Pada salinan perjanjian yang dibacanya malam itu, Emilya menemukan bagian deposit belum menyebutkan kapan uang akan dikembalikan. Ia menandainya dan mengirim pertanyaan kepada Khairul. Lelaki itu juga menemukan bagian tanggung jawab atas instalasi lama yang perlu diperjelas. Mereka menggabungkan pertanyaan sebelum meminta penjelasan pemilik, supaya tidak mengirim jawaban berbeda tentang hal yang sama.
Pemilik bersedia memperbarui dokumen. Deposit akan diperiksa dan dikembalikan dalam waktu yang tertulis setelah sewa berakhir. Kerusakan instalasi lama tetap menjadi tanggung jawab pemilik, sementara kerusakan akibat penggunaan penyewa dibedakan dengan jelas. Emilya membaca perubahan itu sampai selesai. Perjanjiannya belum ditandatangani; semua biaya dan tanggal juga masih harus cocok dengan rencana mereka.
Masalah berikutnya justru bukan angka. Rumah akan tersedia dalam beberapa pekan, sedangkan mereka belum menentukan kapan menikah. Emilya tidak ingin membayar untuk tempat kosong terlalu lama. Khairul tidak ingin memakai rumah yang kebetulan tersedia untuk mendesaknya memilih hari. Mereka harus menyatakan terlebih dahulu apakah memang ingin mulai hidup bersama dalam waktu yang dapat direncanakan.
'Aku ingin menikah dengan Mas,' kata Emilya ketika mereka bertemu.
Khairul menatapnya. Kali ini ia tidak langsung membalas dengan gurauan. 'Aku juga ingin menikah dengan samean.'
'Tapi bukan karena takut rumahnya diambil orang.'
'Kalau begitu, pemiliknya tidak kita jadikan penentu tanggal.'
Emilya mengangguk. Kalimat yang dahulu selalu berbentuk suatu hari nanti kini terasa lebih dekat. Mereka telah melihat cara masing-masing menangani pekerjaan, uang, keluarga, dan kekecewaan. Tidak semuanya mudah, tetapi keduanya masih ingin melanjutkan. Mereka tidak menunggu hidup bebas dari setiap risiko. Mereka memerlukan dasar yang cukup untuk memilih langkah berikutnya.
Mereka membuka kalender beberapa bulan ke depan. Ada dua kemungkinan hari yang memberi waktu untuk persiapan sederhana. Salah satunya terlalu dekat dengan tenggat utama Emilya. Pilihan lain memerlukan penyesuaian satu kegiatan sekolah Khairul. Ia tidak menjawab atas nama rekan-rekannya. Ia lebih dahulu menanyakan apakah penyesuaian tersebut mungkin dilakukan tanpa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.
Emilya memeriksa jadwal dengan editor dan mengatur agar revisi utama dapat dikirim sebelum waktu yang dipertimbangkan. Khairul memperoleh konfirmasi sekolah. Setelah itu mereka meminta informasi dari keluarga dekat mengenai jadwal penting yang belum diketahui. Elisa, Mas Ali, serta orang tua Khairul memberi keterangan tanpa mengambil alih kalender. Tidak ada undangan yang dikirim dari percakapan awal tersebut.
Ketika bertemu lagi, kedua kemungkinan hari itu dibandingkan dengan informasi yang sudah pasti. Emilya memilih hari yang memberinya ruang bernapas sesudah tenggat. Khairul juga menyetujuinya karena penyesuaian sekolah sudah dikonfirmasi. Mereka menuliskannya bersama. Emilya memandangi tanggal itu lebih lama daripada yang hendak diakuinya. Astaga, kini bukan lagi sekadar garis besar pembicaraan.
'Takut?' tanya Khairul.
'Gugup. Mas?'
'Aku sejak tadi menghitung berapa kali harus baca kalender supaya tidak salah datang.'
Emilya menutup mulut menahan tawa. 'Kalau pengantinnya sendiri salah hari, itu bukan lagi lupa kecil, Mas.'
Khairul mengangkat kedua tangan menyerah, lalu mengulang tanggal yang mereka pilih dengan benar. Sesudah tertawa, keduanya kembali memeriksa hal praktis. Pemilik rumah diminta memastikan apakah penyerahan kunci dapat diselaraskan dengan persiapan mereka. Rumah akan ditata sebelum hari pernikahan dan ditempati bersama sesudahnya. Mereka tidak mengumumkan rencana tinggal bersama lebih dahulu daripada keputusan menikah.
Pemilik memberikan penyesuaian beberapa pekan dan menuliskan tanggal serah terima serta awal perhitungan sewa. Keduanya menerima bahwa biaya akan mulai berjalan ketika kunci diserahkan, termasuk waktu singkat yang diperlukan menata barang. Angka tersebut dimasukkan ke anggaran. Jika ketentuan itu tidak dapat mereka tanggung, rumah masih dapat dilepas. Hasil hitungan akhir menunjukkan mereka dapat melanjutkan tanpa memakai dana yang belum diterima.
Pada pemeriksaan terakhir, Emilya menemukan satu kesalahan ejaan namanya. Pemilik memperbaikinya sebelum tanda tangan. Khairul memeriksa alamat, jangka sewa, dan tanggung jawab perbaikan. Emilya memeriksa deposit, jumlah pembayaran, serta tanggalnya. Mereka saling menanyakan kesiapan setelah seluruh halaman selesai dibaca, kemudian menandatangani satu perjanjian yang sama dan menerima salinannya masing-masing.
Sesudah penandatanganan, mereka mencatat kontribusi biaya awal dan menyimpan bukti pembayaran sesuai jadwal. Rekening pribadi tetap dikelola masing-masing. Pengeluaran rumah dicatat bersama agar keduanya dapat memeriksanya. Emilya merasa lega, tetapi tidak tiba-tiba ingin membeli semua barang yang dilihatnya. Rumah tersebut masih harus diisi berdasarkan kebutuhan nyata.
Mereka memberi kabar kepada keluarga dekat pada akhir pekan. Khairul dan Emilya datang dengan dua keputusan yang sudah dibuat: tanggal pernikahan dan rumah sewa untuk ditempati setelahnya. Bentuk acara tetap sederhana, dan tidak ada utang yang diambil untuk membuatnya tampak meriah. Keluarga menyambut dengan doa serta tawaran bantuan yang baru akan dibicarakan sesuai kebutuhan.
Elisa memeluk Emilya cukup lama. Setelah melepaskannya, ia bertanya apakah kabar boleh disampaikan kepada beberapa saudara. Emilya meminta waktu menyusun daftar lebih dahulu. Kakaknya mengangguk. Tidak ada pengumuman yang mendahului mereka. Orang tua Khairul mendapat penjelasan yang sama melalui anaknya, sehingga tidak muncul dua versi tanggal atau bentuk acara.
Emilya memastikan kabar juga disampaikan kepada ibunya. Dahulu pertanyaan tentang menikah mudah membuatnya ingin menyingkir dari percakapan. Kini ia dapat mengatakan siapa yang dipilihnya dan kapan keputusan itu akan dijalani, tanpa menyerahkan rincian persiapannya kepada orang lain. Ia menerima doa baik, lalu menerangkan bahwa bentuk acara masih disusun sesuai kemampuan. Tidak semua usul harus langsung dijawab hari itu. Setelah percakapan selesai, Emilya menceritakan perasaannya kepada Elisa: ternyata mengabarkan pernikahan terasa berbeda ketika ia sendiri sudah memahami alasan memilihnya. Kakaknya tidak menggoda. Ia hanya meremas tangan Emilya sebentar, kemudian mengajaknya menyimpan kertas agar tidak tercecer bersama piring makan.
Malamnya Emilya memindahkan tanda tanggal dari catatan ke kalender. Ia masih merasa gugup ketika melihatnya. Namun, ia tahu bagaimana pilihan itu dibuat: ia bertanya, memeriksa, menyatakan keinginannya, lalu memutuskan bersama Khairul. Ketika lelaki itu mengirim pesan untuk menanyakan kabarnya, Emilya menjawab bahwa ia bahagia. Setelah berpikir sebentar, ia menambahkan pesan kedua: jangan sampai salah hari. Balasan Khairul membuatnya tertawa sebelum akhirnya tidur.