Raihan tak tahu harus bagaimana, sedari pulang dari rumah ayahnya Aisyah jadi benar-benar mendiamkannya. Aisyah terlihat tidak ingin berbicara dengannya. Bahkan sekarang saja gadis itu terlihat enggan menatapnya. Aisyah berjalan melewatinya, tanpa menyapa seperti biasanya.
Raihan hanya bisa menghela napas panjang, ia juga tidak tahu harus menjelaskan apa kepada istrinya itu. Dan Aisyah sepertinya juga tidak ingin menanyakan apa-apa kepadanya. Raihan benar-benar merasa menyesal di usia pernikahannya yang masih seumur jagung ini, tapi ia sudah menyakiti perasaan istrinya.
"Argh!"
Raihan mendesah frustasi, ia tidak bisa terus menerus dalam perasaan bersalah seperti ini. Raihan bangkit dari kursi kerjanya, lalu berniat pergi ke kamar Aisyah.
Raihan sampai di depan pintu kamar Aisyah. Otaknya mendadak kosong ketika dengan tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan menampilkan Aisyah yang sepertinya baru selesai bersih-bersih.
Aisyah mendongak menatap Raihan sekilas, lalu kembali menundukkan kepalanya.
"Aisyah, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Raihan setelah meyakinkan diri.
Aisyah diam, lalu beberapa saat ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab permintaan Raihan.
Raihan tersenyum tipis, sangat tipis sampai mungkin Aisyah tidak akan menyadarinya jikapun gadis itu melihatnya.
"Di....Di bawah aja ya," Lalu Raihan berjalan duluan menuruni anak tangga. Sedangkan Aisyah tidak memiliki pilihan lain, sebenarnya hatinya masih belum siap untuk mendengarkan penjelasan Raihan yang mungkin saja akan membuatnya sakit hati, tapi Aisyah juga tidak ingin masalah ini semakin panjang dan menimbulkan pertikaian atau malah dosa nantinya
Raihan duduk di kursi yang berada di ruang keluarga, dan Aisyah ikut duduk di depan pria itu.
Beberapa menit masih hening, Raihan belum mengeluarkan suara. Sepertinya pria itu tengah memilah kata yang sesuai untuk menjelaskan semuanya pada Aisyah, dengan harapan agar ia tidak menyakiti perasaan istrinya.
"Mas," Panggilan Aisyah membuat Raihan mendongak, dan seketika semua kata yang hampir selesai ia siapkan hilang begitu saja.
"I--iya?"
"Ai boleh tanya sesuatu?" tanya Aisyah. Sepertinya gadis itu tengah berinisiatif untuk membuat Raihan agar lebih mudah menjelaskan semuanya.
Entah kenapa degupan di dalam d**a Raihan semakin kencang, bahkan rasanya jauh lebih mendebarkan daripada ketika ia menunggu hasil tes kelulusannya.
"Aisyah mau tanya apa?" tanya Raihan.
Aisyah pun juga tidak kalah gugupnya dengan Raihan, ia sedang berusaha memilah kata untuk ia tanyakan pada suaminya itu.
Aisyah meneguhkan hatinya untuk menatap manik mata Raihan, "Apa....Mas Raihan sudah punya wanita lain sebelum melamar Aisyah?" tanya Aisyah ragu-ragu.
Deg!
Akhirnya pertanyaan itu yang keluar dari mulut mungil Aisyah. Jantung Raihan terus berdegup kencang tak terkendali. Raihan kebingungan, hal itu terlihat dari raut wajah Raihan. Dan seolah dari kegugupan Raihan lah Aisyah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Aisyah merasakan sesak di dadanya, hingga gadis berkulit putih itu menundukkan kepalanya dengan mata memerah.
Raihan ikut menunduk setelah melihat Aisyah, dirinya belum menjawab saja Aisyah sudah merespon seperti itu, apalagi jika ia menjelaskan yang sebenarnya. Raihan merutuki dirinya sendiri, seolah semua yang ia lakukan sekarang adalah kesalahan. Dan apapun yang keluar dari mulutnya nanti, ia yakin pasti akan menyakiti Aisyah.
"Maaf, seharusnya Aisyah nggak menanyakan hal seperti ini," Ucapan tiba-tiba Aisyah membuat Raihan mendongak, menatap manik Aisyah yang sudah sangat merah seperti tengah menahan cairan kristal yang ingin turun.
"Itu masa lalu Mas Raihan, dan Aisyah nggak berhak untuk menanyakan semua itu jika Mas Raihan nggak berkehendak. Dan lagipula semua orang punya masa lalunya masing-masing, termasuk Mas Raihan juga," Raihan terpana selama beberapa saat ketika melihat senyuman yang Aisyah paksakan padanya. Dan itu membuat Raihan semakin merasa bersalah sekarang.
"Maaf, sepertinya semua harus selesai di sini. Aku mohon kamu mengerti," Jawaban itu membuat jantung Aisyah berhenti satu detik, lalu dilanjutkan dengan debaran aneh yang malah membuat dadanya nyeri. Ditambah dengan Raihan yang tiba-tiba meninggalkannya membuat kulitnya mendingin.
Aisyah menatap kepergian Raihan dengan tubuh lemah, dan akhirnya air mata Aisyah luruh saat itu juga. Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk meredam suara isakannya.
"Ya Allah, cobaan apalagi ini?" Aisyah langsung beristighfar setelah mempertanyakan hal itu pada Sang Ilahi. Aisyah terus berdzikir untuk menenangkan hatinya, tapi dadanya malah semakin sesak ketika mengingat betapa cueknya Raihan tentang masalah ini. Aisyah ingin marah, tapi ia berusaha untuk menahannya, Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah SAW:
“Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, tetapi istrinya dari kelompok bidadari bakal berkata, ‘Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; nyaris saja ia bakal meninggalkanmu menuju pada kami’.” (HR At-Tirmidzi).
Sedangkan Raihan masih berdiri di ujung tangga teratas, menatap Aisyah dengan tatapan sulit diartikan, "maaf," ujar Raihan lirih, lalu ia berjalan pergi ke kamarnya.
.
.
.
Sangat ingin rasanya Aisyah pergi ke kamar dan menumpahkan semua air matanya. Tapi Aisyah tahu itu sia-sia dan sama sekali tidak ada gunanya. Jadi, Aisyah lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan menyiapkan makan malam, walaupun ia tidak yakin Raihan akan keluar dari kamar sejak kejadian petang tadi.
Aisyah akan membawa makanannya ke meja makan, dan ia cukup terkejut ketika melihat Raihan sudah duduk manis di salah satu kursi di sana. Jantung Aisyah kembali berdebar, "Maaf, sepertinya semua harus selesai di sini. Aku mohon kamu mengerti," ucapan itu kembali bersarang di kepala Aisyah, membuat gadis itu kembali merasakan sesak di ulu hatinya.
Aisyah kembali melangkah dan menaruh masakannya di meja makan. Dan hal itu berhasil menarik perhatian Raihan yang tadinya tengah sibuk dengan ponselnya. Setelah selesai, Aisyah ikut mendudukkan diri di hadapan Raihan, tempat yang biasa ia duduki.
Suasana menjadi sangat canggung setelah Aisyah dan Raihan yang tidak sengaja melakukan eye contact.
Aisyah menatap Raihan ketika melihat pria itu akan mengucapkan kata, "Aku minta maaf atas ucapanku tadi. Tapi aku juga minta maaf, aku belum bisa menjelaskan semuanya," ujar Raihan dengan suara tegas, namun terdengar lembut di mata Aisyah.
Aisyah menganggukkan kepala singkat, "Aisyah paham Mas,"
"Kita makan, biar aku pimpin doanya," ujar Raihan. Lalu pria itu mulai memimpin doa makan.
Aisyah menatap Raihan teduh. Ia masih tidak menyangka sosok yang ia kagumi dan tunggu selama ini sudah menjadi suami sahnya. Inilah perwujudan atas doanya selama ini, Aisyah benar-benar bersyukur pada Sang Ilahi. Sebenarnya masih ada sebongkah perasaan ragu di dalam hatinya setelah mengetahui, bahwa ternyata Raihan masih mencintai wanita lain. Tapi Aisyah berusaha sabar, ia harus memahami perasaan suaminya, ia juga berharap agar Raihan dapat mencintainya juga di masa depan.
Namun, apakah itu mungkin?
"Aisyah," panggil Raihan setelah pria itu menghabiskan makanannya.
Aisyah pun juga sudah menghabiskan makanannya, ia mendongak menerima panggilan Raihan, "Iya Mas,"
"Kita nggak usah lagi bahas masalah hari ini. Aku nggak mau kita bertengkar karena hal sepele seperti ini. Dan aku mohon kamu bisa mengerti," ujar Raihan meminta.
Rasanya sesak mendengar ucapan Raihan kali ini. Namun Aisyah bisa apa, ia sama sekali tidak ada pilihan selain menuruti permintaan Raihan,
"Iya Mas, Aisyah akan berusaha melupakan semua kejadian hari ini dan mengerti Mas Raihan. Tapi, apa Aisyah bisa meminta satu permohonan?" tanya Aisyah gugup.
"Apa?" sahut Raihan
"Apa bisa Mas Raihan belajar untuk mencintai Aisyah?"
.
.
.
Setelah makan malam, Raihan langsung pergi ke kamarnya. Sedangkan Aisyah harus membersihkan sisa-sisa makanan, baru ia pergi ke kamarnya sendiri.
Aisyah mengambil air wudhu, lalu mengaji untuk menghilangkannya gundah di hatinya. Aisyah membaca Surah Al-Mulk sampai Surah Nuh. Aisyah mengaji hingga pukul 10 malam, lalu ia menutup Al-Qur'annya lalu menaruhnya di dalam laci. Aisyah kembali ke atas sajadahnya, lalu menengadahkan tangan, dan berdoa. Yang dimulai dari mengucapkan nama-nama baik Allah, sholawat atas Nabi Muhammad, lalu dilanjutkan dengan do'anya. Mengeluh, curhat, ceritakan semuanya kepada Allah agar hati lebih tenang. Seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).
Dan dari kisah Ibnul Jauzi Rahimahullah yang menjelaskan bahwa mengeluh kepada makhluk adalah suatu hal yang dibenci. Beliau rahimahullah berkata,
وقد كان السَّلَفُ يكرهون الشَّكوَى إِلَى الخَلقِ. وَالشَّكوَى وَإِن كان فيها رَاحَةٌ إِلا أَنَّـهَا تَدُلُّ عَلَىٰ ضَـعـفٍ وَذُلٍّ. وَالصَّبرُ عنها دَلِيلٌ عَلَى قُـوَّةٍ وَعِزٍّ.
“Para salaf membenci mengeluh kepada makhluk, meski ketika mengeluh tersebut mendatangkan ketenangan. Hal tersebut menunjukkan lemahnya iman dan kerendahan. Bersabar atas musibah menunjukkan kuatnya iman dan kemuliaan seseorang” (Ats-Tsabaat ‘Inda Al-Mamat, hal. 55).
Berdoalah, memohon lah, dan meminta lah hanya kepada Allah. Itulah yang Aisyah pelajari.
"Ya Allah. Apakah hamba salah jika menginginkan cinta atas suami hamba sendiri Ya Allah? Hamba mohon ampun padamu Ya Allah, hamba sungguh mencintainya, dan hamba juga ingin dicintai olehnya," Tanpa sadar air mata Aisyah mulai luruh dengan dadanya yang kembali terasa sesak.
"Ya Allah, mohon bimbinglah hambamu ini agar tidak selalu berburuk sangka tentang suami hamba sendiri Ya Allah. Dan tentramkanlah pernikahan hamba ibu Ya Allah. Aaamiiin," Aisyah mengusap wajahnya di akhir doanya.
"Alhamdulillahirobbil 'alamiin,"
Aisyah menghembuskan napas panjang, lalu mengusap air matanya. Setelah itu Aisyah menutup sajadahnya dan menyimpannya di dalam almari. Aisyah pergi ke atas tempat tidur. Ia mengambil sebuah buku dari laci yang berada di samping ranjangnya.
Buku itu berjudul Inspirasi Islami Wanita Zaman Rasulullah. Itu adalah salah satu hobi Aisyah, membaca buku-buku pengetahuan tentang wanita zaman Rasulullah, mengambil pelajaran dan menerapkan sifatnya. Walaupun begitu tapi pikiran Aisyah terus tertuju pada Raihan.
Apa yang tengah dilakukan pria itu?
Apa yang Raihan pikirkan tentangnya?
Apa Raihan membencinya?
Apa Raihan masih akan berhubungan dengan wanita itu?
Apa mungkin...
"Astaghfirullah," Aisyah memejamkan matanya erat, ia tidak boleh memikirkan hal seperti itu, apalagi tentang Raihan, suaminya. Ia harus percaya dengan Raihan, walaupun itu akan menyakiti dirinya sendiri.
"Mas Raihan..."
Tanpa sepengetahuan Aisyah, ada Raihan dari balik pintu kamarnya. Pria itu sudah ada di sana sejak Aisyah mengaji. Ia terus terlena dengan suara merdu Aisyah ketika melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Namun tadi ia sedikit terkejut ketika mendengar suara Isak tangis dari dalam sana, tangisan yang ia yakini adalah milik Aisyah. Dan ia yakin dirinyalah penyebabnya.
Raihan sangat ingin memeluk Aisyah erat, dan menenangkannya. Tapi apalah dayanya, ia telah menyakiti gadis cantik itu dengan perkataannya, dan ia yakin Aisyah pasti sudah sangat marah padanya karena jawabannya tadi.
"Apa bisa Mas Raihan belajar untuk mencintai Aisyah?" tanya Aisyah.
"Bukankah aku sudah bilang untuk melupakannya Aisyah?"
Bodoh! Raihan benar-benar bodoh, seharusnya ia memikirkan dulu apa akibat dari ucapannya. Tapi itulah yang ia pikirkan sejak awal. Pernikahan ini hanya sebatas karena keinginan ayahnya, sedangkan hati Raihan saat ini masih untuk Aletta. Raihan tahu dirinya salah, ia tidak pernah bisa tegas tentang wanita, tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Ia harus terperangkap dengan dua wanita yang statusnya sangat berbeda. Aletta, wanita yang ia cintai. Dan Aisyah, istri sahnya.
Raihan menoleh pada pintu coklat itu dengan tatapan sendu, "Maaf,"
.
.
.