Jakarta – Hujan dan Luka
Hujan turun deras membasahi jendela apartemen. Lampu kota Jakarta berpendar samar, terpantul di genangan jalanan yang padat. Di balik kaca, Hana duduk termenung, matanya kosong. Ponsel di meja bergetar, menampilkan pesan yang tak ingin lagi ia baca—nama kekasihnya, dan nama sahabat yang pernah ia percaya. Dua nama yang kini terasa seperti pisau.
Air matanya jatuh, bercampur dengan helaan napas panjang.
“Aku tidak punya alasan lagi untuk bertahan di sini,” bisiknya lirih.
Tangannya meraih koper kosong di sudut ruangan. Suara ritsleting terbuka terdengar tajam, seolah menjadi tanda babak baru dimulai.
Seoul – Sorak yang Hampa
Sementara itu, ribuan kilometer dari sana, Seoul bergemuruh oleh sorak ribuan fans. Lampu panggung menyorot Jin Woo yang berdiri di tengah arena konser. Senyum profesional menghiasi wajahnya, tubuhnya bergerak mengikuti irama, suaranya menggema menyanyikan lagu cinta.
Namun di balik gemerlap itu, matanya terasa kosong. Sorak dan cahaya baginya hanya bising yang menutupi kekosongan hati. Ketika musik berhenti dan ia membungkuk hormat, sekilas pandangannya menangkap bayangan samar di antara lautan fans—seseorang dari masa lalu.
Ia mengedipkan mata, dan bayangan itu menghilang. Jin Woo menarik napas, memaksakan senyum lagi. Tapi hatinya berbisik pelan: “Hana-ya… di mana kau sekarang?”
Dua Jalan yang Hampir Bertemu
Kamera imajiner bergulir—Hana menutup koper, memasukkan paspor dan tiket menuju Seoul; Jin Woo melangkah ke belakang panggung, melepaskan mic dengan tatapan letih.
Hana berjalan di bandara Soekarno-Hatta, menarik koper dengan langkah berat tapi penuh tekad; Jin Woo duduk di ruang tunggu agensi, menatap kalender penuh jadwal, tapi pikirannya jauh entah ke mana.
Dua dunia, dua hati yang terpisah bertahun-tahun. Keduanya berjalan di jalannya masing-masing, tanpa tahu bahwa takdir perlahan menggiring mereka menuju titik temu.
Hujan di Jakarta mereda, sementara langit Seoul menyambut fajar.
Sebuah pertemuan kembali tak terelakkan.