus segala kebutuhan dirinya. Ia bisa memasak dan mengatur makan sendiri. Mendengar itu Emilya mengangguk puas, seolah baru menemukan jawaban paling berguna dari seluruh tabel sore tersebut.
Mereka kembali memeriksa pilihan rumah tanpa menghitung tawaran keluarga sebagai uang yang sudah tersedia. Hasilnya tetap sama: mereka bisa menyukai tempat itu, tetapi belum nyaman mengambilnya. Khairul menghubungi pemilik dan menyampaikan penolakan. Ia berterima kasih atas waktu kunjungan serta informasi yang diberikan. Mereka tidak meminta rumah ditahan sambil menunggu keadaan yang belum pasti.
Emilya kecewa lebih lama daripada yang diduganya. Malam itu ia masih membayangkan cahaya pada jendela kecil. Khairul tidak menyuruhnya berhenti memikirkan rumah hanya karena keputusan sudah dibuat. Ia mengaku juga kecewa, kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Emilya akhirnya tersenyum.
'Rumah yang baik harus membuat kita bisa hidup, bukan cuma membayar.'
'Mas kalau bikin puisi soal tagihan mungkin laku.'
'Jangan. Nanti yang baca langsung ingat tunggakan.'
Keputusan menolak rumah tidak mengakhiri pertunangan. Mereka menghentikan pencarian aktif selama beberapa pekan agar tidak menghabiskan setiap akhir pekan dengan mengunjungi alamat baru. Bila ada informasi yang memenuhi kisaran biaya dan kebutuhan awal, mereka boleh memeriksanya. Selebihnya, Emilya harus menuntaskan pekerjaan, dan Khairul sedang memasuki masa sibuk sekolah.
Dalam jeda itu, mereka tetap bertemu untuk makan atau berjalan sebentar. Emilya bercerita tentang tokoh novel yang terus membuat keputusan buruk. Khairul bercerita tentang murid yang menyebut jawaban salah dengan percaya diri luar biasa. Mereka tidak selalu membuka kalkulator. Sesekali Emilya justru perlu diingatkan bahwa ia boleh menikmati pertunangan tanpa membuat rencana hidup setiap kali bertemu.
Pekerjaan barunya berjalan bertahap. Ia memeriksa bagian yang dikembalikan editor dan mengatur waktu baca ulang sebelum pengiriman tahap berikutnya. Pembayaran pertama dipakainya untuk biaya kerja dan simpanan pribadi. Ia memberi gambaran kepada Khairul mengenai kemampuan yang relevan bagi rencana bersama, tanpa mengubah seluruh hasil kerjanya menjadi dana untuk rumah.
Beberapa bulan sesudah lamaran, proyek itu selesai dan pembayaran akhir masuk sesuai kontrak. Emilya membagikan kabar baik kepada keluarganya. Khairul mengajaknya makan untuk merayakan, lalu bertanya apakah ia ingin membicarakan pencarian lagi. Emilya bersedia, tetapi baru setelah mereka mengetahui jadwal semester sekolah yang akan berubah. Rute yang dahulu dianggap nyaman belum tentu tetap menjadi pilihan terbaik.
Mereka memperbarui catatan ketika jadwal itu resmi diterima. Penghasilan belum membuat mereka sanggup mengambil semua tempat yang disukai, tetapi simpanan bertambah dan mereka semakin mengerti pengeluaran yang tidak boleh dikorbankan. Emilya tidak ingin mengurangi biaya kerja atau kesehatan agar dapat mengatakan bahwa mereka sudah mempunyai rumah. Khairul juga tidak akan menerima seluruh kegiatan tambahan hanya demi menutup sewa.
Sore itu Elisa mengirim satu iklan. Harganya menarik, tetapi pemilik meminta pembayaran segera sebelum kunjungan dan dokumen dapat diperiksa. Emilya meneruskannya kepada Khairul, lalu keduanya memilih melepasnya. Setelah penolakan kedua yang jauh lebih singkat itu, Emilya kembali menulis. Ia masih menginginkan rumah bersama. Kini ia juga tahu bahwa keinginan tersebut tidak harus membuatnya menerima setiap pintu yang kebetulan terbuka.