Aisyah tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ia sudah berkali-kali membaca pesan yang Raihan kirimkan kepadanya.
By: Mas Raihan
Jangan mikir yang aneh-aneh.
Keep smile for me oke?
Bagaimana Aisyah tidak bahagia. Ini adalah kali pertama Raihan mengirimkan pesan padanya. Ia sering mengirim pesan pada pria itu, tapi tidak pernah dibalas, mungkin hanya dibaca, setelah itu dilupakan. Aisyah tak terlalu mempermasalahkan hal itu, ia cukup mengerti kalau Raihan pasti sibuk dengan pekerjaannya.
Bekerja sebagai dokter bukanlah hal yang mudah. Apalagi dokter muda seperti Raihan, mereka mungkin harus berangkat lebih pagi daripada yang lain, dan juga apalagi kalau sudah mengambil banyak shift perharinya. Karena itu juga sejak dulu Aisyah tidak ingin bekerja di bidang medis. Ia ingin fokus dengan rumah tangganya saja.
To: Mas Raihan
Iya mas?
Aisyah menyimpan ponselnya di nakas samping tempat tidurnya. Baru ia akan pergi, tapi terdengar lagi nada dering dari ponselnya yang menandakan ada pesan masuk. Raihan membalas pesannya? Sepertinya tidak mungkin.
Dirundung rasa ingin tahu, akhirnya Aisyah memilih mengambil kembali ponselnya. Dan benar, Raihan mengiriminya pesan lagi.
By: Mas Raihan
Aku istirahat jam set satu
Aisyah mengernyit bingung, apa maksud pesan itu? Apa Raihan ingin Aisyah datang saat jam istirahatnya nanti? Atau apa? Sungguh, Aisyah sangat buruk dalam permainan tebak-menebak.
Memangnya kenapa mas?
delete
Mas pengen Ai ke rumah sakit?
delete
Mas kangen sama Ai?
delete
Mas pengen ketemu Ai?
delete
To: Mas Raihan
Nanti Ai ke rumah sakit, boleh?
Tak berapa lama pesannya dibalas.
By: Mas Raihan
Iya. Nanti waktu aku istirahat
To: Mas Raihan
Iya Mas. Semangat ya kerjanya
By: Mas Raihan
Iya.
Aisyah bersorak gembira dalam hati. Akhirnya setelah berbulan-bulan Raihan mengizinkannya untuk menemuinya, kecuali di rumah tentunya. Pasalnya, Raihan tidak pernah mengizinkannya ke rumah sakit semenjak kejadian waktu Raihan yang malah dirundung pasien karena kedatangannya.
Masih ada waktu tiga jam lagi. Aisyah pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan spesial untuk Raihan. Aisyah akan memasak tumis kangkung dan udang goreng, makanan kesukaan Raihan.
Sedangkan di sisi lain. Raihan tersenyum bak orang gila saat melihat pesan yang ia kirimkan pada Aisyah. Ia merasa geli sendiri saat membacanya. Membutuhkan waktu hampir 30 menit untuk ia mengolah sebuah pesan sampai benar-benar terkirim pada Aisyah.
Dulu ia tidak suka mengirimkan pesan pada orang lain, bahkan walaupun pesan itu dari ayah ataupun Aza yang merupakan keluarganya sendiri. Ia hanya akan membacanya saja, jika pesannya benar-benar penting, ia akan menelfon untuk kejelasannya.
Raihan memutuskan menaruh ponselnya, pasti sebentar lagi pasiennya akan ada yang masuk. Ia harus bekerja kembali, sambil menunggu waktu istirahat nanti.
"Lo udah mulai gila Rai," decak Raihan lirih.
.
.
.
Aisyah dengan setelah hijab merah maroon panjangnya berjalan menuju kantin rumah sakit setelah mendapat instruksi dari petugas yang bilang kalau sekarang Raihan tengah berada di kantin rumah sakit.
Banyak pasang mata menatapnya, mungkin karena pakaian yang sekarang pakai. Sebenarnya Aisyah tidak terlalu peduli dengan hal itu. Tapi jujur saja, ia selalu merasa risih kalau diperhatikan sampai segitunya. Apalagi sekarang ia sudah berstatus sebagai seorang istri, ia harus lebih menutup dirinya dari orang lain, terutama dari kaum ikhwan.
Aisyah tidak menemukan Raihan di semua tempat duduk yang ada di kantin. Ia berjalan memasuki kawasan kantin, dan matanya langsung menemukan Raihan yang sekarang sedang duduk bersama seorang perempuan di meja kantin yang berada di bagian pojok kantin.
Aisyah berjalan menghampiri mereka. Sepertinya Raihan belum menyadari kehadirannya, pria itu masih bersikap santai sambil berbicara dengan perempuan yang tidak dikenalnya itu. Sampai perempuan itu menoleh menatap dirinya.
"Mbak pasiennya Dokter Raihan ya?" tanya wanita itu yang membuat Raihan juga menatapnya.
"Aisyah?" tanya Raihan memastikan. Ia berdiri di tempatnya.
Aisyah tersenyum dari balik niqabnya, ia sedikit merendah sambil menarik lengan Raihan.
"Assalamualaikum Mas," salam Aisyah sambil menyium punggung tangan Raihan.
"Waalaikumsalam," Raihan mengusap pelan kepala Aisyah lembut.
Interaksi Raihan dan Aisyah tak terlepas dari pandangan semua orang juga dengan Rania, wanita yang tadi berbicara dengan Raihan.
Raihan menatap sekelilingnya. Lalu menatap Aisyah yang tidak terlihat nyaman karena terlalu diperhatikan banyak orang. Ia menoleh, sepertinya Rania juga mempertanyakan siapa Aisyah.
"Don't worry. Kita ke ruangan aku aja ya?" bisik Raihan.
Aisyah sedikit tenang dengan ucapan Raihan. Ia mengangguk pelan.
"Iya mas," jawab Aisyah lembut.
Aisyah menatap Rania yang juga menatapnya. Raihan yang menyadari itu langsung menatap keduanya.
"Aisyah. Dia suster Rania," ujar Raihan memperkenalkan Rania. Yang membuat Rania tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya.
"Rania," ujar Rania. Aisyah membalas jabatan tangan Rania.
"Aisyah," ujar Aisyah.
"Rania, dia istri aku," tambah Raihan.
Rania terdiam sejenak. Jantungnya berdebar cepat. Rasanya sangat sakit saat mendengar ucapan Raihan. Tapi Rania berusaha kuat, ia tetap memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Oh.... Dokter Raihan kapan nikahnya? Kok nggak undang-undang?" tanya Rania sedikit ragu.
"Ahh... Maaf, emang semua karyawan rumah sakit nggak ada yang saya undang. Cuma kerabat sama tetangga dekat aja," jawab Raihan.
Aisyah mengamati sosok Rania lekat. Sebagai seorang wanita Aisyah tahu jelas arti tatapan Rania pada Raihan. Wanita itu pasti sudah menyukai suaminya sejak lama. Tapi Aisyah tidak boleh menerka, ia harus tetap berpikiran positif. Pria seperti Raihan pasti akan banyak yang suka. Ia harus terbiasa dengan fakta itu.
Dan sepertinya Rania bukanlah sejenis wanita yang ada di sinetron-sinetron yang pernah ia tonton. Rania terlihat pendiam,
"Ran, aku sama Ai ke dalam dulu ya. Maaf, aku gak jadi pesen," ucap Raihan.
"Ah iya Dok," jawab Rania.
"Ayo Ai,"
Raihan menarik Aisyah untuk pergi menjauh dari kawasan kantin. Ia sedikit tidak suka saat banyak pria yang menatap istrinya. Walaupun istrinya itu sudah sangat menutup dirinya, tapi Raihan tetap tidak menyukai hal itu.
Raihan membawa Aisyah ke dalam ruangannya. Hari ini ia tidak memiliki banyak pasien. Mungkin karena hari ini hari weekend, dan karena banyak pasien yang bisa ditangani sendiri oleh para perawat, jadi dokter sedikit banyak mempunyai waktu luang.
Aisyah duduk di sofa yang ada di ruangan Raihan. Ia menata makanan buatannya di atas meja.
"Aku masakin makanan kesukaan Mas Rai, semoga suka ya?" ucap Aisyah.
"Pasti," jawab Raihan singkat. Raihan terlihat tergiur saat melihat makanan itu,
Raihan mengambil kotak bekal dari Aisyah. Ia berdoa sebentar lalu memakan makanan itu.
"Enak," ucap Raihan setelah memasukkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
"Iya mas, makasih,"
"Kamu nggak makan?" tanya Raihan.
"Enggak. Mas Rai aja," jawab Aisyah seadanya.
Raihan terlihat tak suka dengan jawaban Aisyah. Ia menaruh kotak bekalnya di atas meja, lalu menatap Aisyah tajam.
"Kenapa Mas?" tanya Aisyah.
"Kenapa kamu nggak makan?"
Aisyah tersipu, ternyata Raihan masih menghawatirkannya.
"Aisyah udah makan kok Mas," jawab Aisyah.
"Tadi pagi?"
Aisyah mengangguk ragu. Sepertinya ia salah menanggapi pertanyaan Raihan, pria itu terlihat marah, sangat menyeramkan.
"Kamu makan,"
"Nggak Mas, itu buat Mas Raihan," tolak Aisyah halus.
"Ai,"
Aisyah menelan ludahnya sendiri, "Aisyah cuma bawa porsi sedikit Kak. Nanti Kakak nggak kenyang kalau Aisyah ikut makan,"
Raihan mengangguk pelan, lalu menaruh nasi di kotak bekal yang berisi udang goreng dan sayur kangkung. Raihan membagi rata lauk dan nasinya, lalu menyodorkan satu kotak pada Aisyah.
"Makan ya sayang," ujar Raihan hangat.
Blush!
"Ai mimpi apaan sih semalam?" tanya Aisyah dalam hati. Pasti pipinya sudah semerah tomat sekarang ini.
Setelah menyelesaikan makan siangnya Aisyah masih berada di dalam ruangan Raihan, karena pria itu melarangnya pergi.
Jadilah Aisyah hanya duduk di sofa, sementara suaminya sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pasiennya. Matanya mulai memberat, menunggu adalah suatu hal yang pasti akan membuatnya jenuh, bahkan sampai mengantuk.
Tanpa Aisyah sadari, sedari tadi Raihan sudah memperhatikannya. Pria itu selalu mencuri kesempatan untuk menatap Aisyah.
"Istrinya ya Dok?" tanya seorang wanita tua, pasien Raihan.
"Eh...iya Bu," Raihan malu dengan pertanyaan wanita itu. Sepertinya ia sudah kepergok menatap istrinya yang sekarang sudah terlelap dengan posisi duduk.
"Emm...ini Bu resepnya," ujar Raihan sambil menyodorkan sebuah kertas pada wanita tua itu.
"Iya dokter. Makasih,"
Akhirnya wanita itu sudah benar-benar keluar. Wanita itu adalah pasien terakhir Raihan hari ini, karena shift-nya hari ini sudah selesai.
Sekarang sudah pukul 15.15, Raihan segera membereskan barang-barangnya.
Beberapa menit kemudian adzan Ashar mulai terdengar. Raihan berjalan mendekati Aisyah. Tangannya terulur untuk mengguncang pelan tubuh istrinya, karena ia harus pergi ke masjid sekarang juga. Dan tidak mungkin untuk dirinya keluar begitu saja tanpa memberitahu Aisyah, bisa-bisa nanti Aisyah malah bingung mencari dirinya saat terbangun nanti.
"Ai, Aisyah,"
Baru panggilan pertama, Aisyah sudah membuat matanya.
"Aku mau ke masjid dulu. Kamu kalau mau sholat, ada tempat sholat khusus wanita di rumah sakit. Ada di samping tempat resepsionis,"
"Ah...iya Mas,"
"Aku pergi dulu ya? Assalamualaikum," Raihan melepas jasnya lalu keluar dari sana.
"Waalaikumsalam,"
Aisyah keluar dari ruangan Raihan, menuju tempat sholat yang ditunjukkan Raihan.
Tidak ada satu orang pun di sana. Mungkin karena waktu sholat masih di awal waktu. Walaupun waktu ashar memang agak panjang, tapi Aisyah selalu mengusahakan untuk melaksanakan sholat wajib di awal waktu. Karena menunda-nunda adalah hal yang tidak boleh diterapkan dalam kehidupan seorang manusia, apalagi menunda tentang kewajibannya kepada Sang Pencipta.
Aisyah melakukan sholat sunnah rawatib ghairu muakkad 4 rakaat terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan sholat wajib Ashar.
Sekitar 30 menit lebih Aisyah menghabiskan waktu Asharnya untuk beribadah. Ia kembali lagi ke ruangan Raihan. Ia menarik knop pintu itu,
Aisyah terdiam di ambang pintu,
"Mas Raihan," lirih Aisyah sambil berusaha menahan tangisnya.
.
.
.