Cahaya lampu studio menyilaukan matanya, tapi Jinwoo sudah terbiasa. Senyum karismatik terukir di wajahnya, suara lembutnya menjawab setiap pertanyaan pewawancara dengan tenang. Ia sudah melakukan ini ribuan kali, namun setiap kali kamera menyala, ada tuntutan untuk tetap sempurna.
“Fans internasional sangat menantikan tur dunia Anda berikutnya. Apa ada pesan khusus untuk mereka?” tanya pembawa acara, seorang MC ternama di Korea.
Jinwoo tersenyum, menunduk sopan. “Aku berterima kasih atas cinta dan dukungan mereka. Tanpa mereka, aku tidak akan ada di sini. Aku akan bekerja keras agar konser mendatang bisa menjadi pengalaman terbaik bagi semua orang.”
Kalimat itu meluncur begitu mulus, seolah sudah diprogram di benaknya. Padahal, di balik kata-kata manis itu, ia hanya ingin satu hal: waktu untuk bernapas.
Begitu kamera dimatikan, staf buru-buru masuk membawa handuk kecil dan botol air. Jinwoo menyeka keringat di dahinya, lalu meneguk air dalam sekali teguk. Senyumnya lenyap seketika, berganti ekspresi letih.
“Jinwoo-ssi, setelah ini kita langsung ke lokasi syuting iklan. Setelah itu ada latihan vokal,” suara manajernya, Tae Min, terdengar tegas.
Jinwoo hanya mengangguk. “Berapa lama syutingnya?”
“Kalau lancar, dua jam. Tapi kau tahu, biasanya bisa lebih lama.”
Jinwoo tidak menjawab. Ia sudah tahu ritmenya, satu jadwal selesai, langsung pindah ke jadwal berikutnya. Hidupnya bagaikan kereta yang melaju tanpa henti di rel yang sudah ditentukan orang lain.
Lokasi berikutnya adalah studio besar dengan set mewah, sofa kulit, lampu gantung kristal, dan meja kopi berkilau. Jinwoo mengenakan jas hitam, memerankan pria urban modern untuk iklan jam tangan kelas dunia.
“Cut! Bagus sekali, Jinwoo-ssi,” sutradara berseru setelah pengambilan keempat. “Senyummu tadi benar-benar memikat kamera.”
Jinwoo tersenyum sopan, tapi dalam hati ia menghela napas. Senyum lagi. Seolah itu satu-satunya hal yang aku bisa lakukan.
Ia kembali ke kursi istirahat. Seorang penata gaya membetulkan rambutnya, sementara staf lain menyerahkan secangkir kopi. Di layar monitor, ia melihat bayangan dirinya, tampan, sempurna, tak bercela. Tapi ia tahu betul, itu hanyalah ilusi.
Malamnya, Jinwoo berdiri di ruang latihan, hanya ditemani pianis dan pelatih vokal. Suaranya mengalun merdu, memenuhi ruangan dengan kekuatan yang membuat siapa pun merinding.
Namun, ketika lagu usai, Jinwoo hanya menutup mata sejenak. “Lelah sekali hari ini,” gumamnya.
Pelatihnya menepuk bahunya. “Kau harus jaga stamina. Tur dunia tidak akan mudah.”
“Aku tahu,” jawab Jinwoo pelan.
Ia menatap piano, lalu teringat sesuatu—saat ia kecil, duduk di kursi piano bersama seorang gadis kecil yang selalu menemaninya. Mereka menyanyi bersama, tertawa bersama. Senyum samar muncul di wajahnya, meski cepat ia hapus. Itu dulu. Sekarang aku bahkan tidak tahu apakah dia masih mengingatku.
Jam menunjukkan hampir tengah malam ketika mobil van hitam yang membawanya meluncur melewati jalan-jalan Seoul. Dari jendela, Jinwoo melihat billboard raksasa dirinya sendiri terpampang di gedung tinggi, mempromosikan parfum terbaru.
“Ada di mana-mana, ya?” gumamnya.
Manajernya, Tae Min, menoleh. “Itu tanda kau berhasil. Banyak artis yang bermimpi wajahnya dipajang sebesar itu.”
“Berhasil…” Jinwoo mengulang kata itu lirih. “Kadang aku merasa kehilangan lebih banyak daripada yang kudapat.”
Tae Min meliriknya sekilas, tapi tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu Jinwoo jarang mau membuka diri lebih dalam soal perasaannya.
Mobil akhirnya berhenti di depan apartemen mewah di kawasan elit Seoul. Dari luar, gedung itu tampak gemerlap. Tapi begitu Jinwoo masuk ke unitnya, suasana hening menyambut. Apartemen luas dengan interior modern, namun terasa dingin dan sepi.
Ia meletakkan tas, melepas jas, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Televisi menyala tanpa suara, hanya cahaya layar yang memantul di wajahnya.
Ponselnya bergetar, notifikasi media sosial. Ribuan mention dari fans, penuh pujian, cinta, dan doa. Tapi Jinwoo hanya menggulir sebentar sebelum mematikan layar.
Ia bersandar, menutup mata. Dalam gelap, bayangan masa kecil muncul lagi—seorang gadis kecil yang selalu memanggilnya dengan suara riang, menertawakan lelucon konyolnya, dan memegang tangannya saat mereka berlari di halaman rumah.
“Hana…” Jinwoo berbisik, hampir tak terdengar.
Ia tidak tahu mengapa nama itu kembali terlintas malam ini. Mungkin hanya lelah. Mungkin rindu yang sudah lama ia kubur. Atau mungkin… sebuah tanda bahwa hidupnya yang monoton akan segera berubah.
Hari itu, Jinwoo mengenakan setelan jas biru tua yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Dasinya rapi, rambutnya disisir dengan gaya maskulin yang sudah diatur penata gaya sejak pagi. Dari luar, ia tampak tenang, elegan, penuh percaya diri. Namun, di dalam mobil van hitam yang membawanya ke acara amal tahunan di pusat kota Seoul, dadanya terasa berat.
“Liputan media sudah memenuhi halaman depan. Semua orang menunggu kehadiranmu, Jinwoo-ssi,” kata Tae Min, manajernya, sambil menatap layar ponsel. “Acara ini penting, apalagi banyak tokoh politik dan pebisnis hadir.”
Jinwoo hanya mengangguk pelan. Tokoh politik, pebisnis, selebritas… semuanya sama saja. Senyum, berjabat tangan, lalu lupa keesokan harinya.
Mobil berhenti di depan gedung tinggi dengan arsitektur megah, tempat acara berlangsung. Begitu pintu dibuka, teriakan fans langsung membahana.
“Jinwoo oppa!”
“Sini lihat kameranya!”
“Saranghae!”
Cahaya blitz kamera menembus malam, bagai kilatan petir yang tak henti. Jinwoo melangkah keluar, senyumnya kembali dipasang. Gerakannya anggun, seolah memang diciptakan untuk panggung ini. Ia melambaikan tangan, menunduk sopan, lalu berjalan di atas karpet merah yang dikerubungi media.
“Jinwoo-ssi, apakah benar Anda akan segera merilis album baru?”
“Jinwoo-ssi, bagaimana dengan rumor kencan yang beredar?”
Pertanyaan-pertanyaan menghujani. Jinwoo hanya memberi senyum diplomatis, tidak memberi jawaban jelas. Jawaban kabur adalah senjata terbaik, begitu ia diajarkan sejak debut.
Ballroom megah dengan lampu gantung kristal menyambutnya. Para tamu berpakaian glamor: gaun panjang, jas mahal, perhiasan berkilau. Musik jazz lembut mengalun, sementara pelayan mondar-mandir membawa champagne.
Jinwoo dibawa ke meja VIP, duduk bersama aktor, penyanyi, dan CEO perusahaan besar. Semua menyalaminya dengan antusias.
“Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu, Jinwoo-ssi,” ujar seorang pebisnis paruh baya.
“Anak perempuanku penggemar beratmu,” tambah yang lain.
Jinwoo tersenyum sopan, menyembunyikan rasa jengah. Ia meneguk champagne, meski rasanya hambar. Matanya menelusuri ruangan, mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya.
Dan di sanalah… di ujung ruangan dekat galeri foto amal, ia melihat seorang perempuan. Rambut panjang hitamnya terurai, gaun sederhana warna pastel membalut tubuhnya. Ia tidak mencolok seperti tamu lain yang penuh perhiasan, tapi justru itulah yang membuat Jinwoo memperhatikannya. Ada sesuatu yang… familiar.
Kenapa aku merasa mengenalnya? pikir Jinwoo, alisnya berkerut halus.
Sebelum ia bisa memastikan, MC memanggil namanya ke panggung. “Dan sekarang, mari kita sambut bintang internasional kita, Jinwoo!”
Sorak-sorai dan tepuk tangan membahana. Jinwoo berdiri, berjalan ke panggung dengan elegan. Ia memberikan pidato singkat tentang pentingnya amal dan rasa syukurnya bisa hadir. Kata-kata itu keluar otomatis, terlatih dari puluhan acara serupa.
Namun, bahkan dari atas panggung, matanya sempat kembali melirik ke arah perempuan itu. Sekilas, ia melihat wajahnya lebih jelas. Ada garis halus di mata dan bibirnya yang entah bagaimana membuat hati Jinwoo berdegup lebih cepat.
Apakah mungkin…?
Tapi saat ia mencoba menajamkan pandangan, seorang pelayan melintas, menutupi sosok itu. Begitu pandangan kembali bebas, perempuan itu sudah bergerak, menghilang di antara kerumunan.
Senyum Jinwoo tetap melekat di wajahnya, menyapa tamu dan fans, tapi pikirannya melayang.
Acara selesai hampir tengah malam. Jinwoo kembali ke ruang tunggu VIP untuk melepas jasnya. Tae Min masuk sambil menenteng jadwal besok.
“Besok pagi ada pemotretan majalah, lalu sore latihan tari. Kau terlihat lelah, tapi masih harus kuat. Kau tahu, fans menunggu.”
“Mm,” jawab Jinwoo singkat. Ia bahkan tidak benar-benar mendengar.
Yang terus berputar di benaknya hanyalah bayangan perempuan tadi. Rambut hitam, gaun pastel, sorot mata yang… begitu akrab.
Ia meraih botol air, meneguk dalam, lalu bersandar. Apakah itu hanya ilusi karena aku terlalu lelah? Atau… apakah benar dia…?
Sebuah nama, yang sudah lama tidak ia ucapkan, kembali bergaung di kepalanya.
Hana.
Mobil van hitam itu bergerak perlahan meninggalkan hotel mewah, melewati jalan utama Seoul yang masih ramai meski hampir tengah malam. Jinwoo duduk di kursi belakang, kepalanya bersandar pada jendela, menatap lampu kota yang berkelip seperti bintang.
Di luar, puluhan fans masih berdiri di trotoar, melambai sambil berteriak menyebut namanya. Jinwoo mengangkat tangan, memberi senyum singkat, tapi matanya kosong. Senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke hatinya.
“Hari ini kau terlihat agak berbeda,” komentar Tae Min dari kursi depan, matanya tak lepas dari ponsel. “Biasanya kau lebih interaktif saat acara seperti ini.”
Jinwoo berpaling. “Berbeda bagaimana?”
“Entahlah. Kau seperti… melamun di panggung. Kau bahkan tidak menyahut beberapa kali ketika orang memanggilmu.”
Jinwoo terdiam. Ia tidak bisa menjelaskan pada Tae Min bahwa pikirannya sibuk mengejar bayangan seseorang. Seseorang yang mungkin hanya ilusi.
Ketika mobil berhenti sebentar di lampu merah dekat distrik seni, Jinwoo menoleh keluar jendela. Jalan itu dipenuhi poster acara, kafe, dan galeri kecil. Dan di seberang jalan, matanya menangkap sosok yang membuat napasnya tercekat.
Seorang perempuan berdiri di depan galeri, berbicara dengan temannya sambil membawa map besar di tangan. Rambut panjangnya jatuh di bahu, gaun pastel masih sama seperti yang ia lihat tadi. Dari cara ia tertawa, cara ia mengangkat tangan untuk menekankan kata-kata, Jinwoo merasakan sesuatu yang menusuk dalam dadanya.
Itu dia.
“Berhenti sebentar,” katanya cepat.
Tae Min menoleh heran. “Kenapa? Kita harus langsung pulang.”
“Berhenti sebentar,” ulang Jinwoo, nada suaranya lebih tegas.
Sopir ragu, tapi begitu melihat tatapan Jinwoo melalui kaca spion, ia menepikan mobil perlahan. Namun, sebelum Jinwoo sempat membuka pintu, lampu hijau menyala. Mobil di belakang membunyikan klakson keras, memaksa sopir untuk melanjutkan perjalanan.
“Tidak bisa berhenti di sini,” kata Tae Min, sedikit panik. “Nanti paparazi bisa memotretmu di jalan, itu bisa jadi masalah.”
Jinwoo memalingkan wajah kembali ke jendela. Sosok itu sudah semakin jauh, tertelan keramaian malam. Ia menutup mata, frustrasi. Kenapa selalu seperti ini?
Di dalam mobil, Jinwoo menekan pelipisnya. Ingatan masa kecil kembali menghantam. Seorang gadis kecil berlari di taman Seoul, rambutnya berkibar, tawa renyahnya mengisi udara.
“Jinwoo-ya, cepat! Kau terlalu lambat!”
Ia ingat betapa gadis itu selalu menunggunya, betapa mereka berbagi rahasia kecil di balik rumah tua mereka. Hana. Gadis itu selalu menjadi cahaya kecil di hidupnya sebelum ia terjun ke dunia hiburan.
Jinwoo menghembuskan napas panjang. “Tae Min-ah… apakah mungkin… seseorang yang lama sekali tidak kau lihat, tiba-tiba muncul kembali di tengah keramaian?”
Tae Min menoleh sekilas. “Apa maksudmu?”
“Tidak ada,” jawab Jinwoo cepat, menutup diri lagi. Ia tahu Tae Min tidak akan mengerti.
Esoknya, internet dipenuhi artikel tentang acara amal semalam. Foto-foto Jinwoo di karpet merah tersebar di mana-mana, dengan judul sensasional: “Jinwoo Tampil Memukau di Gala Amal, Bukti Status Bintang Dunia”.
Jinwoo menggulir cepat, hingga matanya berhenti pada satu foto candid. Bukan dirinya yang menarik perhatiannya, melainkan seseorang di latar belakang.
Di tepi foto, samar tapi jelas, ada sosok perempuan bergaun pastel sedang berjalan bersama temannya. Wajahnya tidak menghadap kamera, tapi Jinwoo mengenali postur itu. Bahkan dari sudut sekecil itu, ia yakin.
“Hana…” bisiknya lagi.
Seharian penuh, pikiran Jinwoo kacau. Saat pemotretan, ia harus berkali-kali mengulang pose karena tidak fokus. Saat wawancara, ia lupa jawabannya dan membuat staf cemas.
“Ada apa denganmu, Jinwoo?” tegur Tae Min saat istirahat makan siang. “Kau bukan dirimu yang biasa.”
Jinwoo menutup mata, menimbang-nimbang. Ia ingin berkata jujur, bahwa ia merasa telah menemukan kembali seseorang dari masa lalunya. Tapi bagaimana caranya menjelaskan tanpa terdengar gila? Jadi ia hanya berkata, “Aku hanya lelah.”
Namun, di balik kata itu, jantungnya berdebar dengan ritme berbeda. Deja vu itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Malam itu, ia berdiri di balkon apartemennya, menatap gemerlap Seoul. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi pikirannya tetap pada sosok itu.
Jika itu benar-benar Hana… kenapa sekarang? Kenapa setelah sekian lama?
Jinwoo meremas pagar balkon. Ada rasa cemas sekaligus harapan. Dunia artis penuh batasan: ia tidak bisa sembarangan bertemu orang, apalagi tanpa pengawasan. Namun, di sisi lain, ia merasa jika membiarkan kesempatan ini lewat, ia akan menyesal seumur hidup.
Di kejauhan, lampu billboard menampilkan wajahnya lagi, tersenyum sempurna dengan botol parfum di tangan. Jinwoo menatapnya dengan getir. “Mereka semua mengenal wajahku,” gumamnya lirih, “tapi hanya sedikit yang tahu siapa aku sebenarnya.”
Dan di antara semua orang di dunia ini, mungkin hanya satu yang benar-benar pernah mengenalnya, Hana.
Apartemen mewah itu sunyi, hanya terdengar dengungan AC yang konstan. Jinwoo menjatuhkan diri ke sofa setelah seharian panjang. Jas yang tadi dipakainya untuk wawancara tergeletak sembarangan di kursi, dasinya setengah terlepas. Di meja, ponselnya bergetar tanpa henti—pesan dari manajer, notifikasi media sosial, panggilan tak terjawab. Ia mengabaikan semuanya.
Di layar TV besar, sebuah siaran ulang dari acara amal tadi malam sedang diputar. Jinwoo melihat dirinya sendiri berjalan di karpet merah, tersenyum, melambaikan tangan. Semua tampak sempurna, tapi ia tahu, di balik tatapan itu, pikirannya sibuk mengejar bayangan lain.
Ia menekan tombol mute. Suara tepuk tangan palsu hilang, berganti keheningan yang lebih menusuk.
Jinwoo berjalan ke dapur, menyalakan pemanas air, lalu menuang teh hijau ke dalam cangkir. Uap hangat naik perlahan, menenangkan. Ia duduk di meja bar dapurnya, menatap cairan hijau pucat itu seolah bisa memberi jawaban.
“Hana…” ia menggumamkan nama itu lagi, kali ini lebih jelas.
Sudah bertahun-tahun ia tidak mengucapkannya. Nama itu terkubur di bawah jadwal padat, konser, wawancara, dan dunia yang menuntutnya menjadi orang lain. Tapi hanya dengan sekali pandang, semua kenangan itu muncul kembali.
Ia ingat musim semi di Seoul, bunga sakura berguguran di halaman rumah. Ia dan Hana kecil duduk di ayunan tua, berbagi es krim vanilla yang cepat meleleh. Ia ingat bagaimana Hana selalu mengajarinya menggambar rumah sederhana di kertas, walau hasil gambarnya sendiri selalu berantakan.
Ia tertawa kecil, getir. Kenangan sepele… tapi entah kenapa lebih membekas daripada semua sorak penonton di stadion besar.
Jinwoo kembali meraih ponselnya. Ia membuka artikel online tentang gala semalam. Jarinya berhenti pada foto candid yang sempat ia lihat tadi—sosok perempuan bergaun pastel, samar di latar belakang.
Ia memperbesar layar, mencoba menangkap detail. Rambut panjang, bahu sempit, postur tubuh yang mengingatkannya pada gadis kecil yang dulu sering berjalan di sisinya.
Apakah benar dia? Atau aku hanya mencari bayangan masa lalu di wajah orang asing?
Jinwoo mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Aku gila,” katanya pada dirinya sendiri. “Bagaimana mungkin aku yakin hanya dengan sekilas pandang?”
Namun, hatinya berdebar, menolak logika.
Malam semakin larut. Jinwoo masuk ke kamar, menyalakan lampu meja yang redup. Kamar itu luas, ranjang king-size dengan sprei putih bersih. Semua tampak mewah, tapi dingin. Tidak ada foto keluarga, tidak ada hiasan pribadi, hanya interior sempurna hasil kerja desainer.
Ia berbaring, menatap langit-langit. Di pikirannya, wajah Hana kecil muncul—senyum cerah, mata berbinar, suara riang memanggil namanya.
Perlahan, bayangan itu berganti dengan sosok perempuan dewasa di gala semalam. Senyum samar, gerakan tangan, sorot mata. Perpaduan keduanya membuat dadanya sesak.
Jika benar itu Hana… apakah dia masih mengingatku? Atau aku hanya bagian kecil dari masa lalunya yang sudah lama ia lupakan?
Pertanyaan itu berputar tanpa henti.
Jam dinding berdetik menuju pukul dua dini hari. Jinwoo masih terjaga. Ia bangun, berjalan ke balkon lagi. Kota Seoul terbentang di depannya—gemerlap, hidup, penuh suara. Tapi baginya, semua itu terasa jauh.
Ia menggenggam pagar balkon, menatap ke arah gedung-gedung tinggi. Di antara cahaya neon dan billboard yang memajang wajahnya, ia merasa lebih kecil dari sebelumnya.
“Kalau itu benar-benar kau, Hana,” bisiknya lirih, “aku tidak akan melepaskan kesempatan kali ini.”
Kata-kata itu keluar begitu saja, setengah doa, setengah janji.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jinwoo merasakan sesuatu yang berbeda dari sekadar kewajiban dan rutinitas. Rasa penasaran, rasa cemas, dan harapan yang begitu nyata.
Ia tidak tahu bagaimana atau kapan, tapi hatinya sudah memutuskan: ia harus menemukan kebenaran.
Dan jauh di lubuk hatinya, Jinwoo tahu—hidupnya yang selama ini terjebak dalam panggung dan sorotan akan segera berubah.