"Lihat, aku masih langsing kan?!" Puji Diah pada dirinya sendiri sambil melenggak lenggok dan menyentuh bagian pinggang kiri dan kanan nya, dia pun meraba bagian perutnya yang masih lurus-lurus saja meskipun sudah melahirkan lebih dari satu anak. Benar berbeda dengan yang lain, yang makin tambun dan semok tapi lagi-lagi itu bukan lah suatu masalah saat mereka berkumpul kembali. Yes, power of emak-emak 90an! Begitulah yang terjadi, berkat sosmed orang-orang lama orang-orang jadul bisa eksis kembali, bisa show up di medsos di semua aplikasi chat, bisa up date status, up date story foto atau kisah-kisah mereka. Oke emak-emak berkepala 4 tak kepalang rasanya, kadang sering pula di sentil anak-anak mereka yang sudah mulai tumbuh remaja karena sering ada pertemuan akhirnya anak-anak pun lama kelamaan jadi saling mengenal. Semua terasa deja vu saja mengulang masa-masa muda dalam reinkarnasi anak-anak. Namun anak-anak tak banyak memberi peran terkadang mereka jenuh menyaksikan emaknya itu cekakak cekikikan, anak-anak hanya sebagai figuran saja.
Persahabatan yang kembali dijalin setelah puluhan tahun bukan lah bukti kesetiaan dan ketulusan tanpa kemunafikan. Setiap hal yang terjadi membuat seseorang berubah. Semua sisi gelap kehidupan setelah sekian tahun menjadi bagian yang tersembunyi, terkadang nampak tapi kadang pula tidak. Ada bagian kisah yang sulit dipercaya, ada yang mengejutkan ada yang menjadi sensitif ada pula yang menjadi angkuh. Kata reuni menjadi semarak sejak adanya sosmed, berkali-kali perkumpulan pun terjadi dari jumlah besar, berlanjut ke jumlah kecil sampai hanya kelompok orang-orang tertentu. Persatuan pun berbeda-beda, ada grup elit yang selalu tampak mewah, memakai dress code saat berpose dan selalu mengunjungi tempat-tempat yang sedang happening. Tapi sebagian ada juga yang hanya tampil seadanya dengan posting menu-menu lesehan, memasak nasi liwet dengan hamparan daun pisang atau hanya sekedar kumpulan-kumpulan yang tak jelas ujung pangkalnya, lalu berfoto dan diposting, semua kisah yang tercipta nyatanya hanya untuk konsumsi dunia maya belaka. Hingga tidak lah sadar jika itu semua membuat mereka hidup dalam kesemuan bukan kesungguhan.
Terus saja seperti itu grup w******p pun ramai berbunyi ada grup alumni yang orang nya kadang masih itu-itu juga. Di grup satu lebih formal di grup lain nya lebih fulgar. Yah begitulah yang terjadi, ejekan-ejekan yang bersifat candaan sudah biasa apalagi bagi penghuni grup yang sedang menduda atau menjada. Keluar masuk grup bagi orang-orang yang mudah tersinggung pun jadi hal yang biasa saja terjadi! Tidak sedikit pula yang terlibat skandal, yah ada yang janjian ketemuan tanpa diketahui yang lain, ada pula yang dimanfaatkan ada yang hanya di kompas dimintai jajan dan begitu seterusnya. Berkumpul dengan teman sekolah memang sering membuat mereka merasa kembali ke usia sekolah merasa muda walau kerutan didahi dan uban bermunculan tak tersembunyi.
Debur ombak pesisir pantai di Pulau Umang air laut nya berwarna biru jernih membuat siapa saja ingin segera berenang dan bermain air di sana. Pasir putih nya begitu lembut sangat menyenangkan bila bersantai sembari berjemur dengan dikelilingi pemandangan sekitarnya yang begitu memanjakan mata!
Pulau kecil ini pulau kecil di Anyer tapi sangat indah dan memiliki banyak fasilitas. Hotel dan vila yang menghadap langsung ke laut pun terdapat di sana, meski bahan material vila-vila nya banyak yang terbuat dari kayu namun tetap nampak sangat modern, fasilitas nya begitu lengkap maka tak heran jika pulau ini menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang dan menjadi tujuan pariwisata.
Diusapnya kepala anak perempuan yang sudah tinggi itu, menghadap ke laut selalu memberikan aroma segar meskipun angin kencangnya terkadang menyelinap kebagian belakang pundak. Anak gadis ku, bisik Lilian dalam hati sambil tak henti memandangi wajah nya yang unik. Segala harapan dan doa adalah bagian terpenting dalam hidup hanya untuknya. Anak gadis itu adalah penyelamat hidup Lilian, perjalanan panjang sebelum ini adalah masa-masa sulit dan pahit untuk dijalani. Jangan sampai kau merasakan apa yang aku rasakan, nak! Kamu sudah hidup dengan sebaik-baik nya sejak kecil. Kamu sudah mendapatkan fasilitas yang diperlukan tanpa kekurangan suatu apapun. Hidupmu adalah anugrah bagi kami! Tak henti Lilian bergumam, gumam yang berisi doa tulus seorang ibu.
"Mam! Do you want to go to your friend's house, don't you? Her house is big, you know she is a rich, right? I like to go there. Your friend is so kind, she always treats all her friends." Tegas nya, merajuk agar Lilian mengajaknya berkunjung ke rumah itu. Rumah teman Lilian, salah satu teman yang sudah kaya. "...and l wanna swim there," lanjutnya lagi, "I made appointment to swim with Chacha your friends'daughter. Do you remember? Come on mam, let's go!" Ajaknya, dia sudah membaca chat ibu nya chat grup ibu nya bahwa hari itu ada perkumpulan teman-teman nya di vila itu. Vila pribadi milik teman Lilian dan hampir setiap akhir pekan semua teman nya selalu diajak berkumpul menikmati fasilitas yang ada di vila tersebut. Tak cukup itu saja semua makanan minuman sudah disiapkan tinggal datang duduk dan bersenang-senang saja!
Lilian merasa tak punya kepentingan untuk mengunjungi kawan lamanya, merasa enggan pula untuk datang menghadiri undangan kumpul-kumpul itu. Entah kenapa? Perjalanan panjang dihidupnya membuat dia merasa lebih suka di rumah saja. Lagipula sejak dia menetap di Australia tepatnya di kota kecil bernama Alice Springs kota yang bertanah merah di kelilingi pegunungan yang indah itu sulit dilupakan kota yang semarak dengan seni dan acara seperti yang diidamkan Lilian sejak muda. Lilian sejak dulu dia memang menyukai segala hal yang berbau seni sehingga saat dia meneruskan kuliah seni dia melanjukan studynya di Australia, bertemu dengan pria idaman nya di sana lalu berkeluarga dan menetap di sana untuk beberapa waktu. Selain menjadi pekerja seni di sana juga ada usaha sosial yang mendorong seni penenunan, di sana terdapat pula galeri-galeri dijalur perbelanjaan khusus pejalan kaki dipusat kota.
Pertengahan tahun ini Lilian pulang kembali ke kampung halamannya untuk mengunjungi keluarganya, sepintas dia memang seperti angkuh karena enggan bergaul dengan kawan-kawan lama, atau mungkin dia mulai tampak pelit atau irit padahal dia lama di luar negeri tapi tak ada niatan mentraktir teman atau party, party seperti lainnya. Mungkin benar Lilian di sana hidup tidak lah mewah semua serba mahal tampak nya akan lebih irit jika dia tinggal di lndonesia kembali ke daerah tempat masa kecilnya. Lilian sudah memutuskan akan mengabdi menjadi guru bahasa asing di sini walau penghasilan nya tak seberapa! Yang paling penting adalah pendidikan agama anak semata wayang nya buah pernikahan nya dengan Mr. Dagmar yang sudah mualaf sejak lama dan menggati namanya menjadi Haikal Ali. Lilian masih terbiasa berbahasa asing, anaknya yang sudah 10 tahun masih belum menguasai bahasa lndonesia tapi lambat laun dia belajar bahasa sedikit demi sedikit dan mulai bisa menyesuaikan diri. Kini di Pulau Umang Mr. Dagmar memiliki sebuah restoran kecil mereka merintis kembali usaha dari bawah hingga butuh perjuangan dan semangat yang besar. Lilian tak banyak waktu luang, dia kadang memberikan kursus seni, kadang kursus bahasa pada anak-anak tetangga yang berminat. Karena itulah jarang ada waktu senggang untuk bertemu dengan sahabat-sahabatnya saat dia benar-benar kembali ke kota kelahirannya.
Lilian dikagetkan dengan apa yang baru saja dia dengar dan apa yang dia lihat! Dia mengusap dadanya berkali-kali, menarik napas dalam-dalam lalu menahannya. Jantung nya terasa begitu berdetak kencang. Satu suapan saja rasanya sulit dia telan saat berada di mulut. Tak habis fikir! Kenapa ini semua harus terjadi? Apa yang dicarinya? Sepagi ini Lilian mendapatkan kabar yang tak baik, rasa tak percaya pun mulai timbul. Ada yang membolak balikan hatinya, ada keraguan dan mencari pembenaran! Mungkin ini hanya cerita satu pihak. Harusnya aku dengar dari pihak yang lain, tapi ini sangat sensitif ini adalah masalah pribadi! Dalam hati Lilian berkecamuk tak karuan. Aku sadar, aku bukan orang yang baik! Masa lalu ku masa muda ku tidak tertulis dengan baik. Aku hidup di dunia yang hiruk pikuk dengan hiburan, saat remaja aku sudah tinggal jauh dari orang tua bahkan tinggal di luar negeri bukan saja luar kota. Aku berusaha menjaga diri, meskipun sesekali kenakalan itu pun terjadi! Tapi itu semua terhapus sejak menikah. Aku berhenti sejak menikah. Suamiku sangat tampan dan penyayang! Saat ini aku diberkati dengan kehadiran seorang anak. Apalagi yang aku cari?
Pemikiran itu terus berkecamuk dalam otaknya, sesekali dia berucap syukur karena hidup lebih baik jika dibandingkan teman-temannya. Baiklah masih ingat kisah Herlin yang sekarang menghilang bak ditelan bumi setelah skandal pernikahan dengan suami orang dan diceraikan kembali? Juga Diah yang berhasil membina rumah tangga hingga melahirkan anak ke tiga dengan Wandi yang tak pernah dicintainya, serta kabar-kabar yang lain yang tidak begitu penting! Tapi, pagi ini terasa ada bagian tersulit. Iyah, lagi dan lagi semua tentang Diah! Diah ini bukan kisah yang pantas di ungkapkan, seharusnya ini tak terjadi lagi. Bagaimana bisa? Lilian memergoki Diah berduaan dengan lelaki lain dan lelaki itu bukan Wandi, pria yang sudah menikahinya puluhan tahun. Kok bisa? What's wrong with you, Diah?
Ini hanya fitnah, aku difitnah! Dia hanya teman saja, teman ditempat bimtek tidak lebih! Ini hanya tuduhan perempuan itu saja karena diceraikan hingga aku yang terbawa-bawa dalam masalah mereka!
Isi chat Diah yang dikirim kan pada Lilian, sebenarnya Lilian tidak ingin mendengar apapun dia ingin menutup pendengaran dan penglihatan untuk hal-hal yang tidak penting. Ini pula bukan urusan dia, terserah! Pikirnya lagi. Tapi, ini bagian tersulit untuk dihindari! Semua nya terlalu mengejutkan, dan jika Lilian mengingat-ingat kembali peristiwa setahun lalu, Lilian bisa kembali mengira-ngira bahwa apa yang diperbuat Diah selama setahun kebelakang adalah kebohongan! Diah dituduh berselingkuh dengan pria muda, dan tanpa sengaja Lilian kenal pria itu meskipun hanya kenal sesaat. Entah darimana asalnya karena dunia terlalu sempit semua yang tersembunyi bisa dengan cepat ditemukan.
"Benarkan? Aku orangnya supel, mudah bergaul dan yah banyak yang tak mengira usiaku sudah kepala 4 lebih," desis Diah saat berbincang dengan Lilian tepatnya setahun lalu saat awal-awal Lilian pulang ke sini dan mereka bertemu di pantai di tempat Lilian.
Rasanya kata-kata itu masih dia ingat terlontar dari bibir Diah, sejenak tampak seperti sedang membanggakan dirinya yang berasa menolak tua dan tetap muda. Muda memang muda di usia ini dia sudah hampir punya menantu terang saja karena saat usia18 tahun dia sudah punya anak satu. Menikah muda dengan pria yang tak dicintainya tapi melahirkan beberapa orang anak, 3 orang anak tepatnya. Cukup sukses!
"Lalu suamimu? Apa dia tidak merasa keberatan kamu sering pergi ke sana ke mari saat suami mu tidak ada? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Lilian yang sedikit banyak ingin menasehati Diah bahwa seharusnya saat suami merantau seorang istri lebih baik banyak diam untuk menjaga-jaga. Iya benar menjaga agar tak menjadi fitnah! Selama ini Diah memang menjadi tiba-tiba sibuk berkarir, entah bagaimana kabar suaminya? Yang dulu saat berusaha mendapatkan Diah tak pernah lepas dari nafkah, bolak balik mengantar Diah ke sana ke mari memakai mobil, lalu sekarang apa kabar? Wandi menjadi pekerja atau buruh diperantauan hingga sering tak pulang, hingga dikabarkan dalam setahun hanya datang satu kali sisa nya tak tahu lagi? Lalu perempuan bisa apa jika suami tak ada di sisinya? Apakah dianggap lumrah dan sah-sah saja berkeliaran kadang sampai malam baru pulang ke rumah walau hanya sekedar ngobrol-ngobrol dirumah teman. Rasanya ada kejanggalan ada yang aneh!
Lilian terpaksa harus memendam ini semua saat seseorang datang dan mengirimkan sebuah vidio. Orang itu begitu jelas meyakinkan bahwa Diah adalah penghancur rumah tangga mereka, Lilian tak sanggup jika harus melihat vidio yang berdurasi 5 menit itu! Harusnya dia lihat agar tak ada lagi fitnah, agar tahu siapa di dalam nya dan vidio tentang apa? Tapi bagi Lilian penjelasan perempuan itu sudah cukup. Perempuan itu hanya korban, benar atau tidak yang dilakukan Diah bukan lah hak Lilian untuk mengusiknya. Air mata yang tertahan dari perempuan itu membuat dadanya sesak dan merinding sekujur tubuhnya, rasa marah berkecamuk dengan rasa tak percaya. Dari orang lain pula lah Lilian mendengar Diah akhirnya menjanda, Diah ditalak karena tuduhan perselingkuhan oleh pihak Wandi. Tapi pihak dia mengatakan bahwa kesetiaannya pada Wandi selama ini tak pernah dianggap, Wandi ternyata sering melakukan kdrt sudah sejak lama dan Diah bertahan sampai akhirnya oh God meski pun itu benar seharusnya Diah tak membalas dengan sesuatu yang akan mengorbankan wanita lain, wanita muda yang terpaksa meminta diceraikan karena sudah jemu dengan terhadap kelakuan Diah dan suaminya. Menurut pengakuan beberapa orang pula bahwa kerap kali Diah kedapatan jalan bareng dengan pria itu, meski tak ada seorang pun yang tahu kejelasan hubungan mereka entah cuma rekan saja atau apa? Yang pasti jika saat itu Diah mau mencoba mempertahankan jati diri sebagai perempuan yang berstatus bersuami, semua tuduhan tak akan ditunjuk kepadanya. Mungkin ini pilihan hidupnya. Sejak dulu Diah selalu bilang bahwa dia tak mencintai Wandi, tapi alasan kali ini tak tahu lagi? Mungkin sudah jenuh, mungkin sudah lama tak jatuh cinta, mungkin sudah terbius nafsu, mungkin memang merasa mudah saja mendapatkan pria lagi bagi Diah yang masih cantik. Semua pertanyaan tidak pernah ada jawabnya. Yang pasti inilah akhir sebuah kisah cinta yang palsu, skandal perselingkuhan dan keterpaksaan dalam cinta membuat seseorang lemah dalam menjaga keimanannya. Tapi siapapun yang bersalah dalam hal ini suatu saat dia akan mendapatkan karma nya.
Lilian menutup rapat-rapat apa yang baru dia dengar dan dia lihat, kali ini semua sudah cukup bahwa keputusan untuk tetap di rumah membina keutuhan keluarganya adalah yang terbaik karena dunia di luar sana di bagian yang tersembunyi adalah dunia gelap yang tiada satupun cahaya pembimbing. Setiap orang di luar sana tidak butuh nasehat tapi hanya butuh pembenaran saja bagi diri mereka sendiri!!!
****tamat****