Kabar berikutnya datang melalui kenalan Khairul. Sebuah rumah kecil akan kosong beberapa pekan lagi. Harga awalnya lebih rendah daripada tempat yang dahulu mereka lepaskan, dan letaknya masih memungkinkan Khairul berangkat mengajar tanpa perjalanan terlalu panjang. Ia mengirim rincian kepada Emilya setelah menanyakan beberapa biaya dasar. Tidak ada uang yang dikeluarkan untuk menahan tempat sebelum keduanya membicarakannya.
Emilya membaca pesan itu sambil memindahkan buku yang menumpuk di samping laptop. Ruang tambahan dalam foto tampak terang. Ia hampir langsung membayangkan raknya di sana, lalu berhenti. Pengalaman sebelumnya membuatnya meminta ukuran dan rincian biaya terlebih dahulu. Foto yang bagus tidak dapat memberitahukan apakah lututnya akan terbentur lemari setiap kali berdiri dari kursi.
Mereka memilih waktu kunjungan selepas pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan selesai. Emilya membawa pita ukur dan catatan ukuran meja. Khairul melihat kedua benda itu dengan muka geli.
'Kalau pemiliknya tanya samean kerja apa?'
'Penulis.'
'Kupikir mau menyamar jadi petugas bangunan.'
'Kalau Mas tidak mau mengukur, nanti bukunya ditaruh di pangkuan saja.'
Khairul segera mengulurkan tangan meminta pita ukur. Emilya menyerahkannya sambil menahan tawa. Ia masih gugup bertemu pemilik rumah, tetapi tidak lagi menganggap setiap pertanyaan sebagai tanda dirinya terlalu banyak menuntut. Mereka hendak menyewa tempat untuk dipakai sehari-hari. Mengetahui ukurannya sebelum berjanji jauh lebih masuk akal daripada mengeluh setelah semua barang dipindahkan.
Pemilik menyambut mereka sesuai jadwal dan menunjukkan ruang dalam. Ruang depan tidak langsung menghadap jalan besar. Kamar tambahan cukup terang, tetapi memang lebih sempit daripada kesan pada foto. Emilya masuk dan berdiri beberapa saat tanpa bicara. Khairul menunggu sampai ia selesai memperhatikan letak jendela sebelum menarik pita ukur dari satu sisi ke sisi lain.
Meja dan satu rak dapat dimasukkan jika lemari kecil yang jarang dipakai tidak ikut dibawa. Ruang berjalan tetap harus disisakan. Emilya bersedia memilah barangnya, tetapi tidak akan meninggalkan bahan kerja penting hanya agar kamar tampak lega. Khairul menemukan tempat untuk sebagian buku mengajar pada ruang depan. Perlengkapan lain yang tidak dipakai setiap hari dapat tetap disimpan di sekolah.
Mereka menandai batas perkiraan meja dengan pita ukur, kemudian Emilya mencoba berdiri dan bergerak di ruang yang tersisa. Ia tidak ingin setiap pengiriman naskah disertai siku membentur rak. Khairul menggeser batas yang dipegangnya beberapa sentimeter agar pintu dapat terbuka penuh. Perubahan kecil itu membuat penataan yang dibayangkan lebih masuk akal. Mereka mencatat ukuran, bukan langsung memesan perabot baru.
Emilya juga menanyakan kemungkinan berbicara dalam seminar penulis dari kamar itu. Ia sesekali menerima undangan daring, walaupun masih sering gugup ketika harus menyampaikan materi. Keheningan yang dibutuhkan bukan berarti ia akan selalu bekerja tanpa suara. Khairul mengatakan ia pun kadang perlu menyiapkan bahan pelajaran sambil membacanya keras. Mereka membayangkan waktu yang dapat dibagi sebelum bertindak seolah keberadaan pintu sudah menyelesaikan seluruh perbedaan kebiasaan.
'Jadi kamar ini ruang kerja Ukhti?' tanyanya.
'Kalau Mas juga perlu, kita atur. Tapi jangan mendadak dijadikan tempat menumpuk barang yang tidak tahu mau ditaruh di mana.'
'Termasuk aku kalau sedang tidak tahu mau ke mana?'
'Mas boleh duduk. Asal tidak terus mengomentari tokoh novelku.'
Pemilik yang menunggu di ambang pintu tersenyum mendengar mereka. Emilya baru menyadarinya dan langsung merasa malu. Khairul malah melanjutkan pertanyaan tentang air, listrik, dan tanggung jawab perbaikan dengan wajah seolah tidak pernah mengatakan hal konyol. Benar-benar bakat yang menjengkelkan, pikir Emilya. Ia sendiri membutuhkan beberapa detik untuk kembali serius.
Mereka memperoleh izin memasang layanan internet sendiri. Ada beberapa bagian yang pernah diperbaiki, dan pemilik bersedia mencatat kondisi serta kewajiban masing-masing dalam perjanjian. Emilya menanyakan biaya layanan yang belum termasuk sewa. Khairul menanyakan deposit dan waktu pengembaliannya. Jawaban lisan dicatat sebagai pertanyaan yang perlu dipastikan pada dokumen, bukan langsung dianggap seluruh urusan telah selesai.
Sesudah kunjungan, mereka duduk di kedai dekat lokasi. Kali ini rumah itu memenuhi lebih banyak kebutuhan daripada pilihan sebelumnya. Biaya bulanannya mungkin dapat dijalani dengan pemasukan yang realistis, tetapi mereka masih harus memasukkan ongkos pindah, pemasangan internet, dan biaya awal. Emilya tidak ingin memakai kemungkinan proyek baru sebagai alasan bahwa semuanya pasti cukup.
Mereka sepakat memeriksa suasana pada waktu berbeda. Pada kunjungan malam yang dijadwalkan bersama pemilik, Emilya mendengar suara kendaraan sesekali, tetapi kamar tetap cukup tenang dengan jendela tertutup. Khairul mencoba rute menuju sekolah pada pagi hari berikutnya. Ia mengirim hasil waktunya kepada Emilya setelah selesai, tanpa menyamakan perjalanan siang yang lengang dengan jam berangkat kerja.
Hasil pengukuran dan perjalanan diletakkan bersama rincian tertulis. Tidak ada satu nilai yang langsung membuat semua hal lain boleh diabaikan. Namun, keraguan yang dahulu hanya berupa perasaan kini mempunyai jawaban lebih jelas: meja muat, buku dapat ditata, perjalanan dapat dilakukan, dan jaringan dapat dipasang. Yang tersisa adalah memastikan angka serta waktu masuknya.
Emilya memberi kabar kepada Elisa bahwa mereka sedang memeriksa pilihan yang cukup menjanjikan. Kakaknya menawarkan menemani kunjungan berikutnya. Emilya berterima kasih, tetapi mengatakan untuk kali ini mereka dapat mengurusnya sendiri. Jika nanti perlu bantuan memilah barang, ia akan meminta. Elisa menerima jawaban itu tanpa lebih dahulu menghubungi pemilik atau menceritakannya kepada semua keluarga.
Khairul juga memberi keterangan serupa kepada orang tuanya. Ia tidak menyebut rumah itu sudah menjadi rumah mereka. Pada malam berikutnya, ia dan Emilya membandingkan biaya dengan simpanan yang sudah ada. Mereka tidak perlu berutang untuk biaya awal. Cadangan memang berkurang, tetapi masih berada di batas yang disepakati. Untuk pertama kalinya, hasil hitungan tidak segera menghapus kesenangan mereka setelah melihat kamar terang.
Emilya tetap meminta waktu untuk membaca perjanjian sendirian sebelum menyetujui. Khairul menginginkan hal yang sama. Mereka membawa salinan masing-masing dan berhenti membicarakan rumah sesudah makan. Ketika kembali bekerja, Emilya sadar dirinya tersenyum melihat pita ukur yang masih tergeletak di meja. Kemungkinan itu terasa lebih dekat sekarang, tetapi keputusan berikutnya masih harus datang dari dua orang yang akan menjalaninya.