Diah yang sejak duduk di sekolah menengah atas sudah memiliki hubungan serius dengan seseorang yang telah begitu yakin akan bisa mendapatkan nya. Diah selalu menyangkal dengan hubungan itu, berkali-kali dia menolak dan berkata bahwa dia tak pernah menyukai lelaki itu sama sekali. Jangan kan menikah dengan nya usai lulus SMA dipacarinya pun sudah enggan. Lelaki usia matang itu penuh dengan harapan bahwa kehadiran nya itu akan merubah semua penilaian tentang dirinya, dan dengan telaten dia pun berusaha mendapatkan belahan jiwanya remaja putih mulus itu. Lelaki yang usianya sudah cukup mapan untuk mendapatkan pendamping itu begitu gigih. Wandi, memang tidak lah rupawan! Dia berperawakan kurus dan berkulit sedikit legam, sedikit sudah terlihat kerutan didahinya, wajahnya yang oval memang tidak menampakan aura ceria. Entah mungkin dia terlalu banyak berfikir ditempat kerjanya atau memang dia sudah terlalu lama membujang walau kadang-kadang penampilan nya kala itu malah lebih mirip seperti seorang duda. Iya cukup kelihatan agak ketuaan untuk ukuran remaja usia SMA yang sedang ranum-ranumnya!
"Bagaimana bisa kamu tidak menikah! Waktu sekolah semua biaya Wandi yanh bayar! Uang sekolah, baju, tas dan sepatu. Bagaimana lagi harus ditolak?" Lirih terdengar suara ibu setengah baya itu yang tak lain adalah ibu nya Diah. Benar saja, Diah sewaktu sekolah setiap hari Senin dia membagikan coklat mahal pada teman-teman dekatnya, karena Wandi datang setiap weekend dan dihari Senin itu adalah saat-saat Diah berbagi oleh-oleh dari Wandi. Pria itu berkali-kali mengajaknya jalan-jalan dengan menaiki mobil mungilnya. Yup, untuk ukuran anak remaja kampung itu semua tanpak cukup menguatkan bahwa dirinya sangat beruntung!
Perpisahan sekolah pun akhirnya tiba, riuh redam suasana di halaman sekolah terasa begitu lekat. Hari-hari yang akan dirindukan, perjumpaan dengan sahabat yang entah kapan terulang? Mereka yang punya hubungan istimewa pun saling berjanji satu dengan lain meskipun janji-janjinitu adalah semu belaka.
"Akhirnya kamu nikah juga yah, Di. Selamat ya!" Bisik Widia dan teman-teman dekat Diah yang kala itu menerima undangan pernikahan Diah tak lama setelah usai pelulusan sekolah. Diah tak banyak bicara dia memang sedikit mampu meredam dan pasrah pada keadaan karena memang sepertinya Diah tak punya pilihan lain selain menerima lamaran Wandi dan menikah dengannya. Sementara itu para sahabat pun berbisik di belakang. Iya benar kata ibu nya bagaimana mungkin dia bisa menolak Wandi sudah berkorban banyak meski Diah bilang tak pernah mencintainya dan hal itu timbul karena Diah mencintai Dodi lelaki yang selama ini sering ditemui nya diam-diam meskipun akhirmya Diah sendiri menyerah tak kuasa mempertahankan cintanya!
Berbulan-bulan tak ada kabar, para sahabat pun rupanya enggan berkunjung ke rumah itu, rumah tempat mereka berkumpul sewaktu sekolah, menghabiskan masa remaja dengan gelak canda dan tawa, serta berjuta harapan tentang mimpi-mimpi besar dimasa depan. Diah sudah cukup mengubur mimpi masa muda nya. Cukup baginya mengubur bayangan wajah lelaki macho seperti para bintang idola kala itu, 1996 belum ada drama Korea belum ada opa opa tampan itu. Masa itu di lndonesia lagi bermunculan idola-idola jebolan majalah remaja yang sangat popular dan salah satu nya menjadi lelaki idaman Diah. Oke, itu hanya khayalan para remaja, kenyataannya malam itu mulai larut dan sepi. Pelaminan telah usai dibongkar dan kamar pengantin yang dihias wangi dengan bunga-bunga hidup menyambut pengantin baru dengan penuh gairah.
"Kamu cantik sekali Diah," lembut suara Wandi, mengibaskan rambut Diah yang tipis dan lurus. Diah masih tersipu malu, sangat malu tapi hormon nya mulai membakar saat Wandi mendekatkan wajahnya. Tangan lelaki itu meraba pelan selembut lembutnya, beranjak dari tangan kanan melipir kepaha dan tangan kiri masih memainkan rambut Diah hingga perlahan turun ke bawah. Terus mengusap bagian d**a nya memasukan jari jemari nya kedalam pakaian Diah. Diah yang mulai memanas menutup mata dan menahan nafas. Malam yang semakin larut, nafas yang ditahan agar tak terdengar berisik nya suara gairah kenikmatan mereka berdua itu. Mereka berdua banyak menahan nafas. Wandi mulai mencumbuinya dari atas hingga bawah, bibir nya yang menghitam bekas rokok terasa hangat menyentuh bibir Diah yang dia balas kecupannya pelan-pelan. Lalu direbahkan nya tubuh itu dan bibir Diah dibuka dengan lebih lebar hingga kedua lidah mereka bertemu dan bermain dengan air liur di dalamnya. Hangat dengan aroma yang khas, lalu Wandi yang sudah tidak tahan melihat mulus nya tubuh Diah dari kaki hingga d**a sudah semakin tajam senjatanya. Wandi mulai menegang, senjata bagian bawahnya sudah siap menembak dan mencari sasaran. Paha Diah sedikit dia buka dengan kedua kakinya dan bleepp ada sesuatu yang menusuk terasa asa sesuatu yang pecah Diah sedikit mengerang. Wandi mencelup dan mengangkat senjatanya terus berkali-kali diulang. Diah tak meronta matanya masih saja tertutup dengan nafas birahinya tangannya mulai merangkul tubuh Wandi. Sementara, senjata wandi bermain hangat didalam berbaur dengan pelumas yang dan percikan darah perawan yang mulai basah. Celupan demi celupan hingga semakin cepat memompa, cepat dan dengan kuat akhirnya lepas seluruh birahi itu, sembuaran air yang tercipta dengan gairah membara itu keluar tanpa bisa ditahan lagi. Wandi mengangkat tubuhnya dari tubuh Diah, sementara Diah dengan cepat menuju kamar mandi pelan sekali karena tak ingin orang tua nya tahu bahwa dia sedang mandi dimalam hari.
Pagi sekali pengantin baru itu sudah siap dengan aktifitasnya, Diah yang sudah terbiasa memasak menyiapkan makanan untuk Wandi. Orang tua Diah begitu ramah mengajak menantunya itu untuk sarapan bersama masakan istrinya. Wandi yang memang sangat aopan dan pemalu perlahan ke luar kamar dengan rambut ikal nya yang berusaha dia keringkan setelah basah. Diah yang menunduk malu pun menyiapkan piring dan menu makanan untuk pria itu, lalu mereka menikmati sarapan pagi bersama.
Tak butuh waktu lama, sepanjang malam mereka mengulang kisah yang sama warming up lalu make love terus saja hingga makin terbiasa dengan kenikmatan itu. Rasa perih dan sesak saat tertindih pun kalah oleh gairah. Saat d**a kurus Wandi menumpangi bagian d**a Diah yang masih tipis belum tumbuh lama kelamaan mulai merekah saat Diah telat satu bulan lebih. Lalu apa kabar para sahabat? Entah lah mereka masih mengejar mimpinya masing-masing tak ada yang ingin menggangu pengantin baru, lagipula tak baik jika seseorang yang sudah berumah tangga diajak lagi oleh teman-teman yang belum menikah. Mama bilang jangan main dengan yang sudah menikah, hal itu adalah alasan kenapa Diah tak pernah dikunjungi lagi oleh teman-teman dekatnya waktu sekolah, alasan lainnya karena kabar terakhir Diah sudah dibawa pindah oleh Wandi ke tempat asalnya di kota!
Masa muda sudah berlalu di usia 18 tahun Diah sudah menjadi seorang ibu dari anak lelaki pertamanya yang bernama Egi. Anak lelaki yang begitu mirip dengan sang ayah. Itulah pertama kali sejak Diah menikah dikunjungi lagi teman-temannya untuk menengok anak pertama Diah selain untuk menanyakan kabar saja. Tak banyak yang dibicarakan sangat lah canggung, Diah mengurus anak nya yang masih bayi itu sementara temannya menyaksikan Diah mengganti popok saat si bayi pup. Kala itu belum zaman diapers di mini market semua benar-benar mengandalkan celana bayi saja! Teman-teman muda yang masih belum faham dengan kehidupan rumah tangga pun mencoba tak menebak apa yang sudah terjadi hingga akhirnya seorang bayi lelaki menjadi pelengkap dipernikahan Wandi dan Diah. Dahulu sepanjang yang diketahui bahwa Diah pernah bersikeras untuk menyatakan tak pernah mencintai Wandi dan cinyanya hanya untuk Dodi satu-satunya lelaki yang menurut Diah paling sempurna dan paling fia inginkan untuk menjadi suaminya. Sumpah-sumpah yang ke luar dari mulut Diah atas cintanya pada Dodi sangat berbanding terbalik, nyatanya hari itu lahir seorang bayi yang dia urus dengan telaten. Nyatanya lama tak ada kabar karena Wandi sudah memboyongnya. Wandi yang seorang pegawai, entah apa nama pekerjaan dan jabatannya? Hanya saja dia sudah sempurna dimata orang tua Diah, mengantar jemput Diah denhan mobil sedan, membiayai segala keperluan Diah dan akhirnya melengkapi kehidupan merka dengan seorang anak lelaki. Akhirnya cinta sudah membuktikan keduanya bahwa mereka memang sudah saling melengkapi dan menjalani biduk rumah tangga nya dengan baik-baik saja!