"Suster, gimana keadaan mbaknya tadi?" tanya ibu-ibu yang membawa Aisyah ke rumah sakit.
"Dia masih diobati, ini ponsel mbak Aisyah," ujar seorang perawat itu sembari memberikan sebuah ponsel pada ibu itu, lalu ia pergi dari sana.
"Kayaknya harus hubungin keluarganya dulu," ujar ibu itu. Ia bersyukur karena ponsel Aisyah tidak terkunci. Ia menghubungi seseorang yang terakhir dihubungi Aisyah dengan nama kontak 'Lia Cantik', itu pasti saudara atau teman Aisyah, pikir ibu itu.
Tak butuh waktu lama seseorang di seberang menjawab panggilan itu dan bersuara, "Aisyah! Kamu ke mana aja sih? Aku cariin sama Zahra kok nggak ada,"
"Maaf, tapi ibu Aisyah tadi kecelakaan. Terus saya membawanya ke rumah sakit,"
"Ha?! Kecelakaan?!" pekik Lia terkejut.
"Iya, sekarang ibu Aisyah di Rumah Sakit Asri Hati. Di UGD,"
"Iya Bu! Saya segera ke sana,"
.
.
.
Lia datang bersama Zahra ke rumah sakit. Mereka benar-benar terkejut setelah mendapat kabar kalau Aisyah mengalami kecelakaan, padahal mereka baru berbicara bersama beberapa saat lalu. Ibu tadi juga sudah pergi sembari memberikan ponsel Aisyah.
"Kita hubungin suaminya dulu aja gimana?" tanya Zahra cemas.
"Iya. Ayo telfon," ujar Lia.
Zahra membuka layar kunci ponsel itu. Lalu mencari kontak suami Aisyah, dan mereka menemukan kontak dengan nama 'Mas Rai', merupakan satu-satunya kontak selain nomor keluarga Aisyah. Dan mereka langsung yakin itu adalah nomor suami Aisyah, lalu menghubungi nomor itu.
"Loud speaker," pinta Lia, dan Zahra menurutinya.
"Aisyah? Kamu di mana? Kamu nyasar? Kenapa nggak telfon aku? Aku tunggu di parkiran, kamu cepat ke sini," sembur seseorang dari seberang.
"Maaf, tapi saya bukan Aisyah. Tadi Aisyah kecelakaan, sekarang ada di rumah sakit," ujar Zahra perlahan-lahan agar suami sahabatnya itu tidak terlalu kalut.
"Aisyah kecelakaan?! Di mana dia sekarang?!"
"Di Rumah Sakit Asri Hati," Panggilan langsung terputus, pasti suami Aisyah langsung pergi ke sini.
Zahra menyimpan ponsel Aisyah ke dalam tas, lalu seorang perawat datang dan menyuruh Zahra dan Lia masuk ke dalam untuk melihat kondisi Aisyah.
"Ai!" teriak Lia yang langsung berlari kecil menuju brankar Aisyah.
Aisyah menangis tersedu-sedu dengan posisi duduk membuat Zahra dan Lia cemas melihatnya.
"Aisyah, kamu kenapa? Yang mana yang sakit?" tanya Zahra khawatir.
Aisyah mengangkat kepalanya, ia menatap kedua teman masa kecilnya itu dengan wajah penuh air mata, "Zahra...Lia.."
"Aisyah," Lia tak sanggup menahan air matanya, ia memeluk Aisyah, berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Tadi aku...." Aisyah menjelaskan semuanya pada Zahra dan Lia, tentang sopir taksi yang telah menyentuhnya, lalu ia yang melarikan diri sampai hampir saja sebuah sepeda motor menabraknya, namun untung saja sepeda motor itu berhasil menghindarinya, namun Aisyah terkena kaca spionnya dan akhirnya ia pingsan.
Zahra dan Lia hanya diam mendengarkan. Sedangkan Aisyah masih tidak bisa berhenti menangis, ia merasa sedih dan bersyukur di waktu bersamaan. Ia sedih karena ia hampir dilecehkan oleh sopir taksi itu. Namun ia bersyukur karena ia berhasil lolos sebelum sopir taksi itu semakin berbuat jauh terhadapnya.
Lia menemani Aisyah di dalam UGD bersama dengan pasien yang lain. Sedangkan Zahra memilih keluar untuk mengambil tasnya yang tertinggal di luar ruangan itu. Ia mengeluarkan ponsel Aisyah dari saku roknya,
"Kamu yang telfon saya tadi?" Zahra menoleh, dan terkejut ketika mendapati Raihan berada di belakangnya.
"Kak..." cicit Zahra lirih.
"Kamu teman istri saya kan? Kamu yang telfon saya tadi kan? Itu ponsel Aisyah," tanya Raihan dengan wajah panik.
Bola mata Zahra membola terkejut, "Ah, suaminya Aisyah?" tanya Zahra memastikan.
"Iya saya suaminya, Aisyah di dalam kan?" Jawaban Raihan benar-benar membuat telinganya terkejut.
Raihan geram dengan keleletan wanita itu ketika ia tanya, "Aisyah di mana?" tanya Raihan lagi.
"Ah, itu. Aisyah di dalam,"
Tanpa berpikir panjang Raihan masuk ke dalam UGD rumah sakit. Ia menatap sekelilingnya, dan ia menemukan Aisyah di salah satu bilik yang hanya tersekat oleh gorden. Raihan berjalan menghampiri bilik itu.
"Aisyah!" Kedua gadis itu menoleh pada Raihan. Mata Lia langsung terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga ketika melihat Raihan menghampiri Aisyah.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu ninggalin aku tadi? Kenapa bisa begitu? Di mana yang sakit? Ada yang parah?" tanya Raihan terburu-buru.
Aisyah menarik Raihan ke dalam pelukannya, lalu ia menangis di d**a bidang suaminya itu. Raihan pun duduk di pinggir ranjang sembari membalas pelukan Aisyah.
Zahra datang dari belakang Lia, "Jadi, suami Aisyah itu Kak Raihan?" tanya Lia berbisik, dan Zahra mengangguk menanggapi.
"Mending kita keluar dulu," ajak Zahra sembari menarik Lia pergi dari sana.
Raihan melepas pelukannya, ia menatap mata Aisyah yang terus mengeluarkan air mata hingga membuat cadar hitamnya basah karena air matanya.
"Aisyah," ujar Raihan dengan suara rendah.
"Ta--tadi aku...hiks.... dileceh--"
Deg!
Raihan langsung melepaskan Aisyah, membuat Aisyah menghentikan penjelasannya.
"Apa maksud kamu?" tanya Raihan, nada suaranya berubah dingin dengan wajah datar.
"Mas..." Aisyah menatap Raihan dengan tatapan sendunya. Raihan pasti marah terhadapnya, ia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Aisyah kembali menangis di depan Raihan.
"Apa cuma pakaian kamu aja yang tertutup Aisyah?"
Deg!
Dada Aisyah bergemuruh hebat karena pertanyaan Raihan. Ia benar-benar terkejut dengan pertanyaan yang Raihan berikan.
"Ka--kamu bahkan nggak bisa menjaga diri kamu Aisyah?" tanya Raihan lagi.
"Mas...hiks...Maafin Ai, maaf," ujar Aisyah sembari berusaha menarik tangan Raihan. Namun, Raihan dengan cepat menepisnya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu, Aisyah," ujar Raihan tajam.
Deg!
Air mata Aisyah kembali luruh dengan derasnya, "Mas..."
"Aku pergi, jangan cari aku. Jangan coba datang ke rumah sakit buat cari aku. Instrospeksi diri!" ujar Raihan dengan teganya. Ia langsung pergi meninggalkan Aisyah yang terus menangis sembari menelungkupkan kepalanya di atas lututnya yang tertekuk.
"Aisyah! Kak Raihan kenapa pergi?" tanya Lia yang baru datang setelah melihat Raihan keluar dengan wajah marah.
Aisyah mendongakkan kepalanya, ia mengusap matanya yang memerah dan basah.
"Ai..." lirih Zahra iba.
"Aku mau pulang,"
.
.
.
Di sinilah Aisyah sekarang. Sendirian di dalam kamarnya seperti biasanya. Tidak, ini tidak sama. Sebab ia sendiri karena suaminya yang pergi dalam keadaan marah kepadanya. Zahra dan Lia baru saja pulang. Sebenarnya Lia ingin menginap, tapi Aisyah melarangnya. Ia tidak ingin membuat sahabatnya repot.
Aisyah tidak bisa berhenti menangis, hatinya benar-benar sakit ketika mengingat ucapan menusuk Raihan.
Dengan mata yang terus mengeluarkan air mata Aisyah menengadahkan kedua tangannya,
"Ya Allah...ampunilah hambamu ini. Ampunilah hamba yang tidak bisa menjaga diri...hiks diri hamba sendiri. Dan...hiks, lindungilah suami hamba...hiks....di manapun ia berada, aamiin,"
Aisyah mengusap air matanya, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dua puluh menit kemudian ia keluar dengan keadaan sudah wudhu. Adzan Ashar baru saja berbunyi, sesegera mungkin Aisyah memulai sholatnya. Ia berusaha meninggalkan dunianya sejenak, dan mencoba kusyu'.
Setelahnya Aisyah bercurhat selama mungkin kepada sang pencipta. Ia menumpahkan semua yang berada di kepala dan hatinya kepada Sang Ilahi, berharap semuanya dapat menenangkannya.
Seorang suami tidak boleh membentak istri karena perbuatan ini sangat dilarang di dalam agama Islam. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku,” (HR. Tirmidzi).
.
.
.
Setelah dari rumah sakit Raihan pergi ke apartemen Aletta karena wanita itu mengatakan ada suatu hal penting yang ingin dibicarakan.
Sebenarnya Raihan tengah marah besar pada wanita itu. Apalagi setelah Aletta mencium pipinya ketika di taman kampus tadi, di hadapan para mahasiswa dan mahasiswi, bahkan ia juga melihat ada seorang dosen yang kebetulan juga berada di halaman. Ia tidak akan pernah memaafkan Aletta karena perbuatannya itu. Raihan merasa bersalah pada Aisyah sesaat setelah itu, ia mencari Aisyah, tapi tidak menemukannya. Ia tadi juga beberapa kali menghubungi nomor Aisyah, tapi hasilnya nihil. Sampai nomor itu meneleponnya, tapi bukan Aisyah yang berbicara. Yang mengatakan kalau Aisyah berada di rumah sakit setelah kecelakaan. Dan ia benar-benar marah ketika mengetahui fakta jika Aisyah telah tidak....
Entahlah, Raihan benci pemikirannya. Sekarang Raihan sudah berada di depan pintu apartemen Aletta. Ia menekan bel yang berada di sisi kanan pintu, lalu tak lama kemudian pintu itu terbuka menampilkan Aletta dengan wajah berbinarnya.
"Raihan! Sumpah, aku nggak nyangka kalau kamu mau datang," ujar Aletta senang.
Namun Raihan hanya memasang wajah datarnya, "Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Raihan dingin.
"Em, mendingan di dalam aja gimana?" tawar Aletta. Raihan mengerutkan kening, sembari menatap tajam Aletta, seolah sedang memberikan peringatan lewat tatapannya itu.
Aletta meneguk ludahnya gugup, tatapan Raihan benar-benar berhasil membuatnya merinding,
"Bukan gitu maksud aku Rai. Mending kamu masuk aja dulu, terus aku siap-siap. Nah, kalau aku udah selesai, kita cari kafe atau restoran, gitu maksud aku Raihan," jelas Aletta.
"Aku tunggu di sini," ujar Raihan.
"Jangan dong Rai, nanti malah dikira aku nggak mau buka pintu buat tamu lagi. Udah, kamu masuk dulu. Kamu di ruang tamu aja deh. Sumpah demi karir aku deh, aku nggak bakal ngapa-ngapain," ujar Aletta dengan mengangkat tangan kanannya bersumpah.
"Jangan sumpah jika bukan mengatas-namakan Allah Aletta," ujar Raihan memperingatkan.
"Barang siapa yang ingin bersumpah, maka bersumpahlah atas nama Allah atau (jika tidak) maka diamlah” (HR Bukhari)
Aletta memutar bola matanya malas, ia sudah bosan dengan pembicaraan agamis Raihan yang selalu melarangnya berbuat banyak hal. Seperti Raihan yang sering menyuruhnya sholat, menyuruhnya menutup aurat, menyuruhnya mengaji, dan berbagai sebagainya. Namun jawaban Aletta hanya, "Iya, Iya Rai," tanpa melaksanakan semua yang Raihan perintahkan atau tidak melakukan apapun yang Raihan larang. Karena ini kehidupannya, tidak ada yang boleh mengaturnya selain dirinya, itulah prinsip Aletta.
"Aku tunggu di mobil, kamu cepetan," ujar Raihan memilih jalan keluar. Ia hanya tidak ingin menambah dosa dan membuat spekulasi aneh orang-orang yang melihatnya, lagipula ia mengenal betul siapa Aletta, tipe wanita yang tanpa segan mengumbar kemesraan di depan umum, apalagi jika hanya berdua saja di tempat sepi. Bukan maksud Raihan mengatakan jika Aletta murahan, tapi ia hanya mengatakan sesuatu yang benar adanya, juga memperingatkan dirinya akan dosa itu sendiri.
Tanpa menunggu jawaban dari Aletta Raihan pergi begitu saja dari sana. Aletta menghentakkan kakinya kesal, ia benar-benar tidak suka dengan sikap Raihan yang selalu dingin seperti ini. Memang apa salahnya sih, tinggal masuk sebentar untuk menyenangkannya. Kalau seperti ini kan, kesannya seperti dirinya yang terlalu mengharapkan pria itu. Ya, walaupun memang benar kenyataannya sih.
Aletta segera masuk ke dalam apartemen-nya, menghindari tatapan aneh dari orang-orang yang melewatinya.
Raihan menunggu di dalam mobil. Ia mengeluarkan ponselnya, rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika melihat nama 'Aisyah' terus mengirimkan notifikasi kepadanya, entah panggilan ataupun pesan. Hatinya ingin melupakan semua yang terjadi, tapi otaknya lebih mementingkan ego-nya, itulah sifat yang paling Raihan benci dalam dirinya.
Raihan memblokir nomor Aisyah, lalu baru membaca pesan yang Aisyah kirimkan.
Aisyah
Assalamualaikum Mas,
Mas Raihan, maafin Ai
Aku tahu aku salah Mas,
Ai mohon Mas Raihan pulang,
Aisyah mohon Mas,
Maafin Aisyah Mas,
Raihan menghela napas membaca pesan permintaan maaf dari Aisyah. Hatinya benar-benar ingin menuruti isi pesan itu dan pulang ke rumah, tapi otaknya malah ingin membiarkan Aisyah dan melarikan diri sejauh mungkin dari istrinya itu.
Bukan hanya pesan, Aisyah juga meneleponnya sampai ratusan kali. Raihan sengaja menggunakan mode 'hening' di ponselnya tadi, karena tahu Aisyah pasti akan terus menghubungi setelah pertengkaran kecil tadi.
Raihan melihat Aletta baru saja keluar dari gedung bertingkat itu, ia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Aletta mengetuk kaca mobilnya, lalu masuk dan duduk ke kursi samping pengemudi--tempat Raihan.
"Masih waktu ada dua jam," ujar Raihan setelah melihat jam tangannya.
Aletta memberengut kesal, "Bentar banget sih. Kan aku pengen ngomongin banyak hal sama kamu Rai," ujar Aletta dengan suara manja.
"Bisa besok-besok," jawab Raihan sembari menyalakan mesin mobilnya.
Aletta langsung menatap Raihan dengan tatapan tak percaya, "Serius Rai? Kamu mau ketemuan lagi sama aku?" tanya Aletta memastikan.
Raihan menghembuskan napas panjang, ia melirik Aletta, lalu menganggukkan kepalanya, menjawab pertanyaan wanita itu.
.
.
.
Sekarang Aisyah berada di ruang tamu. Menunggu kepulangan Raihan seperti biasanya, tapi sudah pukul 11 Raihan belum juga pulang. Aisyah membaca pesan yang ia kirimkan pada Raihan, setengah pesannya dibaca, tapi sisanya tidak terkirim ke nomor Raihan. Ya, Aisyah yakin kalau Raihan sudah memblokir nomornya. Aisyah juga menghubungi nomor biasa Raihan, tapi ternyata nomornya juga diblokir di sana. Membuat perasan Aisyah benar-benar campur aduk sekarang.
Aisyah dengan tubuhnya yang semakin lemas berdiri dari sofa, lalu berjalan ke arah tempat makan. Makanan kesukaan Raihan sudah tertata rapi di atas meja makan, tapi dalam keadaan dingin. Aisyah membawa semua makanan itu ke dapur, lalu menyimpannya di lemari pendingin, semuanya, tanpa tersisa.
Karena Raihan pasti tidak akan memakan makanan itu. Aisyah kembali dan duduk di atas kursi--meja makan. Entah mengapa, Aisyah sangat yakin jika Raihan tidak akan pulang malam ini. Apalagi setelah ucapan terakhir Raihan tadi
"Aku pergi, jangan cari aku. Jangan coba datang ke rumah sakit buat cari aku. Instrospeksi diri!"
Aisyah kembali meneteskan air matanya. Ia mengingat betul semua ucapan tajam Raihan tadi, tatapan penuh kebencian yang Raihan berikan kepadanya, Aisyah masih mengingat betul semua itu. Dan itu membuat hatinya terluka.
Aisyah mengusap air matanya, ia kembali menatap jam dinding, lalu memejamkan matanya erat.
Aisyah menengadahkan kedua tangannya, membentuk posisi berdoa, dan air matanya tiba-tiba kembali keluar, "Ya Allah yang maha pengasih lagi maha pemurah, ampunilah hamba. Ampunilah dosa yang sengaja maupun tidak sengaja hamba perbuat. Maafkan hamba karena telah membuat suami hamba marah, Ya Allah. Lindungilah Mas Raihan di manapun ia berada. Jika hamba boleh memohon lagi, hamba ingin sekali mempertahankan pernikahan hamba Ya Allah, aamiin," Aisyah mengucapakannya dengan isakan kecil yang berusaha ia tahan, namun percuma.
Aisyah menatap ponselnya, belum ada satupun notifikasi dari nomor Raihan, hanya ada beberapa pesan dari kedua temannya, dan Ratna. Aisyah membuka satu persatu pesan mereka.
Zahra
Assalamualaikum Ai,
Gimana keadaan kamu?
Kalau ada apa-apa telfon aku ya,
Aisyah tersenyum membaca pesan manis yang Zahra kirimkan. Ia mengetikkan pesan untuk ia kirim pada Zahra.
To: Zahra
Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh, Zahra
Alhamdulillah udah lumayan kok
Iya, aku bakal hubungin kamu kalau ada apa-apa
Aisyah menutup room chatnya dengan Zahra, lalu membuka pesan dari Lia. Lia memberinya banyak sekali pesan, Aisyah terkekeh kecil ketika membaca pesan dari sahabat kecilnya itu.
Lia Cantik
Assalamualaikum
Aisyahhhhh gimana?
Kamu nggak kenapa Napa kannnn?
Aisyahhhhh
Yuuhuuu
Aisyah cantikkkk
Heiii
Oiii
Aisyah mengetikkan pesan untuk Lia.
To: Lia Cantik
Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh
Alhamdulillah, aku udah mendingan Lia,
Ratna
Assalamualaikum mbak
Mbak Aisyah nggak jadi ke sini ya?
Mbak Aisyah nggak kenapa-napa kan?
Mbak Aisyah?
"Astaghfirullah," ujar Aisyah.
"Ya Allah, aku lupa," Aisyah benar-benar lupa menghubungi Ratna jika ia tidak jadi pergi ke rumah gadis itu. Aisyah jadi merasa bersalah kepada gadis itu, pasti Ratna sudah menunggunya seharian.
To: Ratna
Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh, Ratna
Ratna, aku minta maaf ya. Aku benar-benar lupa kalau kita ada janji. Maaf Ratna, tadi aku ada kecelakaan kecil, jadi nggak bisa ke sana. Dzuhur tadi aku baru pulang dari rumah sakit.
Sekali lagi, maaf Ratna.
Aisyah ingin menelepon Ratna, tapi pasti Ratna sudah tidur. Apalagi sudah larut malam. Sepertinya besok ia harus ke rumah gadis itu,...tidak! Ia tidak bisa ke rumah Ratna, ataupun pergi dari rumah tanpa izin dari Raihan. Ia bahkan tidak tahu apa Raihan akan menghubungi atau pulang besok. Tapi, Aisyah sangat berharap Raihan pulang, atau jika tidak, seenggaknya Raihan memberinya pesan singkat seperti biasanya.
Ponsel Aisyah bergetar singkat, tanda ada pesan yang terkirim kepadanya. Aisyah membelalakkan kedua matanya terkejut ketika pesan terkirim dari nomor kakaknya, Fauzan. Aisyah meneguk ludahnya gugup, lalu membaca pesan itu, karena sepertinya tidak mungkin ia melarikan diri dari kakaknya juga.
Kak Fauzan
Assalamualaikum warrohmatullahi wabarokatuh, Aisyah
Tumben masih online
Kamu belum tidur?
Raihan nggak di rumah ya?
Dengan tangan sedikit bergetar Aisyah mengetikkan pesan untuk dikirim pada Fauzan. Ia mencoba beberapa kata, tapi ia kembali menghapusnya karena takut kalimat yang ia tulis tidak tepat.
To: Kak Fauzan
Waalaikumsalam warrohmatullahi wabarokatuh, Kak.
Belum Kak Fau
Iya, Mas Rai ada lembur di rumah sakit.
Aisyah tidak ingin berbohong. Semoga saja Raihan memang lembur hari ini, agar ia tidak berbohong kepada Fauzan. Aisyah tidak pernah bisa berbohong kepada Fauzan sedari kecil, karena Fauzan sangat memahami gelagatnya ketika ia berbohong, seperti tiba-tiba gugup, tidak fokus, sampai satu bagian tubuhnya bergetar. Dan mungkin saja Fauzan bisa mengetahui jika dirinya berbohong jika saja pria itu berada di depannya sekarang.
Ponselnya kembali bergetar, sepertinya Fauzan membalas pesannya.
Kak Fauzan
Barusan kakak habis chat Rai
Kedua mata Aisyah membola sempurna, jangan-jangan Fauzan tahu jika dirinya berbohong. Aisyah terdiam kaku ketika melihat tulisan yang mengatakan jika Fauzan tengah mengetikkan pesan kepadanya. Pesan Fauzan sudah terkirim, cepat-cepat Aisyah membacanya.
Kak Fauzan
Katanya dia nginep di rumah sakit sih. Ada kecelakaan di Deket rumah sakit soalnya. Kamu tahu?
Akhirnya Aisyah dapat menghembuskan napas lega. Artinya ia tidak berbohong pada Fauzan kan?
To: Kak Fauzan
Nggak bilang Kak Fau,
Jawab Aisyah jujur pada pesan yang ia kirimkan pada Fauzan. Lalu ia mengirimkan pesan lagi pada Fauzan.
To: Kak Fauzan
Ai mau istirahat dulu Kak Fauzan
Aisyah mematikan layar ponselnya. Entah mengapa ia senang ketika membaca pesan Fauzan yang mengatakan jika Raihan benar-benar berada di rumah sakit sekarang. Karena secara tidak langsung Fauzan sudah membantu Aisyah mengetahui kabar terbaru Raihan sekarang, membuat Aisyah bisa cukup tenang sekarang.
Aisyah mengucapkan puji syukur kepada Allah sebanyak-banyaknya. Aisyah tersenyum tipis. Setidaknya ia tahu kalau Raihan baik-baik saja, itu sudah cukup untuk Aisyah. Aisyah berdiri dari kursi, lalu pergi menaiki anak tangga yang akan membawanya ke kamar. Ia harus segera istirahat sekarang. Ia pasti bisa Melawati semua ini. Ya, Aisyah yakin.
"Semangat Ai!"
.
.
.