Daftar persiapan pertama hanya menempati selembar kertas. Beberapa hari kemudian, Emilya memandanginya dan merasa kertas itu seperti memiliki kemampuan beranak sendiri. Ada kebutuhan dokumen, makanan, pakaian, transportasi, dan penataan rumah. Ia meletakkan pulpen sebelum menambahkan hal lain. Ia masih mempunyai naskah yang harus dikirim. Tidak semua ruang kosong dalam harinya boleh berubah menjadi urusan pernikahan.
Khairul datang setelah mengajar dan menemukan Emilya menatap daftar itu dengan wajah serius. 'Tokoh yang mana lagi yang susah diatur?'
'Yang ini.' Emilya menunjuk namanya sendiri pada pembagian tugas.
Khairul menarik kursi. Mereka membaca daftar dan memisahkan tugas yang perlu dikerjakan segera dari hal yang dapat menunggu. Emilya mengurus dokumen serta kalender pekerjaannya. Khairul mengonfirmasi kebutuhan keluarga dan sekolah. Keputusan biaya, tempat, dan jumlah tamu tetap diperiksa bersama. Mereka menghapus beberapa tambahan yang sebenarnya tidak diinginkan sejak awal.
Elisa membantu memilih pakaian dari yang sudah dimiliki Emilya. Ada penyesuaian kecil yang dapat membuatnya lebih nyaman tanpa membeli sesuatu yang rumit. Emilya mencoba bergerak dan duduk, lalu mengatakan bagian yang perlu dilonggarkan. Kakaknya mendengarkan. Ia tidak meminta Emilya bertahan dalam pakaian yang menyulitkan hanya supaya foto terlihat lebih bagus.
Khairul juga memilih pakaian sederhana. Ketika mengirim gambarnya untuk meminta pendapat, Emilya membalas bahwa yang terpenting ia tidak salah tanggal memakai baju itu. Lelaki tersebut mengirim pesan suara yang mengeluh dibuat seperti murid yang harus terus diingatkan. Emilya mendengarkannya dua kali sambil tertawa, lalu kembali menyunting bab yang belum selesai.
Masalah yang sungguh-sungguh datang dari daftar tamu. Beberapa kerabat ingin membawa orang tambahan, dan salah satunya mengusulkan tempat lebih besar. Emilya merasa tidak enak menolak. Ia sudah membayangkan wajah orang yang kecewa sebelum menghitung tambahan makanan. Khairul mengajaknya melihat kapasitas dan anggaran terlebih dahulu. Jika semua permintaan diterima, acara akan berubah jauh dari keputusan mereka.
Khairul menjelaskan batas kepada keluarganya sendiri. Ia tidak mengatakan Emilya melarang. Ia menyebut jumlah yang telah disepakati dan menawarkan bertemu kerabat lain pada kesempatan berbeda. Seseorang masih terdengar kecewa. Khairul mendengarkan tanpa langsung menjanjikan kursi tambahan agar percakapan cepat selesai. Sesudah telepon ditutup, ia mengaku kepada Emilya bahwa ia juga merasa sungkan.
'Aku tadi hampir bilang boleh,' katanya.
'Lalu kenapa tidak?'
'Karena kalau bilang boleh, nanti aku yang harus menjelaskan kenapa makanannya tidak cukup.'
Emilya tersenyum, tetapi memahami maksudnya. Menambah tamu bukan hanya menggeser kursi. Ada makanan, biaya, waktu, dan bentuk acara yang mereka pilih. Ia menyampaikan jawaban serupa kepada keluarganya. Mereka menerima bahwa tidak semua orang langsung senang. Rasa tidak enak tidak harus diselesaikan dengan mengambil uang dari kebutuhan rumah.
Elisa membantu menghubungi penyedia makanan setelah menu disetujui. Mas Ali menawarkan kursi yang dapat dipinjam dan dikembalikan. Bantuan transportasi juga dibicarakan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya. Emilya merasa lebih ringan ketika mengetahui siapa melakukan apa. Ia tidak harus mengerjakan semuanya, tetapi tetap memeriksa keputusan yang memakai biaya dan namanya.
Beberapa pekan sebelum pernikahan, mereka menerima kunci rumah sesuai perjanjian. Pemilik mendampingi pemeriksaan kondisi awal. Emilya memotret bagian yang perlu dicatat, sementara Khairul memeriksa air, instalasi, serta perlengkapan yang sudah ada. Bukti kondisi disimpan bersama salinan perjanjian. Biaya sewa mulai berjalan sebagaimana tanggal yang telah mereka masukkan ke anggaran.
Barang dipindahkan bertahap untuk disiapkan. Keduanya masih pulang ke tempat tinggal masing-masing dan baru akan menghuni rumah bersama setelah menikah. Elisa datang pada sore yang disepakati untuk membantu Emilya memilah buku. Kali ini ia bertanya sebelum memindahkan barang. Emilya menunjukkan bahan kerja yang perlu mudah diambil dan barang lain yang dapat disimpan dahulu.
Di rumah lama, ketiga anak perempuan Elisa ikut memperhatikan kotak miliknya dari dekat ranjang tingkat. Mereka bertanya buku mana yang boleh dipinjam. Emilya menyisihkan beberapa yang memang dapat ditinggalkan, lalu mengingatkan agar dikembalikan pada tempatnya. Salah seorang bertanya apakah tempatnya pada ranjang tingkat nanti akan kosong. Emilya melihat sudut yang selama ini dipakai bersama dan mendadak merasa sendu. Ia mengatakan ia pindah, bukan berhenti menjadi bagian keluarga. Mereka tetap dapat berkunjung sesudah waktunya dibicarakan. Elisa mendengar tanpa menyela. Ketika anak-anak beralih memeriksa buku, kakaknya membantu menutup kotak yang sudah dipilih Emilya. Tidak semua benda dibawa, dan tidak semua kenangan harus ditinggalkan agar rumah baru boleh dimulai.
Meja yang sebelumnya diperkirakan muat ternyata bergoyang setelah dipasang. Emilya mengetik satu kalimat dan melihat gelas di sampingnya ikut bergetar. Ia mengangkat kedua tangan dengan muka pasrah.
'Kalau begini, tokohnya menangis dan tehnya ikut gemetar.'
Khairul berjongkok memeriksa alasnya. Mereka mencoba penyesuaian sederhana, lalu mencari alas yang lebih stabil ketika percobaan pertama belum cukup. Pada pemeriksaan berikutnya meja dapat dipakai dengan baik. Mereka tidak membeli meja baru hanya karena satu sudut lantai memerlukan perhatian. Rak disusun agar bahan mengajar Khairul juga mendapat tempat tanpa memenuhi meja kerja Emilya.
Permintaan acara tambahan datang ketika persiapan hampir selesai. Khairul tidak langsung menyetujuinya. Sesudah dibicarakan dengan Emilya, keduanya memilih berkumpul pada hari yang sudah direncanakan. Tidak ada biaya atau agenda baru. Rumah sewa juga tidak dijadikan tempat acara ramai; ruang itu disiapkan untuk mereka beristirahat sesudahnya.
Menjelang hari pernikahan, Emilya mengirim revisi terakhir sebelum waktu libur yang sudah dibicarakan dengan editor. Khairul menuntaskan tugas sekolah dan berhenti menerima pekerjaan tambahan pada pekan itu. Mereka menyelesaikan pemeriksaan dokumen dan konfirmasi mengenai wali serta saksi melalui petugas yang menangani akad. Pertanyaan yang belum mereka pahami ditanyakan saat itu, sehingga tidak perlu diterka sendiri pada pagi acara.
Malam sebelumnya, Emilya makan bersama keluarga di rumah Elisa. Ia menyiapkan barang seperlunya, lalu meminta beberapa menit sendiri. Kakaknya membiarkannya duduk tanpa pertanyaan baru. Ketika Khairul menelepon, mereka tidak membuka daftar persiapan. Emilya mengatakan ia gugup. Khairul mengaku sama. Mereka berdoa dan mengakhiri percakapan agar dapat beristirahat, tanpa menambah satu janji yang harus dibuktikan sebelum pagi.