Pagi-pagi sekali Raihan tiba di sekolah, hanya untuk menemui seseorang yang terus berputaran di pikirannya. Sekarang ia sudah berada di gerbang sekolah, tanpa ke kelas. Karena biasanya seseorang itu sudah datang di jam-jam segini.
15 menit berlalu, murid-murid MTs Al-Kahfi sudah memenuhi gerbang masuk ke madrasah, dan hal itu semakin membuat Raihan fokus dengan tujuannya. Banyak orang yang menatapnya bingung, biasanya seorang Raihan Afnan Nasir suka datang terlambat di hari-hari aktif seperti hari ini. Dan merupakan hal yang mengejutkan saat melihat cowok berparas tampan itu sudah tiba sebelum murid-murid lain tiba.
Bel sudah berbunyi, dan tepat setelahnya seseorang yang Raihan cari sekarang sedang berlari cemas masuk ke dalam, sebelum gerbang masuk di tutup.
Raihan tak tinggal diam, ia berusaha mengejar gadis itu dengan sesekali memanggil namanya.
"AISYAH!" panggil Raihan keras sampai gadis itu menghentikan langkahnya dan menoleh untuk mencari sumber suara yang memanggil namanya.
"Kak Raihan," lirih Aisyah kaget. Ia sudah tidak melihat cowok itu selama beberapa hari ini. Rindu? Mungkin saja.
Raihan tersenyum tipis lalu berlari mendekati Aisyah. Napasnya tersengal ringan,
"Kamu marah?" tanya Raihan langsung setelah ia berdiri di depan gadis pujaannya itu.
Aisyah nampak seperti orang linglung. Gadis itu bingung dengan pertanyaan kakak kelasnya,
"Kamu marah?" ulang Raihan.
"Soal masalah kemarin,"
Senyuman tipis terbit cantik di kedua ujung bibir Aisyah. Ia menatap Raihan dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.
"Punya hak apa aku marah sama kakak?" tanya Aisyah yang langsung membuat Raihan bungkam.
"Nanti lagi aja ya kak. Udah masuk, assalamualaikum," pamit Aisyah lalu pergi meninggalkan Raihan.
"Hak?" tanya Raihan lirih pada dirinya sendiri.
Raihan tertawa samar, "dia siapa lo sih?!"
.
.
.
Raihan menemui Aisyah ke kelas gadis itu. Aisyah bersama dengan kedua temannya masih sibuk makan bekal mereka masing-masing. Sedangkan Raihan hanya diam saja sambil memandang Aisyah yang terlihat menggemaskan ketika sedang makan. Rona kemerahan mulai terlihat dari pipi putih Aisyah, Raihan ingin mengelusnya, tapi ia tahu kalau Aisyah pasti tidak akan menyukainya.
Tatapan mengintimidasi dari Zahra dan Lia sama sekali tidak membuat Raihan terganggu, ia sibuk dengan dunianya sendiri.
"Kak Raihan," panggil Lia yang terlihat geram. Bukan Raihan yang menoleh, tapi Aisyah yang entah kenapa malah menoleh saat mendengar nama cowok di sampingnya terpanggil.
"Woy!" Kini ganti Zahra yang geram saat Raihan bukannya menoleh dan menanggapi panggilan Lia, malah cowok itu terlihat semakin intens menatap Aisyah yang terlihat malu-malu.
Dasar cowok bucin!
"Kak Raihan!!!!" teriak Lia kesal.
"Apa?" Dengan santainya Raihan membalas tanpa menolehkan kepalanya
"Biasa aja sih natap Aisyah-nya. Aisyah malu tau," ungkap Lia tiba-tiba membuat kedua pipi Aisyah tambah bersemu merah.
Raihan menatap Aisyah lekat, membuktikan kalau ucapan Lia. Dan benar saja, gadis itu sekarang menghadap ke depan sembari menahan senyumnya. Dan hal itu terlihat sangat-sangat menggemaskan.
"Malu ya?" tanya Raihan.
"Aisyah kan emang gitu," jelas Zahra santai.
"Aisyah kan suka malu-malu kucing," ungkap Lia polos.
"Lia!" ucap Aisyah lirih, ia malu karena kedua temannya dan kakak kelasnya itu terlihat senang menggodanya.
"Jangan marah dong," goda Raihan dengan wajah imutnya.
"Aku beneran marah nanti," cebik Aisyah pelan membuat Raihan tersadar dengan kelakuannya.
"Berarti yang kemarin itu nggak marah dong?" tanya Raihan.
Aisyah menaruh tempat makannya ke dalam tas, lalu menatap Raihan yang duduk di sampingnya. Agak canggung juga sih, jadi ia memundurkan kursinya ke belakang. Kedua sahabat Aisyah pun sepertinya juga menunggu respon Aisyah pada pertanyaan Raihan.
"Kenapa Kak Rai nanya begitu ke Ai?" tanya Aisyah dengan raut wajah mengintimidasinya.
"Kenapa?" ulang Raihan, lalu kepalanya menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Ai boleh tanya nggak?" tanya Aisyah.
Raihan mengangguk cepat.
"Kenapa Kak Rai ngerokok?"
Raihan diam, raut wajah Aisyah terlihat berbeda dari biasanya. Walaupun nada bicaranya masih terdengar kalem, tapi Raihan seperti merasa kalau yang di hadapannya ini bukan Aisyah yang ia kenal. Raihan malah merasa kalau gadis itu adalah copy paste dari Mamanya, mereka terlihat sama persis kala tengah marah, seperti ingin memarahinya tapi dengan cara lain.
Tak mendapatkan jawaban dari Raihan, Aisyah mengalihkan pandangannya ke arah kedua sahabatnya yang terlihat seperti menunggu jawaban dari Raihan.
Aisyah tersenyum manis,
"Orang tua Kak Rai marah nggak sama kakak?" tanya Aisyah lagi, dan Raihan mengangguk kecil.
"Orang tua Kak Rai nyuruh buat jauhin temen-temen kakak nggak?"
Raihan mengangguk.
Zahra dan Lia yang berada di belakang Aisyah dan Raihan berusaha menahan tawa saat melihat ekspresi Raihan. Raihan seperti seorang anak kecil yang tengah mendapat nasihat dari ibunya, sedangkan Aisyah berperan sebagai ibunya.
"Berarti mereka sayang dong sama kakak?"
Raihan mengangguk.
"Sekarang aku boleh kasih nasihat nggak?" tanya Aisyah, dan Raihan masih mengangguk sebagai jawabannya.
"Aisyah tahu kok, pasti berat kan kalau kita disuruh menjauh sama orang-orang yang selalu ada saat suka-duka kita?" Aisyah menghela pelan. "Tapi Kak Rai tahu nggak, ridho Allah itu ada pada ridho orang tua. Artinya, Allah akan meridhoi seorang kita kalau kita berbakti sama orang tua, atau kalau kita sudah membuat orang tua kita dapat percaya dengan diri kita. Menepati amanah itu sulit, tapi seenggaknya kita sudah berusaha untuk menjaganya. Sama seperti orang tua kita, mereka membangun sebuah kepercayaan kepada anak-anak mereka itu mudah, tapi apa yang kita lakukan? Menghancurkannya seakan itu bukanlah hal yang penting,"
"Ai!"
Kelas yang hanya berisi 4 orang itu mendadak senyap, Aisyah menghentikan ucapannya saat mendengar namanya terpanggil. Ia menatap ke ambang pintu, Aldi berdiri kikuk di sana.
"Kenapa Di?"
"Emm..itu, kamu dipanggil Bu Ina," ujar Aldi gugup.
"Oh iya, makasih," balas Aisyah lembut. Aldi berlalu pergi setelah menyampaikan amanah dari guru kelasnya itu.
Mendadak Aisyah menjadi gugup. Ia merasa bodoh karena sudah menceramahi laki-laki yang sudah jelas merupakan kakak kelasnya, pasti Raihan sudah menganggapnya sebagai bocah yang sok pintar.
"Emm kak..."
"Makasih ya," Raihan tersenyum lebar.
"Makasih nasihatnya,"
Aisyah masih mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Oh ya, kamu mau ke ruang guru kan?" tanya Raihan mengalihkan pembicaraan.
"I..iya,"
"Mau bareng gak? Soalnya tadi aku disuruh ke ruang guru buat ambil buku modul UN," jelas Raihan.
Aisyah mengangguk kecil. Dunia memang berputar, tadi ia yang bisa dengan gamblangnya membuat Raihan gugup karenanya, sekarang ganti dirinya yang dibuat gugup plus malu karena ulahnya sendiri.
Raihan bangkit dari tempat duduknya lalu keluar dari kelas, diikuti Aisyah di belakangnya.
Lia dan Zahra menatap kepergian kedua manusia berbeda gender itu.
"Ra," panggil Lia. Zahra menoleh ke samping,
"Itu beneran temen lo?"
Zahra mengangguk antusias.
"Dia beneran bocah sebelas tahun Ra? Otaknya segede apa sih?" tanya Lia membuat Zahra terperangah tak percaya. Zahra menjitak pelan kepala Lia yang terbalut hijab putih itu.
"Sakit Ra," keluh Lia.
"Lo lihat ekspresinya Raihan nggak tadi?" tanya Zahra lalu ia tertawa keras.
"Itu kakak kelas lo bocah,"
"Lo juga bocah kalau lo lupa. Lo sama gue masih tua gue," ujar Zahra dengan penuh percaya diri
"Selisih seminggu aja bangga," cubir Lia lirih.
"Ra, kita sama Aisyah tua kita tauk. Kok dia lebih pintar dari kita sih?!" tanya Lia dengan tampang bodohnya.
"Otak cewek cantik mah beda Li,"
"Berarti gue b**o dong?" tanya Lia polos.
.
.
.
Esok harinya....
"Ai, aku boleh nggak. Setiap satu hari tanya sesuatu sama kamu?"
Aisyah mendongak, keningnya mengernyit sebentar, lalu ia mengangguk.
"Boleh,"
"Kamu masih sibuk?" tanya Raihan saat melihat Aisyah kembali membaca bukunya.
"Mulai hari ini?" tanya Aisyah.
"Nggak papa kan?" tanya Raihan balik untuk memastikan
"Nggak papa juga sih,"
Raihan tersenyum lebar dengan respon Aisyah. Ia menutup buku yang tadi ia baca, lalu menatap Aisyah lekat.
"Menurut Aisyah, aku cocoknya nanti jadi apa?"
"Maksudnya?"
"Maksud aku. Profesi yang cocok buat aku itu apa?"
"Ooh, kakak lagi mikir soal cita-cita ya?"
Raihan terkekeh ringan, lalu mengangguk.
"Emmm... Kak Raihan.." Aisyah menatap Raihan dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik. "Jadi dokter atau direktur deh kayaknya cocok deh,"
"Dokter? Direktur?"
Aisyah mengangguk antusias,
"Alasannya?" tanya Raihan.
Aisyah mengetuk pilipisnya, sepertinya gadis itu sedang berpikir tentang jawaban untuk pertanyaan Raihan.
"Ya cocok aja sih," jawab Aisyah.
"Cuma gitu?" tanya Raihan.
"Ya kan kalau direktur itu kelihatan banget gitu wibawanya, terus juga...kayaknya itu cocok deh sama kepribadian kakak,"
"Emang aku berwibawa?"
"Emang nggak ya?" tanya Aisyah polos. Raihan terkekeh pelan.
"Berarti kalau jadi direktur harus pintar pelajaran IPS ya?" tanya Raihan serius.
"Ekonomi sih lebih tepatnya," jawab Aisyah.
"Kalau jadi dokter harus bisa IPA ya?"
"Iya, lebih tepatnya biologi," jawab Aisyah.
"Kenapa aku cocok jadi dokter?" tanya Raihan lagi.
"Soalnya dokter itu punya tugas yang mulia, membantu orang sakit," jawab Aisyah setahunya saja.
"Kayaknya nggak cocok deh," sangkal Raihan lirih.
Aisyah terkekeh kecil menanggapi ucapan Raihan.
"Kalau Aisyah?" tanya Raihan
Aisyah menunjuk dirinya sendiri. "Aku?"
"Cita-cita kamu?" tanya Raihan.
"Membahagiakan Umi, Abi, sama Kak Fauzan,"
"Yang lebih spesifik?"
"Lihat mereka tersenyum karena Aisyah,"
"Kamu paham maksud aku Ai," ucap Raihan mulai kesal. Dan Aisyah terkekeh kecil melihatnya.
"Belum kepikiran. Kan Aisyah masih kelas tujuh, masih lama kali kak," jawab Aisyah polos. Raihan tertawa pelan.
"Terus kalau aku jadi dokter. Cocoknya dokter apa?" tanya Raihan.
"Nggak tahu kalau itu. Soalnya kan Aisyah tahunya cuma dokter THT, dokter mata, sama dokter umum doang," jawab Aisyah.
Lagi-lagi Raihan dibuat tertawa dengan ucapan polos Aisyah. Beberapa siswi yang berada di perpustakaan itu juga tertawa geli mendengarnya. Dan hal itu membuat Aisyah sedikit malu,
"Aisyah salah ngomong ya?" tanya Aisyah lirih.
Raihan menggeleng pelan, ia masih belum menghentikan tawanya.
"Ihh Kak Rai," desis Aisyah kesal.
"Jangan marah dong. Bercanda doang," bujuk Raihan.
"Cewek lo polos banget Rai!" ejek Tika, teman sekelas Raihan yang langsung disambut tawa dari semua orang yang ada di dalam ruangan penuh buku itu.
Aisyah juga ikut tertawa kecil, agar tidak terlihat terlalu malu.
"Kak Rai," panggil Aisyah lirih. Berharap cowok itu dapat membantunya. Mata gadis itu juga sudah berkaca-kaca, mungkin sebentar lagi buliran bening akan keluar dari kelopak mata indahnya.
Raihan terkejut melihatnya, ia pun menatap Tika tajam. Semua yang tadinya tertawa langsung diam saat melihat tatapan maut dari bad boy-nya MTs Al-Kafhi.
"Kalau aku maunya jadi dokter hati aja," ucap Raihan. Berharap Aisyah akan merespon ucapannya.
Dan benar saja, gadis itu langsung mendongak menatap Raihan.
"Dokter spesialis hati? Dokter organ dalam ya?"
Raihan tertawa pelan, tangannya terulur mengusap kepala Aisyah yang tertutupi jilbab.
"Cantik,"
.
.
.
Raihan terlihat bahagia, senyum lebar tak luntur-luntur dari bibirnya.
Sekarang Raihan tengah menelfon seseorang, belum juga mendapat balasan tapi ia sudah merasa jantungnya berdebar cepat sejak tadi.
Akhirnya, teleponnya sudah tersambung.
"Assalamualaikum," ucap Raihan gugup.
"Waalaikumsalam. Ini siapa?"
Deg!
Suara laki-laki,
"I..ini siapa?" tanya Raihan balik.
"Kamu suka sama Aisyah?"
Terlalu tiba-tiba. Raihan benar-benar dibuat mematung di tempatnya berpijak.
"Kamu mau saya kasih tahu sesuatu?" tanya pria diseberang.
.
.
.