Jakarta malam itu basah oleh hujan. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik jendela apartemen, membiaskan cahaya seperti kaca pecah. Hana berdiri mematung, masih menggenggam ponsel yang layarnya menyala.
Di sana, terpampang foto yang tak pernah ia bayangkan, pacarnya—lelaki yang selama ini ia percayai—menautkan bibir dengan sahabatnya sendiri.
Tangannya bergetar. Rasanya seperti ditampar berkali-kali. Bukan hanya soal cinta yang hancur, tapi juga kepercayaan yang remuk. Dua orang terdekatnya, bersekongkol tanpa ia sadari.
“Jadi, begini cara semesta bercanda?” suaranya parau, hampir tak terdengar di tengah rintik hujan yang mengetuk kaca.
Hana menjatuhkan tubuhnya ke sofa, memeluk bantal dengan mata berkaca-kaca. Ingatannya melayang pada ayahnya di Seoul, ibunya yang selalu mengirim pesan singkat menanyakan kabar, dan kakaknya yang jarang ia hubungi. Sudah lama ia merasa asing di Jakarta, meski lahir dan besar di sini.
Malam itu, luka membuatnya mengambil keputusan.
Bukan sekadar kabur dari pengkhianatan, tapi mencari kembali bagian dirinya yang hilang.
Mungkin, sudah waktunya pulang. Seoul… tempat aku pernah merasa utuh.
Hana menatap layar ponselnya lagi. Foto itu masih ada di sana, tak bergerak, tapi setiap kali ia melihatnya, rasanya seperti tusukan baru di d**a. Nafasnya tercekat, dan ia segera menekan tombol delete, berharap rasa sakit bisa ikut terhapus. Tapi tidak. Gambar itu sudah terlanjur membekas di kepalanya.
Teleponnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuat perutnya mual : Ari.
Pacarnya.
Atau mungkin, mantan pacarnya sekarang.
Hana menolak panggilan itu. Jarinya gemetar, matanya panas. Sekali lagi ponsel bergetar, kali ini dari Dinda—sahabatnya sejak SMA. Hana langsung melempar ponsel itu ke sofa, seakan benda itu beracun.
“Kenapa kalian berdua? Kenapa harus kalian?” bisiknya lirih.
Air mata akhirnya tumpah. Ia tak berusaha menahannya. Malam itu, Hana membiarkan dirinya runtuh. Tangisnya pecah, bercampur dengan suara hujan deras yang menghantam kaca jendela.
Di meja kerjanya, sketchbook terbuka dengan desain ruangan yang belum selesai. Garis-garis pensil yang biasanya rapi kini tampak berantakan. Ia ingat betul kalimat klien siang tadi,
“Kamu perfeksionis sekali, Hana. Semua detail harus sesuai, ya?”
Ironis. Di pekerjaannya ia begitu teratur, tapi dalam hidupnya sendiri, segalanya kacau.
Hana berdiri dan melangkah ke balkon kecil apartemen. Jakarta malam itu tampak ramai, suara klakson dan deru mesin mobil bercampur dengan hujan. Kota ini selalu hidup, tapi untuknya, Jakarta malam itu terasa mati.
Tangannya meraba liontin kecil di lehernya—hadiah dari ibunya saat ia berangkat kuliah dulu. Bentuknya sederhana, hanya ukiran huruf “H” kecil dari perak. Ibunya selalu berkata, “Selama kamu memakainya, kamu tidak pernah benar-benar sendirian.”
Hana memejamkan mata, membiarkan suara hujan menenggelamkan segala ribut di kepalanya. Untuk pertama kalinya, terlintas pikiran yang begitu jelas,
Ia harus pergi.
Seoul.
Tanah kelahiran ayahnya, kota tempat sebagian hatinya tertinggal. Kota yang dulu ia kenal lewat musim panas penuh tawa bersama kakaknya dan… seorang teman kecil yang kini hanya jadi kenangan.
Hana menarik napas panjang, menatap ke arah lampu-lampu kota yang kabur oleh air mata.
“Mungkin… di sana aku bisa mulai dari awal,” ucapnya pada dirinya sendiri.
Hana masih berdiri di balkon, tubuhnya lemas, ketika ponsel di sofa kembali bergetar. Ia hampir tak peduli, tapi nama yang muncul kali ini membuat langkahnya terhenti.
Eomma.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat telepon itu.
“Yeoboseyo…” suaranya serak, campuran bahasa Korea dan Indonesia yang terbata.
“Hana-ya, apa kamu baik-baik saja?” suara lembut ibunya terdengar di seberang. Ada aksen Sunda yang masih kental, meski sudah bertahun-tahun tinggal di Seoul.
Pertahanan Hana langsung runtuh. Air matanya kembali jatuh, deras.
“Eomma…” suaranya pecah. “Aku… aku gagal. Aku nggak kuat di sini.”
Ibunya terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Tidak ada yang gagal hanya karena disakiti. Kamu masih sama, Hana yang kuat. Ceritakan pada Eomma, apa yang terjadi?”
Hana menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis. “Ari… dia selingkuh. Sama Dinda.”
Keheningan panjang. Lalu terdengar tarikan napas berat dari seberang.
“Oh Tuhan…” ibunya berbisik. “Nak, kalau di sana terlalu menyakitkan, kenapa tidak pulang saja? Ayahmu… Oppa-mu… mereka akan senang kalau kamu kembali.”
Kata-kata itu menusuk hati Hana. Pulang.
Satu kata sederhana, tapi rasanya berat sekaligus melegakan.
Hana menutup matanya, membiarkan air mata terakhir mengalir.
“Iya, Eomma… mungkin aku harus pulang.”
“Datanglah. Seoul menunggumu,” jawab ibunya lembut.
Telepon terputus. Hana menatap layar ponsel yang kembali gelap. Untuk pertama kalinya malam itu, ada cahaya kecil menyelinap di kegelapan hatinya.
Dan di malam penuh luka itu, tanpa ia sadari, Hana sudah menulis ulang garis besar takdirnya sendiri.
Hana menutup matanya, membiarkan air mata terakhir jatuh. Ia tahu, esok pagi, hidupnya tak lagi sama.
Keesokan paginya, mata Hana sembab. Ia menutup koper yang sudah hampir penuh dengan pakaian, lalu memasukkan sketchbook desain terakhir ke dalam tas kerja. Ada satu hal penting yang harus ia lakukan sebelum benar-benar meninggalkan Jakarta, berpamitan.
Kantor desain interior tempat ia bekerja berada di bilangan Sudirman. Saat Hana melangkah masuk, suasana sibuk seperti biasa, tim desain menunduk di depan layar komputer, suara telepon berdering, dan aroma kopi hitam menguar dari pantry.
Hana mengetuk pintu kaca sebuah ruangan bertuliskan Creative Director – Adrian Park.
“Masuk,” terdengar suara berat dari dalam.
Adrian mendongak dari balik meja. Lelaki berdarah Korea-Indonesia itu tersenyum hangat begitu melihat Hana. Meski usianya hanya terpaut beberapa tahun, wibawanya sebagai bos membuat semua orang segan. Bagi Hana, ia lebih dari sekadar atasan—ia adalah kakak kelas yang dulu membimbingnya di kampus, sekaligus sahabat lama kakaknya di Seoul.
“Hana-ya,” sapa Adrian dengan nada bercampur heran. “Kamu datang lebih pagi dari biasanya. Ada apa?”
Hana menarik napas dalam-dalam. “Oppa… aku mau bicara serius.”
Adrian menautkan alis. Ia jarang mendengar Hana memanggilnya dengan sebutan itu kecuali saat suasana benar-benar pribadi.
“Silakan duduk.”
Hana duduk berhadapan dengannya, jemarinya saling meremas di pangkuan.
“Aku… mau pamit. Hari ini mungkin hari terakhirku di sini.”
Adrian terdiam. Wajahnya sulit terbaca.
“Pamit? Maksudmu… resign?”
Hana mengangguk pelan. “Aku… ada masalah pribadi. Aku nggak bisa lagi tinggal di Jakarta. Aku mau pulang ke Seoul.”
Beberapa detik ruangan itu hanya berisi keheningan. Adrian lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi, menghela napas panjang.
“Aku tahu kamu tipe yang perfeksionis, Hana. Kamu nggak akan mengambil keputusan sebesar ini kalau bukan karena alasan besar.” Tatapannya melunak. “Ini… ada hubungannya sama pacarmu itu?”
Hana menunduk, menahan genangan air di matanya. Adrian tak butuh jawaban verbal. Ia sudah mengerti.
“Oppa, maaf. Aku nggak bisa menyelesaikan semua proyek. Tapi aku yakin tim bisa melanjutkan.”
Adrian menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. “Jangan minta maaf. Hidupmu lebih penting dari pekerjaan. Dan… Seoul bukan tempat asing buatmu. Kakakmu akan senang kamu kembali.”
Hana mengangkat wajahnya. “Kamu nggak marah?”
“Marah?” Adrian tertawa kecil. “Kamu ini seperti adik sendiri, Hana. Justru aku lega kamu memilih kembali ke keluargamu. Kadang, pulang adalah cara terbaik untuk sembuh.”
Hana menahan isak, lalu berdiri. Ia membungkuk, memberi hormat yang tulus. “Gamsahamnida, Oppa. Untuk semuanya.”
Adrian bangkit dan menepuk bahunya. “Kalau sudah sampai Seoul, titip salam buat hyung-mu, ya. Dan… jangan hilang kabar. Dunia ini kecil, siapa tahu kita bertemu lagi di sana.”
Hana tersenyum samar. Untuk pertama kalinya sejak hatinya hancur, ia merasakan kehangatan yang sedikit menenangkan.
Setelah keluar dari ruangan Adrian, Hana menghela napas panjang. Rasanya berat, tapi ia tahu masih ada satu hal yang harus dilakukan: berpamitan dengan timnya.
Di open space, beberapa desainer junior sedang sibuk menatap layar, sementara papan moodboard penuh dengan sketsa, sampel warna, dan potongan kain. Hana menepuk tangan pelan, menarik perhatian mereka.
“Teman-teman, bisa sebentar?” suaranya jernih tapi agak bergetar.
Mereka menoleh. Raut penasaran muncul di wajah masing-masing.
Hana berdiri di depan meja besar, menaruh sketchbook-nya di sana. Ia membuka halaman terakhir, memperlihatkan rancangan ruang tamu modern minimalis yang belum rampung.
“Seperti yang kalian tahu, proyek Ibu Mona sudah masuk tahap final. Aku sudah buat guideline detailnya. Tugas kalian tinggal finishing furnitur custom dan koordinasi vendor.”
Ia menatap satu per satu wajah anak buahnya. “Untuk proyek hotel di Malang, aku serahkan ke Rani sebagai lead. Semua catatan sudah aku simpan di folder bersama. Kalian tinggal ikuti step-nya.”
Rani, yang duduk paling dekat, menatapnya bingung. “Mbak Hana… maksudnya? Kenapa kedengarannya kayak…”
Hana tersenyum kaku. “Karena memang… hari ini hari terakhir aku di sini.”
Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Beberapa orang saling berpandangan, seolah tak percaya.
“Lho, Han… kenapa tiba-tiba?” tanya Dewo, desainer muda yang sering jadi partner Hana di lapangan.
“Ada alasan pribadi,” jawab Hana singkat. Ia tak sanggup menjelaskan lebih jauh. “Tapi aku percaya, kalian semua bisa melanjutkan pekerjaan ini. Tim kita sudah solid.”
Matanya terasa panas, tapi Hana berusaha menahan air mata. Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap mereka dengan senyum yang lebih tulus.
“Terima kasih, ya. Untuk kerja keras, kebersamaan, dan semua tawa di kantor ini. Kalian bukan cuma rekan kerja, tapi juga keluarga kecilku di Jakarta.”
Beberapa orang mulai terisak pelan. Rani berdiri dan memeluk Hana erat. “Kami bakal kangen, Mbak. Kamu selalu jadi panutan.”
Dewo menyusul, menyalaminya dengan mata berkaca-kaca. “Semoga sukses di mana pun kamu berada.”
Hana hanya bisa menunduk, hatinya campur aduk.
“Jaga kantor ini baik-baik, ya. Jangan sampai kehilangan semangat desainnya.”
Saat ia berjalan meninggalkan meja besar itu, seluruh tim berdiri, memberi tepuk tangan. Tepukan hangat, bukan sebagai penghormatan untuk seorang atasan, tapi sebagai salam perpisahan untuk seorang rekan yang mereka sayangi.
Hana menahan napas, mencoba menyalurkan kekuatan lewat senyumnya. Langkah kakinya mantap, meski di dalam dadanya, ada rasa kosong yang tak bisa dijelaskan.
Di lift, pintu mulai menutup. Dari sela-selanya, ia masih bisa melihat wajah-wajah familiar itu. Sebuah babak dalam hidupnya benar-benar usai.
Keluar dari gedung itu, ia tahu, satu demi satu ikatan dengan Jakarta mulai ia lepaskan. Perjalanan barunya benar-benar dimulai.
Apartemen kecil di bilangan Kuningan itu kini penuh dengan kotak kardus. Hana duduk di lantai, rambutnya diikat asal-asalan, sambil melipat tumpukan baju ke dalam koper. Di sekelilingnya, jejak kehidupannya selama lima tahun terakhir terserak: foto-foto lama, vas bunga kecil yang pernah ia beli di Pasar Seni, bahkan cangkir kopi favorit yang bibirnya sudah retak.
“Ya ampun, Han, kamu beneran nekat ya pindah mendadak gini?” suara Yuna, sahabatnya sejak kuliah, terdengar sambil mengangkat tumpukan buku desain ke dalam kardus.
Hana menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Aku nggak punya pilihan, Na. Kalau aku terus di sini… aku nggak akan pernah sembuh.”
Yuna meletakkan buku-buku itu, lalu duduk di samping Hana. “Aku ngerti sih. Tapi tetap aja… aku bakal kehilangan partner ngopi tengah malam.”
Hana terkekeh pelan, meski matanya masih sembab. “Kamu masih bisa video call aku jam tiga pagi kok. Aku bakal tetap ada buat dengerin curhatanmu soal cowok-cowok brengsek.”
Yuna memukul pelan bahu Hana. “Dasar. Kamu sendiri gimana? Udah siap balik ke Seoul? Itu kan kayak… dunia yang sama sekali beda.”
Hana terdiam sejenak. Tangannya meraba liontin di lehernya. “Aku nggak tahu siap atau nggak. Tapi aku tahu aku harus mencoba.”
Keheningan melingkupi mereka, hanya suara selotip kardus yang direkatkan menemani. Yuna lalu berdiri, menatap apartemen itu dengan mata berkaca-kaca.
“Tempat ini bakal sepi tanpa kamu.”
Hana ikut berdiri, memandangi ruang tamu kecil yang dulu penuh tawa, obrolan panjang, dan tangis diam-diam. “Bukan cuma apartemen ini, Na. Aku juga bakal kangen Jakarta… dan kamu.”
Yuna mendekat, memeluk Hana erat. “Janji ya, begitu kamu di Seoul, kamu harus bahagia. Jangan sampai semua sakit hati ini sia-sia.”
Hana membalas pelukan itu, air matanya kembali jatuh. “Aku janji.”
Malam itu, mereka menghabiskan waktu dengan membereskan apartemen sambil berbicara tentang kenangan lama—tentang skripsi yang pernah bikin stres, tentang liburan singkat ke Bali, tentang kopi sachet murah yang mereka minum saat akhir bulan. Semua terasa seperti kilas balik, sekaligus perpisahan.
Ketika kotak-kotak terakhir tersusun rapi, Hana menyalakan lampu balkon untuk terakhir kalinya. Dari sana, Jakarta terlihat indah, meski baginya tetap menyimpan luka.
Esok, ia akan meninggalkan semuanya. Luka, kenangan, sekaligus sebagian dirinya.
Pagi itu, Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi hiruk pikuk. Suara roda koper bergesekan dengan lantai, pengumuman penerbangan terdengar bersahut-sahutan. Hana berdiri di depan konter check-in, koper besarnya sudah ditimbang, boarding pass sudah di tangannya.
Yuna ada di sampingnya, mata merah karena begadang dan terlalu banyak menangis semalam. Ia mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar.
“Han, jangan pernah lupa, kamu selalu punya rumah di sini. Kalau Seoul nggak ramah, pulanglah kapan saja.”
Hana menggenggam tangan sahabatnya erat. “Aku tahu. Kamu rumahku juga, Na.”
Suasana hening sejenak. Mereka berpelukan lama, seolah enggan melepaskan. Ketika pengumuman boarding menggema, Hana menarik napas panjang.
“Aku harus pergi.”
Yuna mengangguk, menahan air mata. “Jaga dirimu, ya.”
Dengan langkah pelan tapi mantap, Hana berjalan menuju gate. Setiap langkah terasa berat, seakan meninggalkan sepotong dirinya di setiap sudut bandara. Ia menoleh sekali lagi ke arah Yuna, melambaikan tangan dengan senyum tipis.
Di balik kaca besar terminal, pesawat dengan lambang burung biru menunggu. Hana berhenti sejenak, menatap landasan pacu yang basah oleh sisa hujan.
“Selamat tinggal, Jakarta,” bisiknya pelan. “Aku akan memulai lagi… di tempat lain.”
Ia melangkah masuk ke lorong keberangkatan.
Dan pada detik itu, Hana benar-benar meninggalkan luka lama—menuju Seoul, kota yang akan membawanya pada kisah baru.