Aisyah dapat melihat jelas sorot sendu dari wajah Raihan yang sedikit tertunduk karena jawabannya barusan. Apakah ucapannya menyakiti perasaan Raihan?
"Ahh, bukan gitu Kak. Maksud aku tuh..." Aisyah menggigit bibir bawahnya, ia sendiri tak tahu harus bagaimana menjelaskannya.
Raihan mengangkat kepalanya, menatap Aisyah. Tapi Aisyah langsung mengalihkan pandangannya karena ia takut mengagumi ketampanan Raihan yang malah akan menjerumuskannya ke dalam lautan dosa.
"Nggak papa kok. Aku bakal berusaha buat jadi Sholeh, terus jadi cowok yang nggak kasar sama punya sopan-santun kayak tipe ideal kamu. Aku yakin,"
Raihan terlihat sangat serius dengan ucapannya. Membuat Aisyah tanpa sadar tersenyum mendengarnya. Entah mengapa hatinya menghangat. Namun ia benar-benar bahagia.
Aisyah termenung, secinta itukah Raihan kepadanya? Semoga saja ia tidak akan benar-benar terjatuh hanya gara-gara ucapan cowok yang baru dikenalnya beberapa bulan itu.
Astagfirullah,
.
.
.
Bel istirahat kedua berbunyi. Semua siswa dan siswi MTs Al-Kahfi berhamburan keluar untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim, Sholat Dzuhur. Sedangkan siswi yang berhalangan dikumpulkan di lab Ipa agar tidak mengganggu siswa-siswi lain yang sedang beribadah. Dan agar lebih teratur juga. Karena kabarnya dulu sering ada siswi yang mengakui-ngaku sedang haid dan tidak melaksanakan sholat dhuha maupun sholat Dzuhur, dan setelah disuruh untuk mengecek masing-masing, ternyata banyak dari mereka yang berbohong. Makanya sekarang semua siswi yang sedang berhalangan akan dikumpulkan menjadi satu di lab IPA, lalu para guru akan berkeliling untuk mencari siswa maupun siswi yang melanggar.
Aisyah bersama dengan Zahra membawa mukena mereka ke musholla Al-Kahfi yang berada di sekolahan mereka. Setelah itu menuju tempat wudhu untuk menyempurnakan ibadah mereka sebelum melaksanakan sholat.
Di MTs Al-Kahfi hanya memiliki musholla yang cukup digunakan untuk beberapa orang saja, dan musholla itu hanya digunakan para siswi, itupun secara bergantian. Tapi para siswi tetap diharuskan berada di sekitar mushola, disediakan ruangan khusus. Mereka tetap tidak diperbolehkan ke mana-mana, seperti kantin, ataupun kelas, kalau kamar mandi memang sudah disediakan di mushola. Sedangkan para siswanya sholat di gedung serbaguna yang di lantainya di taruh tikar yang hanya khusus digunakan untuk sholat dan beberapa acara tertentu. Para siswa sholatnya berjamaah, karena memang gedung serbaguna Mts Al Kahfi cukup besar, dan juga di Mts Al Kahfi lebih banyak siswi perempuannya daripada siswa laki-laki.
Setelah selesai sholat berjamaah, sholat ba'da, dan berdoa pada Sang Ilaihi, Aisyah dan Zahra pergi ke Lab Ipa untuk menunggu Lia yang mendapatkan pengajaran dari guru. Biasanya akan dibahas tentang apa-apa yang boleh dilakukan dan yang dilarang dilakukan ketika haid, kenakalan remaja, dan berbagai hal lainnya yang tentu saja akan sangat bermanfaat bagi mereka.
Mereka berdua duduk di kursi panjang yang disediakan di luar ruangan itu. Beberapa siswi sudah keluar setelah namanya dipanggil oleh guru,
"Lia lama banget sih," gerutu Zahra pelan, karena Lia belum kunjung keluar.
"Mungkin belum absennya," jawab Aisyah selembut mungkin agar sahabatnya yang sangat sulit mengatur emosi itu mengerti.
"Iya deh,"
"Eh.. Ai, itu Kak Raihan kan?"
Zahra menunjuk ke arah lorong. Dan dengan spontan Aisyah langsung menatap sesuatu yang ditunjuk oleh Zahra. Di sana, seseorang yang sangat dikenalnya itu tengah bercengkerama dengan seorang gadis yang juga sangat dikenalnya. Sesekali mereka tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, yang pasti Aisyah benar-benar ingin tahu sekarang. Raut wajah Aisyah yang berubah membuat Zahra terkekeh geli melihatnya.
"Cie yang cemburu," goda Zahra membuyarkan lamunan Aisyah. Aisyah berdehem karena malu dengan sindiran Zahra.
"Udahlah, namanya juga cowok Playboy. Omongannya tuh udah kayak permen kadaluarsa, manis banget tapi basi," sungut Zahra
Aisyah terkekeh pelan, seenggaknya ucapan sahabatnya itu berhasil membuatnya sedikit terhibur. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya ada secercah kecemburuan yang tak layak ia berikan untuk seseorang yang bukan mahromnya, Astagfirullah.
"Assalamualaikum teman-teman Lia yang cantik. Kelamaan ya?" Akhirnya Lia datang.
"Banget," jawab Zahra sedikit menggerutu. Lebih dari lima belas menit mereka menunggu, dan Lia baru datang sekarang. Emang, kadang Zahra sangat sensian.
"Ya maaf. Soalnya tuh tadi di dalem, si Salma sama Nabila lagi ngomongin Kak Raihan sama Kak Azzam, ya Lia ikut aja deh," jelas Lia dengan suara polosnya.
"Cowok lagi," cibir Zahra.
"Ssttt, udah ya ghibahnya? Ke kelas yuk, kalian belum hafalan tugas QH kan?" tanya Aisyah tiba-tiba membuat Lia kelabakan.
"Tugas? Tugas apaan?" tanya Lia.
"Hafalan surah At- Takatsur, masa lupa sih?" sahut Zahra seolah paham jika Lia yang selalu lupa dengan tugas yang ada. Atau lebih tepatnya sengaja melupakan karena tidak ingin membebani dirinya sendiri, ya itulah yang Lia katakan.
"YA AMPUN!!! KOK KALIAN NGGAK NGASIH TAU SIHH!!" Zahra dan Aisyah menutup telinga mereka kuat-kuat, teriakan Lia benar-benar tidak main-main. Bahkan ada beberapa siswa yang menatap mereka aneh,
Lia tak menganggap semua orang yang sekarang menatap ke arahnya. Ia segera berlari untuk menghafalkan surah yang menurutnya sangat sulit dihafalkan itu.
"Temen kamu Ai," Zahra menyenggol bahu Aisyah.
"Temen kamu juga," bisik Aisyah lirih.
Mereka berdua berjalan mengikuti Lia yang sudah berlari jauh.
"Ai, kamu dulu beneran pas SD cuma 5 tahun?" tanya Zahra kepo. Karena umur Aisyah yang dua tahun dibawahnya. Dan desas-desus jika Aisyah ikut kelas akselerasi ketika masih di MI.
Siapa sangka jika Aisyah benar-benar menganggukkan kepalanya, "Iya, terus waktu TK cuma setahun gegara Umi sempet ada konflik sama guru," jawab Aisyah jujur.
"Aisyah, otak kamu terbuat dari apa sih. Udah kecepatan masuk MI, terus dapat loncat kelas lagi. Dan sekarang mau ambil kelas akselerasi juga, bisa-bisa kamu Lulus kuliah pas belum dapat KTP lagi," ujar Zahra takjub. Ia tidak menyangka bisa menjadi teman dekat gadis sepintar Zahra.
"Aku juga pengen Ai, tapi otak aku nggak mumpuni ternyata," ujar Zahra lemah.
Aisyah terdiam mendengar ucapan Zahra, sepertinya ia sudah berkata sesuatu yang membuat Zahra menjadi seperti ini.
"Anu, Zahra. Aku nggak berniat pamer ke kamu, aku beneran minta maaf, aku nggak bermaksud," ujar Aisyah tidak enak.
Namun malah membuat Zahra bingung, "Eh, gue nggak bilang kamu pamer Ai. Aku cuma pengen kayak kamu, biar bisa set sat gitu, biar cepet lulus gitu, hehe," ujar Zahra mencairkan suasana.
"Kamu pasti bisa kok Ra. Asal ada keinginan. Kamu juga pintar," ujar Aisyah menenangkan.
"Iya deh Ai. Kayaknya aku beruntung banget bisa punya temen kayak kamu. Serius,"
Aisyah tersipu mendengar ucapan Zahra, "Aku juga seneng banget kok Ra,"