Sinar matahari menembus tirai tipis kamar Hana, membentuk pola cahaya lembut di dinding biru muda. Udara pagi Seoul terasa sejuk, berbeda dengan kelembaban Jakarta yang biasa ia hirup setiap hari. Hana membuka mata perlahan, masih setengah terbuai, lalu menatap langit-langit putih di atasnya. Sejenak, ia bingung. Butuh beberapa detik sampai otaknya menyadari—ia sudah tidak lagi berada di apartemen kecil di Jakarta. Ia berada di rumah masa kecilnya, di Seoul.
Ia menarik napas dalam-dalam. Ada aroma kayu dan teh samar yang menyeruak dari lantai bawah, aroma khas rumah yang begitu dirindukannya. Ia bangkit dari ranjang, rambutnya masih acak-acakan. Langkahnya membawanya ke jendela besar, dan ketika ia membuka tirai, cahaya pagi menerobos masuk, membuat matanya sempat menyipit. Dari jendela itu, ia bisa melihat atap-atap rumah tetangga, jalan kecil di depan rumah yang mulai ramai, dan jauh di kejauhan, siluet gedung-gedung tinggi Seoul yang berkilau diterpa matahari.
“Ini benar-benar nyata,” gumamnya lirih. Ada rasa lega yang menenangkan sekaligus perasaan asing—seolah ia kembali ke masa lalu, tapi juga menapaki awal yang baru.
Ia menatap meja kecil di samping ranjang. Buku harian biru pucat yang semalam sempat ia buka masih tergeletak di sana. Hana menyentuhnya pelan, lalu tersenyum samar. Ia belum siap membuka kembali semua kenangan di dalamnya. Tidak hari ini.
Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan. Hana terkekeh sendiri. “Sepertinya waktunya sarapan.”
Ia mengambil sweater tipis berwarna krem dari lemari, lalu menuruni tangga kayu. Dari bawah, suara peralatan dapur beradu terdengar jelas, bercampur dengan aroma masakan yang semakin kuat. Begitu kakinya menapak lantai ruang tamu, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya hangat.
Ibunya sedang berdiri di dapur, sibuk menyiapkan sup rumput laut. Rambutnya digelung sederhana, wajahnya dihiasi senyum tenang. Di meja makan, ayahnya sudah duduk dengan koran terbuka, kacamatanya bertengger di ujung hidung. Di sisi lain, Kang Jun, kakaknya, tampak rapi dengan setelan kerja, tengah menyeruput kopi sambil menatap layar ponselnya.
“Pagi,” sapa Hana, suaranya serak karena baru bangun.
Ketiganya menoleh hampir bersamaan. Senyum merekah di wajah mereka.
“Oh, Hana-ya, kau sudah bangun.” Ibunya buru-buru melepas sendok kayu di tangannya dan berjalan mendekat. Ia mencium pipi putrinya dengan penuh kasih. “Tidurmu nyenyak?”
Hana mengangguk. “Nyenyak sekali. Rasanya… lebih nyaman daripada yang kuingat.”
Ayahnya melipat korannya dan menatap Hana. “Begitulah rumah. Selalu tahu cara membuatmu merasa tenang.”
Kang Jun menambahkan dengan nada usil, “Atau mungkin karena kasur barumu. Eomma sengaja beli yang paling bagus supaya kamu betah pulang.”
Ibunya mendengus sambil menepuk lengan Kang Jun. “Jangan bercanda. Memang sudah seharusnya aku menyiapkan yang terbaik untuk Hana.”
Hana tertawa kecil, lalu duduk di kursi kosong di sebelah kakaknya. Rasanya seperti dulu lagi—seperti ia tidak pernah pergi. Namun ada sesuatu yang berbeda. Kali ini, ia kembali bukan sebagai remaja, melainkan sebagai perempuan dewasa yang membawa luka sekaligus harapan baru.
Di meja, sup rumput laut mengepul hangat. Ada kimchi buatan ibu, ikan panggang, dan beberapa lauk kecil yang tertata rapi dalam mangkuk-mangkuk keramik. Aroma masakan itu membuat perut Hana semakin keroncongan.
“Wah, eomma… ini semua kelihatan enak sekali,” ujarnya dengan mata berbinar.
Ibunya tersenyum bangga. “Tentu saja. Kau sudah lama tidak makan masakan rumah, kan? Hari ini kau harus makan banyak.”
Hana mengangguk, lalu mengambil sendok. Suapan pertama sup rumput laut membuat matanya terpejam. Rasa asin gurih bercampur kaldu yang kaya langsung mengingatkannya pada ulang tahunnya dulu—karena sup rumput laut selalu dimasak ibunya di hari ulang tahun mereka.
“Bagaimana rasanya?” tanya ayahnya.
“Seperti pulang,” jawab Hana pelan, dan seisi meja mendadak hening sejenak, meresapi kata-kata itu.
Kang Jun tersenyum kecil. “Lihat? Bahkan makanannya saja bisa bikin kamu sadar kalau kamu memang harus pulang.”
Hana hanya terkekeh, tapi dalam hatinya ia tahu ucapan kakaknya ada benarnya.
Sarapan berlangsung dalam suasana hangat. Mereka saling bertukar cerita ringan—tentang perjalanan Hana, tentang proyek terakhir Kang Jun di perusahaan ayah mereka, dan tentang tetangga lama yang masih sering mampir. Sesekali, tawa pecah karena candaan sederhana.
Hana menatap wajah keluarganya satu per satu. Ada garis-garis halus di wajah ibunya yang dulu belum ada. Rambut ayahnya sudah lebih banyak uban, tapi sorot matanya tetap sama. Kakaknya, meski sering usil, kini terlihat jauh lebih dewasa dan matang.
Di dalam hatinya, Hana berbisik: Ya Tuhan, terima kasih. Aku benar-benar pulang.
Sendok Hana berhenti di atas mangkuknya ketika ayahnya meletakkan koran di meja, menatapnya dengan sorot penuh makna. “Hana-ya,” ucapnya pelan, “Sekarang kau sudah kembali. Apa yang kau rencanakan selanjutnya?”
Hana menatap supnya sejenak, lalu mengangkat kepala. Pertanyaan itu sederhana, tapi terasa berat. “Aku… ingin memulai dari awal, Appa. Aku ingin tetap bekerja di bidang yang kucintai—desain interior. Itu satu-satunya hal yang selalu membuatku merasa hidup, meskipun semuanya di Jakarta berantakan.”
Ayahnya mengangguk perlahan, seolah sudah menduga jawabannya. “Itu bagus. Kau tahu, perusahaan keluarga kita tidak hanya bergerak di bidang arsitektur, tapi juga interior. Selama ini, Oppa-mu yang banyak menangani proyek-proyek besar. Tapi aku rasa, sudah saatnya kau ikut di dalamnya.”
Mata Hana melebar. “Perusahaan keluarga…? Maksud Appa, aku bekerja di sana?”
Kang Jun meletakkan sumpitnya, menatap adiknya dengan ekspresi campuran antara serius dan geli. “Ya, adikku sayang. Kau pikir aku sanggup mengurus semua proyek sendirian? Perusahaan kita semakin berkembang. Ada banyak klien menuntut desain interior yang modern tapi tetap punya sentuhan budaya lokal. Aku yakin, kemampuanmu bisa jadi aset besar.”
Hana terdiam. Ia tahu ayahnya punya perusahaan arsitektur di Seoul—ia tumbuh besar mendengar cerita itu. Tapi selama ini ia tak pernah berpikir untuk benar-benar terlibat. Di Jakarta, ia selalu berusaha membangun jalannya sendiri, tidak ingin hanya dikenal sebagai “anak dari pengusaha sukses.”
“Tapi…” Hana menggigit bibirnya, ragu. “Apa tidak terlihat seperti… aku memanfaatkan keluarga? Aku tidak ingin dianggap hanya dapat posisi karena Appa dan Oppa.”
Ibunya tersenyum lembut, mengelus tangan Hana. “Sayang, ini bukan soal memanfaatkan keluarga. Ini soal membangun bersama. Appa sudah mendirikan perusahaan ini dengan kerja keras, Jun membantu mengembangkannya. Sekarang giliranmu menambahkan warna di dalamnya. Kau punya bakat, Hana. Itu bukan hadiah, itu kerja kerasmu sendiri.”
Ayah menambahkan, “Lagipula, kau tidak akan langsung diberi tanggung jawab besar. Kau akan belajar dulu, mendampingi Oppa-mu, melihat cara kerja tim. Setelah itu, kalau kau siap, kau bisa menangani proyekmu sendiri.”
Kang Jun mengangguk mantap. “Aku akan membimbingmu. Tapi jangan kira aku akan mempermudah hanya karena kau adikku. Kau tetap harus kerja keras, Hana.” Ia menyeringai. “Kalau tidak, para staf bisa langsung mencium bau nepotisme.”
Hana mendengus kecil. “Aku tahu. Dan aku juga tidak mau dianggap begitu.”
Ada semacam cahaya yang menyala di matanya—campuran antara gugup dan semangat. Bekerja di perusahaan keluarga memang bukan rencananya sejak awal, tapi mungkin inilah kesempatan yang ia butuhkan. Sebuah awal baru, di tempat yang masih berhubungan dengan akar keluarganya.
“Kalau begitu,” lanjut ayahnya sambil meraih cangkir tehnya, “besok Jun bisa mulai memperkenalkanmu pada tim. Kau tidak perlu terburu-buru, Hana. Pelajari dulu ritmenya. Seoul berbeda dengan Jakarta, klien di sini punya ekspektasi tinggi. Tapi aku yakin kau bisa menyesuaikan diri.”
Ibunya ikut menimpali, “Dan jangan lupa jaga kesehatan. Kau sering begadang waktu di Jakarta, bukan? Jangan sampai kebiasaan buruk itu terbawa ke sini.”
Hana tersipu, merasa ketahuan. “Iya, aku janji akan lebih menjaga diri.”
Suasana sarapan berubah menjadi lebih ringan setelah itu. Kang Jun mulai bercerita tentang proyek terbaru—sebuah hotel butik di Jeju yang memadukan arsitektur modern dengan interior tradisional Korea. Hana mendengarkannya dengan penuh minat, sesekali bertanya detail, dan kakaknya menjawab dengan antusias.
“Desain interior hotel itu masih butuh sentuhan segar,” ujar Kang Jun sambil menunjuk Hana dengan sumpitnya. “Kau bisa ikut brainstorming minggu depan. Jangan khawatir, aku akan pastikan kau dapat peran sesuai kemampuanmu.”
Hana merasa hatinya bergetar—antara gugup dan bersemangat. Ia membayangkan dirinya kembali berkutat dengan sketsa, moodboard, dan presentasi, tapi kali ini di Seoul, bersama keluarganya.
Inilah langkah pertama, pikirnya. Aku bukan lagi Hana yang patah hati dari Jakarta. Aku Hana yang siap memulai hidup baru.
Ayahnya lalu menatapnya serius, nada suaranya dalam. “Ingat, Hana. Di dunia kerja, kau akan menghadapi tekanan, persaingan, bahkan mungkin kritik keras. Tapi jangan biarkan itu mematahkanmu. Kau harus ingat, desain bukan hanya soal estetika. Itu soal memberi jiwa pada ruang.”
Kata-kata itu menggema di telinga Hana. Ia mengangguk perlahan. “Aku mengerti, Appa.”
Ibunya lalu menambahkan dengan senyum lembut, “Dan jangan lupa… bahagia. Apa pun yang kau lakukan, jangan sampai kehilangan kebahagiaanmu.”
Keheningan singkat kembali menyelimuti meja. Masing-masing dari mereka larut dalam pikiran sendiri, tapi hati Hana terasa penuh. Untuk pertama kalinya sejak patah hati itu, ia merasa punya arah baru.
Sarapan itu berakhir dengan tawa kecil. Kang Jun bangkit, meraih jasnya. “Aku harus ke kantor. Ada meeting dengan klien pagi ini. Hana, kalau kau mau, nanti sore aku bisa ajak kau ke perusahaan. Sekadar melihat-lihat dulu, sebelum besok benar-benar mulai.”
Hana tersenyum lega. “Baik, Oppa. Aku akan siap.”
Ketika Kang Jun keluar rumah, Hana menatap punggung kakaknya dari jendela. Ada rasa bangga sekaligus tekanan. Ia tahu bekerja bersama kakaknya bukan hal mudah. Tapi di lubuk hatinya, ia juga merasakan semangat yang tak bisa dipadamkan.
Ini jalanku sekarang, gumamnya dalam hati. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas berada di sini.
Sore itu, udara Seoul mulai sejuk. Langit oranye keemasan, burung-burung sesekali terbang melintas di atas atap rumah. Hana duduk di teras belakang bersama ayahnya, masing-masing dengan secangkir teh hangat di tangan. Aroma teh ginseng yang lembut bercampur dengan suara angin yang melewati pepohonan.
Ayah Hana, Kang Min Soo, menyesap tehnya pelan, lalu menatap putrinya. “Hana-ya, kau terlihat lebih tenang sekarang dibanding waktu pertama kali pulang kemarin.”
Hana mengangkat alis. “Benarkah? Padahal aku merasa wajahku masih kelihatan capek.”
Ayah terkekeh kecil. “Kau memang terlihat capek… seperti panda.”
“Appa!” Hana merengut, pura-pura marah. “Jangan bilang aku mirip panda. Itu bukan pujian.”
“Siapa bilang? Panda itu imut, semua orang suka panda. Bahkan kalau kau jadi panda, mungkin lebih banyak yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita. Bayangkan, klien datang hanya untuk melihat ‘Desainer Panda’.”
Hana tertawa tak bisa menahan diri. “Aish, Appa ini… selalu bisa membuat hal serius jadi lucu.”
Ayah tersenyum puas, lalu meletakkan cangkirnya. “Tapi serius, Hana. Aku tahu, di balik tawamu, kau masih menyimpan luka dari Jakarta. Tidak apa-apa. Luka butuh waktu untuk sembuh. Kau tidak perlu pura-pura kuat di depan kami.”
Hana menunduk, menggenggam cangkirnya erat. Hatinya tersentuh. “Aku hanya… merasa bersalah. Aku meninggalkan pekerjaanku di sana begitu saja. Semua yang sudah kubangun selama bertahun-tahun… hilang.”
Ayah menatapnya lembut. “Tidak ada yang benar-benar hilang. Semua pengalamanmu di Jakarta, baik sukses maupun gagal, itu membentukmu jadi Hana yang sekarang. Kau membawa itu ke sini. Itu adalah bekalmu, bukan bebanmu.”
Hana terdiam, mencoba mencerna kata-kata ayahnya.
“Dengar, Hana,” lanjutnya, “di dunia arsitektur dan desain, yang terpenting bukan hanya keterampilan teknis. Tapi juga kemampuan untuk melihat makna di balik ruang. Kau tahu kenapa aku dulu mendirikan perusahaan ini?”
Hana menggeleng. “Kenapa?”
Ayah tersenyum samar, matanya menerawang ke masa lalu. “Karena aku percaya, ruang bisa menyembuhkan orang. Sebuah rumah bisa membuat seseorang merasa aman. Sebuah kafe bisa membuat orang jatuh cinta. Sebuah hotel bisa memberi orang kenangan indah. Desain bukan sekadar memilih kursi atau cat dinding. Itu tentang menciptakan pengalaman.”
Hana menatap ayahnya, merasakan sesuatu bergetar di dalam dirinya. “Itu… indah sekali, Appa.”
“Dan sekarang,” ayahnya menambahkan, “kau punya kesempatan untuk melanjutkan itu. Kau bisa membawa sentuhanmu sendiri—sentuhan Hana. Jangan khawatir tentang orang lain yang akan menganggapmu hanya menumpang nama keluarga. Biarkan karyamu yang berbicara.”
Hana menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Aku akan berusaha, Appa.”
Ayah tersenyum puas, lalu mengubah nada suaranya jadi lebih ringan. “Tapi, ada satu hal yang harus kau lakukan sebelum mulai bekerja.”
“Apa itu?” Hana menatap curiga.
“Kau harus berhenti makan ramen tengah malam.”
Hana hampir tersedak tehnya. “Appa! Dari mana kau tahu?”
“Eomma-mu cerita,” jawab ayah dengan wajah sok serius. “Katanya, waktu di Jakarta, kau sering pulang malam dan langsung rebus ramen. Itu bukan gaya hidup seorang desainer hebat, itu gaya hidup mahasiswa kos-kosan.”
Hana menutup wajahnya dengan tangan, tertawa geli. “Appa benar-benar suka membongkar rahasia.”
“Kalau begitu, mulai sekarang, aku akan jadi pengawas ramen-mu. Kalau kau makan ramen lewat jam sembilan malam, aku akan denda seratus ribu won per mangkuk.”
“Appa!” Hana memprotes, tapi senyum lebar menghiasi wajahnya. Rasanya lama sekali sejak ia bisa tertawa sebebas ini bersama ayahnya.
Keheningan sejenak kembali turun, kali ini hangat dan nyaman. Hana menatap wajah ayahnya yang mulai berkerut dimakan usia, namun tetap memancarkan ketenangan.
“Appa,” ucap Hana pelan, “aku benar-benar bersyukur bisa kembali. Aku sempat takut… takut kalau aku tidak akan diterima setelah semua kegagalanku.”
Ayah menggeleng cepat, menepuk punggung tangannya. “Hana, kau anakku. Tidak peduli berapa kali kau gagal, rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Keluarga ini bukan menghitung kesuksesanmu, tapi menghitung berapa kali kau berani bangkit.”
Air mata menggenang di mata Hana. Ia buru-buru mengusapnya, tapi ayahnya pura-pura tidak melihat, memberi ruang agar ia tidak merasa canggung.
Lalu ayahnya menambahkan dengan senyum nakal, “Dan kalau suatu hari nanti kau menikah, ingatlah: calon suamimu harus melewati wawancara khusus denganku dulu. Minimal lima babak pertanyaan, satu sesi debat, dan tes fisik.”
Hana ternganga, lalu tertawa sampai perutnya sakit. “Appa! Apa aku ini sedang melamar kerja atau apa?”
“Lebih serius dari itu,” jawab ayahnya dengan wajah sok tegas. “Karena ini soal masa depan putriku. Dan aku sudah latihan menatap calon menantu dengan tatapan intimidasi.”
Hana mengguncang kepalanya, masih tertawa. “Aduh, kasihan nanti yang jadi pasanganku.”
“Bagus. Biarkan dia kasihan. Kalau dia tetap bertahan, berarti dia memang layak.”
Mereka berdua kembali tertawa. Sore itu, di antara canda dan tangis, Hana merasakan luka dalam hatinya sedikit demi sedikit sembuh.
Malam mulai turun perlahan di Seoul. Lampu-lampu di halaman rumah menyala, memberi cahaya lembut ke taman belakang yang rapi dengan sentuhan tradisional Korea. Hana berjalan pelan-pelan menyusuri jalan setapak dari batu, membiarkan udara sejuk malam menyentuh wajahnya.
Ia baru saja selesai berbincang dengan ayahnya, dan hatinya masih hangat oleh nasihat serta canda gurau barusan.
Namun ada sesuatu yang mendorongnya untuk berkeliling rumah—rumah tempat ia menghabiskan masa kecilnya, sebelum pindah ke Jakarta.
Langkahnya terhenti di bawah pohon persik yang berdiri di sudut halaman. Pohon itu tidak terlalu besar, tapi cukup rindang. Ia menatap batangnya yang masih ada bekas ukiran samar—dua huruf “H” dan “J.”
Senyumnya perlahan merekah. Aku dan Jinwoo.
Ingatan masa kecilnya muncul begitu saja. Usia mereka waktu itu sekitar delapan tahun, bermain kejar-kejaran di halaman rumah. Jinwoo, anak tetangga yang selalu penuh energi, tiba-tiba mengambil batu kecil dan menggoreskan huruf pertama nama mereka berdua di batang pohon.
“Kita harus selalu ingat,” kata Jinwoo kecil dengan nada serius, meski tangannya masih belepotan tanah. “Kalau suatu hari kau lupa aku, lihat saja tanda ini.”
Hana kecil hanya mendengus, lalu ikut menggores huruf “H” di sampingnya. “Tapi jangan salahkan aku kalau nanti Appa marah karena pohonnya terluka.”
Kenangan itu membuat Hana terkekeh sendiri. Si kecil Jinwoo memang selalu penuh ide konyol.
Hana melanjutkan langkahnya menuju bangku kayu tua di dekat teras. Bangku itu sudah agak kusam, tapi masih kokoh. Di situlah ia dulu sering duduk bersama kakaknya dan… Jinwoo. Tiga anak kecil, berbagi es krim, bercanda, kadang bertengkar kecil soal siapa yang harus main ayunan duluan.
Hana duduk di bangku itu, merasakan hawa nostalgia menyeruak. Ia bisa membayangkan Jinwoo kecil duduk di sampingnya, menyodorkan setengah cone es krim dengan wajah sok dewasa.
“Aku akan jadi penyanyi terkenal suatu hari nanti,” kata Jinwoo kecil waktu itu, matanya berbinar penuh keyakinan. “Kalau aku sudah terkenal, aku akan pulang dan traktir kalian es krim sebanyak mungkin.”
Hana menoleh, waktu itu menahan tawa. “Yak! Jangan sombong. Kau bahkan tidak bisa menyanyi dengan benar di kelas musik.”
“Tunggu saja!” Jinwoo menjawab dengan percaya diri. “Aku akan berlatih. Dan kalau aku sudah di TV, kau harus mengaku aku yang paling keren.”
Kini, bertahun-tahun kemudian, ucapan masa kecil itu benar-benar jadi kenyataan. Jinwoo bukan hanya penyanyi terkenal, tapi artis besar dunia. Billboard wajahnya ada di setiap sudut kota.
Hana menghela napas panjang. Rasanya sulit dipercaya anak laki-laki yang dulu suka main layangan di halaman rumahnya kini menjadi sosok yang dielu-elukan jutaan orang.
Apakah dia masih ingat tanda di pohon persik ini? pikir Hana. Atau kenangan-kenangan kecil di bangku tua ini?
Ia menatap tangannya sendiri, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Sejak melihat billboard Jinwoo di jalan tadi, bayangan itu terus menghantui pikirannya. Ia tahu cepat atau lambat, pertemuan itu akan terjadi. Seoul tidak sebesar dunia.
Namun bagian dirinya juga takut. Bagaimana kalau dia sudah benar-benar berubah? Bagaimana kalau dia tidak mengenaliku lagi?
Hana berdiri, berjalan kembali ke dalam rumah. Di ruang tamu, ia menemukan sebuah foto lama yang masih tergantung di dinding. Foto itu diambil saat ulang tahunnya yang kesepuluh—ia berfoto bersama ayah, ibu, kakak, dan… seorang anak laki-laki dengan senyum lebar, memegang balon warna biru.
Jinwoo.
Hana menatap foto itu lama sekali, matanya berembun. Ada sesuatu yang mengaduk-aduk perasaannya—campuran antara rindu, kagum, dan keraguan.
Ibunya muncul dari dapur, membawa piring buah. Ia mengikuti arah pandangan Hana, lalu tersenyum samar. “Kau masih ingat anak itu, ya? Jinwoo.”
Hana tersentak kecil. “Eomma…”
“Ia dulu sering sekali bermain di sini. Bahkan kadang aku merasa punya anak laki-laki tambahan,” ucap ibunya sambil terkekeh. “Waktu kau pindah ke Jakarta, ia sempat beberapa kali menanyakanmu. Tapi setelah itu, ia mulai sibuk dengan latihannya. Aku dengar kariernya luar biasa sekarang.”
Hana mengangguk pelan. “Ya… aku juga dengar.”
Ibunya menatap Hana lebih dalam, seolah bisa membaca isi hatinya. “Kalau takdir mempertemukan kalian lagi, jangan takut, Hana. Kadang, pertemuan lama bisa memberi makna baru.”
Hana menunduk, tersenyum samar. Takdir, ya?
Malam itu, ketika akhirnya ia berbaring di kamarnya, Hana menatap langit-langit dengan pikiran melayang-layang. Ia membuka buku sketsa kecilnya, mulai menggambar sebuah ruang sederhana—sebuah bangku di taman dengan dua anak kecil duduk berdampingan, es krim di tangan.
Tangannya berhenti di atas kertas. Ia menatap gambar itu lama sekali, lalu berbisik lirih, “Jinwoo… apa kau masih ingat?”
Malam sudah larut. Seoul berkilau lewat jendela besar kamar Hana, lampu-lampu kota seperti bintang yang merayap di bumi. Hana duduk bersandar di kursi kerjanya, di depan meja yang kini penuh dengan kertas, pensil, dan sebuah laptop yang masih terbuka.
Ia sudah berjam-jam mencoba menggambar ulang sketsa untuk proyek hotel boutique Jeju yang tadi diceritakan Oppa-nya. Tangannya bergerak lincah, membuat garis-garis halus yang membentuk ruang lobby dengan sentuhan interior modern berpadu kayu hanok. Tapi setiap beberapa menit, ia berhenti, termenung, lalu menghela napas.
Fokus, Hana. Kau sudah memutuskan untuk mulai dari awal.
Namun pikirannya terus saja melayang. Bukan hanya tentang pekerjaan, tapi tentang potongan-potongan masa lalu yang bermunculan sejak ia tiba di rumah ini. Pohon persik, bangku tua, foto ulang tahun, semua seolah membisikkan satu nama yang sama.
“Jinwoo…” gumamnya tanpa sadar.
Nama itu terasa asing sekaligus akrab di lidahnya. Bertahun-tahun mereka tidak berjumpa, tapi memori tentang anak lelaki berambut berantakan yang selalu punya ide konyol itu masih begitu jelas. Ia bahkan masih bisa mengingat suara tawanya—riang, agak keras, dan penuh energi.
Hana mengguncang kepalanya, lalu menutup buku sketsanya. Ia berjalan ke ranjang, merebahkan tubuhnya di atas selimut hangat. Matanya menatap langit-langit yang dihiasi bayangan samar lampu jalan dari luar jendela.
Ia mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam-dalam. Besok Oppa akan mengajaknya ke perusahaan. Itu harus jadi prioritasnya sekarang. Ia tidak boleh larut terlalu jauh dalam nostalgia.
Namun, semakin ia berusaha mengusir bayangan itu, semakin jelas wajah Jinwoo muncul di pikirannya. Kali ini bukan Jinwoo kecil dengan senyum polos, melainkan Jinwoo dewasa—seperti yang ia lihat di billboard raksasa saat perjalanan pulang dari bandara. Sorot mata yang karismatik, senyum yang memikat jutaan penggemar, sosok yang tampak jauh sekali dari anak laki-laki yang dulu sering rebutan ayunan dengannya.
Apakah dia benar-benar orang yang sama? pikir Hana. Atau dia sudah berubah begitu banyak hingga aku takkan bisa mengenalinya lagi?
Ia menoleh ke meja kecil di samping ranjang, di mana sebuah bingkai foto kecil masih berdiri. Foto keluarganya saat masih lengkap di Seoul, dan di sudutnya, Jinwoo ikut tersenyum cerah. Hana meraih bingkai itu, mengusap kaca beningnya dengan lembut.
“Kalau kita bertemu lagi… apa kau masih ingat aku, Jinwoo?” bisiknya lirih.
Keheningan kamar hanya menjawab dengan desahan angin dari jendela.
Tiba-tiba ponselnya bergetar pelan di meja. Hana meraihnya, melihat sebuah notifikasi berita pop-up. Judulnya membuat jantungnya berdetak lebih cepat:
“Kang Jinwoo Kembali ke Korea untuk Persiapan Konser Besar di Seoul, Minggu Depan.”
Hana membeku. Matanya terpaku pada layar, dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang sulit ia definisikan—antara gugup, tak percaya, dan sebuah rasa aneh yang sudah lama terkubur.
Tangannya bergetar saat ia meletakkan ponsel kembali. Ia menatap langit-langit, kali ini dengan mata yang basah.
Takdir benar-benar sedang bermain-main denganku.
Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, mencoba menenangkan pikiran. Namun detak jantungnya tetap berlari. Di luar, lampu kota Seoul berkilau seperti ribuan tanda tanya.
Dan di dalam hatinya, satu kalimat terus berulang:
Pertemuan itu semakin dekat.