"Nggak usah nervous kali kak, santai," ujar Aza menggoda Raihan yang sudah panas dingin ketika mobil yang dikendarai ayahnya tiba di depan sebuah rumah.
Seseorang di sana membukakan gerbang agar mobil ayahnya dapat masuk ke dalam pekarangan rumah itu.
"Rai,"
Raihan menoleh pada Ayah Irsyad.
"Tenang aja, Insyaa Allah dia yang terbaik untuk kamu," ujar Ayah Irsyad berusaha menenangkan putranya.
Raihan mengangguk ragu. "Iya Yah,"
Mereka keluar dari mobil bersamaan dengan seorang pria yang tadi membukakan gerbang untuk mereka dan sekarang pria itu tengah membukakan pintu rumah itu.
"Silahkan masuk," ujar pria itu sopan.
Raihan bersama dengan ayah dan adiknya masuk ke dalam rumah mewah itu. Seorang wanita cantik yang duduk di sofa itu menarik perhatian Raihan. Wanita itu langsung bangkit untuk menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum," salam Ayah Irsyad yang langsung dibalas oleh semua orang yang berada di ruang tamu rumah itu.
"Silahkan duduk," ujar Balqis sambil menunjukkan senyum menawannya.
"Iya, terimakasih,"
"Cantik banget kak," bisik Aza di samping telinga Raihan yang sudah mendingin. Raihan mengangguk pelan meng'iya'kan ucapan adiknya.
Raihan sedikit mengangumi wanita cantik itu. Wajahnya terlihat sangat cantik dengan balutan hijab panjangnya. Tapi, sepertinya usia wanita itu sepantaran dengannya atau bahkan lebih tua. Bukannya gadis yang akan dilamarnya itu lebih muda beberapa tahun dengannya. Apa bukan dia?
"Maaf, em...Pak Irsyad kan? Bapak tamu Abi saya?" tanya Fauzan gugup. Pasalnya pria paruh baya di depannya ini adalah direktur di tempatnya bekerja.
Ayah Irsyad menyenggol lengan Raihan, menyadarkan putranya untuk berbicara mengenai maksud kedatangan mereka ke rumah ini.
"I..iya, maksud kedatangan saya ke sini...adalah meminta izin untuk...." Raihan menghela napas sebentar, "...melamar seorang wanita yang bernama Humaira Aisyah Nafiza untuk menjadi istri saya," lanjut Raihan dengan satu tarikan napas.
Fauzan menatap Raihan dan keluarganya bingung. Lalu ia menatap wajah Irsyad, sepertinya Fauzan langsung memahaminya. Ia tersenyum simpul.
"Panggil Abi sama Umi," ujar Fauzan pelan pada istrinya. Balqis menuruti ucapan suaminya, ia lantas berdiri lalu berjalan agak cepat ke belakang.
"Emmm...maaf, kalau boleh tahu. Kamu satu kampus sama Aisyah?" tanya Fauzan hati-hati.
"Ini boleh saya jawab nak Fauzan?"
Fauzan mengangguk antusias. "Boleh Pak,"
"Nama anak saya Raihan. Dia belum pernah berkomunikasi dengan ananda Humaira. Semua ini sudah saya rencanakan sendiri, sebenarnya saya ingin putra saya sama nak Humaira untuk berta'aruf terlebih dahulu agar bisa lebih mengenal satu sama lain, terus..."
Ucapan Ayah Irsyad terhenti saat ekor matanya menangkap kedua orang yang sebaya dengannya bersama dengan dua orang gadis yang salah satunya adalah gadis tadi ikut mendudukkan diri di sofa.
"Assalamualaikum, Pak, Bu," salam Ayah Irsyad.
"Waalaikum salam warrohmatullahi wabarokatuh," jawab mereka berbarengan.
Ayah Irsyad mulai menjelaskan semua, menggantikan putranya yang sepertinya masih dalam keadaan tak percaya diri itu. Semua pertanyaan yang keluarga calon besannya tanyakan akan ia jawab dengan tenang, kadang Aza juga ikut berbicara saat ditanya. Sedangkan Raihan? Pria itu hanya diam, ia tak tahu apa yang harus ia ucapkan, mendadak pikirannya kosong.
"Oh ya? Kak Humaira yang baju merah kah?" tanya Aza.
"Oh bukan. Itu Balqis istri saya," sahut Fauzan cepat.
"Berarti kakak yang pakai cadar ya?" tanya Aza lagi.
"Iya," jawab Umi Hasna.
"Oh pantas. Soalnya waktu itu Ayah kasih foto kakak yang pakai cadar, hehe"
Raihan langsung berdebar mendengar jawaban calon kakak iparnya itu. Lalu Raihan menatap gadis lain di samping Balqis yang terlihat menunduk itu. Wanita itu bahkan bercadar, apakah ia sudah pantas? Bukankah gadis itu terlalu baik untuk dirinya yang bahkan sekarang masih menyukai wanita lain?
Ya Allah, apakah ini semua sudah menjadi takdirmu?
Deg!
Raihan langsung tersadar dengan pemikirannya. Ia beristigfar sebanyak mungkin dalam hati karena sudah lancang bertanya demikian pada Sang Pencipta. Ia tahu kalau ia tidak punya hak untuk mempertanyakan tentang takdirnya.
"Oh ya, kalian mau bicara berdua dulu di luar. Mungkin butuh pengenalan pribadi," ujar Abi Adnan.
"Nah, iya di luar gak papa kok," tambah Umi Hasna.
"Nggak Bi," cicit Aisyah pelan.
"Insyaa Allah nggak papa Aisyah. Kalian juga bukan berkhalwat, hanya berkenalan saja. Supaya tidak ada penyesalan nantinya," ujar Abi Adnan sambil mengelus pelan bahu putrinya.
"Nak Raihan mau?" tanya Umi Hasna.
"Bo...boleh Tante," jawab Raihan.
"Aduh, anak Ayah gaya malu-malu kucing segala," goda Ayah Irsyad membuat Raihan semakin salah tingkah.
Semua terkekeh melihat wajah gugup Raihan.
"Yaudah. Kak Aira sama Kak Rai ke luar dulu dong. Kita mau bicara-in tentang pernikahan kalian dulu," ujar Aza senang menggoda sang kakak.
Raihan hanya menghela napas pelan, "Ra, kamu mau?" tanya Raihan memastikan.
Aisyah tak menajawab, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawabannya.
"Oh ya, panggilannya itu Aisyah. Tapi kalau Rai mau panggil Humaira juga nggak papa," goda Fauzan yang langsung disambut tawa dari semuanya.
Akhirnya Raihan dan Aisyah keluar dengan berbagai godaan dari anggota keluarga mereka. Sekarang mereka berdua duduk berhadapan di sofa yang memang sudah di sediakan di teras rumah.
Masih hening, belum ada satupun suara yang keluar dari kedua insan itu. Raihan yang bingung ingin mengucapkan apa, dan Aisyah yang gugup karena ini adalah kali pertamanya berduaan dengan seorang laki-laki selain keluarganya, ya walaupun mereka diawasi, tapi tetap saja Aisyah masih canggung dengan laki-laki itu.
"Oh ya, kamu udah punya seseorang?" tanya Raihan tiba-tiba membuat Aisyah bingung dengan ucapannya.
"Seseorang?" tanya Aisyah.
"Maksud aku...seseorang yang sudah menempati hati kamu?" tanya Raihan.
Deg!
Kenapa laki-laki itu menanyakan hal seperti ini kepadanya?
Apakah tadi ia sudah salah bicara?
"Apa tadi saya salah bicara?" tanya Aisyah hati-hati.
Raihan menggeleng cepat, "Saya hanya sedang memastikan saja. Saya sendiri tahu kalau saya terlalu cepat melamar kamu. Bahkan kita belum kenal satu sama lain sebelumnya. Jadi, kalau semisal kamu sudah punya seseorang itu, Insyaa Allah saya siap untuk mundur,"
Aisyah terperangah dengan jawaban pria itu. Ia merasa seperti sudah dekat kala mendengar cara bicara pria itu. Seperti seseorang itu...tunggu dulu!
"Nama lengkap kakak siapa?" tanya Aisyah dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang.
"Nama saya?" tanya Raihan dan Aisyah mengangguk cepat.
"Raihan Afnan Nasir,"
Deg!!!!
.
.
.
Semuanya sudah selesai. Raihan baru bisa merebahkan tubuhnya dengan tenang setelah hampir tiga jam berada di rumah calon istrinya. Walaupun pikirannya masih berkeliaran bebas.
Raihan merasa kalau beban pikirannya bertambah semenjak keluar dari rumah calon istrinya tadi.
Apalagi Aletta sama sekali belum memberinya kabar. Jalankan memberi kabar, pesan yang tadi pagi ia kirim saja belum dibaca oleh wanita itu. Sepertinya ponsel gadis itu sudah berada di tangan managernya, dan itu semakin membuatnya merasa bersalah kepada dua orang gadis sekaligus.
Rasa bersalahnya pada Aisyah, seorang gadis yang akan menjadi istrinya. Dan pada Aletta, gadis yang ia cintai. Raihan yakin pasti kalau Aisyah lah yang akan lebih mendapat impasnya, terutama kelak saat Aisyah tahu ia mencintai wanita lain.
Tapi, jujur saja. Raihan lebih menyukai Aisyah untuk menjadi istrinya, karena seorang istri itu yang mampu membuat seorang suami lebih dekat kepada-Nya, bukan menjauhinya. Dan Raihan rasa kalau Aisyah-lah orangnya.
Aihh, kanapa ia malah membandingkan mereka berdua?!
Raihan mendudukkan dirinya lalu menengadahkan kedua tangannya seraya membaca tiga surah pendek yaitu Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Lalu dilanjutkan dengan ayat kursi dan terakhir do'a sebelum tidur.
Raihan memejamkan matanya agar pikirannya berhenti memikirkan hal yang aneh-aneh seperti ini.
Pasti selalu ada jalan, selagi ia menyerahkan semua beban Kepada-Nya. Ya, Raihan yakin itu.
.
.
.
Sedangkan di sisi lain Aisyah hanya berbaring di atas kasur queen size-nya dengan mata yang masih terbuka lebar. Binar bahagia terlihat jelas dari wajah cantiknya. Bahkan sekarang sepertinya Aisyah sudah lupa caranya untuk menghilangkan senyuman yang ada di bibirnya.
Bagaimana Aisyah tidak bahagia coba?
Satu fakta tadi membuat Aisyah benar-benar tidak bisa tidur. Raihan! Seseorang yang melamarnya tadi adalah Raihan! Raihan yang sangat ia tunggu. Raihan yang sangat ia cintai. Dan Raihan yang sangat ia tunggu untuk menepati semua janji yang pria itu pernah ucapkan dulu.
Apakah Raihan memang sengaja melamarnya?
Satu pertanyaan yang terus berputaran di kepalanya.
Entah kenapa Aisyah jadi ingin mengambil buku harian barunya yang ia taruh di laci samping tempat tidur.
Sebenarnya ia ingin menceritakan semua yang ia rasakan pada Sang Pencipta semata. Tapi, tangannya terasa gatal ingin kembali menuliskan kembali kisahnya dalam buku itu.
Ia membuka halaman pertama yang masih kosong, lalu mulai menulis rangkaian kata-kata yang muncul di pikirannya.
Dia sudah datang untuk mulai menepati semua janjinya. Janji yang ia ucapkan saat kita masih remaja waktu itu.
Kalimat itu ia tulis kala mengingat janji Raihan yang akan melamarnya kala itu
"Lelaki yang menurutmu berani untuk memperjuangkan cintanya untukmu itu seperti apa?"
Itu adalah pertanyaan ke 3 dari Raihan untuk Aisyah.
"Lelaki yang dapat membuktikan cintanya dengan melamarku di hadapan keluarga. Aku juga yakin kalau itu adalah harapan banyak wanita untuk seorang laki-laki yang memperjuangkan cintanya," ujar Aisyah malu-malu tapi pasti.
"Oke. Aku janji aku bakal lamar kamu. Kamu harus pegang janji aku," ujar Raihan tegas.
Semoga kamu bisa menepati janji-janjimu yang lain. Dan semoga Allah memudahkanmu untuk menepatinya.
Lalu Aisyah menutup bukunya dan menyimpannya kembali di laci.
Aisyah bangun lalu menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Masih dengan senyum manisnya yang sepertinya tidak akan luntur itu Aisyah membuka Al-Quran, lalu mulai membacanya dengan khusyu'
Ini pilihan yang Aisyah pilih agar ia bisa tenang. Karena kalau Aisyah terus sibuk memikirkan laki-laki itu, Aisyah yakin kalau ia tidak akan bisa tidur semalaman. Seenggaknya dengan membaca Al-Quran Aisyah akan khusyu' pada bacaannya, dan tidak lagi memikirkan Raihan.
Dan lagi, Aisyah tidak ingin terlalu memikirkan Raihan, karena memikirkan seorang pria yang bukan mahram atau suaminya itu bisa dikategorikan dengan mendekati zina pikiran. Walaupun Raihan mungkin akan menjadi suaminya kelak, tapi sekarang pria itu belum ada status apa-apa dengannya. Ya, Aisyah harus benar-benar khusyu'.
Sekarang aku memikirkannya. Apa pria itu juga memikirkan hal yang sama denganku?
....