"Assalamualaikum!" Seseorang mengetuk pintu depan. Lilian segera membuka pintu dan kaget saat mendapati kakanya Diah tepat di depan pintu.
"Oh, Teteh ayo masuk," sambut Lilian.
"Tidak...tidak, saya mau tanya saja apakah Diah ada di sini?" Tanya nya, ternyata dia adalah teh Dini kakak nya Diah.
"Tidak ada, Teh!" Sahut Lilian.
"Diah sudah meninggalkan rumah sejak kemarin, kami sudah cari di sekitar rumah teman-temannya di kampung tapi dia tidak ada, barangkali Eneng tahu di mana Diah berada?" Jelasnya lagi.
"Sungguh saya tidak tahu Teh, coba kita cari ke rumah Herlin," ajak Lilian. Seperti yang Lilian tahu bahwa Diah memang lebih dekat dengan Herlin karena Diah merasa cocok dengan Herlin yang sama-sama punya hubungan backstreet. Diah selalu menyatakan bahwa dia tak mau berhubungan dengan Wandi! Diah tidak pernah mencintai Wandi, sungguh Wandi bukan lelaki idamannya, Wandi sangat kurus dan pendek perawakan nya tidak macho, wajahnya pun sama sekali tak tampan bahkan tak ada manis-manisnya. Untuk anak usia remaja seperti mereka itu cowok tampan bertubuh atletis dan macho adalah idola dan impian. Maka dari itu lah Herlin mati-matian memilih Anton cowok yang dikenal playboy itu pun sama sekali tak membuat nya bergeming. Yup, itu akan membuatnya bangga bila berjalan berdampingan dan membuatnya semakin percaya diri karena dia sudah berhasil menaklukan cowok yang banyak dikejar cewek-cewek cantik nan centil. That is the reason why Diah pun lebih senang curhat pada Herlin karena Herlin mendukung gerakannya memberontak untuk menerima Wandi.
Pagi itu mata Diah sembab seperti habis menangis, di kelas orang-orang tak begitu memperhatikan mereka sibuk mengerjakan PR yang semalam tak dikerjakan dan berharap ada contekan diwaktu pagi. Sementara Diah, Lilian dan Widia yang satu kelas masih duduk santai menunggu bel masuk berbunyi
"Diah, kamu kemarin bersembunyi di mana?" Tanya Lilian memulai percakapan. Diah terdiam menarik napas pelan matanya yang sembab mulai sedikit berkurang, mata sipit dan wajah orientalnya itu memang terlihat memerah.
"Tidak di mana-mana." Tegasnya masih menyembunyikan kebenaran.
"Tapi kakak mu kemarin ke rumahku, dia nyariin kamu Diah sampai jalan kaki aku antar ke rumah Herlin dan ternyata kau pun tidak di rumah Herlin." Jelas Lilian panjang lebar sedikit kesal.
"Ah sudah lah jangan dibahas!" Sambung Diah sambil merapikan buku nya dan bel sekolah pun bunyi tanda masuk sudah mulai.
Diah memang tak pernah terbuka sulit memahami pikirannya, dia pun tak mencoba berterus terang pada ibu bapak nya jika dia mencintai lelaki lain dan bukan Wandi. Harusnya Diah berkata jujur janganlah berlari terus menerus menghindar dari Wandi yang tak pernah gentar mendekatinya. Dan lagipula apa ini? Dia mencintai Dodi dan Dodi pun mencintainya tapi bagaimana mungkin Dodi sendiri tak pernah mau apel ke rumah Diah, sengaja berkunjung untuk memperkenalkan diri atau hanya sekedar berbincang dengan ke dua orang tua Diah. Siapa tahu ibu dan bapak Diah menyukainya? Siapa tahu mereka akan merestui hubungan itu daripada Dodi selalu mengajak Diah bertemu di luar rumah! Ini berbeda dengan Herlin jika Herlin memang sejak awal ibu nya sudah menolak hubungan cinta mereka karena ibu nya sudah tahu gelagat Anton yang playboy, tapi Dodi? Dodi adalah cowok pendatang di kampung Diah yang hanya ikut dengan paman nya, sejauh ini Dodi dikenal baik dan sopan tanpa cela. Bagaimana mungkin ke dua orang tua Diah menolak jikalau Dodi benar-benar datang dengan baik-baik ke rumah Diah dan mengatakan menjelaskan hubungan cinta mereka.
Lagi-lagi Diah tak bisa menolak, kedatangan Wandi semakin sering saja. Orang tua nya pun dikabarkan akan segera berkunjung untuk melamar Diah. Kalau sudah begitu apa yang bisa Diah perbuat? Ketika dia kabur dari rumah pun tak bisa membuat Wandi mundur. Apakah Diah berani mengatakan pada Wandi bahwa dia tak mencintainya karena Diah mencintai Dodi? Dan dimana Dodi itu saat Diah ingin dia menjadi pemilik hatinya. Sama sekali Diah tidak pernah terbuka, dia hanya bicara pada Herlin bahkan beberapa waktu Diah pergi bersama Herlin mereka membuat acara pertemuan dengan pasangan backstreetnya masing-masing. Tak bisa dipungkiri jika cinta yang disembunyikan itu akan terasa berbeda, setiap pertemuan itu harus ada bekasnya. Yah, Herlin bahkan lebih terbuka secara trangtrangan di depan Widian dan Lilian saat berpacaran. Kecupan demi kecupan di leher dan naik ke pipi dan bibir sudah sering sekali mereka pertontonkan. Pikiran buruk tentang hubungan itupun semakin nyata, jelas saja di depan orang saja mereka sudah berani peluk cium apalagi jika dibelakang?
"Sungguh aku sayang banget sama Herlin sahabatmu itu," bisik Anton saat bertemu Lilian. "Aku tidak berani merusak nya, aku akan menjaga kehormatan nya. Padahal dia sudah berkali-kali minta dihamili!" Tegasnya. Lilian menggeleng dan benar saja sedikit salut pada hubungan itu karena ternyata Herlin tak hamil duluan dia hamil setelah beberapa bulan menikah dengan Anton. Herlin memang tak hamil saat pacaran dengan Anton tapi s**t!! Anton menghamili Vivi anak remaja belasan tahun waktu itu dan mau menikahinya karena kasihan, lalu Herlin tetap menerima Anton. Tidak sampai situ Anton terlalu akrab dengan sahabat Herlin yang lain berkali-kali Anton kedapatan menemui nya, melatih nya naik motor atau sekedar menjajani saja, sangat disayangkan sahabat Herlin yang lain pun mengaku beberapa kali Anton ingin menciumnya meski secara tak langsung mendengar kabar itu Herlin menjadi pembenci sahabatnya sendiri walau dia berusaha menyembunyikan itu semua.
Lalu bagaimana dengan Diah? Dia terus saja menyimpan harapannya pada Dodi cowok macho idaman nya itu yang atletis, putih dan jago bermain volly. Ada alasan Diah menemui Dodi saat menonton pertandingan volly di kampungnya. Usai pertandingan mereka membuat janji untuk bertemu. Pertemuan ini harus lah berkesan mungkin satu dua kecupan tak akan cukup. Dodi mencoba melebarkan hasratnya, berawal dari menyibakan rambut Diah yang tergerai lurus dan pendek lalu meraba pipinya yang mulus, pelan-pelan menempelkan bibirnya pada bibir Diah yang masih terkatup dan terjadilah french kiss lumatan bibir satu dengan lainnya yang hangat memberikan kenikmatan yang tak ingin diakhiri!
Tangan itu meraba hingga bagian d**a dan membuka sedikit kancing bajunya, lalu mengangkat penutup d**a itu dan dihisapnya pelan-pelan. Dihisap dan terus digigit gemas, Diah meregang tanggan nya meremas-remas rambut Dodi yang cepak ikal hingga Dodi berhenti melepaskan isapannya dan berlari ke kamar mandi melepaskan puncak kenikmatan nya yang harus terhenti. Diah yang pemalu merapikan rambut dan memakai kembali bedaknya, memasukan kancing bajunya lalu pergi meninggalkan Dodi karena mereka tak boleh terlihat jalan berbarengan.
Entah bagaiamana rasanya terlibat dengan perasaan yang sulit dipahami? Hati yang menginginkan yang lain nya apakah akan baik? Dodi tak punya kepercayaan diri, dia di sini hanya ikut paman dan dia menganggur, bagaimana bisa dia menyatakan cinta pada Diah? Apa taruhannya? Setidaknya dia harus punya pekerjaan walau tak kaya raya. Dodi tak kunjung berani mendatangi Diah, dan Wandi makin kuat mendekati keluarga Diah lalu Diah pun tak punya alasan untuk menjelaskan bahwa dia tak ingin menikah dengan Wandi karena dia mencintai Dodi, lalu apa yang akan terjadi jika orang tua nya tahu Diah akan memilih Dodi pemuda yang numpang pada pamannya dan menganggur! Tidak! Diah tak seberani Herlin dalam hal ini, Diah akan menuruti keinginan orang tua nya mencoba menerima Wandi dan menerima perjodohan ini.
Pernikahan itu pun terjadi dan Dodi sudah menghilang sejak lama, Dodi meninggalkan kenangan kecil dihati Diah yang masih belum bisa merelakan nya. Dodi pergi membawa luka karena kebodohan dia sendiri yang seorang penganggur tanpa keberanian. Sampai hari dimana pernikahan Diah dan Wandi hingga mereka menghabiskan malam-malam bersama tidak pernah ada yang tahu hati ke duanya. Diah apakah benar-benar sudah mulai mencinti Wandi dan melupakan Dodi hingga tiga orang anak pun telah ke luar dari rahimnya? Apakah Wandi sungguh bisa menaklukan hati Diah, ataukah malam-malam panjang saat lampu dimatikan dan mereka bercinta dengan cinta yang semu atau benar-benar kenikmatan surga dunia?
Semua sudah terjadi anak sudah tiga lengkap semua bahkan sudah bisa dibilang berhasil membesarkan anak-anak, mampu menyelesaikan sekolah anak hingga perguruan tinggi. Sungguh tiada cela Diah sudah menemukan tambatan hatinya, hidup belasan tahun bahkan menjadi puluhan tahun bersama Wandi yang dulu pernah ditolaknya namun diawal pernikahan nya sejak usia 18 tahun hingga berkepala empat bukan lah waktu yang singkat. Mereka sudah mengecap pahit manisnya kehidupan, mereka sudah melewati susah dan senang bersama, suka dan duka bersama, apalagi yang kurang? Mereka berdua hanya tinggal menikmati masa tua bersama dan menyaksikan kesuksesan anak-anak nya di masa depan!