Di waktu yang masih tergolong pagi ini, semua kelas sedang jam kosong karena para guru secara mendadak melakukan rapat setelah mendapatkan info dari WaKa Kesiswaan MTs Al-Kafhi. Membuat para guru dengan terpaksa meninggalkan tugas untuk para muridnya.
Tapi ya namanya murid MTs pun juga tetap manusia biasa bukan? Hanya nama sekolah mereka saja yang di Madrasah, tapi kelakuan mereka sama saja dengan murid kebanyakan.
Bukannya segera mengerjakan tugas, mereka malah menggunakan waktu yang sangat jarang seperti ini dengan ke kantin ataupun keluar kelas untuk sekadar bermain.
Di kelas Aisyah, sekarang hanya tersisa beberapa siswi di sana. Dan kebanyakan dari mereka juga sudah terlelap di tempat duduk masing-masing.
Sama dengan Zahra dan Lia, sahabat Aisyah yang juga kini sudah menaruh kepalanya di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Sedangkan Asiyah? Gadis itu mempunyai pendirian teguh untuk tidak tidur saat berada di kelas walaupun dalam kondisi kelas kosong sekalipun. Karena ia menghargai perjuangan kedua orangtua dan kakaknya yang bekerja keras agar ia bisa menjadi murid yang pintar.
Lagipula, tidur dengan posisi duduk juga tidak bagus untuk tubuh, akibatnya tubuh akan pegal-pegal setelah bangun nantinya. Apalagi sekarang juga masih menunjukkan waktu yang sangat pagi, bisa jadi kepalanya nanti menjadi pusing setelah membuka bangun. Dan karena hal itu juga, daripada tidur di dalam kelas, Aisyah lebih memilih menghabiskan waktunya untuk belajar atau menghafalkan surah-surah dalam Al-Qur'an sebagai bekalnya kelak, itu lebih bermanfaat bukan?
Lama berkutat dengan bukunya, akhirnya bel istirahat berbunyi, membuat para siswi yang tadinya terlelap itu seketika bangun karena terkejut.
Dengan wajah khas bangun tidurnya Lia membuka matanya lalu menggoyangkan pelan tubuh Zahra guna membangunkan sahabatnya yang terlihat tidak terganggu sama sekali dengan nyaringnya bunyi bel.
Lia menoleh ke belakang, pemandangan yang sangat membosankan langsung ia dapatkan dari sahabatnya satunya yang sekarang tengah sibuk dengan beberapa buku tebal di atas meja. Lia memutar bola matanya malas, lalu semakin mengguncang tubuh Zahra kuat.
Zarha berdecak lalu menatap Lia malas, "kenapa sih?!"
"Ayuk makan," rengek Lia bak anak kecil yang meminta asi ibunya.
"Udah istirahat?" tanya Zahra memastikan yang langsung diangguki cepat oleh Lia.
"Yaudah yuk,"
Lia menahan tangan Zahra yang hendak berdiri, lalu jari tulunjuknya menujuk Aisyah yang ada di belakangnya beberapa kali.
Zahra mengucek matanya yang masih sangat ingin terpejam kembali, lalu ia memutar tubuhnya ke belakang.
"Ai, ke kamar mandi yuk. Cuci tangan, cuci muka te---" ajak Zahra.
"Cuci kaki terus terus tidur," potong Lia dengan wajah polosnya. Zahra menatap Lia tajam, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum lebar dengan wajah tak berdosa.
"Terus makan," ucap Zahra.
Aisyah mengangkat kepalanya lalu mengangguk ringan.
Ketiga siswi yang sudah memasuki masa-masa remaja itu berjalan beriringan ke kamar mandi yang terletak di ujung lantai dua kelas mereka.
Setelah membersihkan wajah dan tangan, mereka bertiga keluar lalu kembali menuju kelas mereka.
Mereka membuka kotak bekal masing-masing lalu menyantapnya dengan nikmat, sesekali salah satu di antara mereka meminta lauk yang lainnya, karena mereka tahu, berbagi itu indah. Dan itu memang benar adanya.
Perbedaan ekonomi tidak membuat mereka terpecah belah, di antara mereka bertiga, hanya Zahra yang ekonominya berada jauh daripada kata menengah, karena profesi ayahnya sebagai dokter, dan ibunya sebagai designer pakaian muslim. Sedangkan Lia adalah anak yatim, ayahnya sudah meninggal sejak ia masih berusia 2 tahun, dan sekarang ibunya bekerja sebagai pegawai pabrik. Aisyah? Ayahnya bekerja sebagai pelayan di salah satu restoran terkenal di kotanya, sedangkan ibunya bekerja sebagai tukang masak di salah satu restoran juga. Jadi, mereka tidak membeda-bedakan satu sama lain.
Pertemanan bukan tentang kita yang harus menunjukkan kelebihan kita di depan mereka, tapi yang harus kita lakukan adalah dengan menunjukkan semua kekurangan kita. Dan apabila ia masih mau bertahan denganmu yang memiliki banyak kekurangan, itulah sahabat sejati yang harus kau pertahankan.
"Tumben Kak Raihan nggak ke sini?" tanya Lia dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
Secara spontan Aisyah langsung mengangkat wajahnya lalu melihat ke arah ambang pintu. Melihat itu, Zahra dan Lia terkikik geli yang membuat Aisyah langsung menundukkan kepalanya dan kembali memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.
"Humaira, Humaira," goda Zahra yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Aisyah.
Mereka kembali melanjutkan makan mereka dalam keadaan diam,
Setelah selesai dengan makanan mereka, Lia dan Zahra sudah berdiri di belakang jendela kelas untuk melihat sesuatu di bawah. Mengingat hobi Lia yang suka mengagumi wajah tampan cowok dari kelasnya, dan Zahra entah kenapa mau saja mengikuti hobi Lia itu.
Lalu tiba-tiba mereka sedikit dibuat terkejut saat melihat segerombol siswa berdiri sambil membawa papan yang dikalungkan di leher dengan berbaris berderet di sekitar lapangan voli yang memang letaknya di halaman sekolah.
"Ihh, itu kenapa sih?" tanya Zahra.
"Paling dihukum, tuh lihat ada Pak Agus," jawab Lia.
"Saya merokok di kelas saat jam kosong," Zahra sedikit membelalak setelah membaca tulisan di papan itu. Lia pun sama dibuat terkejutnya dengan Zahra.
Lalu mereka berdua saling bertatapan saat Pak Agus kembali menyeret seorang cowok untuk berbaris di samping siswa yang lainnya.
"Pantesan nggak ke kelas," ujar Zahra dengan kekehan pelan yang keluar dari mulut tipisnya.
"Ai! Sini, lihat tuh pangeran kamu," ujar Lia jahil.
Aisyah lagi-lagi harus terganggu dengan panggilan sahabatnya. Ia lantas mendongak dan menatap mereka malas,
"Ihh, ukhty nggak boleh marah lo. Itu, aku cuma ngasih tahu kalau ada berita hot, yang paling hot tentang pangeran kamu," jelas Lia, lalu kembali menatap keluar jendela.
Aisyah menghiraukan ucapan mereka. Pasti ini tentang Kak Raihan, siapa lagi kalau bukan dia?
Aisyah mengambil penanya lalu ia selipkan di kantun rok seragamnya. Ia menghampiri kedua sahabatnya, dan menempatkan dirinya di samping Zahra.
"Kenapa?" tanya Aisyah pada Zahra. Tapi Zahra malah menunjuk sesuatu di sana, mau tak mau pun Aisyah mengikuti arah tunjukan Zahra.
"Kak Raihan," gumam Aisyah lirih lalu matanya membola setelah membaca tulisan di papan yang dikalungkan di leher cowok tampan itu.
"Gimana? Hot nggak?" tanya Lia sambil mengerlingkan matanya jahil.
.
.
.
Ada sedikit rasa kecewa saat Aisyah melihat hal itu. Kenapa Raihan berani sih melakukan hal yang jelas-jelas sudah dilarang di sekolahnya itu? Apalagi mereka masih murid Mts, walaupun Raihan sudah berada di tingkat kelas paling akhir di angkatan Mts pun Raihan juga masih menjadi murid sah dari MTs Al-Kafhi.
Mendadak Aisyah menjadi kesal sendiri,
"Aku ke perpus," pamit Aisyah. Tapi langkahnya terhenti saat seorang cowok menghadang jalannya.
"Kamu dicari Bu Ina di kantor," ujar Aldi-- ketua kelas 7B, kelas yang sekarang ditempati Aisyah.
"Kenapa?"
"Soal kelas akselerasi yang bakal kamu ikuti katanya,"
Sontak Aisyah langsung berbinar mendengar ucapan Aldi,
"Iya, bentar lagi aku ke sana,"
Aldi mengangguk lalu kembali keluar dari dalam kelas.
"Lo kenapa sih?" tanya Zahra jengah saat melihat Lia tiba-tiba terlihat murung, membuat Aisyah membalikkan badannya.
"Kenapa kamu mau nerima kelas itu sih Ai?"
Aisyah mengernyit bingung sambil menatap kedua sahabatnya.
"Hmm?"
"Ya biarin lah. Seharusnya tuh kita bangga kalau Aisyah lulus seleksi, bukannya mewek kayak gini," pungkas Zahra geram.
"Iya, Lia bangga kok sama Aisyah. Untung Zahra nggak lulus seleksi, jadi kan Lia masih punya kamu hehe,"
Aisyah dan Zahra saling bertatapan,
"Oh.. Jadi elo yang doa-in gue nggak lulus seleksi pertama?!" tanya Zahra berusaha sabar.
"Ya iyalah. Kalau aku nggak berdoa ke Allah, nanti Lia nggak punya temen dong,"
"LIAAA!!!"
Lia yang baru sadar dengan apa yang diucapkannya langsung berlari menjauh sambil memohon maaf.
"Ihh, maaf Ra,"
Zahra pun juga tak tinggal diam, ia mengejar Lia yang masih berputar-putar di dalam kelas.
Sedangkan Aisyah malah terkekeh pelan melihat interaksi kedua sahabatnya. Dan beberapa detik kemudian ia baru teringat dengan Bu Ina yang menyuruhnya untuk segera ke kantor. Lantas Aisyah keluar dari kelas meninggalkan kedua sahabatnya yang masih kejar-kejaran seperti salah satu kartun berjudul 'Tom and Jerry'.
Tepat saat ia akan menuju kantor, matanya tak sengaja melirik Raihan yang masih dijemur di sekitar lapangan voli. Raihan juga menatapnya, tapi Aisyah lebih memilih memutuskan menatap lurus ke depan daripada menatap Raihan sepenuhnya. Ia harus cepat-cepat menemui Bu Ina sekarang, sebelum guru itu marah kepadanya.
Aisyah mengucapkan salam lalu masuk ke dalam kantor khusus guru wanita itu. Ia masuk setelah menemukan seseorang yang ia cari.
"Assalamualaikum Bu," salam Aisyah pada Bu Ina yang saat ini tengah berbincang dengan seorang guru yang duduk di depannya.
"Oh, iya Waalaikum salam," jawab Bu Ina dan guru itu.
"Aisyah kan?" tanya Bu Ina memastikan, dan Aisyah mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Bu, saya keluar dulu ya. Mau ngurusin masalah kelas akselerasi murid saya dulu," pamit Bu Ina seraya berdiri. Guru yang tadi berbincang dengan Bu Ina pun hanya tersenyum, tanpa membalas ucapan Bu Ina.
Aisyah tersenyum lembut, "Assalamualaikum Bu,"
"Waalaikum salam," jawab guru itu dengan senyuman di bibirnya yang semerah darah.
Aisyah berjalan mengikuti Bu Ina dari belakang.
Aisyah tak dapat menyembunyikan senyum manisnya, ia sangat senang hari ini. Usahanya belajar dengan keras akhirnya tidak berakhir sia-sia, cita-citanya untuk berada di kelas akselerasi dapat terwujud setelah melalui beberapa seleksi yang diantaranya, tea IQ, tes psikologi, dan beberapa tes lainnya.
Sebenarnya Zahra, sahabatnya itu juga ikut seleksi ini. Tapi Zahra sudah gagal lebih dulu di sesi pertama, yaitu tes IQ. Karena di kelas akselerasi atau kelas Axel ini harus mempunyai kecerdasan IQ minimal 130. Mempunyai IQ tinggi merupakan syarat utama untuk berada di kelas itu, karena kecepatan berpikir akan sangat mempengaruhi KBM nantinya. Seperti yang diketahui, kelas akselerasi mempunyai waktu lebih cepat untuk menyelesaikan study mereka di jenjang itu daripada kelas biasa.
Setelah mendapatkan persetujuan resmi dari kepala sekolah, akhirnya Aisyah akan resmi menjadi siswi akselerasi di angkatannya. Tinggal meminta tanda tangan orang tua, lalu ia hanya harus menunggu sampai ujian akhir semester satu, baru ia akan benar-benar berada di kelas yang sangat ia idam-idamkan itu.
Aslinya itu progam pendaftaran kelas ini sudah di adakan sebelum pendaftaran jalur reguler waktu itu, tapi karena ada seorang siswa yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, dan siswa menginginkan berada di kelas itu. Akhirnya guru pun melakukan seleksi sekali lagi baru-baru ini.
•••••
Di dalam kelas, segerombol siswa dengan tenang menghidupkan benda bernikotin itu dengan alat pematik. Hal yang sudah sering mereka lakukan, di saat berkumpul. Bedanya untuk hari ini mereka ingin mencoba hal ekstrem dengan merokok di dalam kelas saat jam kosong seperti sekarang.
Hanya ada segerombol pria yang sudah membentuk sebuah geng sejak 2 tahun yang lalu, sedangkan para murid yang menempati kelas itu sudah mereka usir keluar dan diancam dengan berbagai hal agar mereka tak melaporkan kelakuan cowok-cowok itu pada guru.
"Rai," cowok bernama Reza itu menyodorkan alat pematik pada temannya yang baru saja mengambil seputung rokok dari tempatnya.
Raihan tersenyum, lalu meraih benda itu dari cowok bule yang sudah sejak kelas 8 menjadi teman nakalnya. Raihan menghembuskan napasnya, membuat asap dari rokok itu keluar dengan mulusnya.
Mereka anak MTs, itu nyata. Walaupun menyandang status sebagai siswa madrasah, tak menutup kemungkinan juga kan mereka bersikap layaknya anak berandalan? Apalagi di usia mereka itu yang suka berteman secara berkelompok. Iya kalau berkelompok dengan teman-teman yang alim dan taat beragama, kalau seperti mereka? Agama saja sudah sering mereka lupakan, bahkan sholat pun hanya mereka lakukan terpaksa saat di sekolah.
"Oh, gimana kabar cewek sok alim bahan pdkt-an lo?" tanya Reza sambil terkekeh singkat kala mengingat salah satu sahabatnya itu dengan terang-terangan mendekati seorang gadis yang terlihat sangat kutu buku, dengan kealimannya yang sudah jelas tidak bisa diragukan lagi.
"Namanya Aisyah," tukas Raihan merevisi, telinganya tidak suka mendengar kata 'sok alim' dari mulut Reza.
Reza berdecak lalu terkekeh,
"Iya deh, namanya Aisyah. Gimana kabarnya?" tanya Reza lagi.
"Baik," jawab Raihan singkat lalu kembali menyesap nikotin di mulutnya.
"Lo beneran suka sama cewek kayak dia?"
"Kenapa nggak? Dia baik, cantik, alim, dan gue suka," jawab Raihan santai
"Wahhh, tipe ideal lo udah berubah ya, dari yang bohay ke cewek teroris," Reza tertawa keras.
Mendengar ucapan Reza seketika membuat Raihan berdiri dari tempatnya. Ia langsung membuang rokoknya asal. Raihan menarik kerah seragam Reza secara tiba-tiba, dan kegiatannya itu berhasil membuat teman-temannya yang lain menatapnya.
"Maksud lo apa hah?!" tanya Raihan dengan nada dinginnya.
Reza nampak terkejut, lalu terkekeh pelan.
"Wait! Wait! Wait! Wahh, lo beneran bela-in tuh cewek? Tapi kenapa sih? Emang bener kan apa yang gue bilang?"
Raihan tidak menjawab, ia menarik kerah seragam Reza semakin kuat sampai pria itu berdiri dari duduknya.
"Satu fakta yang lo harus tahu! Gue nggak suka cewek yang gue suka dihina sama cowok kayak lo! Ngerti?!"
Setelah mengucapkan kalimat sarkas itu Raihan langsung menghempaskan tubuh Reza kasar sampai cowok itu menubruk
Semua cowok yang berada di kelas itu terperanjat kaget dengan perlakuan Raihan pada Reza. Karena setahu mereka, Raihan dan Reza memiliki hubungan pertemanan yang jauh lebih baik daripada yang lainnya. Jadi, sedikit aneh kalau Raihan bisa semarah ini hanya karena ucapan Reza.
Raihan menampilkan wajah dingin dan datar yang jarang ia tunjukkan di depan teman-temannya. Ia berlalu untuk membuka pintu kelas dan ingin segera keluar dari tempat itu, tiba-tiba gerah melanda tubuhnya semenjak ucapan Reza tadi.
Tepat saat Raihan berhasil membuka pintu, ia dibuat terkejut dengan seorang guru yang sudah berdiri tepat di depannya. Wajahnya yang terlihat sangat garang langsung menciut. Juga dengan teman-temannya yang kelabakan karena kehadiran tiba-tiba guru itu.
"Astagfirullah kalian," guru itu mengelus dadanya sabar kala melihat tingkah anak didiknya itu.
"KALIAN SEMUA IKUT BAPAK!" teriak guru itu keras yang langsung pergi begitu saja dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal.
Raihan mengusap wajahnya kasar, kakinya menendang pintu di depannya keras hingga timbul suara dari sana. Teman-temannya menghampiri Raihan lalu menepuk pundaknya bergantian, kemudian keluar dari kelas,
"Udah, ikutin aja," ujar Reza menenangkan sahabatnya itu.
Raihan sudah tak bisa berkata-kata, mau tak mau ia harus menemui guru itu bersama dengan teman-temannya yang lain, ia tak ingin dicap sebagai cowok pengecut karena lari dari hukuman.
.
.
.
Di sinilah mereka sekarang, di bawah panasnya terik matahari mereka menerima hukuman.
Mereka berdiri di sekeliling lapangan voli sambil membawa sebuah papan putih lumayan besar yang dikalungkan di leher mereka. Mereka sudah menjadi bahan tontonan selama 10 menit sejak mereka berdiri di sana.
Mereka yang terdiri dari 18 siswa itu hanya menunduk menahan malu, tapi mereka tak akan diam saat ada seseorang yang menghina mereka secara terang-terangan.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Raihan datang paling akhir karena ia baru selesai mendapat teguran keras dari para guru BK. Matanya sempat terpejam karena merasa silau dengan cahaya matahari yang menyeruak ke netranya.
Ada sedikit rasa menyesal dalam diri seorang Raihan Afnan Nasir itu, menyesal dengan janji yang ia ucapkan pada seseorang beberapa hari yang lalu. Janji yang mengungkapkan kalau ia akan pergi sejauh-jauhnya dari hal-hal yang bisa menjauhkannya dari jalan kebenaran.
Tepat saat Raihan membuka matanya, seseorang yang baru saja ia pikirkan tengah berjalan ke arah ruang guru. Netranya menatap harap gadis yang diam-diam mencuri pandangannya.
Entah kenapa rasanya hatinya sedikit tercubit melihat gadis yang sering ia panggil 'Humaira' itu mengacuhkannya. Walaupun hampir setiap saat gadis itu tak menganggapnya, tapi kali ini terasa menyedihkan karena ia sekarang sudah berbuat kesalahan yang sudah pasti bisa membuat gadis itu kecewa padanya.
Entah kenapa Raihan bisa berpikir demikian, mungkin karena hatinya sudah benar-benar terpikat oleh sejuta pesona seorang Humaira Aisyah Nafiza.
.
.
.
Sudah ada lebih dari tiga jam Raihan dan teman-temannya dijemur di bawah teriknya panas matahari. Tinggal beberapa menit lagi mereka berdiri sambil menunggu wali mereka selesai bertemu dengan guru BK dan KepSek. Yes, panggilan orang tua.
Raihan memejamkan matanya erat kala rasa pening hinggap di kepalanya, tapi ia masih bisa menahannya. Lalu matanya kembali terbuka saat suara adzan dari musholla sekolah terdengar dengan begitu nyaringnya. Bersamaan dengan hal itu, seorang guru yang sudah berusia separuh abad itu berdiri di tengah-tengah mereka.
"Assalamualaikum warrohmatullahi wabarakatuh,"
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh," balas para siswa serentak.
Di saat guru itu memulai ceramahnya, Raihan malah terlihat fokus menatap seorang gadis yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya. Ia melihat kedua teman gadis itu menatapnya tajam, tapi tidak dengan gadis incarannya. Gadis cantik bernama Aisyah itu menatap lurus ke depan, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. Ia sama sekali tak menganggap tatapan tajam Lia dan Zahra, tapi yang membuat dirinya takut adalah karena Aisyah terlihat enggan untuk meliriknya. Dan akhirnya berakhir dengan ketiga gadis itu yang akhirnya masuk ke dalam musholla.
Lamunan Raihan terpecah kala ia merasa bahunya di tepuk pelan dari samping.
"Yuk,"
Raihan manatap siswa di sampingnya sayu,
"Kita disuruh sholat dulu. Baru ke ortu," jelas siswa bernama Arkash itu.
Raihan menghela napas berat, lalu mengikuti langkah Arkash ke arah gedung yang berada di bangunan paling depan madrasah.
Raihan dan teman-temannya berada di barisan sof paling belakang karena mereka tadi datang setelah iqamah. Mereka bahkan wudhu secepat kilat agar tidak sampai masbuk. Setelah berdzikir sebentar lalu diakhiri dengan do'a, segerombol siswa kelas 9 itu langsung keluar tanpa harus repot-repot sholat sunnah ataupun berdoa lagi sebagai tambahan ibadah mereka.
Indra pengelihatan Raihan seolah terpaku pada beberapa gadis berhijab yang melewatinya. Tepatnya pada seorang gadis yang mempunyai wajah putih cerah itu. Tak seperti biasanya, gadis yang biasanya terlihat malu-malu itu terlihat dingin, sepertinya. Bahkan kedua siswi yang berada di kanan kirinya-- yang biasanya menyapanya pun terlihat acuh kepadanya.
"Cewek lo marah tuh kayaknya," sindir Reza dengan senyum mengejeknya. Raihan diam, sama sekali tak menyangkal ucapan Reza, karena ia dapat melihat sendiri bagaimana tatapan gadis itu saat mata mereka tak sengaja bertemu.
Gila! Ini bukan kali pertama Raihan mengalami jatuh cinta. Tapi, ini pertama kalinya Raihan menyukai gadis se-misterius Aisyah. Misterius? Itu hanya anggapan Raihan saja, karena ia memang belum sedekat itu dengan Aisyah, dan sepertinya tak akan sedekat seperti dengan apa yang ia bayangkan.
"Raihan!"
Seketikan lamunan Raihan hilang kala mendengar namanya terpanggil. Ia bahkan tak sadar kalau sekarang kakinya sudah berpijak pada lantai luar ruang BK.
"Raihan!"
Raihan menoleh, Irsyad« ayah Raihan berdiri dengan wajah datar penuh amarah. Sedangkan Raihan hanya bisa menunduk dalam,
"Ikut Ayah pulang!" ucap Ayah Irsyad tajam lalu berbalik meninggalkan Raihan.
"Gue pulang dulu Han," ucap Arkash sambil menepuk pelan bahu Raihan. Raihan mengangguk ringan sebagai balasan.
.
.
.
Raihan hanya menunduk takut, ayahnya terlihat sangat marah setelah keluar dari ruang BK tadi. Ini memang bukan pertama kalinya untuk Raihan mendapat masalah di sekolah sampai orang tuanya harus di panggil ke madrasah.
Ayah Irsyad langsung keluar begitu saja dari mobil setelah sampai di halaman rumah mereka yang luas. Meninggalkan Raihan yang masih kalut dengan pikirannya.
Raihan keluar dari mobil mengikuti langkah ayahnya masuk ke dalam rumah. Pintu terbuka karena salah satu asisten rumah tangga di rumahnya sedang menyapu halaman rumah.
Wanita berhijab syar'i berusia sekitar 35 tahunan itu menyandarkan sapu lantainya di tembok saat menyadari kehadiran putra dan suaminya.
"Loh, Ayah sama Raihan kok udah pulang?" tanya Hara» ibu Raihan.
Ayah Irsyad menoleh sinis ke arah Raihan yang baru saja mendudukkan diri di atas sofa. Hara paham arti tatapan suaminya, ia juga menatap tajam ke arah Raihan.
"Kenapa lagi sih nak?" tanya Mama Hara, suaranya terdengar lembut kepada putra sulungnya itu.
"Maaf Ma,"
"Kamu pengen Mama cepet pergi ya?"
Spontan Raihan dan Ayah Irsyad menoleh bersamaan pada wanita tercinta mereka di rumah ini.
"Mama ngomong apa sih?!" tanya Ayah Irsyad.
Raihan membelalak kaget, "Ma!"
"Astagfirullah, Ya Allah maafkan hambamu ini. Maaf Yah, Rai," lirih Mama Hara sembari memohon ampun pada Sang Pencipta.
Irsyad merangkul bahu Hara yang mulai melemah, "Kamu Rai...hiks...kamu nggak sayang lagi sama Mama Kak? Mama udah sakit-sakitan, tapi kamu malah kayak gini. Mama sama Ayah sekolahin kamu di madrasah supaya kamu jadi anak yang bener nak, astagfirullah... "
Irsyad menatap tajam Raihan, "Lihat Raihan! Kamu itu nyusahin terus. Papa kerja buat kamu, sekolahin kamu, semua buat kamu! Masih mau apa lagi kamu hah?! Ayah selalu nahan amarah Ayah karena ibu kamu. Sekarang Mama nangis, kamu nggak kasihan?!"
Raihan hanya bisa menunduk takut, ia juga benar-benar merasa bersalah sekarang, "Maaf Yah,"
"Mama nggak pernah larang kamu berteman sama siapapun Kak. Mama sayang sama Kakak," Hara masih menahan isak tangisnya.
"Terus Aza. Dia mencontoh...hiks Kakak sama Ayahnya. Terus kamu mau Aza kayak kamu?!!" ucap Hara lirih, tapi nada suaranya yang terdengar kecewa. Lalu ia berlalu pergi dari ruang tamu.
"Tawuran? Bolos? Ngerokok? Apalagi nanti?" tanya Ayah Irsyad.
"Maaf Yah," Hanya kata itu yang bisa Raihan ucapkan sekarang.
"Kamu diskors dua hari. Pakai dua hari itu buat merenung," ujar Ayah Irsyad lalu pergi.
Raihan masih menunduk dalam. Mungkin ia sudah berkali-kali membuat masalah, tapi ini pertama kalinya ibunya semarah ini kepadanya, bahkan sampai mengucapkan kata-kata yang sangat anti untuk ia dengarkan.
"Maafin Rai Ma, Yah.... Ai,"
.
.
.
Aisyah benar-benar tak bisa fokus sekarang. Pikirannya melayang kemana-mana. Bahkan ia sudah menyempatkan diri untuk mendengarkan murrotal Qur'an selama 15 menit, tapi tetap hatinya belum bisa sepenuhnya tenang.
Inilah yang selama ini Aisyah takutkan. Mencintai seseorang. Dua kata yang selalu bisa membuat hati menjadi guncah, bahkan sampai bisa melupakan-Nya yang menciptakan perasaan itu.
Aisyah tak bisa memastikan perasaannya saat ini, tapi setelah paham dengan apa yang ia rasakan, ia menjadi semakin yakin kalau ia sudah terpikat oleh pesona Raihan, kakak kelas yang baru beberapa bulan ini ia kenal.
Aisyah takut, diusianya yang baru saja menginjak 11 tahun ini untuk menyukai seorang akhwat. Aisyah sendiri juga merasa kalau dirinya masih terlalu muda untuk memahami perasaannya. Bahkan ia baru akan mengalami masa puber.
"Ai!" panggil Fauzan» kakak Aisyah yang sekarang tengah memandangi adik perempuannya itu bingung. Namun masih tak ada respon. Gadis kecil itu masih sibuk berkelana dengan pikirannya. Bahkan sepertinya Aisyah belum menyadari kehadirannya di kamar gadis itu.
"Melamun itu mudah dipengaruhi setan lo," bisik Fauzan jahil di samping telinga adiknya. Sontak Aisyah terperanjat kaget, sampai-sampai ia melemparkan buku yang tadi akan ia baca.
"Ihh, Kak Fau ngapain sih di sini?" geram Aisyah sambil mengerucutkan bibirnya imut.
"Loh, kok Ai yang marah sih. Katanya mau belajar, kok malah ngelamun sih. Inget kata Abi, Ai sayang," ujar Fauzan gemas.
"Kakak tau apa yang ada dipikiran kamu. Kakak tidak melarang kamu, tapi kamu harus ingat batasannya. Jangan sampai mempermalukan diri kamu sebagai perempuan, apalagi sampai mempermalukan orang tua dan keluarga, apalagi sampai melebihi rasa cintamu pada Sang Ilahi. Fokus kamu sekarang belajar, jangan yang lain!"
Ucapan Fauzan seakan sangat tepat dan menusuk ulu hatinya. Aisyah langsung beristigfar dalam hati kala mengingat kebodohannya.
"Maaf Kak," cicit Aisyah malu.
Fauzan terkekeh pelan. "Belajar gih, kakak tungguin,"
"Ngapain ditungguin? Emang kakak nggak ada hapalan Hangul?"«kosa kata bahasa korea»
"Udah tadi,"
"Kakak kapan berangkatnya?"
"Belum tau sih. Kayaknya bulan ini, soalnyakan semuanya udah beres, tinggal tunggu panggilan aja,"
Aisyah mengangguk paham, lalu mengalihkan pandangannya ke buku tebal di atas meja belajarnya. Sedangkan Fauzan merebahkan tubuhnya di atas kasur adiknya.
"Fokus Ai!!" geram Aisyah lirih. Ia melirik kakaknya sekilas, berharap kalau kakaknya tak mendengar ucapannya.
.
.
.