Deru mesin pesawat terdengar stabil, seperti dentuman lembut yang berulang-ulang di telinga. Hana duduk di kursi dekat jendela, tubuhnya sedikit gemetar saat pesawat menanjak menembus awan. Ia menempelkan keningnya pada kaca kecil, menatap lampu-lampu Jakarta yang perlahan mengecil dan akhirnya menghilang dalam kegelapan malam.
Ada rasa kosong di dadanya. Seolah-olah bagian dirinya tertinggal di balik kerlip cahaya kota itu. Jakarta, maafkan aku. Aku harus pergi, gumamnya dalam hati.
Ketika lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, Hana menarik napas panjang. Ia membuka tas kecil, mengeluarkan sketchbook yang selalu menemaninya. Tangannya mencoba membuat coretan—garis-garis sederhana sofa, bayangan sebuah ruang tamu modern—tetapi setiap tarikan pensil terasa berat. Fokusnya buyar. Bayangan wajah Ari, mantan kekasihnya, menyelinap tanpa izin. Tawa sahabatnya yang kini jadi pengkhianat pun ikut menghantui.
Hana memejamkan mata, menutup sketchbook itu cepat-cepat. Aku harus berhenti. Mulai sekarang, aku bukan lagi Hana yang sama di Jakarta.
Pramugari lewat, tersenyum sopan. “Minuman, Nona? Jus jeruk atau teh?”
“Teh, tolong,” jawab Hana dengan suara lirih.
Saat teh hangat itu menyentuh bibirnya, sedikit demi sedikit tubuhnya merasa tenang. Ia menatap keluar jendela lagi.
Awan putih bergulung-gulung, sesekali disinari cahaya bulan.
Pemandangan itu mengingatkannya pada masa kecil di Seoul—musim dingin ketika ia dan Kang Jun, kakaknya, berlari-lari kecil di halaman rumah nenek. Nafas mereka berubah menjadi asap tipis karena udara dingin. Saat itu, hidup terasa sederhana.
“Excuse me,” suara seorang ibu-ibu dari kursi sebelah membuat Hana menoleh. Wanita itu, tampak berusia akhir 40-an, sedang berjuang menarik selimut untuk anak perempuannya yang tertidur. Hana cepat-cepat membantu, membenarkan selimut itu.
“Gomawo,” ucap wanita itu dalam bahasa Korea.
Hana mengangguk, sedikit canggung. “Cheonmaneyo.”
Kata itu terasa asing sekaligus familiar di lidahnya. Sudah lama ia tidak berbicara bahasa Korea sehari-hari. Aku harus membiasakan diri lagi, pikirnya.
Waktu terasa lambat. Hana mencoba tidur, tapi pikirannya terus melayang. Apa yang menunggunya di Seoul? Bagaimana ia akan menghadapi keluarganya setelah sekian lama lebih sering di Jakarta? Dan—entah kenapa—nama seseorang muncul lagi di benaknya.
Jinwoo.
Anak lelaki tetangga yang dulu selalu menemaninya bermain kelereng, membaca komik, dan mendengarkan kaset musik di kamar kecil mereka. Bocah ceria dengan suara merdu, yang katanya ingin menjadi penyanyi besar. Hana tersenyum samar. Aku penasaran, apa dia masih ingat aku?
Ketika pramugari kembali menegur untuk mematikan lampu baca karena sebagian besar penumpang sudah tidur, Hana akhirnya menyerah. Ia menutup sketchbook, menyandarkan kepala pada sandaran kursi, dan memeluk selimut tipis.
Suara mesin pesawat menjadi latar tidur singkatnya.
Dan di antara lelap yang rapuh, Hana bermimpi.
Ia berdiri di sebuah panggung terang, dikerumuni kerumunan orang. Lampu sorot menyilaukan. Di hadapannya ada sosok pria berdiri, memegang mikrofon, menatapnya lekat-lekat.
“Hana,” suara itu bergema.
Ia mengenali mata itu. Mata Jinwoo.
Hana tersentak, bangun dengan napas terengah. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia menatap sekeliling—penumpang lain masih tidur, pesawat masih terbang tenang di atas lautan luas.
Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. “Kenapa aku bermimpi dia?” bisiknya.
“Ladies and gentlemen, we will be landing shortly at Incheon International Airport…”
Suara pramugari dalam bahasa Inggris dan Korea membangunkan Hana dari tidur singkatnya. Ia merenggangkan tubuh, menoleh ke luar jendela. Dari atas ketinggian, lampu-lampu Seoul berkilauan, seperti hamparan bintang yang jatuh ke bumi.
Udara dingin musim gugur langsung menyambut ketika pintu pesawat terbuka. Hana menggigil sedikit, merapatkan mantelnya. Ia mendorong koper, mengikuti arus penumpang menuju imigrasi. Suara-suara asing—atau lebih tepatnya, suara yang dulu pernah akrab—mendengung di telinganya. Orang-orang bercakap cepat dalam bahasa Korea, langkah mereka terburu-buru.
Ini rumahku. Tapi kenapa terasa seperti negeri asing?
Di meja imigrasi, petugas menatap paspornya.
“Han Eun-Ha?” tanya petugas, menyebut nama Koreanya dengan aksen khas.
Hana mengangguk. “Ne.”
Cap paspor terdengar klik. Begitu sederhana, tapi bagi Hana itu terasa seperti stempel resmi: ia kembali.
Begitu melewati pintu kedatangan, matanya langsung disergap cahaya terang dan hiruk pikuk. Aroma kopi dari kafe, suara roda koper beradu dengan lantai marmer, papan iklan dengan wajah-wajah selebriti. Hana menatap sekeliling, mencoba menemukan wajah yang dikenalnya.
Dan di sana, di tengah kerumunan, ia melihat sosok yang familiar. Tinggi, tegap, dengan wajah yang mirip dirinya tapi lebih keras. Kang Jun. Kakaknya.
“Oppa…” suara Hana nyaris terputus.
Kang Jun menoleh, lalu matanya membesar. Senyum lebar merekah di wajahnya, dan dalam sekejap ia melangkah cepat, merengkuh Hana ke dalam pelukan.
“Eun-Ha-ya! Akhirnya kamu pulang!”
Pelukan itu hangat, penuh kerinduan yang tertahan bertahun-tahun. Hana menahan air matanya, tapi suara hatinya bergetar.
“Aku kangen, Oppa.”
Kang Jun melepaskan pelukan, menatap wajah adiknya. “Kamu kurusan. Jakarta nggak kasih kamu makan, ya?”
Hana terkekeh sambil menghapus air mata. “Aku baik-baik saja kok.”
“Baik-baik saja apanya. Lihat tuh, matamu sembab,” Kang Jun mengusap pipi adiknya, lalu mengambil alih koper besar di tangannya. “Ayo. Appa sama Eomma udah nunggu di rumah. Mereka ribut sejak pagi, siapin makanan kesukaanmu.”
Mereka berjalan berdampingan melewati kerumunan. Sesekali Hana melirik sekeliling—bandara ini lebih besar dan modern dari ingatannya terakhir. Ada rasa bangga, sekaligus asing.
Saat keluar dari pintu utama, udara dingin langsung menyergap. Nafas Hana berubah jadi uap tipis. Ia menarik napas dalam-dalam. Udara Seoul terasa berbeda: segar, tajam, tapi juga menenangkan.
Kang Jun mengarahkan Hana ke mobil hitam yang terparkir di dekat pintu. “Kita naik mobil dulu satu jam. Seoul lagi macet, seperti biasa.”
“Macet? Sama aja kayak Jakarta berarti,” sahut Hana, mencoba bercanda.
Kang Jun tertawa. “Bedanya, di sini orang lebih sopan nyetirnya.”
Hana ikut tertawa, meski hatinya masih terasa berat. Tapi bersama kakaknya, sedikit demi sedikit ia merasa aman.
Dari kursi penumpang, Hana menatap keluar jendela mobil. Jalan-jalan Seoul dipenuhi cahaya neon, papan reklame bergambar idol-idol terkenal, dan orang-orang berjaket tebal yang berjalan cepat. Rasanya seperti dunia lain—ramai, sibuk, hidup.
Di kaca jendela, bayangan wajahnya sendiri terlihat samar. Hana menyentuhnya dengan ujung jari. Aku benar-benar pulang. Tapi… apakah aku bisa menemukan diriku di sini lagi?
Mobil meluncur keluar dari area bandara. Dari balik kaca, Hana menatap jalan raya luas yang diterangi lampu-lampu oranye. Papan petunjuk jalan berbahasa Korea terhampar di sepanjang jalur, nama-nama tempat yang dulu pernah ia dengar samar dari cerita ayahnya kini nyata di depan mata.
“Gimana rasanya?” tanya Kang Jun, memecah keheningan.
“Rasanya… campur aduk,” jawab Hana jujur. “Seperti pulang, tapi juga seperti orang asing yang datang ke tempat baru.”
Kang Jun mengangguk pelan, matanya tetap fokus ke jalan. “Itu wajar. Kamu sudah terlalu lama di Jakarta. Tapi percayalah, rumah tetap rumah. Kamu akan terbiasa lagi.”
Hana terdiam, menatap wajah kakaknya dari samping. Ada guratan lelah di sana, mungkin dari bekerja keras di perusahaan keluarga. Tapi sorot matanya tetap hangat.
“Oppa…” Hana ragu, lalu melanjutkan, “Aku minta maaf. Aku jarang pulang, jarang kasih kabar.”
Kang Jun menoleh sekilas, tersenyum tipis. “Hei, kamu nggak perlu minta maaf. Kamu punya hidup sendiri. Yang penting sekarang kamu di sini.”
Jawaban sederhana itu membuat d**a Hana terasa hangat. Ia menatap keluar jendela lagi, melihat Seoul yang semakin hidup ketika mereka mendekati pusat kota. Gedung-gedung tinggi menjulang, lampu neon berwarna-warni menari di antara papan reklame digital. Suara musik samar terdengar ketika mereka melewati distrik yang ramai.
“Seoul berubah banyak ya,” gumam Hana.
“Berubah, tapi juga sama. Sama-sama sibuk, sama-sama penuh kejutan,” balas Kang Jun sambil terkekeh. “Kamu akan lihat sendiri nanti.”
Mobil meluncur melewati salah satu distrik paling sibuk di Seoul. Lampu neon berwarna-warni berjejer di sepanjang gedung tinggi, membuat malam terasa hidup. Hana menempelkan wajah di kaca jendela, matanya menyapu pemandangan dengan rasa kagum dan canggung sekaligus.
Tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah billboard elektronik raksasa di sisi gedung. Seorang pria tampan dengan senyum menawan terpampang jelas, memegang mikrofon dalam pose karismatik. Rambut hitamnya ditata rapi, sorot matanya tajam, seolah menembus hati siapa pun yang melihat.
Hana terdiam. Napasnya tercekat.
“Itu…” bisiknya tanpa sadar.
Billboard itu menayangkan cuplikan konser dunia, sorakan penonton menggema lewat video yang diputar. Lalu, sebuah nama muncul besar-besar: Kang Jinwoo – Global Tour 2025.
Hana tak bisa mengalihkan pandangan. Wajah di billboard itu begitu familiar, terlalu familiar. Masa kecil mereka berkelebat di kepalanya—tawa di gang kecil, suara nyanyiannya yang dulu masih polos, mimpi yang ia ceritakan berulang kali.
Jinwoo… jadi ini kamu sekarang.
“Kenapa? Kamu kenal dia?” tanya Kang Jun, melirik adiknya sekilas.
Hana tersentak, buru-buru mengalihkan pandangan. “A-aniya… cuma kaget. Dia artis besar ya?”
Kang Jun mengangkat alis. “Kamu nggak tahu? Jinwoo itu sekarang idola nasional, bahkan internasional. Semua orang di Korea kenal dia.”
Hana terdiam, menunduk. Tangannya meremas rok yang ia kenakan.
Idola internasional… tapi buatku, dia masih anak laki-laki yang dulu meminjamkan payung saat hujan.
Mobil terus melaju, meninggalkan billboard yang semakin mengecil di kejauhan. Tapi bayangan wajah Jinwoo tetap tinggal di benak Hana, berputar-putar tanpa henti.
Mereka melewati Han River. Airnya berkilau memantulkan lampu jembatan yang megah. Hana menempelkan dahi ke kaca, matanya berbinar.
“Aku ingat dulu sering main ke tepi sungai sama Oppa. Kita makan tteokbokki dari gerobak pinggir jalan.”
Kang Jun tertawa keras. “Dan kamu selalu marah karena sausnya pedas banget!”
Hana ikut tertawa, meski hatinya sedikit perih. Masa kecil mereka terasa jauh sekali, seperti dunia yang sudah lama hilang.
Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil akhirnya berbelok ke sebuah kawasan perumahan tenang. Rumah keluarga mereka berdiri kokoh di ujung jalan—dua lantai dengan taman kecil di depannya. Lampu-lampu halaman menyala hangat, seperti menyambut kepulangan seorang anak yang hilang.
Hana menggenggam erat tasnya, jantungnya berdegup kencang.
“Oppa… aku deg-degan,” bisiknya.
Kang Jun menepuk bahu adiknya. “Santai saja. Mereka lebih kangen kamu daripada kamu kangen mereka.”
Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang tampak hangat meski malam sudah turun. Hana menatapnya lama dari balik kaca jendela. Rumah itu tampak berbeda dari kenangan terakhirnya, namun tetap memiliki jiwa yang sama.
Atap melengkung khas hanok masih bertahan, dengan genteng abu-abu yang kokoh. Di bawahnya, pintu kayu tradisional menyambut, ditemani gerbang otomatis modern yang membuat rumah tampak lebih aman. Taman kecil di depan penuh bunga musiman, dengan batu pijakan yang tersusun rapi menuju pintu utama. Lampu-lampu taman bergaya minimalis menambah cahaya hangat di sekelilingnya.
Begitu pintu pagar terbuka, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari dalam rumah. Pintu kayu terbuka, dan sosok seorang wanita paruh baya muncul. Rambutnya diikat sederhana, apron masih menempel di tubuhnya. Mata itu langsung berkaca-kaca ketika melihat Hana.
“Eun-Ha…” suara ibunya bergetar.
Hana terdiam sejenak, lalu langkahnya melejit ke depan. “Eomma!”
Mereka berpelukan erat di ambang pintu. Tangis Hana pecah, begitu juga ibunya. Semua jarak, semua waktu yang memisahkan, luluh dalam pelukan itu.
“Aku pulang, Eomma… aku pulang,” isaknya.
Tak lama, ayahnya muncul di belakang, berdiri dengan ekspresi kaku tapi matanya tak bisa menyembunyikan emosi. Pria tinggi berwajah Korea itu perlahan mendekat.
“Selamat datang di rumah, Hana,” ucapnya dalam bahasa Indonesia yang patah-patah tapi penuh kasih.
Hana melepaskan pelukan ibunya, lalu menghampiri ayahnya. Tangannya gemetar saat meraih tangan besar itu. “Appa…”
Ayahnya menarik Hana ke dalam pelukan. Hangat, tegas, tapi juga rapuh.
“Appa bangga kamu berani pulang,” katanya lirih.
Air mata Hana kembali jatuh. Dalam sekejap, semua luka di Jakarta terasa lebih ringan. Di sini, bersama keluarga, ia menemukan kembali sesuatu yang hilang, rumah.
Begitu masuk, aroma kayu bercampur wangi teh menyergap hidung Hana. Ruang tamu luas dengan lantai kayu hangat terbentang di depan matanya. Di satu sisi ada meja rendah kayu dengan bantalan duduk berwarna krem, persis seperti dulu tempat mereka minum teh bersama ibu. Namun kini berdampingan dengan sofa modern berwarna abu-abu muda, memberi sentuhan urban yang tidak Hana lihat sebelumnya.
Matanya menelusuri dinding putih yang bersih. Lukisan tinta tradisional Korea tergantung berdampingan dengan foto keluarga berbingkai modern. Dua dunia yang berbeda, namun menyatu dengan harmoni.
“Rumah kita banyak berubah ya?” suara Kang Jun memecah lamunannya.
Hana tersenyum samar. “Iya… tapi entah kenapa, tetap terasa sama.”
Langkahnya membawanya ke kamarnya. Pintu kayu itu masih sama, tapi begitu dibuka, Hana tertegun. Dinding biru muda yang pernah ia minta waktu kecil masih dipertahankan. Di rak, beberapa komik lama dan boneka usang tersusun rapi, seolah menunggu ia kembali. Namun ada tambahan baru: meja belajar putih minimalis, lampu baca modern, dan tempat tidur dengan kasur empuk menggantikan ranjang kecilnya dulu.
Hana mengusap permukaan meja itu, merasakan betapa ibunya merawat kamar ini bukan sekadar ruangan, tapi sebagai kenangan yang hidup. Ia berjalan ke jendela, menyingkap tirai tipis. Dari sana, lampu kota Seoul berkelip di kejauhan. Rasanya seperti menyambutnya pulang.
“Hana-ya! Makan malam sudah siap!” suara ibunya menggema dari lantai bawah.
Hana menoleh, lalu tersenyum. Ia turun ke ruang makan. Meja panjang kayu jati sudah penuh dengan masakan hangat: sup rumput laut, bulgogi, kimchi buatan ibu, dan beberapa lauk khas Korea yang harum menggoda.
Ibunya menyambut dengan senyum lebar, sementara ayahnya duduk dengan tenang, menatapnya penuh haru.
“Selamat datang di rumah, sayang,” ucap ibunya sambil meraih tangan Hana.
Hana merasa matanya panas. “Aku pulang, eomma… appa…”
Kang Jun duduk di seberangnya sambil bercanda, “Lihat, akhirnya si bungsu balik juga. Sekarang meja makan kita lengkap lagi.”
Tawa kecil pecah di meja makan itu. Hana duduk, memandang wajah keluarganya satu per satu. Kehangatan itu membuat luka-luka dari Jakarta terasa perlahan memudar. Di dalam rumah ini, ia bukan perempuan yang patah hati. Ia hanya seorang anak yang kembali pulang.
Malam itu, meja makan keluarga penuh hidangan. Kimchi, bulgogi, japchae, dan bahkan sayur asem buatan ibunya—campuran budaya yang unik, seperti darah campuran Hana sendiri. Mereka makan sambil berbicara, saling bertanya kabar, sesekali bercanda.
Suara sendok dan sumpit beradu pelan, menciptakan irama hangat yang hanya bisa ditemukan di meja makan keluarga. Hana menyendok sup rumput laut, rasanya begitu familiar, seakan ia tak pernah benar-benar pergi.
“Bagaimana perjalananmu tadi? Capek?” tanya ibunya lembut, menatap Hana dengan mata penuh kasih.
Hana mengangguk kecil. “Cukup capek, tapi melihat rumah lagi… rasanya semua terbayar.”
Ayahnya tersenyum tipis, suara beratnya terdengar hangat. “Kau sekarang sudah dewasa, Hana. Bisa pulang sendiri, mengambil keputusan besar… Appa bangga padamu.”
Hana menunduk, berusaha menyembunyikan rasa haru yang menyeruak. Namun Kang Jun cepat-cepat menyela, nada suaranya setengah menggoda. “Bangga? Ayolah, Appa. Dia kan pulang gara-gara laki-laki b******k di Jakarta itu.”
“Hush, Jun!” tegur ibunya cepat, menatap putra sulungnya dengan alis terangkat. “Jangan bicara begitu di meja makan.”
Tapi Hana justru tertawa lirih, meski getir. “Tidak apa-apa, Eomma. Jun oppa ada benarnya.” Ia meletakkan sumpit, menatap keluarganya satu per satu. “Aku memang pulang karena… aku tidak kuat lagi. Aku dikhianati orang yang paling kupercaya. Rasanya semua yang kubangun hancur dalam sekejap.”
Keheningan sejenak memenuhi meja. Ibunya meraih tangannya, menggenggam erat. “Sayang… pengkhianatan memang menyakitkan, tapi itu bukan akhir dari segalanya. Kadang, luka justru menunjukkan jalan yang baru.”
Ayahnya mengangguk pelan, menambahkan, “Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana kita, Hana-ya. Tapi kau masih muda. Kau punya kesempatan memulai lagi. Jangan biarkan masa lalu menahanmu.”
Hana merasa dadanya sesak, tapi juga hangat. Ia menahan air mata yang hampir jatuh, lalu tersenyum kecil. “Gomawo… Appa, Eomma. Aku… ingin mencoba memulai dari awal di sini. Di Seoul.”
Kang Jun yang sedari tadi hanya memperhatikan akhirnya bersuara lagi, kali ini dengan nada lebih lembut. “Kalau begitu, biar Oppa yang jaga kamu di sini. Tapi hati-hati ya, Seoul ini keras. Banyak hal yang bisa bikin kamu goyah.” Ia menatap adiknya penuh arti. “Dan… jangan kaget kalau nanti kamu ketemu orang-orang dari masa lalu.”
Hana menoleh, menatap kakaknya dengan bingung. “Maksud Oppa?”
Jun hanya tersenyum samar, menyendok nasi tanpa menjawab. “Kamu akan tahu nanti.”
Ada rasa penasaran yang tiba-tiba tumbuh di d**a Hana. Ia tidak menanyakan lebih jauh, tapi kata-kata kakaknya bergema lama di kepalanya.
Malam itu, meski perutnya kenyang, Hana tahu ada sesuatu yang baru saja dibuka. Sebuah pintu tak terlihat, yang mungkin akan membawanya ke arah yang tidak pernah ia bayangkan.
Hana merasa hangat, tapi juga canggung. Ia butuh waktu untuk terbiasa lagi.
Setelah makan, Kang Jun membantu membawa koper Hana ke kamar lamanya di lantai dua.
Kamar itu masih sama—dinding dengan cat biru muda, rak buku penuh komik lama, boneka kecil yang dulu ia tinggalkan masih ada di sudut.
Hana berdiri lama di ambang pintu, menghirup aroma masa kecilnya.
“Selamat datang di rumah, adikku,” ujar Kang Jun sebelum menutup pintu pelan.
Lampu meja kecil menyala, memancarkan cahaya lembut ke seluruh ruangan. Hana melepaskan mantel tipisnya, lalu merebahkan diri di ranjang baru yang empuk. Meski berbeda dari kasur lamanya, ada rasa hangat yang menenangkan.
Hana duduk di tepi ranjang, menatap keluar jendela. Langit Seoul gelap, tapi dipenuhi bintang yang jarang terlihat di Jakarta. Ia menekan d**a, berbisik pada dirinya sendiri,
“Aku harus kuat. Aku harus memulai lagi. Dan… siapa tahu, di kota ini, aku bisa menemukan hatiku yang hilang.”
Matanya tertumbuk pada rak buku di sudut kamar. Ia bangkit, berjalan mendekat, dan jemarinya menyusuri deretan komik lama. Beberapa di antaranya sudah menguning, tapi tetap rapi. Ia menarik sebuah buku harian kecil dengan sampul biru pucat—jurnal masa remajanya yang ia tinggalkan dulu.
Perlahan ia membukanya. Tulisan tangannya yang berantakan menyambut, berisi mimpi-mimpi sederhana: menjadi desainer interior sukses, traveling keliling dunia, dan satu hal yang membuat dadanya mencelos—bertemu lagi dengan Jinwoo, sahabat kecilku, kalau dia jadi penyanyi terkenal.
Hana terdiam. Ia tidak ingat pernah menulis itu, tapi jelas sekali dirinya yang berusia belasan tahun benar-benar percaya. Tawa lirih lolos dari bibirnya, bercampur dengan rasa getir.
“Dan sekarang… dia benar-benar jadi penyanyi terkenal,” gumamnya.
Bayangan billboard raksasa yang ia lihat tadi kembali muncul di kepalanya—senyum Jinwoo, sorot matanya, nama besar yang kini dikenal seluruh dunia.
Ia menutup buku itu perlahan, menempelkannya ke d**a. Ada perasaan aneh: antara rindu, kagum, dan takut. Rindu akan sosok yang dulu begitu dekat. Kagum pada pencapaiannya sekarang. Dan takut, apakah Jinwoo yang ia kenal dulu masih sama dengan Jinwoo yang kini dielu-elukan jutaan orang.
Hana menutup mata, membiarkan pikirannya hanyut. Seoul bukan hanya awal baru untuk pekerjaannya, atau tempat ia menyembuhkan hati. Mungkin… kota ini juga akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Di luar jendela, lampu kota Seoul berkelip-kelip, seolah ikut berbisik, selamat datang kembali, Hana. Perjalananmu baru saja dimulai.