Laki-laki berjas putih itu tertawa pelan saat melihat tingkah lucu pasiennya. Sesekali ia mengeluarkan candaan kecil agar gadis mungil itu tertawa dan tidak menangis di pangkuan ibunya. Setelahnya ia mulai menjelaskan tentang penyakit yang didera si ibu, lalu ia menulis resep obat agar ditebus di apotik atau ke bagian farmasi.
"Terimakasih dokter," ujar wanita itu lalu berlalu keluar.
Laki-laki itu menatap ponselnya yang sedikit bergetar di saku jas putihnya. Pesan dari seseorang mengharuskannya keluar dari ruangannya itu. Sebelum keluar ia melepaskan terlebih dahulu jasnya.
Sesekali para perawat dan dokter yang berpapasan dengannya menyapa laki-laki tampan itu. Dan laki-laki itupun membalasnya dengan ramah.
Sampai akhirnya ia tiba di kantin rumah sakit yang terlihat sangat luas. Ia berjalan menghampiri seorang wanita cantik yang duduk di salah satu kursi kantin. Lalu mendudukkan dirinya di hadapan wanita itu.
"Ih... Raihan say--"
"Al!" potong Raihan cepat sebelum Aletta menyelesaikan ucapannya.
Wanita bernama panggilan Aletta itu terkekeh pelan. Apalagi saat mengingat laki-laki tampan di depannya ini sangat anti saat seorang wanita memanggilnya dengan sebutan 'sayang' dan serumpunnya.
"Capek ya dokternya Ale," goda wanita itu manja.
Raihan pun tak bisa menahan senyumnya terbit saat wanita itu menggodanya seperti ini. Aletta bukan pacar Raihan, tapi mungkin sejenis itu, karena Raihan lebih suka menyebutnya 'berkomitmen' daripada 'berpacaran'. Mungkin menurut Raihan itu lebih spesifik dengan menjaga perasaan, dan hal itu artinya tidak akan ada kontak fisik ataupun sejenisnya.
Raihan mengenal Aletta sudah semenjak ia lulus SMA, dan mulai berkomitmen dua tahun yang lalu. Bukan Raihan yang mengajak, tapi Aletta. Wanita yang sekarang berprofesi sebagai model itu mengutarakan perasaannya saat mereka sedang mengadakan reuni SMA, dan Raihan tidak bisa menolaknya dengan alasan ia tak ingin Aletta malu apabila sampai ia menolak wanita itu di depan umum.
Awalnya Raihan hanya berkeinginan untuk tidak mempermalukan Aletta, tapi lama kelamaan ia jadi tidak tega kalau memutuskan hubungan mereka tanpa adanya alasan yang masuk akal. Akhirnya ia benar-benar memutuskan hubungannya, dan lebih memilih berkomitmen dengan wanita yang lebih tua dua tahun darinya itu.
"Tumben ke sini?" tanya Raihan.
"Kamu marah ya aku jarang ke sini?" tanya Aletta dengan nada sesal.
"Bukan gitu Ta, kan aku cuma nanya doang?"
Raihan jadi merasa bersalah sudah bertanya demikian. Karena memang kenyataannya gadis itu sangat jarang bertemu dengannya, bahkan Aletta sendiri sangat jarang berada di negara kelahirannya ini. Ia sering di kontrak untuk melakukan pemotretan di luar negri, dan hal itu yang membuat hubungan mereka sedikit merenggang.
"Udah ya, aku cuma tanya kok," ujar Raihan lembut. Ingin sekali tangannya mengusap rambut wanita itu, tapi ia sudah sangat berusaha menahan nafsunya itu. Lebih baik membiarkan Aletta bersedih sebentar daripada ia digerundungi oleh dosa yang tak akan ada habisnya.
"Tapi kamu kenapa nanya begitu?" tanya Aletta menuntut.
"Aletta!"
"Kamu istirahat berapa menit?" tanya Aletta mengalihkan pembicaraan. Ia terlalu takut melihat Raihan marah kepadanya.
"20 menit," jawab Raihan singkat.
Berbicara dengan wanita itu selalu menambah beban tersendiri untuk Raihan, apalagi sering terjadi pertengkaran di antara mereka hanya karena hal sepele yang selalu menjadi masalah besar bagi Aletta, dan itu selalu membuat Raihan menjadi badmood.
"Udah selesai kontrak kan?" tanya Raihan.
"Udah,"
Raihan mengangguk ringan,
"Tapi....tadi aku baru tanda tangan lagi,"
Raihan menatap wanita itu malas. "Di mana?"
"Prancis," jawab Aletta sambil menunduk.
"Berapa lama?"
"Nanti kamu marah," cicit Aletta.
"Kalau kamu nggak jawab aku akan lebih marah Ale,"
"5 tahun," jawab Ale lirih.
"Apa?!" tanya Raihan,
"Maaf Rai, kamu tahu sendiri kan," jelas Aletta cepat, ia benar-benar takut melihat prianya marah kepadanya.
Raihan menghela napas sedikit kasar,
"Aku nggak marah kok," ucap Raihan sambil memaksakan senyumnya.
"Ayah kamu pasti marah ya?" tanya Aletta.
"Kamu tahu sendiri watak Ayah," jawab Raihan
"Yaudah, aku yang pesen makanan ya. Kamu mau makan apa?" tanya Aletta hati-hati.
Raihan tak menjawab, ia berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Raihan dingin.
"Sama kayak kamu aja," jawab Aletta lirih.
Raut wajah Raihan terlalu menyeramkan untuk Aletta lihat, walaupun ia sendiri sudah sering melihatnya.
.
.
.
Pukul 19.30 Raihan baru bisa pulang ke rumah. Tubuhnya terasa lengket karena ia hanya mandi satu kali, dan itupun tadi pagi. Ia memasukkan mobilnya ke dalam garasi lalu masuk melalui pintu yang menghubungkan langsung garasi dengan ruang keluarga.
Aza» adik Raihan terlihat fokus belajar di ruang keluarga, gadis itu duduk di atas karpet agar lebih mudah membaca bukunya. Adik Raihan satu-satunya itu mendongak saat menyadari kehadiran Raihan.
"Kak Rai baru pulang?" tanya gadis yang baru berusia 16 tahun itu.
Raihan tersenyum tipis lalu menghampiri Aza.
"Iya, soalnya tadi ada temen kakak yang ada urusan. Jadi, kakak harus ngurus pasiennya sekalian," jawab Raihan lembut.
"Besok ada ulangan? Tumben belajar?" tanya Raihan.
"Siapa yang belajar sih kak, orang baca novel kok," jawab Aza polos, lalu kembali menunduk dan melanjutkan kegiatannya.
Raihan menghela napas pelan. Ia mengacak pelan surai hitam Aza, membuat gadis itu mencebik karena perbuatannya.
"Katanya pengen kayak kakak, kok nggak belajar?" tanya Raihan sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.
"Gak mau kayak Kak Rai. Aza nggak pengen jadi dokter. Udah sekolahnya lama, pulangnya malam terus lagi," ungkap Aza jujur.
Raihan menghela napas pelan dengan jawaban adiknya itu, "Lha terus pengennya jadi apa?"
"Jadi istri sholehah buat suami Aza nanti," jawab Aza polos tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.
Terdengar helaan napas pelan dari Raihan.
"Ya kan kalau mau sholehah harus belajar Za," ucap Raihan lembut.
"Ya ini Aza juga lagi belajar Kak Rai-nya Aza,"
"Belajar dari mana? Kamu kan baca novel?"
"Aza tuh baca novel tentang spiritual kak,"
"Ada romance-nya kan?" tanya Raihan.
Aza hanya menyengir sambil menunjukkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi.
"Yaudah, kakak ke kamar dulu," Aza hanya mengangguk ringan sebagai jawaban.
"Aza udah makan belum?" tanya Raihan.
"Belum, kan nunggu kakak,"
"Ayah?" tanya Raihan.
"Katanya ada pengajian akbar di deket kantor," jawab Aza.
Raihan mengangguk paham, lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar.
Raihan menaruh mantel dan tasnya di atas meja, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian berwudhu. Ia keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan baju koko, dan sarungnya.
Raihan menunaikan ibadah sholat Isya' dengan khusyu'. Dilanjutkan dengan berdzikir lalu berdo'a.
Setelah 30 menit akhirnya Raihan sudah selesai berkomunikasi dengan Sang Khaliq. Raihan mengganti sarungnya dengan celana longgar. Lalu keluar dari kamar menghampiri Aza yang sudah siap di ruang makan.
"Udah kak?" tanya Aza sambil menyiapkan makanan untuk dirinya dan kakaknya.
"Udah," Raihan duduk berhadapan dengan Aza.
Tak ada yang berbicara selagi makan, Raihan selalu melarang Aza berbicara ketika makan, karena banyak kemungkinan yang terjadi seperti tersedak, atau yang lainnya. Semenjak belajar tentang biologi di Aliyah, Raihan menjadi tahu tentang hal-hal yang berbahaya dari hal sekecil itu, walaupun terdengar hal biasa, tapi dapat berakibat fatal kalau sampai terjadi.
"Assalamualaikum anak-anak Ayah,"
"Waalaikumsalam ayahnya Aza," Aza berdiri menyambut kedatangan ayahnya, ia mencium punggung tangan Ayah Irsyad lalu kembali ke tempat duduknya.
"Waalaikumsalam," jawab Raihan. Ia juga melakukan hal yang sama dengan Aza, mencium punggung tangan Ayah Irsyad.
"Makan apa tuh?" tanya Ayah Irsyad masih sambil berdiri.
"Ma--"
"Makan ayam goreng buatan Aza Yah," jawab Raihan cepat sebelum Aza menjawab. Ia menatap Aza yang masih mengunyah makanannya pelan-pelan karena mendapatkan tatapan tajamnya.
"Ayah ke kamar dulu ya. Bersih-bersih," ucap Ayah Irsyad lalu berlalu pergi dari ruang makan.
.
.
.
Seperti malam-malam sebelumnya, di jam yang sudah larut itu juga pun masih sempat-sempatnya Ayah Irsyad mengajak debat putranya dengan topik yang sama setiap harinya. Aza yang masih belum tidurpun pasti ikut menimpali ucapan ayahnya agar membuat Raihan semakin terpojok.
Malam ini pun sepertinya Raihan belum bisa langsung tidur setelah kegiatannya seharian ini. Ia harus rela menahan penat dan kantuknya demi menghormati Sang Ayah.
"Rai!" panggil Ayah Irsyad ketika putranya tetap diam, tidak mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaannya.
Bukannya tak ingin menjawab, Raihan hanya bingung harus menjawab darimana lagi. Ayahnya itu menanyakan soal kontrak Aletta. Bagaimana ia bisa menjawab dengan mudah? Dulu saja waktu Aletta kontrak di Jepang selama 1 tahun Ayahnya langsung marah dan mendiaminya selama sebulan penuh. Lah ini, 5 tahun?! Sepertinya ayahnya itu akan langsung mengirimkan ia untuk berta'aruf dengan seorang gadis yang sama sekali tidak ia kenal.
"Kak Rai jawab ih!" Aza sendiri juga menjadi geram melihat keterdiaman kakaknya.
"Udah selesaikan Raihan?!" tanya
"Udah Yah," jawab Raihan pasrah
"Terus?" tanya Aza semakin membuat Raihan gemas pada adiknya itu.
"Ale baru tanda tangan kontrak di Prancis,"
"Berapa lama?" tanya Aza lagi.
"Lima--"
"Bulan?" potong Aza.
"Tahun," lanjut Raihan lirih.
"5 tahun?!" pekik Aza dan Ayah Irsyad bersamaan.
"Udahlah Yah, langsung cariin aja calon buat Kak Rai. Aza juga nggak suka banget sama pacar abal-abal Kak Rai. Bilangnya pacaran haram lah, tapi sayang-sayangan," cibir Aza sinis.
"Kak Rai nggak pacaran Za," ujar Raihan membela diri.
"Ayah nggak pengen kamu masuk ke dalam dosa zina Rai. Kamu emang bilang kalau kalian cuma menjaga perasaan aja. Tapi secara nggak langsung kalian pasti selalu saling memikirkan kan? Itu namanya zina pikiran, dan itu juga dosa Rai. Ayah yakin kalau kamu pasti tahu itu,"
"Tuh dengerin!" timpal Aza gemas.
"Kamu dulu juga bilang kalau kamu ingin pendamping hidup yang kayak Mama, terus kenapa sekarang kamu mempertahankan Aletta yang berbanding balik sama Mama?"
"Ayah kenapa jadi suka deskriminasi gini sih Yah?!" geram Raihan kesal.
"Oh, jadi Kak Rai menganggap Mama sama Aletta sama?" timpal Aza tak terima.
"Kamu belum ngerti Za,"
"Aza udah besar Kak, Aza tahu. Aza juga yakin kalau Mama masih ada, Mama nggak akan kasih restunya buat Kak Ale," ujar Aza kesal.
"Za!"
"Udahlah Yah, Ayah aja yang cari calon buat Kak Rai. Cari yang sholehah, yang bajunya panjang, bukan yang kurang bahan," ujar Aza dengan gamblangnya.
Raihan menghela napas pelan, berusaha meredam amarahnya agar tidak keluar sekarang. Ucapan Aza benar-benar membuatnya naik darah.
"Besok pagi ayah kasih fotonya, kamu boleh pilih," ujar Ayah Irsyad final lalu memilih pergi meninggalkan kedua anaknya.
Aza terlihat bahagia mendengar ucapan ayahnya. Ia menjulurkan lidahnya untuk mengejek Raihan yang tengah kacau itu.
"Akhirnya tuh nenek baju kurang bahan nggak jadi kakak ipar aku. Terima kasih Ya Allah," ujar Aza bahagia lalu meninggalkan kakaknya sendirian.
Raihan diam, ia tidak bisa membuat keputusan dengan tegas sebagai seorang pria. Ia tidak ingin menyakiti perasaan Aletta, tapi apa yang ayahnya dan Aza ucapkan tadi juga tidak sepenuhnya salah.
Raihan mengacak rambutnya frustasi, "Gue harus gimana?!"
.
.
.