Namanya Humaira Aisyah Nafiza. Gadis cantik berhijab panjang yang masih bersekolah di MTS Al-Kahfi. Matanya terlihat teduh, kulitnya putih bersih, dan tubuhnya juga termasuk tinggi di usianya yang masih 11 tahun. Apalagi ditambah dengan sifat kalem dan pendiamnya menjadikan hal ini sangat khas untuk seorang gadis bernama panggilan Aisyah itu. Otaknya yang kelewat pintar itu juga membuat namanya semakin di kenal.
Ia juga mempunyai dua sahabat. Yaitu Zahra dan Lia.
Zahra, atau gadis bernama lengkap Az-Zahra Balqis Hanafi itu mempunyai postur tubuh yang lebih tinggi dari Aisyah, sangat tinggi, bahkan tinggi sepadan dengan anak-anak yang seharusnya sudah berada di jenjang SMA. Zahra mempunyai sifat yang agak judes daripada Aisyah dan Lia, sifat itu sudah ada pada diri Zahra sejak kecil, mungkin juga karena ia mempunyai sifat yang agak dingin, makanya kadang ia akan langsung meledak jika ada yang memancing kemarahannya. Tapi dibalik sifatnya yang dingin, sebenarnya Zahra juga agak cerewet jika sudah bersama kedua sahabatnya itu. Zahra juga memiliki prinsip 'Jika mereka baik, maka dirinya akan bersikap baik, begitu pula sebaliknya. Jika mereka tidak menyukainya, maka dirinya akan semakin tidak menyukai mereka'.
Lalu, Lisana Artika Dewi. Gadis berpanggilan Lia itu mempunyai tubuh yang agak berbeda dari kedua sahabatnya, ia mempunyai tubuh yang agak pendek dan agak berisi, tapi bukan gendut. Ia juga sangat cerewet dan suka ghibah, apalagi ghibahin masalah cowok. 'Tidak akan bertahan jika belum ghibah,'.
Sekarang ketiga gadis itu tengah berada di dalam kelas-- membereskan alat tulis-menulis mereka ke dalam tas, karena guru sudah keluar dari kelas setelah bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu.
Seperti biasanya, mereka bertiga tidak keluar dari kelas. Mereka membawa bekal masing-masing, karena malas mengantri dan ingin hemat uang jajan, alasan yang cukup klise kan?
Setelah mereka menyantap makanan masing-masing. Lia yang memang tidak bisa diam sejenak itu akan mulai membuka suara.
"Eh Syah, kamu belajar agama gitu lewat TPQ ya?" tanya Lia.
Sontak Aisyah menoleh, lalu menggelengkan kepalanya, "Enggak. Abi sama Umi yang ajarin untuk sekarang. Dulu pernah ke TPQ sampai lulus SMP. Terus sekarang kadang-kadang juga ikut ke pondok Abang kalau lagi libur," jawab Aisyah dengan suara lembut.
"Ah, aku juga pengen ke TPQ lagi. Tapi keburu keluar gara-gara gurunya kelamaan kalau ngajar, mana pilih kasih banget kalau sama aku," gerutu Lia terlihat kesal.
"Itu mah salah Lo sendiri yang kagak sabaran jadi orang," sindir Kana.
"Lah emang lo masih ngaji di TPQ sekarang?" tanya Lia hendak menyudutkan Zahra, tapi ia langsung terdiam karena jawaban yang Zahra berikan.
"Masih. Tapi ya gue kagak mau ngomong, ntar riya'," jawab Zahra.
Aisyah terkekeh kecil melihat perdebatan kecil kedua teman barunya itu, "Kalau nggak mau di TPQ, kamu bisa cari ustadz atau ustadzah Lia. Kamu juga bisa lebih fokus ngajinya, atau buat perkumpulan sendiri gitu, bisa lebih menghemat tempat juga. Terus untuk waktunya bisa dikondisikan," ujar Aisyah.
"Ini nih yang gue butuhin. Makasih Ai," ujar Lia sembari melirik Zahra sinis. Sedangkan Zahra hanya memutar bola matanya malas dan tidak peduli. Tidak ada gunanya berdebat dengan seseorang seperti Lia.
"Tapi ya Syah, kalau dipondok tuh cowok cewek dicampur nggak sih ngajinya? Beneran aku nggak tau, makanya tanya," ujar Lia. Aisyah tersenyum tipis.
"Aku nggak tau banyak sih Li. Kalau di pondok Abang itu dipisah untuk pembelajaran, setoran, atau pas ngaji. Terkadang kalau ada acara ya digabung, tapi aku juga nggak tahu banyak. Atau kalau mau, aku bisa tanya ke Abang gimana?" jelas Aisyah
"Hehe, nggak perlu Syah. Entar aku tanya temen aja, temen aku ada yang di pondok soalnya,"
Tak lama setelah itu seorang cowok jakung muncul dan langsung menghampiri ketiga gadis di sana.
"Tuh nongol lagi," sahut Zahra kala melihat kakak kelasnya itu kembali datang. Ia sudah sangat-sangat bosan melihat wajahnya yang terus muncul 50 kali dalam sehari, kebanyakan? Entahlah, pokoknya banyak kali deh, malas ia menghitungnya.
"Hallo teman-teman," cowok itu langsung mendudukkan dirinya di kursi samping Aisyah yang kosong.
"Salam Kak Raihan," ujar Aisyah lirih sembari menatap singkat cowok tampan itu.
"Oh iya lupa. Assalamualaikum ukhty," ulang Raihan dengan senyum manis yang terus terpatri di kedua ujung bibirnya.
"Dasar playboy cap buaya, diladenin malah makin ngeselin," gerutu Zahra sambil mengunyah makanannya.
Sontak Raihan langsung menoleh dan menatap tajam gadis menyebalkan yang duduk di belakang bidadarinya itu. Yah, memang Zahra selalu saja tidak suka dan kesal jika dirinya mendekati Aisyah. Ia pun tidak tahu apa alasan gadis itu tidak menyukainya. Namun karena hal itu pun membuat Raihan jadi tidak menyukainya juga.
"Gue punya telinga kalau lo lupa," ujar Raihan dengan tampang kesal.
Aisyah yang mendengar nada tak bersahabat dari cowok di sampingnya lantas menoleh ke belakang dan menempelkan jari telunjuknya di depan bibir, memperingatkan sahabatnya agar tidak membuat gara-gara dengan cowok di sampingnya. Ia takut jika Raihan bisa bersikap kasar kepada Zahra. Seperti yang diketahui jika Raihan itu bukan orang yang akan diam saja jika ia merasa seseorang merendahkannya.
Zahra hanya mengerucutkan bibirnya kesal lalu kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda selama beberapa menit. Lia mengusap pelan bahu Zahra guna menenangkannya, ia sendiri juga takut kalau sampai Zahra menjawab dan malah berakhir dengan pertengkaran. Apalagi saat ia mengingat kalau cowok yang duduk di depannya itu bukanlah cowok biasa yang akan bersikap lembut dengan wanita.
"Humaira," panggil Raihan lembut, dan karena panggilannya itu berhasil membuat pipi Aisyah bersemu merah.
"Ciee Humaira," ledek Lia sambil mencolek bahu Aisyah pelan.
"Ekhm, Humaira," tambah Zahra yang tak kalah jahil dari Lia. Tadi marah, sekarang langsung berubah, dia benar-benar gadis yang sangat gampang berubah keadaan suasana hatinya.
"Humaira," ulang Raihan sembari menatap Aisyah menggoda.
"Ihh, udahlah. Aku mau ke perpus," Aisyah menutup kotak makannya, dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ciee merah," Raihan semakin gencar menggoda gadis cantik yang mampu menggetarkan hatinya itu.
Aisyah berlalu pergi, dan Raihan langsung membuntutinya dari belakang.
"AISYAHH!! KITA NGGAK IKUT!" teriak Lia yang langsung disambut dengan tawa keras dari Zahra.
"Aisyah beneran suka deh kayaknya sama Kak Raihan," ujar Zahra tiba-tiba dengan wajah serius.
"Siapa sih yang nggak terpesona sama cowok seganteng Kak Raihan?" tanya Lia dengan wajah berbinar.
"Untung yang Kak Raihan suka itu Aisyah, coba kalau lo? Bisa geger dunia," cerca Zahra dengan wajahnya yang kembali datar.
"Ishh," desis Lia.
.
.
.