Sudah lebih dari seminggu Hana bekerja di kantor keluarga. Ritme hidupnya berubah drastis: bangun pagi, sarapan kilat bersama keluarga, lalu berangkat bersama Kang Jun. Di kantor, ia menenggelamkan diri dalam rapat, sketsa, serta diskusi panjang dengan tim interior.
Awalnya Hana merasa seperti burung di sangkar kaca—semua mata menatap, mengamati apakah ia memang layak atau hanya “anak bos” yang numpang nama. Tapi sedikit demi sedikit, ia mulai membuktikan diri. Ide-ide segarnya soal pencahayaan dan kombinasi material mendapat respons positif. Bahkan, beberapa staf junior yang semula canggung kini mulai nyaman ngobrol dengannya.
“Konsep lampu fleksibelmu diterima klien,” kata seorang staf suatu pagi.
Hana mendongak kaget. “Jinjja? Mereka suka?”
“Ne, katanya cocok sekali untuk kebutuhan event.”
Pujian itu sederhana, tapi cukup membuat Hana tersenyum lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa punya tempat di sini.
Suatu sore, Kang Jun masuk ke ruang kerja Hana. Ia membawa sebuah map hitam tebal, wajahnya serius tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
“Ada proyek baru,” katanya singkat, meletakkan map itu di meja.
Hana langsung membuka map itu. Di halaman pertama, tertulis: Residential Project – Private Client.
“Rumah pribadi?” tanyanya.
“Ya. Bukan rumah sembarangan,” jawab Kang Jun. Ia duduk di kursi seberang, tangannya menyilangkan lengan. “Ini akan jadi proyek terbesar kita tahun ini.”
Hana menelusuri detail awal: lokasi di kawasan elit, permintaan konsep hanok modern, serta catatan khusus tentang kebutuhan ruang pribadi.
“Konsepnya menarik sekali… tapi siapa kliennya?” Hana mendongak penasaran.
Kang Jun hanya tersenyum samar. “Seorang artis besar. Internasional. Kau pasti kenal.”
“Artis?” Hana mengulang, matanya melebar. “Oppa, kau bercanda? Kita diminta mendesain rumah selebritas?”
“Bukan bercanda.” Kang Jun berdiri, merapikan jasnya. “Aku tidak bisa sebut nama dulu. Ada kontrak kerahasiaan. Yang jelas, ini klien yang sangat terkenal. Jadi kita harus hati-hati.”
Hana terdiam. Hatinya berdebar, tapi lebih karena gugup menghadapi klien besar, bukan karena menebak siapa. Ia menutup map itu dengan perlahan. “Kalau artis sebesar itu… kenapa memilih kita? Bukankah biasanya pakai desainer luar negeri?”
Kang Jun menoleh sebentar sebelum keluar ruangan. “Mungkin karena mereka ingin sesuatu yang lebih… personal. Kau akan mengerti nanti.”
Nada suaranya terdengar penuh rahasia, tapi Hana terlalu lelah untuk memikirkan lebih jauh.
Malamnya, saat kantor mulai sepi, Hana masih duduk di meja kerjanya. Map hitam itu belum ia buka lagi, tapi pikirannya penuh tanda tanya.
Ayahnya tiba-tiba masuk, membawa secangkir teh hangat. “Masih di sini?”
“Ne, Appa. Aku sedang lihat proyek baru.”
Pria itu duduk di kursi seberang. “Aku tahu proyek itu. Kliennya… spesial.”
“Spesial bagaimana?” tanya Hana hati-hati.
Ayahnya tersenyum samar, matanya sedikit berkaca-kaca. “Dia sudah besar sekarang. Terkenal. Tapi bagiku, dia tetap bocah kecil yang dulu sering main kelereng di halaman rumah kita.”
Hana mengernyit. “Appa, maksudmu… kau kenal dia?”
Ayahnya hanya mengangkat bahu, tidak menambah penjelasan. “Yang jelas, proyek ini akan menantang sekaligus menyenangkan. Jangan takut, kau bisa.”
Hana menatapnya bingung, tapi ayahnya sudah berdiri, menepuk bahunya. Sebelum keluar, ia sempat menambahkan dengan nada menggoda, “Kalau nanti kau jatuh cinta pada klienmu, pastikan dia bisa masak. Jangan ulangi kesalahan di Jakarta.”
“Appa!” Hana protes, wajahnya memerah.
Pria itu tertawa lepas dan meninggalkan ruangan, sementara Hana hanya bisa mengubur wajah di kedua tangannya.
Malam itu, di kamarnya, Hana menatap map hitam itu sekali lagi. Tangannya menyentuh sampulnya dengan ragu. Ada sesuatu yang aneh… firasat yang tidak bisa ia jelaskan.
“Artis besar… internasional…” gumamnya.
Otaknya sempat melayang ke papan iklan raksasa yang ia lihat beberapa hari lalu—wajah seorang pria dengan tatapan intens dan nama yang mendunia. Ia buru-buru menggeleng.
“Tidak mungkin,” bisiknya. “Itu hanya kebetulan.”
Namun jantungnya berdetak lebih kencang, seolah tubuhnya tahu sesuatu yang belum berani ia akui.
Hari itu udara Seoul terasa dingin meski matahari bersinar cerah. Hana duduk di kursi belakang mobil kantor bersama beberapa staf interior. Kang Jun menyetir sendiri, wajahnya serius tapi tenang seperti biasa.
“Ini meeting penting,” katanya sambil melirik kaca spion. “Klien ingin langsung bertemu tim desain untuk menjelaskan kebutuhan detail. Jangan gugup.”
Hana meremas map di pangkuannya. “Aku tidak gugup,” jawabnya, meski keringat dingin di telapak tangan berkata sebaliknya.
Mereka berhenti di sebuah gedung tinggi milik salah satu perusahaan hiburan terbesar di Korea. Lobi penuh dengan orang: staf dengan ID card, pria bersetelan jas, wanita berpenampilan stylish, dan beberapa bodyguard. Aura glamor langsung terasa.
“Wah, tempatnya seperti hotel bintang lima,” bisik salah satu staf.
Kang Jun hanya mengangguk singkat. “Fokus. Ingat, kita di sini bukan untuk terpesona, tapi untuk bekerja.”
Mereka dibawa ke lantai atas, ke ruang meeting besar dengan jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. Di meja panjang sudah ada beberapa orang dari pihak perusahaan hiburan, termasuk manajer proyek dan staf legal.
“Selamat datang. Terima kasih sudah meluangkan waktu,” sapa salah satu perwakilan.
Kang Jun memperkenalkan tim desain satu per satu. Hana ikut membungkuk sopan, menampilkan senyum profesional meski hatinya berdebar kencang.
“Klien kami akan bergabung sebentar lagi,” kata manajer itu. “Mohon tunggu sebentar.”
Hana mencoba menenangkan diri dengan membuka catatan. Tapi telinganya menangkap bisikan di antara staf hiburan.
“Dia sedang dalam perjalanan.”
“Jangan lupa semua media sudah diberi tahu.”
“Fans berkumpul di bawah gedung, luar biasa.”
Kata fans dan media membuat jantung Hana berdegup lebih keras. Artis internasional… siapa sebenarnya?
Pintu terbuka. Semua orang refleks berdiri.
Masuklah seorang pria tinggi dengan jas hitam sederhana tapi elegan. Wajahnya tegas, sorot matanya tajam namun hangat. Senyumnya tipis, cukup untuk membuat ruangan seolah berhenti bernafas sejenak.
Jin Woo.
Hana terpaku.
Ia pernah melihat wajah itu di billboard, di televisi, di artikel berita internasional. Tapi melihatnya secara langsung—dengan jarak hanya beberapa meter—rasanya jauh berbeda. Ada sesuatu yang menusuk dadanya: rasa familiar yang menggetarkan, seolah waktu berputar kembali ke masa kecil.
“Terima kasih sudah menunggu,” kata Jin Woo dengan suara bariton yang tenang. Ia menyapa satu per satu, lalu duduk di ujung meja.
Hana buru-buru menunduk, pura-pura sibuk membuka catatan. Ia bisa merasakan tubuhnya kaku, sementara detak jantungnya menggema di telinga.
Meeting dimulai. Jin Woo tidak banyak bicara, sebagian besar disampaikan oleh manajernya. Tapi sesekali, ia menambahkan komentar dengan nada mantap:
“Aku ingin ruang tamu yang terasa hangat, bukan hanya mewah.”
“Studio pribadi harus kedap suara, tapi jangan terkesan dingin.”
“Halaman dengan elemen tradisional penting, tapi harus tetap praktis.”
Hana mencatat dengan cermat, mencoba bersikap profesional. Tapi matanya beberapa kali, tanpa sengaja, bertemu dengan tatapan Jin Woo.
Dan setiap kali itu terjadi, dadanya seperti disambar listrik.
Apakah dia mengenaliku?
Pertanyaan itu terus menggema di benaknya.
Saat coffee break, staf lain keluar sebentar. Hana tetap duduk, sibuk merapikan sketsanya. Tiba-tiba suara langkah mendekat.
“Sepertinya kau yang bertanggung jawab di bagian interior, ya?”
Hana menoleh perlahan. Jin Woo berdiri di sebelahnya, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Ah… n-ne,” jawab Hana terbata. “Aku bagian tim interior.”
Tatapan Jin Woo menelusuri wajahnya sejenak, seperti sedang mencari sesuatu. Lalu ia hanya mengangguk kecil. “Aku suka bagaimana kalian menangkap nuansa rumah dengan elemen tradisional. Terasa… familiar.”
Hana menunduk cepat, menutupi wajah yang mulai panas. “Terima kasih, kami akan berusaha maksimal.”
Jin Woo tersenyum samar, lalu kembali ke kursinya.
Hana menghela napas panjang, tangannya gemetar di atas buku catatan. Dia tidak mengenaliku… atau pura-pura tidak mengenaliku?
Meeting selesai sore hari. Semua orang saling membungkuk, menyepakati jadwal survei lokasi minggu depan.
Hana berjalan keluar bersama tim, langkahnya masih terasa melayang. Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan seseorang mengikuti sampai ke pintu.
Dan entah mengapa, ia tahu itu tatapan Jin Woo.
Setelah meeting panjang itu, tim desain keluarga Kang kembali ke lobi untuk menunggu mobil. Orang-orang masih ramai berlalu-lalang; beberapa fans menunggu di luar gedung dengan kamera, berharap sekadar melihat sekilas artis besar yang baru saja berada di atas.
Hana berdiri agak di belakang, mencoba merapikan mapnya. Ia butuh waktu untuk menenangkan pikiran. Kehadiran Jin Woo barusan masih menggema di kepalanya—tatapan matanya, senyumnya yang singkat, dan kalimat samar tentang “nuansa yang familiar.”
Apa mungkin… dia ingat aku? Atau itu hanya kebetulan?
Ketika rombongan timnya keluar, suara riuh fans terdengar dari kejauhan. Beberapa kamera sudah menyorot, menunggu sosok yang mereka nantikan.
Hana melangkah lebih cepat, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Dari arah koridor samping, Jin Woo berjalan santai bersama manajernya. Rambutnya agak berantakan, tapi sorot matanya tegas. Ia terlihat jauh lebih kasual dibanding saat di ruang meeting tadi.
Dan saat mata mereka berpapasan, waktu seolah berhenti.
Hana merasakan detak jantungnya melompat. Jin Woo menatapnya sejenak, lama, seolah menimbang sesuatu. Lalu, bibirnya melengkung membentuk senyum samar.
Manajernya sempat berbisik, “Jin Woo-ssi, mobil sudah menunggu.”
Namun Jin Woo tidak langsung bergerak. Ia masih menatap Hana, seolah dunia di sekitar mereka meredup.
Beberapa menit kemudian, entah bagaimana, Hana mendapati dirinya berdiri di sudut lobi kecil di belakang gedung. Ia berniat mencari udara segar, tapi langkah seseorang menyusul dari arah belakang.
“Hana?”
Suara itu membuatnya terpaku. Perlahan ia menoleh. Jin Woo berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Untuk sesaat, Hana hampir tidak bisa bernapas. Nama itu—Hana—terucap dari mulutnya, tanpa ragu, tanpa bertanya. Seakan ia memang sudah tahu sejak awal.
“Jadi… kau benar,” lanjut Jin Woo dengan suara rendah, nada nyaris tidak percaya. “Aku sempat mengira mataku menipuku tadi. Tapi ternyata… sahabat kecilku benar-benar berdiri di depanku sekarang.”
Hana menelan ludah, matanya berkaca-kaca tanpa ia sadari. “Jin Woo-ya…”
Kata itu keluar begitu saja, seperti kembali ke masa kecil mereka.
Jin Woo tersenyum tipis, namun matanya lembut. “Aku tidak menyangka kita bertemu di sini. Kau… bekerja dengan tim desain ini?”
“Ne…” Hana mengangguk, suaranya lirih. “Aku baru beberapa hari bergabung. Kakakku yang membawaku.”
“Aku tahu,” jawab Jin Woo. “Kang Jun pernah menyebutkan soal proyek ini. Tapi aku tidak tahu kau juga ada di dalamnya.”
Hana terkejut. Jadi sebenarnya… Jin Woo sudah tahu duluan? Atau Kang Jun sudah memberi tahu diam-diam?
Ia membuka mulut, tapi tidak tahu harus berkata apa.
“Banyak hal yang ingin kutanyakan,” kata Jin Woo pelan. “Tapi… tempat ini terlalu ramai. Fans, kamera, manajerku…” ia menoleh sekilas ke arah pintu kaca di mana beberapa staf berdiri. “Kita tidak bisa lama-lama.”
Hana menunduk. “Aku mengerti.”
Jin Woo menghela napas, lalu melirik sekeliling. Manajernya masih sibuk bicara dengan staf, beberapa fans menunggu di luar kaca, tapi untuk sesaat mereka seperti berada di dunia mereka sendiri.
“Pinjamkan ponselmu sebentar,” katanya tiba-tiba.
Hana terkejut. “Eh?”
“Cepat,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. Nada suaranya lembut tapi tegas, sama persis seperti dulu ketika ia selalu memaksa Hana berbagi permen karet atau buku komik.
Dengan ragu, Hana menyerahkan ponselnya. Jarinya nyaris gemetar.
Jin Woo dengan cekatan mengetik sesuatu di layar, lalu menyimpan kontak. Setelah itu ia menekan nomor miliknya sendiri, membuat ponselnya bergetar di saku jas. Ia tersenyum puas, lalu mengembalikan ponsel Hana.
“Sekarang kau punya nomorku, dan aku punya nomormu,” katanya tenang. “Kalau kau berani menghilang lagi… aku yang akan mencarimu.”
Hana terdiam, dadanya serasa dihantam sesuatu yang hangat dan menyakitkan sekaligus.
“Woo-ya…” panggilnya lirih, setengah tidak percaya dengan keberanian Jin Woo.
Sebelum ia bisa menambahkan kata lain, suara manajer memanggil. “Jin Woo-ssi, waktunya berangkat!”
Jin Woo menarik napas, lalu menatap Hana sekali lagi, dalam dan penuh arti. “Kita akan bicara. Bukan hari ini, tapi segera.”
Ia berbalik, berjalan menuju pintu keluar dengan langkah mantap.
Hana menggenggam ponselnya erat-erat. Layar masih menyala, menampilkan nama kontak baru:
Woo-ya 🤍
Rumah terasa hangat saat Hana kembali. Aroma sup daging yang dimasak ibunya menyambutnya begitu pintu dibuka. Ia menaruh tas di kursi, lalu berusaha menata wajahnya agar terlihat biasa saja.
“Bagaimana meeting-mu?” tanya ibunya sambil keluar dari dapur, tangan masih memegang sendok kayu.
“Lancar,” jawab Hana cepat. “Kliennya… punya banyak detail yang cukup jelas.”
Kang Jun yang sudah duduk di ruang tamu, melirik adiknya dengan ekspresi penuh selidik. “Kau terlihat pucat. Gugup, ya?”
“Tidak,” sanggah Hana buru-buru. Ia membuka map proyek dan berpura-pura sibuk.
Ayahnya, yang duduk santai dengan koran di tangan, menambahkan, “Meeting pertama memang selalu bikin deg-degan. Tapi, jangan terlalu tegang. Kau kan jago interior, lebih detail daripada kakakmu.”
Kang Jun protes, “Appa!”
Ayahnya hanya terkekeh, melipat koran, lalu menatap Hana. “Kau tahu, pekerjaan ini bisa jadi sangat istimewa. Kliennya bukan orang biasa. Aku yakin, pengalaman ini akan mengubah banyak hal.”
Hana menunduk, menggenggam erat ponselnya yang masih menyimpan kontak baru dari Jin Woo. Hatinya berdebar setiap kali mengingat kembali bagaimana Jin Woo dengan santai memasukkan nomornya ke dalam HP-nya, lalu meninggalkan pesan penuh makna.
Kamar Hana remang dengan lampu meja menyala. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya yang menampilkan nama kontak :
Woo-ya 🤍
Tangannya gatal ingin mengetik sesuatu. “Annyeong.” “Kau masih ingat?” “Bagaimana kabarmu?”
Tapi setiap kali ia mulai menulis, ia menghapus lagi. Terlalu canggung. Terlalu cepat. Terlalu banyak yang harus diceritakan, tapi tidak tahu harus dari mana.
Akhirnya, ia hanya memeluk bantal dan menutup mata. Tatapan mata Jin Woo siang tadi masih jelas terbayang—hangat, dalam, sekaligus penuh rahasia.
POV Jin Woo
Mobil hitam melaju mulus melewati jalanan Seoul yang masih ramai. Jin Woo duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela. Sorot lampu kota memantul di matanya, tapi pikirannya sibuk dengan satu hal: Hana.
Hana…
Nama itu sudah lama tidak ia ucapkan dengan begitu nyata. Terakhir kali, ia masih remaja tanggung yang bercanda di halaman rumah orang tuanya. Lalu, tiba-tiba semuanya terhenti ketika keluarganya pindah, kariernya meroket, dan hidupnya berubah drastis.
Kini, bertahun-tahun kemudian, Hana muncul kembali—bukan sekadar memori, tapi nyata, berdiri di hadapannya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya manajernya dari kursi depan. “Hari ini kau agak… berbeda.”
Jin Woo mengangkat alis. “Berbeda bagaimana?”
“Biasanya setelah meeting panjang, kau langsung sibuk cek jadwal, minta update konser, atau setidaknya membuka laptop. Tapi sekarang kau hanya melamun.”
Jin Woo tersenyum samar. “Mungkin aku sedang merayakan ketenangan kecil.”
Manajernya menghela napas, tidak terlalu curiga, lalu kembali fokus ke tablet.
Jin Woo bersandar di kursi, mengeluarkan ponselnya. Ia membuka kontak baru yang barusan ia buat. Nama itu tertulis jelas di layar :
HN🩷
Ia menatapnya lama, lalu mengetik satu pesan singkat. Tapi sebelum menekan tombol kirim, ia berhenti. Tidak, bukan sekarang. Ia ingin menunggu waktu yang tepat. Pertemuan hari ini saja sudah terlalu intens.
Tapi di dalam hatinya, sebuah kepastian tumbuh, ia tidak akan melepaskan kesempatan kedua ini. Tidak kali ini.
Di rumah, Hana akhirnya tertidur dengan ponsel yang masih ia genggam erat. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya, meski mimpi-mimpinya penuh tanda tanya.
Di sisi lain kota, Jin Woo menatap layar ponselnya sebelum akhirnya mematikannya. Senyum kecil tersungging di bibirnya. Dunia luar boleh menganggapnya superstar, tapi malam ini, ia hanyalah seorang pria yang baru saja menemukan kembali seseorang yang pernah mengisi masa kecilnya.
Dan baik Hana maupun Jin Woo tahu, ini baru permulaan.