23.15
Raihan masih berkutak dengan berkas-berkas pasiennya di rumah sakit. Seharusnya ia mengerjakannya saat tadi di rumah sakit, tapi karena kehadiran Aza yang tiba-tiba membuatnya harus menjadikannya sebuah pr untuknya.
Ia harus menyelesaikannya hari ini juga. Besok ia akan pergi ke pantai bersama Aisyah, la sudah memutuskan untuk liburan bersama sang istri, mungkin sebagai pengganti karena dirinya yang hampir tidak pernah menghabiskan waktu dengan Aisyah.
Ia juga sudah memberitahu Aza, dan untungnya Aza tidak memaksa untuk ikut. Besok Aza akan pulang, karena besok Aza juga harus pergi ke sekolah.
Perlahan pintu ruang baca Raihan terbuka, Aisyah muncul setelah pintu terbuka separuh. Ragu-ragu gadis itu masuk ke dalam.
Raihan yang sudah terlarut dengan kertas-kertas itu sampai tidak menyadari kehadiran istrinya.
Aisyah menatap Raihan kasihan, pasti Raihan memaksa untuk menahan kantuknya dan fokus pada pekerjaannya. Aisyah masuk ke dalam ruangan luas itu.
"Astagfirullah," gumam Raihan setelah sadar kalau Aisyah sudah berada di depan mejanya. Raihan melepaskan kacamatanya, menatap Aisyah penuh tanya.
"Kamu nggak ngantuk?" tanya Raihan.
Aisyah mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan Raihan. Lalu menggeleng pelan.
"Mas perlu bantuan Ai?" tanya Aisyah. Ia benar-benar kasihan pada suaminya, bahkan mata Raihan sudah sangat memerah, ia takut kalau Raihan malah sakit nantinya.
"Nggak usah Ai," tolak Raihan halus.
"Ai bisa kok Mas," kekeh Aisyah.
Raihan terkekeh pelan. "Kalau udah selesai apa yang mau dikerjakan Ai?" tanya Raihan.
"Udah selesai ya?" tanya Aisyah sambil mengerjap lucu.
Raihan mencondongkan kepalanya, ia mengusap gemas kepala Aisyah, membuatnya menjadi sangat dekat dengan tubuh Aisyah.
Aisyah menahan napas saat ia dan Raihan yang hanya berjarak beberapa senti saja sekarang.
Raihan terpaku dengan wajah cantik Asiyah, terlihat sangat natural, karena memang istrinya itu mungkin tidak memoles wajah cantiknya dengan apapun. Ia tidak pernah menemukan alat make up yang sering ia jumpai pada beberapa wanita yang biasanya malah terang-terangan memamerkan alat make up mereka.
Raihan tak kunjung memundurkan tubuhnya, membuat Aisyah meneguk ludahnya gugup.
"M..mas,"
Raihan langsung sadar saat itu juga, ia menarik tangannya menjauh, begitu juga dengan tubuhnya.
Mendadak suasana menjadi canggung akibat ulah Raihan. Raihan berdehem singkat, lalu menata kertas-kertas di atas mejanya. Sesekali ia melirik Aisyah yang ikut membantunya.
"Ekhm, istirahat sekarang aja. Besok biar nggak telat bangun," ujar Raihan pada akhirnya.
.
.
.
Setelah lebih dari dua jam perjalanan, akhirnya sekarang mereka sudah sampai di villa yang sebelumnya sudah Raihan pesan. Pegawai villa dengan ramah menunjukkan kamar pesanan Raihan.
"Terima kasih mbak," ujar Aisyah lembut pada pegawai yang mungkin umurnya lebuh tua darinya itu.
Wanita itu mengangguk ringan lalu berlalu pergi.
Raihan membawa kopernya dan milik Aisyah masuk ke dalam kamar. Ada dua ranjang di sana, satu di samping jendela, dan yang satunya berada di depan tv.
Aisyah masuk setelah menutup pintu kamar. Aisyah terus tersenyum di balik niqabnya, ia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya sekarang. Bisa menghabiskan waktu bersama suaminya adalah impian semua wanita setelah sudah menikah, termasuk dengan Aisyah.
"Ya Allah, bagus banget kamarnya," ujar Aisyah kagum setelah menyadari kalau kamar yang mereka tempati sangat bagus, jauh dari perkiraannya.
Ini pertama kalinya Aisyah berada di villa, apalagi nuansa di luar villa yang langsung menunjukkan pemandangan indah membuat kesan tersendiri untuknya.
Aisyah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan Raihan menuju ke kamar mandi setelah mengambil setelan baju untuk dipakainya nanti.
Setelah puas dengan keterkagumannya pada ruangan itu, Aisyah mulai memindahkan pakaiannya dan Raihan ke dalam almari yang memang sudah tersedia.
Raihan keluar dari kamar mandi dengan baju santai. Ia sedikit mengacak rambutnya yang basah dengan handuk putih.
"Kamu mandi dulu apa langsung makan aja?" tanya Raihan.
"Ai mandi dulu aja Mas," jawab Aisyah sambil menata pakaian Raihan di almari.
.
.
.
Setelah sampai di restoran, Raihan langsung ke bagian kasir untuk memesan privat room untuk dirinya dan Aisyah. Sekalian juga mereka memesan makanan,
Raihan dan Aisyah berjalan beriringan menuju ruangan pesanan Raihan dengan salah satu pegawai berjalan duluan untuk menunjukkan tempat mereka.
Setelah selesai makan mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan di taman. Tempat yang sangat nyaman untuk seseorang yang ingin menenangkan diri. Raihan dan Aisyah berjalan beriringan,
Raihan spontan menggenggam bahu dan tangan Aisyah saat gadis itu hampir terjungkal karena menginjak batu.
"Hati-hati Ai," ujar Raihan lembut.
Aisyah tersipu saat menatap tangannya yang digenggam erat oleh Raihan. Perlakuan sekecil ini bisa sangat berarti bagi Aisyah. Sekilas Aisyah sedih saat teringat kalau Raihan yang memang belum pernah menyentuhnya, Aisyah merasa belum menjadi istri yang baik untuk suaminya,
Raihan yang menyadari tatapan Aisyah segera menarik kembali tangannya.
"Duduk di sana dulu mau?" tanya Raihan sedikit gugup. Entah kenapa Raihan malah jadi seperti tengah dalam tahap masa pendekatan a.k.a pdkt ABG jaman sekarang. Terasa sangat canggung saat dirinya bersama dengan Aisyah yang notabenya adalah istrinya sendiri.
Situasi taman sedikit sepi, karena Raihan sengaja mengajak Aisyah ke bagian taman paling belakang, yang jarang dikunjungi orang-orang. Ia memahami Aisyah yang pasti tidak nyaman menjadi perhatian banyak orang karena pakaiannya. Walaupun Aisyah tidak malu dengan pakaiannya, tapi sebagai seorang wanita, Aisyah juga tidak ingin dipandang orang lain dengan tatapan tertarik akan dirinya.
Hawa dingin semakin menerpa kulit keduanya, bukan karena cuacanya, tapi karena Raihan dan Aisyah yang sama-sama dalam kecanggungan.
20 menit berlalu, dan mereka masih sibuk dengan keterdiamannya masing-masing, sampai suara ponsel Raihan yang berdering memecahkan keheningan itu.
Raihan mengambil ponselnya ragu-ragu. Ia segera menggeser tombol hijau saat mama 'Aza' langsung tertera di layar ponselnya. Raihan berdiri dan sedikit menjauh Aisyah.
"..."
"Waalaikumsalam,"
"..."
"Kamu kenapa?" Raihan mulai menaikkan nada suaranya.
Aisyah menatap Raihan bingung. Raihan mulai marah-marah tidak jelas, entah siapa dan apa yang dikatakan si lawan bicara Raihan.
"Maksud kamu gimana Aza!" Aisyah berdiri dari duduknya saat Raihan menyebut nama adik iparnya.
Raihan terlihat frustasi, ia langsung mematikan sambungan telefonnya.
"Aza kenapa mas?"
"Kita pulang sekarang," ujar Raihan tiba-tiba,
"Se...sekarang?" tanya Aisyah sendu. Tatapan matanya menyiratkan ia terkejut dan sedih, tapi melihat raut wajah Raihan yang mengeras membuatnya berpikir kalau pasti terjadi sesuatu yang membuat Raihan memutuskan hal ini.
.
.
.
Hanya membutuhkan waktu satu jam untuk sampai di rumah Ayah Irsyad. Raihan berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata, pikirannya saat ini sedang blank. Bahkan ia tidak memperdulikan Aisyah yang ketakutan.
Raihan turun dari mobilnya tanpa memperdulikan Aisyah. Sampai sekarang Aisyah belum tahu apa penyebab Raihan bersikap seperti ini. Tadi saja Raihan sama sekali tidak mau berbicara dengannya, Raihan mengabaikan semua pertanyaan, seperti tidak menganggap Aisyah ada. Hal itu membuat Aisyah tambah bersedih, ia jadi semakin merasa tidak becus menjadi seorang istri.
Raihan masuk ke dalam rumah ayahnya. Dan ia langsung mendapati Aza dan ayahnya yang sedang bercengkerama di ruang tamu.
"Kak Raihan?!" ujar Aza terkejut. Bagaimana ia tidak terkejut, yang ia tahu sekarang Raihan dan kakak iparnya itu baru pagi tadi berangkat ke pantai untuk menghabiskan waktu bersama. Dan tiba-tiba saja kakaknya muncul di waktu yang masih tergolong sore.
"Maksud kamu apa tadi?!" tanya Raihan geram.
"Maksud Aza? Emang tadi Aza ngomong apa kak?" tanya Aza bingung.
"Aletta!"
"Ahh...nenek lampir itu? Kenapa emang?" tanya Aza menantang.
"Di mana Aletta sekarang?"
"Udah aku usir lah. Terus aku bilang ke dia supaya nggak nemuin kakak lagi, soalnya kakak udah punya istri yang JAUH LEBIH BAIK daripada dia," ujar Aza
"Kenapa kamu kasih tahu Aletta Za?!"
"Ha? Kenapa aku kasih tahu?" Aza berdecih pelan. "Emang kakak pengen Kak Aisyah tahu hubungan kakak sama Si nenek lampir? Kakak..." ucapan Aza terhenti saat matanya menangkap kehadiran Aisyah di belakang kakaknya. Wanita itu terdiam di tempatnya, seperti menunggu kelanjutan dari ucapan Aza.
"Aisyah," ucap Ayah Irsyad cepat sebelum Aza maupun Raihan mulai berbicara yang mungkin akan menyakiti perasaan Asiyah.
Spontan Raihan menoleh, ia sedikit terkejut melihat Aisyah berada di belakangnya. Ia seperti merasa telah ketahuan melakukan sesuatu yang Aisyah tidak suka.
"Ai..."
Aisyah tidak tahu harus merespon apa. Sungguh, ia belum mengerti dengan apa yang terjadi di sini. Banyak pertanyaan berhinggap di kepalanya.
Apa yang sedang terjadi?
Siapa Aletta?
Apa hubungan wanita itu dengan suaminya?
Dan kenapa suaminya itu sampai berteriak pada Aza?
"Kak Raihan sama Kak Ai udah pulang gara-gara Aletta?!" tanya Aza terkejut.
"AZA!"
"Kak Rai kenapa sih, hah? Kak Rai ngajak Kak Ai pulang cuma gara-gara Aza ngasih tahu soal Aletta?! Kak Raihan udah gila hah?!" geram Aza dengan berani, ia bahkan sudah tidak berpikir dulu saat berbicara dengan kakak bodohnya itu.
Raihan dan Ayah Irsyad menatap tajam Aza. Gadis itu benar-benar tidak bisa menyaring ucapannya terlebih dahulu.
"AZA!!"
Aisyah merasakan jantungnya berdebar cepat. Mendengar pernyataan Aza membuat Aisyah sedikit tahu, kalau wanita bernama Aletta itu jauh lebih penting dari dirinya. Setetes demi setetes air mata Aisyah turun, dan hal itu membuat Raihan, Aza, maupun Ayah Irsyad terpaku melihatnya.
Aisyah segera menghapus air matanya. Ia berusaha menegarkan hatinya. Ia berjalan mendekati Ayah Irsyad melewati Raihan yang belum bisa mengeluarkan kata-kata.
"Assalamualaikum Yah," salam Aisyah sambil meraih tangan ayah mertuanya dan menciumnya. Bersikap seolah-olah ia tidak tahu tentang apa yang sekarang terjadi.
Ayah Irsyad memaksakan senyumnya. "Waalaikumsalam salam, nak"
Aza dan Raihan menatap Aisyah yang nampak acuh, dan sikap Aisyah itu malah membuat Raihan semakin merasa bersalah. Ia seperti telah melakukan kesalahan yang besar, tapi memang benar. Ia memutuskan sepihak untuk kembali dari liburan mereka yang bahkan belum ada satu hari hanya karena mendengar Aletta sudah berada di Indonesia. Bodoh kan Raihan.
"Gue harus gimana?"
.
.
.