Raihan baru pulang pukul satu dini hari, setelah pulang pun Raihan langsung pergi ke kamar untuk istirahat. Sedangkan Aisyah masih digerundungi rasa ingin tahunya tentang kemarin ketika ia melihat Aletta berada di rumah sakit. Apa Aletta menghampiri Raihan? Atau Aletta benar-benar sakit, makanya pergi ke sana?
Perasaan cemas dan khawatir mulai hinggap di hati Aisyah. Ia benar-benar takut Aletta akan masuk ke dalam kehidupan rumah tangganya, dan ia belum mempersiapkan hal itu. Raihan pun tidak pernah memberitahukan atau bahkan menjelaskan siapa Aletta kepadanya, dan hal itu malah menambah beban pikiran Aisyah sekarang.
Aisyah bangun pukul 3 pagi seperti biasanya. Walaupun dalam keadaan haid, Aisyah selalu terbangun pukul 3 atau paling telat ketika imsak, mungkin karena sudah terbiasa bangun di jam itu sedari kecil. Dan sekarang sudah pukul 5, Aisyah sudah selesai bersih-bersih, dan memasak.
Sedangkan Raihan sudah pergi ke masjid sejak subuh tadi, mungkin sekalian lari pagi seperti kebiasaan pria itu.
Aisyah pergi ke kamar untuk mengumpulkan kertas-kertas gambarannya ke dalam map, lalu memasukkan pensil dan alat warna ke dalam tempatnya masing-masing. Semalam ia terlalu lelah, jadi ia belum sempat membersihkannya. Setelah selesai Aisyah keluar dari kamar, mungkin saja Raihan sudah pulang.
Dan benar, baru saja Aisyah menutup pintu kamarnya. Ia melihat Raihan yang tiba di tangga terakhir. Aisyah tersenyum kecil, "udah pulang mas?"
Raihan mengangguk kecil sebagai balasan, lalu ia berjalan melewati Aisyah untuk pergi ke kamarnya.
.
.
.
"Mas Raihan nggak ke rumah sakit?" tanya Aisyah ketika menyadari jika Raihan tidak memakai kemeja seperti biasanya, melainkan hanya pakaian kasual biasa.
"Nggak, aku mau ke kampus. Ada urusan," ujar Raihan setelah selesai meneguk habis teh-nya.
Aisyah menggigit bibir bawahnya, ia ingin sekali pergi dengan Raihan layaknya suami istri biasanya. Tapi pekerjaan Raihan selalu menghambat hal tersebut. Bukan! Bukan karena Aisyah tak punya rasa syukur atas pekerjaan Raihan, tapi ya...begitulah. Ia ingin sekali memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Raihan, tapi sepertinya Raihan tidak memiliki keinginan yang sama dengannya.
Raihan menyadari perubahan sendu dari raut muka Aisyah. Tapi ia tidak tahu apa yang gadis itu pikirkan sekarang, dan Raihan juga tidak pandai menebak isi hati seseorang.
"Nanti kamu ke rumah Ratna?" tanya Raihan.
Aisyah mendongak menatap Raihan, lalu menggelengkan kepalanya, "insyaa Allah sore. Soalnya Ratna harus anterin ibunya kontrol pas pagi," ujar Aisyah menjelaskan.
"Emang kenapa Mas?" tanya Aisyah lagi, karena tidak biasanya Raihan menanyakan tentang jadwalnya, mungkin malah Aisyah yang selalu mengatakan semua jadwal hariannya pada Raihan.
"Em, kalau kamu mau. Aku mau ajak kamu ke kampus. Aku tahu, aku nggak pernah punya waktu buat kamu. Dan aku bersyukur karena kamu nggak pernah menuntut macam-macam sama aku. Tapi, aku juga tahu kamu memiliki keinginan seperti wanita pada umumnya, untuk menghabiskan waktu bersama pasangan, walaupun hanya sebentar, ya kan?" ujar Raihan panjang lebar, lalu mengakhiri kalimatnya dengan tanda tanya.
Aisyah sedikit terperangah dengan ucapan Raihan. Jadi, selama ini Raihan juga memikirkan hal itu. Astaghfirullah, berarti selama ini ia sudah berburuk sangka kepada suaminya sendiri. Ia jadi tidak tau harus menjawab apa lagi kepada Raihan.
"Ai jawab dong. Masa aku ngomong panjang kali lebar kali tinggi kamu masih diem aja sih?" tanya Raihan sembari memberengut kesal, ia sudah panas dingin sendiri mengucapkan semua kalimat menggelikan itu, tapi Aisyah malah hanya tersenyum tanpa menanggapi, membuat jantungnya jadi berdebar karena ia tidak dapat menebak apa yang Aisyah pikirkan kepadanya.
Aisyah terkekeh kecil, "Ai juga bingung mas mau jawab apa. Tapi, yang mas ucapin itu....Aisyah juga pengen punya waktu sama Mas, ya walaupun cuma sedikit. Makasih, karena mas Rai udah mengerti perasaan Ai," ujar Aisyah lembut.
Raihan tersenyum tipis, tangannya terangkat untuk mengusap lembut Khimar Aisyah. Kurang apalagi istrinya itu. Sudah cantik, baik, pengertian. Sungguh, Raihan benar-benar ingin menyombongkan istrinya kepada semua orang, tapi Raihan tahu itu tidak boleh, dan lagi Aisyah pasti tidak akan menyukainya.
"Nanti jam 9 aku mau berangkat ke kampus, kamu mau ikut?" tanya Raihan ragu-ragu. Tapi ia yakin Aisyah tidak akan menolak permintaan kecilnya ini.
Aisyah mengangguk pasti, "Ai mau kok Mas," jawab Aisyah.
"Tapi sebentar lagi aku mau ke rumah sakit, ada urusan sebentar sama dokter pembimbing," ujar Raihan.
"Emang nggak papa pakai pakaian kasual mas?" tanya Aisyah.
Raihan tersenyum tipis, "Nggak papa lah. Yang ada kalau pakai pakaian formal malah aku dikasih pasien lagi gimana?" tanya Raihan berniat melawak. Namun, wajah Aisyah tetap flat, membuat tawa Raihan terhenti.
Raihan berdehem kecil, "nggak lucu ya?"
"Lucu kok, Ai cuma seneng bisa lihat Mas Raihan terbuka seperti ini sama Ai. Ai juga pengen mengabadikan momen aja, ini pertama kalinya Ai lihat Mas Raihan bisa terasa sedekat ini sama Ai," ujar Aisyah tanpa sadar. Membuat d**a Raihan terasa tertusuk karena ucapan Aisyah.
Raihan meraih tangan Aisyah, dan Aisyah hanya menatap kegiatan Raihan itu dengan mata berkedip lucu, terlihat menggemaskan untuk Raihan.
"Terima kasih," ujar Raihan singkat membuat Aisyah bingung.
"Terima kasih udah mau sabar atas semua sikap aku yang terkadang kurang layak ke kamu. Dan maaf, aku...masih belum bisa memberikan hatiku untuk kamu,"
.
.
.
Hening menguasai semenjak ucapan terakhir Raihan di meja makan tadi. Bahkan sampai mobil Raihan sampai di kampus pun tidak salah satu dari mereka yang mau membuka suara.
Raihan menatap Aisyah sekilas, lalu turun dari mobil. Aisyah pun turun mengikuti Raihan setelah melepas sabuk pengamannya. Aisyah berjalan mendekati Raihan,
"Aku mau ketemu dosen dulu, kamu mau ikut?" Pembicaraan pertama setelah beberapa jam. Dan nada suara Raihan pun tidak terdengar seperti dia menginginkan Aisyah untuk pergi mengikuti pria itu. Aisyah cukup sadar diri akan hal itu.
"Nggak. Aku tunggu kamu di mobil aja," jawab Aisyah membuat raut wajah Raihan tiba-tiba sendu.
Raihan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia sedikit terkejut ketika melihat Aletta mengirimkan pesan kepadanya, dan mengatakan jika wanita itu ingin bertemu dengannya di kampus. Pertanyaan Raihan sekarang, bagiamana bisa wanita itu tahu dirinya sedang berada di sini? Seingatnya ia tidak memberitahu kepada siapa-siapa, kecuali Aisyah dan dokternya.
Raihan menatap Aisyah, ia masih belum bisa membiarkan Aisyah bertemu dengan Aletta, itulah yang Raihan pikirkan sekarang.
"Gimana...." Raihan menjeda ucapannya, "...kalau kamu jalan-jalan aja, tapi jangan jauh-jauh. Kalau kamu ada apa-apa kamu bisa telfon aku," tawar Raihan. Raihan juga tidak mungkin mengajak Aisyah untuk bertemu dosennya, itu akan membuatnya sangat canggung. Apalagi sewaktu-waktu Aletta pasti akan menemuinya, ia tidak ingin Aletta dan Aisyah bertemu. Padahal sebenarnya Aisyah sudah pernah berbincang dengan Aletta, tapi sayangnya Aisyah tidak mengatakan hal itu pada Raihan.
"Iya nggak papa," jawab Aisyah apa adanya.
"Kalau gitu aku pergi dulu. Assalamualaikum," ujar Raihan, yang langsung pergi begitu saja meninggalkan Aisyah.
Aisyah menghembuskan napas kecil, ia mengedarkan pandangannya. Ia terkejut ketika melihat banyak mahasiswa/mahasiswi yang melihat ke arahnya. Sebenarnya ia sudah terbiasa diperhatikan semenjak memakai cadar ketika kuliah dulu. Tapi tetap saja, Aisyah tidak pernah merasa nyaman menjadi pusat perhatian.
Aisyah memilih menghindari mereka. Ia pergi berjalan di sekitar parkiran mobil Raihan. Sedikit jauh, sampai ia tersadar jika ia baru saja akan melewati gedung fakultas lain. Aisyah mengedarkan pandangannya, ia berharap dalam hati agar dirinya tidak tersasar. Tapi, seperti...
"Ya Allah, ini di mana? Aku kejauhan jalannya tadi," ujar Aisyah cemas. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, ia hendak menghubungi Raihan, tapi terhenti karena sekarang Raihan pasti sedang sibuk dengan urusannya. Dan ini baru sebentar, Aisyah tidak ingin menyusahkan Raihan.
Aisyah menatap sekelilingnya, berusaha mengingat jalan yang telah ia lewati tadi, dan ia pun memilih berjalan sesuai feeling-nya. Tapi bukannya menemukan tempat mobil Raihan, ia malah pergi ke tempat yang terlihat semakin asing di matanya.
Sepertinya tidak ada pilihan lain selain menghubungi Raihan, Aisyah mengambil kembali ponselnya dari dalam tas, namun saat ia akan mendial nomor telepon Raihan. Tiba-tiba dua orang mahasiswi datang menghampirinya, membuat Aisyah mengurungkan niatnya untuk menelepon Raihan.
"Sa...saya mau tanya," ujar si mahasiswi yang terlihat lebih pendek dari satunya, yang mengenakan jilbab warna maroon.
"Iya, silahkan," jawab Aisyah dari balik nikab-nya.
Si wanita berkerudung maroon itu merangkul erat temannya yang memakai jilbab panjang berwarna biru muda, "Kamu Aisyah?"
Aisyah mengernyit, "Dari mana wanita itu mengetahui namanya," batin Aisyah. Karena sepertinya ia baru melihat keduanya hari ini. Tapi entahlah, ia hanya harus menanggapi kedua mahasiswa itu saja kan?
"Iya, saya Aisyah," jawab Aisyah sopan.
"Humaira Aisyah Nafiza?!" tanya Si Wanita Maroon dengan mata bertanya-tanya.
"Kok kamu tahu nama lengkap sa--?"
"Aisyah!" Si wanita merah maroon berteriak sedikit keras, lalu menarik Aisyah dalam pelukannya.
Aisyah sedikit tidak nyaman dengan pelukan wanita tidak dikenal itu, ia sedikit menjauhkan dirinya dari wanita itu.
"Maaf, tapi kamu siapa?" tanya Aisyah was-was.
"Ai. Gue Zahra, dia Lia. Kita temen kamu pas di Mts dulu, temen kelas tujuh," jawab si wanita kerudung biru muda itu, Zahra.
Aisyah terdiam, ia tidak bisa mengingat apapun tentang mereka.
"Kamu lupa sama kita Ai?" tanya Si wanita merah maroon, Lia dengan wajah sedih.
Cukup lama Aisyah terdiam, sampai matanya terlihat berbinar setelah mengingat kedua wanita itu, "kalian Lia sama Zahra?" tanya Aisyah memastikan.
"Iya, kamu udah inget sama kita Ai?" tanya Lia dengan senyuman merekah.
"Iya, baru aja ingetnya," jawab Aisyah polos.
"Ih, awalnya kita juga nggak tahu kalau itu kamu. Malahan kita mau bantu kamu tadi, soalnya kamu kelihatannya kayak nyasar. Eh, pas sampai di belakang kamu, kita baru sadar kalau kamu Aisyah," ujar Lia menjelaskan dari awal.
Aisyah menganggukkan kepalanya, "Kalian tahu kalau aku Aisyah dari mana?" tanya Aisyah.
"Itu," Lia menunjuk tas Aisyah dengan tangannya, "itu gantungan yang kita pesen khusus waktu Mts. Jangan bilang kalau kamu lupa?" tanya Lia curiga.
Aisyah memalingkan wajahnya, seolah ia sedang mengiyakan tuduhan Lia.
"Tuh kan beneran, kamu lupa sama kita Ai. Padahal..."
"Lo juga lupa sama Aisyah," potong Zahra dengan nada ketus yang tak kunjung berubah sedari kecil
Aisyah terkekeh kecil mendengar ucapan Zahra.
Lia memberengut kesal, "Ih Zahra,"
"Oh iya, btw kok kamu bisa di sini Ai? Kamu kuliah di sini juga, atau...?" tanya Zahra.
"Ah, nggak kok. Aku nggak kuliah," jawab Aisyah.
"Ha? Kamu nggak lanjut kuliah Ai?" tanya Lia kaget, dan Zahra langsung menepuk pundak Lia, berusaha mengingatkan kalau itu bukan pertanyaan yang bagus untuk Aisyah.
"Nggak, aku udah lulus," jawab Aisyah.
"Eh buset, pasti loncat-loncat tuh," tebak Lia, membuat Aisyah terkekeh kecil.
"Kamu sendirian ke sini Ai? Atau ada urusan?" tanya Zahra.
"Oh itu. Tadi sama suami, tapi..."
"What! Suami?!" pekik Lia membuat hampir seluruh mahasiswa maupun mahasiswi yang berada di sana melihat mereka.
Zahra menepuk pinggang Lia gemas, "Biasa aja sih Li!" peringat Zahra pada sahabat toa-nya itu.
Lia meringis kecil, "Maaf, maaf. Kan reflek Zahra,"
Tidak berubah. Zahra dan Lia masih terlihat sama seperti saat Aisyah mengenal mereka ketika masih Mts, kecuali penampilan dan wajah mereka saja sih. Aisyah masih mengingat mereka, walaupun tidak terlalu jelas. Karena dulu Aisyah harus berpisah dengan mereka setelah satu bulan berada di kelas yang sama. Tapi Aisyah masih berhubungan dengan mereka walaupun ia berada di kelas akselerasi. Sampai ia lulus ketika Lia dan Zahra masih kelas 8, ia tidak lagi bertemu dengan mereka lagi, sampai hari ini.
"Aku kangen banget sama kalian," ujar Aisyah tiba-tiba membuat pertengkaran kecil Zahra dan Lia terhenti, mereka berdua langsung menatap Aisyah.
"Ululu, kita juga aku juga kangen banget sama kamu Ai," Lia memeluk Aisyah lagi, lalu diikuti Zahra yang juga memeluk Aisyah erat. Mereka berpelukan layaknya Teletubbies yang telah lama berpisah.
Setelah puas mereka melepaskan pelukan haru itu.
"Eh, gimana kalau kamu jalan-jalan sama kita aja. Mumpung nggak ada kelas," ajak Lia.
"Aku nggak ganggu kalian?" tanya Aisyah tidak enak.
"Nggak kok. Nggak ada kelas juga," jawab Zahra.
"Mau kan? Mau lah, masa enggak. Udah lama banget loh Ai kita nggak ketemu," ujar Lia merayu.
Aisyah tersenyum, lalu menganggukkan kepala, "Iya, aku mau," jawab Aisyah.
"Yes! Yuk kita jalan-jalan. Itung-itung flashback ya kan?" ujar Lia sembari menyelipkan tangannya di tangan Aisyah dan Zahra.
Mereka bercerita panjang selama berjalan-jalan di hampir seluruh area kampus. Aisyah menceritakan semua tentang kegiatannya setelah lulus Mts. Aisyah masuk ke MA yang cukup terkenal di kotanya, ia juga mendapatkan kelas akselerasi di sana, lalu ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu kampus yang juga lumayan favorit di Australia. Dan ia juga menceritakan bisnis pakaian yang baru dimulainya sekarang.
Tentu saja hal itu membuat Lia dan Zahra senang. Walaupun sudah sesuai dugaan juga sih, apalagi ketika mengingat betapa pintar dan baiknya sahabat mereka itu. Zahra dan Lia pun juga menceritakan tentang kisah mereka, walaupun lebih banyak Lia yang bercerita.
Lia dan Zahra terus berada di kelas yang sama sedari Mts, bahkan di kampus dan mereka juga mengambil progam studi atau disingkat prodi Akuntansi.
"Ke taman kampus yuk Syah. Di sana bagus banget tau, salah satu alasan kenapa gue mati-matian pengen kuliah di kampus ini dulu," ujar Lia sedikit berlebihan menurut Aisyah, tapi sepertinya bukan Aisyah saja yang menganggapnya demikian, "lebay banget lo!" cibir Zahra.
Lia mengacuhkan kejulitan Zahra, ia tetap menggandeng lengan kedua sahabatnya itu menuju taman kampus yang Lia maksudkan. Dan sekarang Aisyah tahu mengapa Lia mengatakan kalimat se-menggelikan itu.
Mata Aisyah terpana melihat pemandangan taman kampus yang begitu indah, banyak sekali jenis bunga dan tumbuh-tumbuhan yang terlihat begitu indah. Belum lagi model dan juga struktur bangunannya yang terlihat unik, dengan perabot yang lengkap.
"Gimana? Bagus kan?" tanya Lia sembari menarik Aisyah dan Zahra menyusuri taman yang begitu luas itu.
"Iya! Bagus," ujar Aisyah.
"Eh, kita tukeran nomer HP dulu yuk," ajak Lia sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Oke," jawab Aisyah yang juga mengeluarkan ponselnya.
"Nih nomor aku," ujar Aisyah menunjukkan nomornya pada Lia dan Zahra.
Zahra menelepon nomor itu, "Nomor aku," ujar Zahra singkat. Lalu Lia menghubungi nomor itu setelah Aisyah menyimpan nomor Zahra, "Itu nomor aku. Save, Lia cantik,"
Aisyah terkekeh kecil, namun ia menuruti permintaan Lia dengan menyimpan nomornya sesuai keinginan gadis itu.
"Oh ya, kamu masih inget Kak Raihan nggak?" tanya Lia tiba-tiba membuat Aisyah gugup.
"Nggak ya pasti," simpul Lia sendiri.
"Kak Raihan tuh jadi keren banget tau nggak? Dia juga ambil prodi kedokteran di kampus ini, padahal katanya prodi kedokteran itu yang paling sulit. Terus jadi ganteng banget tau nggak sih, ya walaupun dari Mts juga udah ganteng. Tapi, sekarang udah plus plus deh gantengnya. Terus dia juga udah nggak nakal lagi kayak dulu, dia juga salah satu idola kampus malahan. Beruntung banget yang jadi jodohnya," ujar Lia melebih-lebihkan. Membuat Aisyah tersipu karena yang Lia bicarakan adalah suaminya.
"Udah punya cewek, inget!" ujar Zahra memperingatkan membuat Lia mendengus, dan membuat Aisyah bertanya-tanya dengan maksud ucapan Zahra.
Lia menghembuskan napas panjang, "Sayangnya itu, udah punya cewek. Cantik banget lagi," ujar Lia membuat d**a Aisyah bergemuruh.
"Aletta kan maksud Lia?" tanya Aisyah dalam hati.
Jadi, hubungan antara Raihan dan Aletta memang sudah menjadi rahasia umum, alias hubungan mereka sudah diketahui banyak orang. Namun, bahkan kedua sahabatnya itu tidak tahu jika sebenarnya Raihan sudah menikah, dengan dirinya.
"Tapi, jujur aja sih. Kak Raihan itu jadi alim banget tau, cuek banget lagi sama cewek. Jadi, kalau dilihat-lihat mereka nggak cocok. Apalagi ceweknya kelihatan centil banget," ujar Lia dengan suara rendah, takut ada yang mendengar ucapannya.
"Ghibah lagi!" sindir Zahra dengan tampang malas.
Lia berdecak kecil, "Itu kan persepsi gue sebagai pengamat Zahra," ujar Lia mencari alasan, membuat Zahra memutar bola matanya malas.
"Em, aku mau ke toilet. Toiletnya ada di mana ya?" tanya Aisyah memotong pembicaraan Zahra dan Lia. Entahlah, tiba-tiba perasannya tidak enak, tapi ia tidak tahu apa yang terjadi padanya.
"Aku antar aja gimana? Zahra, kamu tunggu di sana aja ya?" ujar Lia menawarkan diri, sembari menyuruh Zahra untuk menuruti permintaannya.
Zahra mengangguk kecil. Lia menggandeng lengan Zahra berjalan lurus ke depan. Sepertinya letak toilet cukup jauh dari sana, simpul Aisyah.
"Eh gila! Itu Kak Raihan sama pacarnya kan?" Mata Aisyah langsung mengikuti arah jari telunjuk Lia.
Deg!
Aisyah merasa tubuhnya lemas. Air matanya langsung turun kala melihat seorang wanita tinggi semampai mengecup pipi Raihan di depan mata kepalanya.
"Gila sih, ngapain pake di depan umum segala sih? Nggak tahu malu banget," cibir Lia. Dan ia terkejut ketika melihat Aisyah tiba-tiba mengusap air matanya.
"Ai, kamu nangis?" tanya Lia terkejut.
Aisyah menatap Lia sekilas, "Lia, aku mau balik dulu. Kasih tahu Zahra ya. Maaf nggak bisa pamit, Assalamualaikum," ujar Aisyah yang langsung pergi begitu saja dari sana.
"Hah? Gue ngga salah lihat? Aisyah nangis liat Kak Rai?" tanya Lia dengan wajah bingung plus terkejut.
Dengan hati hancur Aisyah akhirnya dapat menemukan jalan keluar dari kampus itu. Ia memberhentikan sebuah taksi yang baru saja lewat, lalu masuk ke dalam taksi itu.
"Mau ke mana neng?" tanya sopir taksi yang sepertinya berusia kisaran tiga puluh tahunan.
"Ke jalan mawar nomer lima belas pak," ujar Aisyah dengan air mata yang tidak kunjung berhenti.
"Siap neng," jawab si Sopir taksi.
Mobil itu berjalan pergi dari area kampus itu, dan akhirnya Aisyah pergi tanpa meminta izin ataupun tanpa menghubungi Raihan terlebih dahulu. Sakit, itulah yang Aisyah rasakan ketika melihat wanita lain dapat melakukan interaksi sedekat itu dengan suaminya yang bahkan enggan untuk menyentuhnya.
"Lagi patah hati ya neng?" tanya si Sopir taksi.
"Nggak pak," alibi Aisyah berbohong.
Sudah lebih dari empat puluh lima menit mobil itu berkendara, tapi tak kunjung sampai di rumah Raihan.
"Maaf pak, masih jauh ya?" tanya Aisyah.
"Masih neng,"
Aisyah pun mengambil ponselnya untuk melihat maps, namun ia terkejut ketika ternyata mobil itu berkendara terbalik arah dari rumah Raihan.
"Maaf pak, ini kita nyasar ya? Kok di map saya arahnya berlawanan?" tanya Aisyah bingung,
"Enggak kok neng,"
Tiba-tiba mobil itu berhenti di jalan tikus yang sepi. Aisyah menoleh ke sekelilingnya bingung, "Kok berhenti pak?" tanya Aisyah bingung.
Sopir taksi itu melepaskan seat belt-nya. Lalu menoleh ke belakang, "Ayolah neng. Kalau ada masalah cerita atuh sama saya," ujar sopir taksi itu sembari meraih tangan Aisyah.
Jantung Aisyah berdebar tidak karuan, ia berusaha melepaskan cekakan sopir taksi itu, "Pak! Bapak menjauh dari saya!" pekik Aisyah.
"Alah neng. Kalau pacarnya nggak mau, sama saya juga nggak papa atuh," ujar sopir taksi itu lagi.
"Pak! Minggir pak!" Aisyah berusaha melepaskan seat belt-nya.
"Pak! Minggir!" teriak Aisyah ketakutan ketika sopir taksi itu hendak menarik nikab-nya.
"Buat apasih wajah cantik kalau ditutupin mbak," ujar sopir taksi itu dengan suara genit.
Aisyah mendorong sopir taksi itu kasar, dengan perasaan khawatir dan cemas Aisyah keluar dari mobil itu.
"Heh mbak! Mau ke mana?!" teriak sopir taksi itu yang juga keluar untuk mengejar Aisyah.
Aisyah tidak memperdulikan teriakan sopir taksi itu kepadanya. Aisyah terus menangis selama berlari, hingga ia hampir sampai di jalan besar. Tanpa melihat-lihat, ia tidak menyadari ada sepeda motor di pinggir trotoar yang tiba-tiba melintas, dan....
Bruk!
.
.
.