Pagi itu Emilya terbangun sebelum ada yang memanggilnya. Beberapa saat ia hanya memandangi langit-langit yang dikenalnya, lalu teringat alasan barang-barang di dekat pintu sudah disiapkan. Ia akan menikah hari ini. Setelah berbulan-bulan membicarakannya, kesadaran tersebut tetap sanggup membuat perutnya terasa kosong meskipun ia belum sarapan.
Elisa menanyakan apakah ia ingin ditemani sepanjang bersiap. Emilya menjawab bahwa ia senang kakaknya berada di dekatnya, tetapi ingin mengatur beberapa hal sendiri. Elisa mengangguk dan membantu pada bagian yang diminta. Mas Ali memastikan kebutuhan keberangkatan telah siap. Tak seorang pun mengubah pagi itu menjadi pertemuan baru untuk menilai apakah jawaban Emilya masih cukup meyakinkan.
Di tempat acara, Khairul menunggu bersama keluarganya. Emilya melihatnya beberapa langkah dari pintu dan hampir tertawa karena lelaki itu juga tampak terlalu hati-hati berdiri. Ia pernah melihat Khairul gugup menghadapi Elisa pada kencan pertama. Kini, meski kaki yang dahulu terkilir sudah lama pulih, geraknya kembali seperti tidak ingin salah menaruh langkah.
'Jangan tanya aku siap atau tidak lima kali,' bisik Emilya ketika mereka mendapat kesempatan berbicara.
'Baru mau yang pertama.'
'Aku siap. Mas?'
'Enggeh. Sekarang aku boleh bernapas?'
Emilya akhirnya tertawa. Khairul tersenyum dan keduanya merasa sedikit lebih tenang. Persetujuan yang perlu dinyatakan kepada petugas tetap diberikan dengan jelas pada tempatnya. Gurauan di antara mereka tidak menggantikan pemeriksaan dokumen ataupun tugas pihak yang berwenang. Emilya memperhatikan ketika wali yang telah diverifikasi menjalankan bagiannya, ijab kabul diucapkan, dan para saksi menyatakan akad sah.
Sesudahnya, suara ucapan selamat terdengar bergantian. Emilya menerima pelukan Elisa dan melihat Mas Ali berbicara dengan keluarga Khairul. Ia merasa terharu tanpa harus menjelaskan kepada setiap orang seluruh jalan yang membawanya sampai di sana. Perjalanan mandiri, pekerjaan, keraguan, dan percakapan yang sulit tetap bagian hidupnya. Hari ini ia memilih menambah sebuah komitmen.
Mereka mengizinkan beberapa foto keluarga untuk disimpan pribadi. Setelah itu Khairul menanyakan apakah Emilya ingin duduk sebentar sebelum makan. Ia langsung mengangguk. Ternyata tersenyum terus kepada orang yang bergantian menyapa juga membutuhkan tenaga. Mereka beristirahat beberapa menit, minum, lalu kembali menemui keluarga sesuai rencana.
Acara tetap sederhana. Mereka makan bersama dan menerima doa tanpa menambah pertemuan lain pada malam yang sama. Sesudah berpamitan, Emilya dan Khairul menuju rumah sewa. Keluarga tidak datang berombongan untuk menunggu mereka membongkar barang. Di perjalanan, Emilya menyandarkan kepala dan memandangi jalan yang mulai sepi. Tadi semua orang ada di sekelilingnya; kini mereka pulang ke satu pintu yang sama.
'Capek?' tanya Khairul.
'Capek, tapi bukan karena menyesal.'
'Syukurlah. Aku sudah takut harus membuka rapat evaluasi malam ini.'
Emilya tertawa pelan. Ia juga tidak menginginkan daftar baru. Setelah masuk, mereka meletakkan tas dan memastikan rumah terkunci. Ada beberapa kotak yang belum dibuka. Meja kerja sudah berada pada tempatnya, tetapi tidak semua sudut terisi. Khairul menggeser dua kursi agar mereka dapat duduk dan minum teh tanpa lebih dahulu membereskan segala sesuatu.
Emilya sempat berdiri lagi, refleks mencari pekerjaan yang bisa dilakukan. Khairul bertanya apakah ia memang ingin membuka kotak malam itu. Emilya berpikir sebentar, lalu duduk kembali. Mereka hanya mencatat kebutuhan mendesak esok hari: air minum, bahan sarapan, dan tempat dokumen. Sisanya boleh menunggu. Rumah itu tidak akan memutuskan pernikahan mereka kurang sungguh-sungguh karena kardusnya belum rapi.
Ketika sudah beristirahat, Emilya masih terjaga mendengar kipas dan suara kendaraan jauh di luar. Ruangan itu baru, dan kebiasaan tidur di rumah lama belum hilang dari tubuhnya. Khairul menggenggam tangannya setelah ia mendekat. Emilya membalas dan mengatakan terima kasih karena hari tersebut tetap terasa seperti keputusan mereka. Khairul mengatakan ia juga bersyukur. Emilya merasa tidak dituntut untuk mengetahui semua cara hidup bersama saat itu juga.
Sebelum benar-benar tertidur, Emilya meminta Khairul bercerita sedikit. Lelaki itu menanyakan apakah ia tidak terlalu lelah. Emilya menjawab bahwa ia ingin mendengar suaranya, tetapi mungkin akan tertidur sebelum cerita selesai. Ada masa ketika hal sesederhana itu pernah membuatnya takut dianggap merepotkan. Kini ia dapat mengatakannya langsung. Khairul mengusap punggung tangannya dan mulai bercerita tentang kejadian lucu di sekolah. Emilya tidak menangkap seluruh akhirnya. Ia hanya mengingat sempat tersenyum, lalu suara Khairul menjadi semakin pelan. Ketika menyadari istrinya tertidur, Khairul berhenti bercerita dan ikut beristirahat. Tidak ada penonton lain yang perlu diberi laporan mengenai cara Emilya mendengarkan malam itu.
Pagi berikutnya dua alarm berbunyi hampir bersamaan. Emilya mematikan miliknya, kemudian tertawa mendengar Khairul meraba tempat yang salah sebelum menemukan ponselnya. Setelah ibadah pagi, keduanya menuju dapur. Emilya menyiapkan air panas, sementara Khairul mengeluarkan bahan sarapan. Dua orang dengan kebiasaan masing-masing ternyata dapat saling menghalangi hanya karena ingin mengambil benda dari rak yang sama.
'Aku kira Mas sudah selesai pakai kompor.'
'Aku juga kira Ukhti sudah selesai. Kalau begini, kita sarapan pakai asumsi.'
Emilya menggeser satu wadah sambil tertawa. Mereka memindahkan beberapa barang agar mudah dijangkau, lalu makan tanpa berusaha menyelesaikan seluruh penataan dapur. Khairul memberitahukan waktu yang dibutuhkannya untuk menyiapkan bahan ajar setelah masa liburnya selesai. Emilya menjelaskan kapan ia akan kembali bekerja. Mereka cukup melihat hari berikutnya, bukan membuat jadwal setahun sebelum piring sarapan dicuci.
Menjelang siang, Elisa mengirim pesan menanyakan keadaan dan menawarkan makanan. Emilya mengucapkan terima kasih serta meminta kunjungan ditentukan setelah mereka sedikit mengenali rutinitas. Kakaknya menerima. Emilya menyadari ia bisa merindukan rumah lama sekaligus ingin menikmati rumah baru. Menunda kunjungan tidak menghapus hubungan yang sudah ada, dan menerima bantuan kelak tidak berarti ia gagal hidup mandiri.
Sore itu mereka membuka satu kotak buku dan menaruh benda yang paling diperlukan. Khairul menyiapkan sudut bahan mengajar. Emilya mencoba mengetik sebentar pada meja yang sudah stabil. Ia mengangkat kepala ketika Khairul memanggil dari ruang depan, lalu kembali menulis setelah menjawab. Untuk pertama kalinya, dua kegiatan yang dahulu diceritakan melalui telepon benar-benar berlangsung di bawah atap yang sama.