Pada akhir pekan pertama, buku catatan kembali dibuka di meja makan. Kali ini angka yang mereka tulis berasal dari belanja yang sungguh-sungguh dilakukan, bukan perkiraan calon penghuni. Biaya bahan makanan sedikit melebihi rencana. Emilya memeriksa nota dan menemukan dua pembelian barang yang sama pada hari berbeda. Ia menunjukkannya kepada Khairul, lalu membuka lemari dapur untuk memastikan.
'Kita punya persediaan untuk berapa orang sebenarnya?'
Khairul ikut melihat. 'Ternyata aku juga beli. Kukira sudah habis.'
'Aku beli karena tidak tahu Mas sudah beli.'
Keduanya saling menatap sebelum tertawa. Tidak ada pengeluaran besar yang disembunyikan. Dua orang yang sama-sama berusaha mengurus rumah justru membawa pulang barang yang sama. Mereka menempelkan daftar persediaan di pintu lemari. Orang yang terakhir memakai sesuatu akan menuliskannya, dan siapa yang berbelanja dapat melihat daftar tanpa menunggu jadwal pasangannya.
Pembagian biaya mengikuti kemampuan yang telah dibicarakan sebelum menyewa. Mereka memperbarui jumlah berdasarkan pengeluaran nyata dan mencatat penyesuaian yang diperlukan. Dana pribadi tetap ada. Pengeluaran bersama yang besar dibicarakan, sedangkan kebutuhan kecil dapat ditangani orang yang sedang bertugas. Setelah beberapa bulan, mereka akan meninjau pembagian itu jika pemasukan atau tanggung jawab berubah.
Emilya membutuhkan lampu yang lebih nyaman untuk membaca naskah pada malam hari. Lampu sementara dapat dipakai, tetapi membuatnya cepat menggeser kursi mencari cahaya. Khairul juga ingin menambah rak bahan mengajar. Mereka memeriksa ruang dan anggaran, lalu mendahulukan lampu. Rak masih dapat menunggu sementara buku ditata pada tempat yang sudah ada.
'Aku tidak mau rumah ini terasa seperti proyek yang harus selesai dalam sebulan,' kata Khairul.
'Aku juga. Kita tinggal di sini, bukan sedang mengisi katalog.'
Mereka membeli lampu sesuai kebutuhan dan memasangnya pada sore hari. Emilya mencobanya setelah posisi kabel dirapikan agar tidak melintang. Sudut kerja itu tidak tiba-tiba menjadi luas, tetapi ia dapat membaca dengan lebih nyaman. Khairul meninjau bahan ajarnya di ruang depan. Keduanya bekerja sebentar sebelum menyiapkan makan malam bersama.
Beberapa hari kemudian, orang tua Khairul meminta waktu berkunjung. Emilya mempunyai tenggat Minggu sore dan ingin melindungi waktu menulis pada Sabtu pagi. Mereka menyetujui kunjungan Sabtu siang. Khairul menyampaikan jam yang dipilih dan tidak menambah janji atas namanya sendiri. Sebelum tamu datang, ia mengingatkan Emilya yang hendak menyembunyikan seluruh kardus bahwa rumah tidak sedang mengikuti lomba kerapian.
Orang tuanya datang membawa makanan dan duduk bersama mereka. Ibu Khairul memberi saran tentang ruang kosong di dekat dinding, lalu menerima ketika Emilya mengatakan mereka masih melihat kebutuhan sebelum membeli lemari. Ayah Khairul menanyakan kegiatan mengajar dan hadrah. Emilya dapat menceritakan pekerjaannya tanpa menunggu ditanya apakah ia sudah menjadi istri yang selalu tersedia.
Menjelang pulang, ibunya bertanya apakah mereka dapat bertemu lagi minggu berikutnya. Emilya menyebut pekerjaan dan kebutuhan satu hari istirahat. Mereka akan mencari hari lain setelah kalender diperiksa. Jawaban tersebut diterima, tetapi Emilya masih merasa sedikit bersalah ketika pintu sudah tertutup. Ia menanyakan apakah orang tua Khairul mungkin mengira dirinya tidak ingin dekat.
'Tadi kita menerima mereka. Mereka juga menerima jawabanmu,' kata Khairul. 'Kalau ada yang belum jelas, nanti kita bicarakan. Jangan menghukum diri dengan percakapan yang belum terjadi.'
Emilya mengangguk perlahan. Khairul tidak meminta ia langsung merasa tenang. Mereka duduk dahulu sebelum mencuci piring. Setelah tenaganya kembali, Emilya mengeringkan piring yang sudah dicuci suaminya. Mereka mengirim ucapan terima kasih kepada keluarga, lalu kembali pada kegiatan masing-masing. Kunjungan itu menjadi bagian rumah mereka tanpa mengambil seluruh akhir pekan.
Pada pesan berikutnya, keluarga meminta foto pernikahan untuk diperlihatkan kepada kerabat yang belum melihat. Khairul membuka permintaan itu bersama Emilya sebelum menjawab. Mereka memilih satu foto keluarga untuk dikirim pribadi dengan keterangan agar tidak diunggah atau diteruskan. Emilya memeriksa gambarnya sendiri, kemudian menyetujui. Khairul tidak menyertakan foto rumah, alamat, ataupun isi percakapan mereka sebagai tambahan cerita. Sesudah pesan dikirim, ia menutup aplikasi dan kembali pada buku ajarnya. Emilya menyaksikan tindakan kecil itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak harus meminta ponsel suaminya untuk memastikan dirinya dihormati. Permintaan yang datang dibicarakan sebelum dijawab, dan batas yang diberikannya tidak diperlakukan sebagai kelucuan untuk ditertawakan orang lain.
Pada kesempatan lain, mereka berkunjung ke keluarga Khairul. Di tengah percakapan, seorang kerabat bertanya kapan Emilya akan berhenti menulis untuk mengurus rumah. Emilya terdiam sebentar. Khairul menatapnya, memberi kesempatan menjawab, tetapi tetap berada di dekatnya. Ia tidak harus membuat keributan agar istrinya mengetahui ia siap mendukung.
'Aku tetap bekerja,' jawab Emilya. 'Urusan rumah kami atur bersama sesuai jadwal.'
Ibu Khairul mengalihkan percakapan ketika pertanyaan hendak diperpanjang. Emilya mengikuti topik baru tanpa merasa harus menyerahkan seluruh riwayat penghasilannya untuk membuktikan bahwa menulis merupakan pekerjaan. Sesudah mereka pulang, Khairul menanyakan perasaannya. Emilya mengatakan ia senang dapat menjawab sendiri, tetapi tidak ingin dibiarkan menghadapi tekanan yang terus diulang.
Mereka menyepakati cara mendukung yang tidak mengambil alih. Emilya boleh memilih jawaban, sementara Khairul akan menegaskan keputusan bersama jika percakapan melewati batas. Ia juga akan menyampaikan kebutuhan kepada keluarganya sendiri. Emilya melakukan hal serupa kepada Elisa dan keluarga yang lain, tanpa menganggap Khairul harus selalu menyesuaikan diri sendirian.
Di rumah, kebiasaan baru masih terus ditemukan. Khairul pernah hampir menaruh map di atas bahan suntingan, lalu berhenti untuk bertanya. Emilya menunjukkan sisi meja yang kosong. Ketika perlengkapan hadrah menghalangi jalan di ruang tengah, ia menanyakan tempat penyimpanannya, bukan langsung memindahkan semua barang karena menganggap meja tulisnya lebih penting. Mereka memilih sudut yang dapat dipakai Khairul tanpa membuat ruang bersama sesak.
Suatu malam latihan selesai lebih lambat. Khairul memberi kabar, dan Emilya makan lebih dahulu daripada menunggu sambil menggerutu. Porsinya disimpan untuk dihangatkan ketika pulang. Setelah selesai makan, Khairul mencuci perlengkapannya sendiri, lalu menemui Emilya yang sedang membaca pesan editor. Ada tawaran proyek yang memerlukan beberapa hari fokus. Kali ini mereka mempunyai pengalaman nyata untuk menilai jadwal sebelum menjanjikan bahwa semuanya pasti mudah.