Hari demi hari berlalu. 10 pertanyaan sudah Raihan tanyakan pada Aisyah setiap harinya. Semua pertanyaan yang Raihan tanyakan pasti tentang hal-hal yang penting di hidup cowok itu, mulai dari cita-cita, agama, sampai wanita.
Dan tepat setelah pertanyaan ke sepuluh itu, Raihan sudah tak menemui Aisyah selama seminggu penuh. Entah apa yang Raihan lakukan, tapi Aisyah merasa kalau pria itu menghindarinya.
Sekarang Aisyah sedang berada di perpustakaan, menunggu kehadiran seseorang yang tak muncul sejak satu minggu yang lalu. Matanya seolah tak bisa fokus pada buku di hadapannya, beberapa kali Aisyah melirik ke arah pintu masuk, tapi tak ada tanda-tanda seseorang yang ia tunggu datang.
Akhirnya Aisyah memutuskan kembali ke kelas daripada ia malah melamun di sana, seenggaknya Lia dan Zahra akan mengajaknya bicara saat di kelas.
Belum sampai di kelas, terlihat sosok yang ia cari baru saja keluar dari ruang guru. Raihan terlihat berjalan ke arah Aisyah, dan hal itu membuat Aisyah diam menunggu kedatangan Raihan.
"Tadi nunggu aku?" tanya Raihan.
Pipi Aisyah bersemu merah mendengar pertanyaan Raihan, ia lantas menunduk karena malu. Dan Raihan hanya bisa terkekeh kaku untuk merespon gadis itu,
"Aku boleh tanya lagi?" tanya Raihan yang membuat Aisyah mendongakkan kepalanya.
"Boleh," jawab Aisyah dengan senyum manisnya.
"Kamu mau jadi pacar aku?" tanya Raihan spontan.
Deg!
Aisyah membelalakkan matanya kaget, matanya membola sempurna mendengar pertanyaan Raihan. Jantungnya berdebar cepat. Bagaimana bisa Aisyah bersikap biasa saat seseorang yang sering mencuri perhatiannya bertanya seperti itu kepadanya? Bagaimana caranya?
"Kak Rai..." lirih Aisyah.
Raihan tersenyum tipis, ia tahu kalau hal ini pasti akan terjadi. Ia menatap Aisyah sendu, tatapannya benar-benar sangat sulit diartikan.
"Aku udah tahu kok jawaban kamu," ucap Raihan.
"Selama ini aku pasti udah ganggu kamu kan? Maaf ya," tanya Raihan.
Mata Aisyah mulai memerah, gadis itu menggeleng cepat.
"Kak Rai..." lirih Aisyah.
"Makasih ya udah baik sama aku. Aku bakal berusaha buat jauhin kamu kok, tenang aja,"
Terdengar helaan pelan dari Raihan. Namun senyum lebar yang Raihan paksakan masih terlihat jelas.
"Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum,"
Raihan pergi. Raihan meninggalkan Aisyah begitu saja. Berbagai pertanyaan mulai muncul di otak pintar Aisyah.
Apa yang sudah ia lakukan?
Apa ia sudah menyakiti perasaan cowok itu?
Apa ia yang sudah membuat cowok itu berharap lebih kepadanya?
Apa ia penyebabnya?
Apa ini salahnya?! Ya! Pasti ini kesalahannya!
Aisyah hendak pergi, tapi Raihan membalikkan badannya membuat langkah Aisyah tertahan.
"Tapi kamu tunggu aku ya. Nanti aku pasti datang lamar kamu kok, janji. Jadi, tunggu aku ya," ujar Raihan tegas dan yakin. Cowok itu juga masih sempat-sempatnya tersenyum lebar di saat hatinya sudah hancur tak berbentuk karena jawaban tak terucap Aisyah. Lalu ia membalikkan badannya, menyembunyikan raut muka kecewanya dari Aisyah yang masih mematung.
Sekarang Raihan benar-benar pergi meninggalkan Aisyah. Dan Aisyah benar-benar tak bisa menahan air matanya. Ia berlari ke kamar mandi, menangis dalam diam di salah satu bilik di sana.
Gadis yang masih berusia 6 tahun pun pasti tahu tentang besarnya pengorbanan untuk sekadar perasaan cinta. Tapi, mereka tak tahu kalau perasaan mereka itu hanyalah cinta monyet belaka. Perasaan yang belum tentu terbalas, karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta antara seorang suami dengan istrinya, itu yang sah menurut agama. Walaupun hanya cinta monyet, tapi perasaan belaka itu dapat menimbulkan rasa suka yang sangat mendalam saat bertemu dirinya, dan rasa sakit yang tak terkira ketika ia pergi menjauh.
Aisyah tahu betul apa itu pacaran. Agamanya melarang pacaran, tapi disisi lain ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan cowok yang sudah berbulan-bulan ini mengisi hari-harinya. Makanya tadi ia hanya diam, seseorang yang menyukainya adalah orang yang sama dengan orang yang ia sukai. Apa yang akan ia lakukan?
Aisyah tidak tahu. Semoga semua ini tepat, semoga tak ada kata penyesalan yang mungkin akan bersarang di hati dan pikirannya. Hanya itu yang Aisyah harapkan.
Dan lagi. Semoga Raihan tidak akan berubah lagi setelah kejadian ini,
.
.
.
10 Tahun Kemudian
Semuanya terlihat berbeda daripada beberapa tahun silam. Gadis yang dulunya suka memakai hijab itu sudah bertambah istiqomah dengan memakai niqab yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
Semua yang ia pakai serba warna gelap, mulai dari jilbab, niqab, dan pakaiannya. Alasan klise, karena gadis itu tidak terlalu suka mencolok dan menjadi pusat perhatian.
Ia berlari kecil menghampiri sang kakak yang sudah berjalan cepat sambil membawa kopernya. Gadis itu menepuk pelan bahu kakaknya saat sudah berhasil berjalan di samping pria tampan itu.
"Ai!"
Gadis bernama lengkap Humaira Aisyah Nafiza itu hanya tertawa kecil mendengar geraman Fauzan.
Setelah sampai di luar Airport, seorang supir taksi online pesanan Fauzan sudah terlihat menunggu di sana. Fauzan berbincang sebentar dengan pria yang masih terlihat muda itu untuk memastikan kecocokan pesanannya. Lalu setelah semuanya sudah pasti benar, Aisyah dan Fauzan langsung masuk ke dalam mobil.
Perjalanan jauh dari luar negara
membuat tubuh kedua kakak beradik itu seakan remuk. Kantuk mulai mendera, Aisyah menyandarkan kepalanya di bahu Fauzan yang sudah tertidur lelap.
Sekitar dua jam lebih akhirnya mobil itu tiba di rumah yang sudah sangat lama tidak Aisyah kunjungi. Aisyah meninggalkan Fauzan yang tengah mengambil kopernya di bagasi mobil.
Empat tahun lebih Aisyah tidak menginjakkan kakinya di bumi kelahirannya ini. Tangis haru mulai terdengar ringan dari bibirnya. Aisyah langsung masuk ke dalam rumah, semuanya juga sudah berubah, rumah sederhana itu berubah menjadi rumah yang lumayan besar semenjak ia melanjutkan pendidikannya di Australia.
"Ai!" pekik Hasna» Umi Aisyah girang lalu memeluk sang putri yang masih berdiri di ambang pintu.
Balqis» istri Fauzan, dan Adnan» Abi Aisyah ikut berdiri menyambut adik ipar dan putri kecilnya yang terlihat berubah total. Wajah Aisyah yang tertutup niqab membuat mereka semua berdecak kagum melihat keistiqomahaan putri kecil mereka.
"Assalamualaikum Umi" Aisyah melepaskan pelukan umi-nya, meraih telapak tangan Umi Hasna lalu menciumnya kasih. Air mata Aisyah menetes di atas punggung tangan Umi Hasna. Hal itu membuat haru keadaan keluarga Adnan Al-Azzam.
"Waalaikumsalam. Anak Umi udah besar, istiqomah ya sayang,"
Umi Hasna mengecup singkat kening Aisyah yang tertutup jilbab.
"Sama Abi nggak kangen?" tanya Abi Adnan jahil, Aisyah yang mendengar godaan abinya langsung mengangkat kepalanya dan beralih pada pria paruh baya itu.
Aisyah mencium punggung tangan Abinya. "Assalamualaikum Abi,"
"Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh anak Abi,"
Aisyah memeluk manja tubuh Abi Adnan. Lalu Aisyah mendongak lagi saat menyadari ada orang lain di samping Abinya.
"Itu Kak Balqis ya?" tanya Aisyah sembari melepas pelukannya pada Abi Adnan.
"Iya nak," jawab Abi Adnan.
Aisyah menoleh ke belakang, menatap kakaknya jahil lalu menatap Balqis yang juga menatapnya. Sedangakan Fauzan yang menyadari tatapan adiknya pun ikut menatap Balqis.
"Kakak pinter banget sih cari kakak ipar buat Ai. Pantes aja nggak mau Ai ajak liburan," goda Aisyah membuat pipi Balqis bersemu merah dan Fauzan mendelik mendengarnya.
"Apaan sih Ai,"
Semua orang yang ada di rumah itu terkekeh mendengar decakan Fauzan, kecuali Fauzan sendiri tentunya.
Aisyah berjalan mendekati Balqis yang masih menunduk malu.
"Assalamualaikum istri Kak Fau,"
"Waalaikumsalam," balas Balqis. Aisyah memeluk Balqis lalu melepaskan pelukannya. Ia menatap istri kakaknya itu intens, membuat Balqis memerah karena tatapan adik iparnya.
"Ai! Jangan ganggu Balqis, sana ke atas. Bau, belum mandi," Aisyah terkekeh mendengar keposesifan kakaknya. Asiyah berjalan menghampiri Fauzan lalu mengambil kopernya yang masih berdiri di samping Fauzan. Aisyah kembali terkekeh saat melihat tatapan tajam Fauzan.
"Kamar Ai di mana?"
"Di atas," balas Umi Hasna lembut.
"Ai ke atas dulu, Umi, Abi," Aisyah berjalan menjauhi keluarganya.
Aisyah menoleh lagi saat merasa kalau melupakan sesuatu.
"Oh iya, Kak Balqis sabar ya sama kakak Ai," kekeh Aisyah lalu berjalan cepat menaiki anak tangga.
.
.
.
Aisyah membacakan lantunan ayat suci Al-Quran dengan khusyu'-- yang selesai sampai pukul sepuluh malam. Surah yang kali ini ia baca adalah surah Ar-Rahman sampai surah Al-Jumu'ah. Pikirannya menjadi sedikit lebih tenang sekarang.
Aisyah menyimpan Al-Qurannya di dalam laci, kemudian melipat mukena dan sajadahnya rapi, lalu ia taruh di dalam almari.
Gadis itu mendudukkan dirinya di atas kursi belajarnya. Tangannya terulur untuk mengambil sebuah buku yang ada di dalam tasnya. Buku yang biasa ia gunakan untuk menulis curahan hatinya, atau buku yang biasa orang sebut dengan diary book.
Matanya mengerjap lucu saat melihat halaman pertama dari buku itu. Tulisannya terlihat sangat kacau di sana, mungkin saat itu Aisyah masih sekitar umur 9 tahunan. Hanya melihatnya sekilas, lalu ia berhenti di tengah-tengah halaman buku itu. Sekitar sepuluh halaman lebih setelahnya hanya berisi tentang seseorang yang masih terpatri apik di dalam hati dan pikirannya.
Masih sama, Aisyah hanya membalik halaman demi halaman sampai berada di halaman terakhir buku itu. Kali terakhir ia menulis di sana adalah saat perpisahan anak seangkatannya di MTs. Lalu ia memutuskan untuk mencurahkan semua isi hatinya pada Sang Pencipta.
Karena sesungguhnya berkeluh-kesah kepada Allah adalah hal yang lebih melegakan untuk diri seorang umat. Dan itulah yang Aisyah rasakan.
Aisyah menutup buku itu, lalu menengadahkan kedua tangannya. Dan kepalanya menunduk dalam.
"Ya Allah, Engkaulah segala dari segala Maha yang ada. Hanya kepada-Mu hamba memohon, tentramkanlah hati hamba, hilangkanlah kegundahan hamba, lindungilah hamba dari segala yang Engkau larang,"
Aisyah berdoa dengan tenang dan khusyu'. Matanya memejam,
"Jika dia memang Engkau takdirkan untuk hamba, maka tambahkanlah kesabaran menunggu pada batin hamba. Dan jika dia tidak Engkau takdirkan untuk hamba..." Aisyah menahan air matanya kuat agar tidak menetes. "...maka lapangkanlah raga dan batin hamba untuk menerimanya. Hamba memohon pada-Mu Ya Allah, aamiinn,"
.
.
.