Bismillahirrahmanirrahim
....
Bermula dari Aisyah yang dijebak salah satu Kakak Osis yang menyuruhnya untuk mendapatkan tanda tangan kakak kelas bernama Raihan, seorang lelaki yang kala itu tengah marah besar karena bertengkar dengan salah satu temannya. Parahnya lagi, Aisyah hanya diberi waktu 10 menit untuk mendapatkan tanda tangan itu. Dan jika ia tidak mendapatkan tanda tangan kakak kelasnya itu, ia akan disuruh keliling lapangan 10 kali.
Aisyah berjalan pelan mendekati kerumunan, ia dapat melihat dengan jelas pertengkaran itu terjadi. Matanya sedikit memejam karena takut. Ia berada di ambang dilema sekarang, jika ia menghentikan pertengkaran itu, mungkin saja malah ia yang akan jadi sasaran empuk kedua pria di sana. Tapi, jika ia melewatkan tanda tangan kakak kelasnya itu, maka ia harus merelakan dirinya sendiri berlari memutari lapangan sampai tubuhnya lemas.
"CUPU! MAINNYA DIBELAKANG!" Aisyah tersentak kaget mendengar teriakan itu.
Ia tersenyum lega saat Raihan pergi dari sana. Perlahan-lahan Aisyah mengikuti Raihan dari belakang. Sampai Raihan berhenti dan membalikkan badan karena merasa diikuti.
Raihan menatap gadis berhijab di depannya dengan tatapan galak. Ia mengamati gadis itu dari atas sampai bawah, lalu melihat wajah cantiknya secara intens.
"I..ini Kak," Aisyah menyodorkan selembar kertas dan bolpoinnya pada Raihan.
"Gue bukan anak Osis," ujar Raihan dingin.
Aisyah menggeleng pelan, masih dengan posisi kepalanya yang menunduk.
Raihan mengangkat sebelah alisnya-- tak paham dengan maksud gadis di depannya.
Aisyah mengangkat kepalanya ragu.
"Ta..tadi aku di..disuruh Ka..kakak Osis buat minta tanda tangan kakak," Aisyah tersenyum singkat setelahnya.
Raihan dengan mudah menarik selembar kertas dan bolpoin itu dari tangan mungil di depannya. Ia menuruti apa yang diminta gadis cantik di depannya secara cuma-cuma. Lalu ia menyodorkan kertas itu kembali pada sang pemilik.
Aisyah tersenyum manis, Raihan yang melihatnya langsung dibuat terpana dengan senyuman itu.
"Makasih Kak," Aisyah langsung berlalu pergi setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Senyuman penuh arti terbit di sudut bibir Raihan.
"Humaira Aisyah Nafiza," gumam Raihan pelan.
Humaira Aisyah Nafiza. Nama gadis yang ia curi secara diam-diam dari kertas yang tadi disodorkan gadis bernama Humaira itu.
"Cantik," gumam Raihan lagi lalu ia melanjutkan langkahnya sambil tersenyum nggak jelas.
.
.
.