Setelah kejadian beberapa hari lalu, tepatnya saat Aisyah datang di jam istirahat Raihan. Aisyah kini sudah tidak ke sana lagi, karena setelah Aisyah keluar dari ruangan Raihan waktu itu, banyak pasien yang memaksa untuk segera diperiksa sebab mereka juga menganggap Aisyah sebagai pasien. Dan akhirnya Raihan harus kembali bekerja di sisa waktu istirahatnya yang masih tergolong lama.
Dan entah ini hanya perasaannya atau bukan, setelah waktu itu Raihan selalu berangkat lebih awal dan pulang larut malam.
Aisyah sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya, sekarang ia sedang membaca buku-buku tentang medis yang ada di ruang baca Raihan. Tak sopan mungkin, tapi Aisyah sudah meminta izin pada Raihan sebelumnya.
"Tebel banget.." ujar Aisyah sambil melihat betapa tebalnya buku yang saat ini ia pegang. "...padahal dulu Kak Rai benci banget baca buku," lanjut Aisyah sambil terkikik geli.
Suasana perpustakaan yang sangat menenangkan membuat gadis 11 tahun itu terlihat sangat fokus dengan buku tebalnya. Berbeda dengannya, tapi berbeda dengan laki-laki yang ada di sampingnya,
"Ra, ini bukunya berapa halaman sih? Tebel banget," keluh Raihan kesal, sedari tadi sepertinya buku yang ia baca tidak ada habisnya,
"Kan katanya kakak mau jadi dokter, jadi harus siap baca buku yang tebel dong," jawab Aisyah santai.
"Isinya tuh jorok-jorok tau Ra. Ini masa organ kelaminnya di gambar jelas sih. Materi Ipa kelas sembilan aja nggak sampai segininya," keluh Raihan lagi, ia sedikit bergidik sambil menunjukkan buku yang ia baca pada Aisyah.
Dan Aisyah langsung menutup kedua matanya saat Raihan mengangkat buku itu di depan wajahnya.
"Kak Raihan turunin bukunya," ujar Aisyah jijik. Sedangkan Raihan malah tertawa kecil, Aisyah benar-benar terlihat sangat imut di matanya.
"Ya kan aku udah bilang Ai,"
"Itumah Kak Rai aja yang pengen baca begituan," ujar Aisyah dengan bibir yang mencebik kesal.
Raihan terkekeh pelan, tangannya terulur mengelus kepala Aisyah lembut.
"Ana Uhibuki, Humaira"
"Ana Uhibuka Mas Rai,"
"Semua pasti berubah," ujar Aisyah sendu lalu ia memakai kacamatanya.
Membalikkan halaman demi halaman untuk mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya dari buku tebal itu. Walaupun banyak hal yang tidak ia ketahui, tapi Aisyah masih mencoba untuk memahaminya.
Getaran yang berasal dari atas bukunya membuat Aisyah mengalihkan perhatiannya pada benda pipih itu.
Aisyah menggeser tombol hijau lalu mengangkatnya.
Terdengar suara dari seberang telepon, "Assalamualaikum Ai,"
"Waalaikumsalam Umi. Umi apa kabar?"
"Alhamdulillah sayang. Kamu gimana? Raihan?"
"Alhamdulillah juga Mi. Ai sama Mas Raihan baik kok. Abi nggak ada ya?"
"Abi lagi di restoran Ai. Nanti Umi suruh telfon balik ya?"
"Iya Mi. Terus Kak Fau sama Kak Balqis Mi?"
"Kenapa nanya'in kakak?" Suara Fauzan langsung terdengar.
"Assalamualaikum dulu Kak Fau yang jelek,"
"Waalaikumsalam Adek Aisyah yang nggak gede-gede,"
"Aisyah udah gede Kak," kilah Aisyah.
"Kakak juga ganteng Ai. Buktinya Aqis mau sama kakak,"
"Iya deh Iya," ujar Aisyah lalu tertawa kecil.
"Ai, kakak kamu mau jadi Abi tau," sahut Umi Hasna.
"Umii..." rengek Fau yang entah kenapa terdengar sangat lucu.
"Alhamdulillah Kak, Ai ikut seneng dengarnya," ujar Aisyah.
.
.
.
Pukul 11 malam Raihan tiba di rumah. Tubuhnya sudah begitu penat dengan pekerjaannya di rumah sakit.
Raihan membuka pintu dengan kunci utama yang memang sengaja ia bawa. Ia tidak ingin mengganggu Aisyah hanya untuk membukakan pintu untuknya. Tapi tetap saja, Aisyah selalu menunggunya di ruang tamu sampai tertidur di sana.
Raihan berjalan menghampiri Aisyah,
"Ai, Aisyah bangun,"
Tak butuh waktu lama untuk membangunkan Aisyah. Sekarang Aisyah sudah membuka kedua matanya dan langsung mendudukkan dirinya kala melihat wajah suaminya.
"Mas," ujar Aisyah parau, khas suaranya sehabis bangun tidur. Dengan keadaan masih setengah sadar Aisyah meraih tangan Raihan, kebiasaannya saat awal bersama dengan Raihan.
"Tidur di kamar," suruh Raihan dengan nada suara lelah.
"Mas mau makan dulu?"
"Nggak, kamu istirahat aja. Kamu pasti capek juga kan?"
"Nggak papa kok Mas. Kalau mas mau makan, Aisyah siapkan sekarang," ujar Aisyah kekeh.
"Nggak. Kamu tidur aja, aku juga mau bersih-bersih terus tidur,"
Aisyah tersenyum tipis, ia senang dengan perhatian kecil yang Raihan berikan padanya. Aisyah melangkah mendekati Raihan.
Cup
Aisyah secepat kilat mengecup pipi Raihan lalu berlari pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya. Pipi Aisyah sudah semerah tomat gara-gara tingkahnya tadi.
Sedangkan Raihan masih mematung di tempatnya, tangannya terangkat untuk menyentuh pipinya yang barusan di cium Aisyah. Mengejutkan? Pasti. Aisyah adalah orang pertama yang melakukan ini padanya semenjak ia memutuskan berhenti berpacaran, dan semenjak ibunya meninggal waktu ia masih di MA.
Kedua ujung bibirnya terangkat, sampai deretan gigi putihnya dan rapinya terlihat. Aisyah selalu bisa membuatnya berdebar, padahal hanya sekadar ciuman biasa.
Melihat tingkah Aisyah membuat Raihan teringat sosok ibu yang selalu bersikap manis padanya.
"Mama, Rai kangen," ujar Raihan lirih. Tanpa sadar setetes air mata turun membasahi pipinya, Raihan segera mengusapnya. Lalu ia melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke kamarnya.
.
.
.
Hari ini hari Ahad. Di hari weekend itu pun Raihan masih mengambil shift untuk bekerja. Sudah selama dua bulan lebih Raihan tidak mengambil hari cuti, entah apa yang Raihan pikirkan, hanya ia dan Allah yang tahu.
Sekarang mereka tengah sarapan, rutinitas pagi yang tidak pernah Aisyah dan Raihan lewatkan. Kecuali kalau mereka melakukan puasa sunah. Raihan selesai duluan, disusul Aisyah setelahnya.
"Mas Rai,"
"Iya?"
"Mas nggak ngambil waktu buat cuti?"
"Kenapa?"
"Nggak, Ai cuma tanya aja. Mas Raihan pasti capek banget kan? Kenapa hari cutinya nggak diambil aja? Kan bisa buat istirahat di rumah," ujar Aisyah.
"Kenapa? Kamu mau aku cuti?"
"Mas Raihan marah karena waktu itu Ai datang ke rumah sakit ya?" tanya Aisyah sedikit ragu.
Terdengar helaan pelan dari Raihan. "Kenapa aku harus marah?" tanya Raihan balik.
Mata Aisyah terasa memanas karena ucapan dingin Raihan. Ia merasa Raihan semakin bersikap dingin kepadanya, dan itu membuat Aisyah sebagai istri pasti merasa sedih akan hal itu.
Aisyah menundukkan kepalanya. "Maafin Ai Mas. Ai tau Ai salah, maaf Mas," ujar Aisyah dengan mata yang sudah berlinang.
"Kamu nangis?" tanya Raihan hati-hati.
Aisyah menggeleng cepat. Bohong kalau dia tidak menangis, dengan cepat ia menyeka air matanya yang hendak mengalir membasahi pipinya.
Raihan menatap Aisyah iba, lalu ia melihat notif pesan dari ponselnya. Setelah membaca isi pesan itu Raihan bangkit dari duduknya.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang Ai. Maaf, tapi ini bukan masalah yang harus dibesar-besarkan," ujar Raihan lembut. Ia berjalan meninggalkan Aisyah yang masih duduk di kursi makan.
Raihan berhenti saat kakinya hendak menaiki anak tangga pertama, ia menoleh ke belakang.
"Ai. Hadap ke belakang"
Aisyah mengusap air matanya cepat, ia memaksakan senyum manisnya, baru ia menoleh ke belakang sesuai titah Raihan.
"Aku nggak marah sama kamu," ucap Raihan singkat. Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Aisyah.
Kini Raihan tidak berhenti. Ia baru berhenti saat sudah tiba di kamarnya, ia menutup pintu kamarnya, lalu menguncinya dari dalam. Raihan masih berusaha untuk tidak terlalu menanggapi Aisyah, walaupun ada banyak kata yang ingin ia ucapkan pada Aisyah. Ia hanya tidak ingin menyakiti gadis selugu Aisyah terlalu dalam.
"Maaf Ai," ucap Raihan lirih, dan tentunya Aisyah tidak akan dapat mendengarkan suaranya.
Katakanlah Raihan pengecut. Tapi memang itulah dirinya, ia tidak pernah tegas dengan wanita. Ia selalu ingin menjadi seorang suami yang dapat membahagiakan istrinya, itulah cita-citanya saat sudah berkeluarga.
Raihan sangat ingin membuat Aisyah bahagia karenanya, namun bayangan Aletta yang menangis waktu itu membuatnya jadi ingin menjauhi Aisyah.
Raihan tahu kalau ia sudah terlalu bodoh. Bahkan sampai sekarang ia masih memikirkan perasaan Aletta, yang belum tentu memikirkannya. Dan ia lebih memilih menjauhi Aisyah, yang statusnya adalah istri sahnya.
Alasan bodoh kalau ia tidak ingin menyakiti Aisyah dengan cara menjauhi gadis itu. Yang ada Aisyah akan semakin bersedih dengan sikap dinginnya itu. Benarkan?
Raihan hanya ke kamar untuk mengambil tas kerjanya saja lalu ia keluar dari kamar. Dapat dilihatnya kalau Aisyah tengah berusaha menghindari tatapan matanya. Gadis itu berjalan cepat ke dapur, tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Dengan kepala yang menunduk pun Raihan dapat melihat kalau sekarang gadis itu tengah menangis.
"Ai," panggil Raihan saat Aisyah kembali berjalan melewatinya. Kali ini gadis itu membawa sapu di tangannya.
"Iya mas?" jawab Aisyah.
Tiba-tiba pikiran Raihan kosong, ia menggeleng pelan. "Nggak jadi,"
Aisyah hanya membalasnya dengan anggukan kecil, ia kembali melanjutkan langkahnya.
.
.
.