Sorot mata Aisyah masih fokus pada soal-soal Ipa yang ada di bukunya. Tangannya juga dengan lincah menuliskan jawaban di sana. Ia membolak-balikkan bukunya untuk mencari jawaban yang tidak ia ketahui. Karena memang ada banyak hal yang belum ia pelajari. Dan lagipula itu adalah buku kelas 12, yang memang baru ia sentuh sekarang.
Di samping Aisyah juga ada Raihan yang juga memegang sebuah buku. Bukan buku pelajaran, tapi buku kisah 25 Nabi, yang Aisyah pilihkan sendiri untuknya. Tadi Raihan sendiri yang meminta Aisyah untuk mencarikan buku cerita untuknya. Dan karena Aisyah merasa jika pengetahuan Raihan tentang Para Nabi yang wajib diketahui masih kurang, alhasil Aisyah memberikan buku yang tidak sengaja ia temukan itu kepada Raihan. Dan Aisyah tidak menyangka jika Raihan akan seantusias ini dengan buku itu.
Sekarang mereka berada di perpustakaan sekolah yang sangat sepi karena pastinya para murid sudah berada di kantin untuk mengisi perut mereka. Hanya ada beberapa murid saja yang ada di sana, ditambah dengan satu orang dewasa yang merupakan pengawas perpustakaan. Karena tidak mungkin juga Aisyah mau berduaan saja bersama dengan Raihan. Walaupun terkadang cowok itu sendiri yang memaksa.
Beberapa kali Raihan tersenyum takjub saat menemukan sesuatu yang menarik di sana. Lalu tepat saat ia tengah membaca Kisah Nabi Yusuf, Raihan bergidik ngeri ketika membaca tentang Zulaikha, wanita cantik yang rela melakukan apapun demi mewujudkan keinginannya mendapatkan Nabi Yusuf yang sangat tampan.
Lalu ia kembali berdecak kagum ketika Nabi Yusuf yang dengan tegas menolak Zulaikha karena wanita itu tidak menyembah Tuhan yang sama dengannya, Allah Subhanallahu Wata'ala. Lihatlah, wanita secantik Zulaikha saja ditolaknya. Raihan benar-benar kagum dengannya.
Ia melanjutkan kembali bacaannya. Dan tiba-tiba cowok itu merasakan matanya memanas ketika membaca secarik kata-kata di akhir cerita.
'Ketika Zulaikha mengejar Yusuf, Allah menjauhkan Yusuf darinya. Dan ketika Zulaikha mendekatkan diri kepada Allah, Allah pun mendekatkannya kepada Yusuf sebagai balasan atas semua doa-doanya setelah ia bertaubat.'
Raihan mengangkat kepalanya, lalu menatap Aisyah yang terlihat cantik saat dilihat dari samping. Ketika menatapnya, Raihan menjadi teringat dengan kisah yang baru ia baca. Di kisah itu Zulaikha lah yang mengejar Yusuf. Sedangkan di kisahnya, ia sendiri yang berperan sebagai Zulaikha, dan Aisyah sebagai Nabi Yusuf.
Tapi, akankan kisah akhirnya dengan Aisyah akan semanis kisah Yusuf dan Zulaikha?
"Humaira," panggil Raihan pelan.
Aisyah yang mendengar namanya dipanggil langsung menoleh, "iya kak?"
"Nanti kalau lulus kamu mau lanjut ke mana?" tanya Raihan. Aisyah nampak serius memikirkannya, ia mengetuk-ngetukkan pensil ke pelipisnya.
"Kalau aku sih di MA mana aja nggak papa. Tapi biasanya Abi yang selalu nentuin harus di mana aku sekolah, dan aku juga selalu nurut karena permintaan Abi selalu baik untuk aku," jawab Aisyah jelas.
Raihan nampak merenung beberapa saat, "Kalau kita nggak satu sekolah gimana?" tanya Raihan yang tiba-tiba kepikiran akan hal itu.
Aisyah tergelak dengan pertanyaan Raihan, lalu tersenyum tipis, "Emangnya kenapa kalau enggak satu sekolah kakak? Kan setiap sekolah juga punya tujuan yang sama, memberikan pelajaran dan memintarkan anak-anak didiknya," ujar Aisyah bijak.
Raihan berdecak, "Bukan itu Humaira. Nanti kalau kita nggak ketemu lagi gimana? Iya, kalau satu SMA lagi, atau satu kampus lagi, kalau enggak. Gimana aku bisa ngelamar kamu?" ucapan Raihan yang terlalu jujur itu membuat Aisyah reflek mengalihkan pandangannya sembari menutupi wajahnya yang kini sudah memerah padam diiringi dengan degup jantung yang membara karena cowok itu. Aisyah berusaha menenangkan diri. Lalu kembali menoleh, menatap Raihan yang sepertinya benar-benar kepikiran akan hal yang seharusnya tidak perlu Raihan pikirkan sampai seperti itu.
"Kak Raihan tau kan, kalau jodoh, rezeki, ajal, itu udah ada yang mengatur?" Raihan mendongakkan kepalanya, lalu mengangguk.
Aisyah tersenyum, entah mengapa ia merasa jika Raihan benar-benar menggemaskan sekarang. Ia ingin menarik pipi cowok itu, tapi tentu saja ia tidak bisa melakukan hal tersebut, astaghfirullah.
"Kalau Kak Raihan sama Ai memang benar-benar berjodoh, pasti nggak akan ada yang tidak mungkin kita bakal ketemu lagi di masa depan. Atau bahkan malah tanpa kita sadari nantinya," Aisyah menjelaskannya dengan suara pelan membuat Raihan semakin negatif thinking jika memikirkannya.
"Iya kalau nantinya kamu bakal Nerima aku. Kalau enggak? Nggak tau kenapa aku tiba-tiba kepikiran sama hal ini. Aku terlalu suka sama kamu, wajah, sikap, kepribadian, aku yakin kamu yang terbaik untuk masa depan aku nanti. Tapi... aku yakin kalau aku bukan yang terbaik untuk kamu," ujar Raihan dengan nada rendah.
Mendadak Aisyah bisa mengerti maksud ucapan Raihan. Walaupun usianya masih cukup belia, tapi pemikiran Aisyah sudah beranjak dewasa. Aisyah tidak tahu apa yang ia rasakan kepada cowok itu adalah cinta atau hanya obsesi semata. Begitu pula yang Raihan rasakan kepadanya. Ia tidak ingin terlalu berharap kepada Raihan karena ia merasa semuanya masih terlalu dini untuk dipikirkan sekarang. Dan lagi, berharap kepada makhluk hanya akan membuat sakit hati pada akhirnya.
Namun, tentu saja ia tidak bisa mengatakan itu kepada Raihan. Belum tentu Raihan akan mengerti ucapannya jika ia mengatakan hal itu.
"Gimana kalau aku buat janji ke kakak," ujar Aisyah setelah berperang batin dan pikiran selama beberapa menit.
Raihan menoleh bingung, "Janji?" Aisyah menganggukkan kepalanya ringan.
"Janji apa?"
"Aisyah bakal langsung menerima lamaran Kak Raihan jika memang Kak Raihan yang mengajukan lamaran duluan sebelum Aisyah dilamar oleh pria lain nantinya,"
Raihan terdiam cukup lama, sedikit tidak percaya dengan apa yang gadis kecil itu ucapkan. Namun entah mengapa ucapan itu benar-benar menenangkannya sekarang.
"Kamu janji? Kamu nggak akan menyesal nanti?" tanya Raihan hati-hati.
Aisyah menganggukkan kepalanya tegas, "Aisyah janji,"
.
.
.
"Aku boleh tanya nggak?" tanya Raihan, dan Aisyah mengangguk ringan sebagai jawaban.
"Tipe ideal kamu itu kayak gimana?"
Aisyah terdiam mendengar pertanyaan tiba-tiba dari kakak kelasnya itu.
"Pliss, jawab," mohon Raihan dengan wajah memelas.
Aisyah menunjukkan senyuman manisnya,
"Kalau Aisyah boleh milih. Aisyah pengen sosok lelaki yang sholeh, yang bisa membawa Aisyah ke jalan kebenaran, terus sikapnya hangat, punya sopan-santun, bisa memuliakan wanita, terutama ibunya, itu yang utama," ujar Aisyah dengan wajah yang terlihat sangat kalem di mata Raihan.
"Terus...sama dengan perempuan kebanyakan, aku juga pengen sosok yang emmm...tampan, tinggi, pinter. Kalau yang itu buat tambahan aja," lanjut Aisyah dengan kekehan ringan.
Aisyah bisa terlihat sangat santai mengatakan hal itu, sedangkan Raihan sudah terlebih dulu menekuk wajahnya setelah mendengarkan jawaban Aisyah yang sangat mencelos di hatinya.
"Kayaknya aku cuma masuk kategori tambahannya aja ya? Itupun nggak semuanya," ujar Raihan lirih.