Hari demi hari berlalu. Tak terasa sudah lebih dari tiga bulan sejak Raihan melamar Aisyah. Dan hari ini Raihan akan mempersunting Aisyah resmi secara agama dan negara.
Aisyah masih termenung dengan Balqis dan Aza yang duduk di sampingnya. Terdengar alunan merdu Raihan saat menghafal surah Ar-Rahman sebagai salah satu mas kawin yang Aisyah minta. Lalu setelah Raihan menyelesaikan hafalannya, mulai terdengar suara Abi Adnan dan Raihan yang akan memulai acara akad.
"SAH!!!"
Dan sekarang Aisyah benar-benar menangis, sekarang ia sudah resmi menjadi istri dari seseorang yang sangat dicintainya. Bukankah ini semua awal dari sumber kebahagiaan barunya?
Balqis dan Aza juga terenyuh melihat kebahagiaan Aisyah. Mereka memeluk Aisyah secara bersamaan.
"Udah dong Kak, nanti make up kakak luntur tau," ujar Aza menenangkan Aisyah yang masih bergetar.
"Iya Ai. Udah ya, Kakak sama Aza harus keluar sekarang. Kan bentar lagi suami kamu mau masuk," ujar Balqis menggoda adik iparnya.
Aisyah mengangguk ringan lalu membersihkan air matanya. Pasti sekarang niqabnya sudah basah karena tangis bahagianya itu.
Balqis dan Aza berlalu keluar dari kamar, lalu setelahnya muncul suara ketukan dari pintu. Secara spontan jantung Aisyah langsung berdebar cepat. Raihan sudah di sana, apa ia harus langsung membukanya? Atau mendiaminya dulu? Huh, kenapa tadi ia tidak tanya ke Kak Balqis dulu sih?
"Ai!"
Aisyah tersadar dari perang batinnya. Lalu ia beranjak untuk membukakan pintu kamar itu, munculah sosok tampan Raihan dengan balutan tuxedo hitamnya, dan peci yang menutup sebagain kepalanya.
Sama persis seperti Aisyah, Raihan juga berdebar melihat penampilan istri sah-nya itu. Ia menutup pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Kemudian menghampiri Aisyah yang masih berdiri di sana.
"Assalamualaikum," ucap Raihan.
"Waalaikumsalam Mas," jawab Aisyah lirih.
"Ai mau cium tangan Mas," ujar Aisyah sambil meraih tangan Raihan yang sudah berdiri di hadapannya. Lalu ia mencium punggung tangan Raihan sayang.
Raihan menarik tangannya, lalu ia mendekatkan kepalanya dan mencium lembut kening Aisyah. Jujur, ia benar-benar tak sadar kala melakukannya. Tapi bukankah ini yang seharusnya Raihan lakukan?
Aisyah secara reflek menutup kedua matanya, ia menikmati ciuman dari kekasih halalnya itu. Debaran jantung keduanya sama-sama berpacu cepat mengikuti detikan jam,
Raihan menjauhkan kepalanya. Tangannya terangkat untuk membuka niqab putih Aisyah.
Masyaa Allah!
Itulah kecantikan seorang istri yang tidak akan bisa Raihan tolak. Ia baru melihat wajah itu, dan sekarang ia sungguh terperangah dengan wajah cantik istrinya yang hanya boleh dilihat mahram, dan yang pasti dirinya.
Rasa menyesal yang dulu pernah hinggap di hatinya mendadak hilang saat itu juga. Mungkin ini akan dianggap keberuntungan dari Allah untuk Raihan dengan menghadirkan wanita secantik dan seistiqomah Aisyah sebagai pelengkap tulang rusuknya.
Raihan berdehem pelan untuk menghilangkan hawa-hawa canggung yang menusuk sampai kulitnya. Ia yakin Aisyah juga merasakan hal yang sama dengannya.
"Apakah benar ini istriku?" tanya Raihan dengan senyum manisnya.
Aisyah terperangah dengan wajah Raihan yang terlihat sangat mempesona untuk ia lihat.
"Ini Humairaku kan?" tanya Raihan.
Deja vu. Itulah yang Aisyah rasakan saat mendengar panggilan itu. Rasanya seperti melihat sosok lama Raihan di depannya.
Raihan terkekeh melihat reaksi polos Aisyah yang terlihat lucu di matanya.
"Minta dicium lagi?" tanya Raihan membuat pipi Aisyah memanas, mungkin rona kemerahan sudah timbul sekarang.
"Aku pakaikan ya?" tanya Raihan meminta izin agar ia memakaikan kembali niqab putih itu untuk Aisyah. Dan Aisyah pun hanya mengangguk patuh, lagipula dirinya sudah benar-benar tidak bertenaga dengan perlakukan manis Raihan.
"Kita turun sekarang ya. Kasihan tamunya pada nunggu," ujar Raihan yang diakhiri dengan kekehan ringan.
Acara akad dan resepsi dilakukan di satu waktu karena Raihan tidak ingin dirinya dan Aisyah terlalu lelah dan membuang banyak waktu. Dan alasan lainnya adalah agar dirinya bisa lebih menyesuaikan diri dengan Aisyah secepatnya.
.
.
.
Setelah selesai membersihkan diri dan berwudhu, Aisyah dan Raihan melakukan sholat Tahajud berjamaah yang dilanjutkan dengan berdzikir, do'a, lalu membaca Al-Quran.
Mungkin mereka hanya tertidur selama tidak lebih dari 3 jam, karena acara resepsi berakhir sampai larut malam. Dan mereka terbangun pada pukul satu lebih tiga puluh dini hari.
Jadi, daripada kepala pusing karena dipaksakan tidur, lebih baik mereka gunakan malam itu untuk beribadah pada Sang Ilahi.
Sampai tiga jam berlalu, adzan subuh mulai berkumandang. Mereka mengakhiri acara mengaji mereka, lalu menunaikan Ibadah sholat subuh berjamaah.
Setelah selesai sholat Aisyah langsung keluar dari kamar untuk melakukan kegiatan harian pertamanya di rumah ayah mertuanya. Sedangkan sekarang Raihan masih berkutat di kamar mandi,
"Pagi Kak Ai!!"
Panggilan Aza yang nyaring mampu membuat Aisyah terperanjat.
"Eh...Kak Ai kaget ya? Maafin Aza ya Kak?" lirih Aza merasa bersalah.
"Don't worry," balas Aisyah lembut.
"Biasanya ayah pulangnya kapan?" tanya Aisyah.
"Semingguan sih biasanya," jawab Aza sedikit kesal.
Bagaimana ia tidak kesal. Hari ini Raihan dan Aisyah akan pindah ke rumah baru yang sudah di siapkan oleh Raihan. Sedangkan tadi, pagi-pagi sekali ayahnya sudah harus terbang ke negeri gingsen, Korea Selatan untuk mengurus bisnisnya. Dan ia harus sendirian lagi di rumah.
"Aza pengen ditemenin dulu sampai Ayah pulang? Nanti Kakak ngomong sama Mas Rai, dia pasti mau kok," ujar Aisyah.
"Nggak kak! Aza nggak papa kok di rumah sendiri, lagipula bibik juga nginep di rumah kalau Ayah sama Kak Rai nggak di rumah," tolak Aza.
Aza sendiri tahu kalau Raihan dan Aisyah pasti butuh waktu untuk berdua, mungkin mereka akan membutuhkan penyesuaian lebih kala mengingat mereka menikah karena paksaan ayahnya, bukan murni karena cinta. Dan lagi, Aza juga yakin kalau kakaknya itu pasti masih memiliki rasa pada Aletta, wanita yang sangat dibencinya.
"Ohh, beneran gak papa berarti?" tanya Aisyah memastikan.
"It's oke Kak,"
"Yaudah, Aza siap-siap dulu ya kak. Mau sekolah," pamit Aza lalu beranjak pergi ke kamarnya.
Aisyah pun pergi ke dapur untuk membantu wanita baya yang menjadi asisten rumah tangga di rumah besar ini. Wanita itu sedikit terkejut dengan kehadiran Aisyah yang tiba-tiba.
"Loh, Non udah bangun,"
"Udah Bik. Bibik masak apa?" tanya Aisyah.
"Ini lagi goreng udang sama mau numis kangkung. Ini makanan kesukaan Den Raihan soalnya," ujar Bik Siti menjelaskan.
"Ai bantu potongin bumbunya ya," ujar Aisyah, lalu ia mengambil alih pisau yang tadi digunakan Bik Siti.
"Nggak usah Non," tolak halus Bik Siti.
"Ai gak papa Bik. Lagian nanti Ai juga harus lakuin ini kalau tinggal di rumah Mas Raihan kan?" ujar Aisyah kekeh.
"Iya udah Non. Nanti kalau capek istirahat aja gak papa," ujar Bik Siti lalu ia menggoreng udang yang sudah ia balut dengan tepung terlebih dahulu.
.
.
.
Raihan masih menuju perjalanan ke rumah baru mereka. Rumah yang sebenarnya sudah Raihan rancang untuk dirinya dan Aletta. Tapi sekarang akan ia gunakan dengan wanita lain.
Aisyah masih menatap ke luar kaca mobil. Pemandangan orang-orang yang berlalu lalang membuat Aisyah tersenyum. Sedangkan Raihan hanya diam sambil sesekali melirik Aisyah. Tangannya fokus pada stir mobil, dan mulutnya sudah terkunci sejak mereka berangkat tadi.
Setelah beberapa lama berkendara, akhirnya Raihan sampai di rumahnya. Ia melirik ke samping, dan mendapati Aisyah yang terlihat teduh dengan mata terpejam. Gadis itu terlihat sangat imut dengan wajahnya yang tertidur pulas.
Tiba-tiba Aisyah membuka kedua matanya membuat Raihan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kegep memandangi istrinya sendiri bukan hal yang memalukan kan?
"U..udah sampai," ujar Raihan pada akhirnya.
"Ahh, maaf Ai ketiduran,"
"Gak papa,"
Raihan langsung keluar dari mobil dan mengambil kopernya dan Aisyah di bagasi, sedangkan Aisyah memasang niqabnya terlebih dahulu sebelum keluar dari mobil.
"Yuk masuk," ajak Raihan sambil membawa kedua koper itu.
"Sisanya Ai yang bawa aja ya?" tanya Aisyah.
"Nggak usah. Biar aku aja," ucap Raihan lembut.
Akhirnya Aisyah hanya menuruti ucapan Raihan. Aisyah akan benar-benar berusaha untuk tidak melawan Raihan. Karena ia tahu, pertengkaran akan bermula dari jawaban yang tidak menyenangkan. Dan ia takut, kalau ia melawan ucapan Raihan, suaminya itu akan marah kepadanya.
Aisyah terperangah melihat betapa megahnya rumah itu. Bahkan itu lebih besar daripada rumah Ayah Mertuanya. Sepertinya Raihan sudah merencanakan ini semua sejak lama. Asiyah tersenyum senang, lalu ia melepas niqabnya. Ia berbalik untuk mengambil kopernya dari Raihan. Kasihan kalau Raihan juga yang harus membawanya sampai kamar.
"Ai," panggil Raihan
"Iya mas,"
Raihan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya, "ki--ta tidur pisah ya?"
Deg!
Aisyah langsung terdiam saat itu juga. Apa maksudnya itu? Apa ia sudah melakukan kesalahan? Apa ia tidak becus sebagai seorang istri? Atau....apa Raihan tidak mencintainya?
"Aku mohon kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu. Aku hanya..." Raihan bingung harus menjelaskan apa. Ia tidak ingin menyakiti wanita itu dengan ucapannya.
"Aku cuma mau kita saling menyesuaikan dulu. Aku ingin kita belajar menerima satu sama lain dulu Ai,"
Tes!
Setetes air mata Aisyah jatuh begitu saja tanpa diminta. Aisyah segera mengusapnya, lalu menunjukkan senyuman yang ia paksakan.
"Apa Mas Raihan belum bisa menerima Aisyah? Apa Aisyah be...belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk Mas Raihan?" tanya Aisyah dengan jantung berdebar. Ia takut dengan jawaban yang akan terucap dari suaminya itu.
Raihan merasakan sakit saat melihat wajah kecewa Aisyah. Ia ingin menjelaskan, tapi ia tak tahu harus menjelaskan dari mana.
"Kamar kamu di lantai dua pojok kanan," ujar Raihan tanpa menjawab pertanyaan Aisyah. Ia membalikkan badannya lalu pergi untuk mengambil lagi barang-barangnya dan Aisyah yang masih tersisa di mobil.
Aisyah roboh saat itu juga. Ia mengambil kopernya lalu berlari kecil menaiki anak tangga. Ia langsung masuk ke dalam kamar yang tadi Raihan arahkan.
Kenapa rasanya sakit saat seseorang yang sudah bertahun-tahun Aisyah cintai secara tulus mengatakan semua kata-kata itu? Apa Raihan sudah tidak mengingatnya?
Ya Allah, kuatkanlah hamba.
••••