Keesokan harinya Ratna datang ke rumah Aisyah dengan tujuan untuk menjenguk sekaligus membicarakan tentang bisnis pakaian yang baru Aisyah mulai.
Sembari Ratna yang sibuk mengamati desain buatan Aisyah. Aisyah juga sibuk dengan kegiatannya sendiri, mulai dari menyapu, mengepel, sampai memasak. Jujur saja, Ratna benar-benar kagum dengan Aisyah. Rumah itu benar-benar luas, apalagi ada dua lantai, dan Aisyah hanya membersihkannya seorang diri, bahkan dirinya sendiri tidak sampai se-rajin itu soal kebersihan rumah.
Aisyah sudah selesai dengan kegiatannya sebagai ibu rumah tangga, lalu ia pergi menghampiri Ratna yang berada di ruang tamu, setelah ia selesai membersihkan diri.
"Gimana Ratna? Kamu mau coba yang mana dulu?" tanya Aisyah sembari mendudukkan diri di samping Ratna yang duduk di atas karpet.
"Yang ini atau yang ini menurut kakak?" tanya Ratna sembari memberikan dua lembar kertas kepada Aisyah.
Aisyah mengernyitkan kening--berpikir. Ia mengangkat kedua kertas itu untuk menentukan pilihannya, setelah beberapa menit ia memberikan satu lembar kertas pilihannya kepada Ratna, "Yang ini kayaknya bagus buat promosi, warnanya kelihatan lebih halus, dan kayaknya menarik juga buat dilihat," ujar Aisyah menjelaskan kelebihan salah satu desain buatannya.
"Kalau yang ini kayaknya nggak usah dulu deh Rat, soalnya ini hampir mirip sama kebanyakan model gamis di toko-toko. Mungkin bakal menarik pelanggan karena modelnya yang kelihatan nggak asing, tapi aku nggak terlalu yakin ini bakal laku dipasaran, karena kadang model pakaian itu bisa naik-turun juga," ujar Aisyah menjelaskan kelebihan dan kekurangan karyanya yang lain.
Ratna mendengarkan dengan saksama sembari melihat desain buatan Aisyah. Sedikit-sedikit ia dapat memahami penjelasan Aisyah. Lalu ia mengangguk paham, "Oke, kalau gitu nanti aku buat yang ini dulu. Kalau untuk warna benangnya aku punya yang ini, desainnya juga lumayan simpel, tapi kayak yang kakak bilang tadi, kayaknya ini kelihatan menarik buat promosi. Lagian orang-orang jaman sekarang juga lebih suka model pakaian simpel yang menarik," ujar Ratna memberi imbuhan.
Aisyah senang mendengar Ratna menyetujui usulannya. Ia menatap Ratna yang terlihat fokus menatap kertas desain yang terpilih. Sepertinya Ratna sedang membuat gambaran di kepalanya.
Ratna mengalihkan pandangannya dari kertas itu lalu menatap Aisyah, membuat Aisyah sedikit terkejut dan bingung, apa Ratna baru menemukan kesalahan dari desainnya itu?
"Ada yang nggak cocok ya? Pola atau warnanya?" tanya Aisyah.
"Aku jadi takjub lagi sama kakak tau nggak?" ujar Ratna tiba-tiba.
"Maksudnya?"
"Kakak kok bisa detail banget sih ngamatinnya, padahal kan kakak dulu kuliahnya bukan di bidang ini," ujar Ratna membuat Aisyah tersenyum.
"Malah aku yang bingung nyari pekerjaan kalau ngikutin jurusan kuliah aku Ratna. Sebenarnya ada rasa penyesalan sih karena nggak bisa ambil pekerjaan sesuai jurusan aku, tapi ya mau gimana lagi. Ternyata aku lebih minat di bidang ini, jadi aku mau seriusin ini dulu," ujar Aisyah menjawab pertanyaan Ratna.
Ratna menganggukkan kepalanya paham, memang ia beruntung sudah memiliki atasan seperti Aisyah.
"Oh ya, gimana keadaan kakak? Kelihatannya kakak masih pucat, kakak masih sakit?" tanya Ratna yang baru menyadari jika wajah Aisyah terlihat pucat.
"Nggak kok, aku nggak papa. Cuma agak pusing aja," jawab Aisyah jujur.
"Kakak udah minum obat?" tanya Ratna.
"Udah, tadi sebelum subuh,"
Suara pintu diketuk membuat Aisyah dan Ratna mengalihkan perhatian mereka. Wajah Aisyah berbinar senang, ia langsung berdiri dan pergi menghampiri pintu, berharap dalam hati jika yang datang adalah Raihan. Namun langkahnya terhenti ketika ia lupa belum memakai nikab-nya, iya kalau itu Raihan, kalau bukan?
"Kenapa kak?" tanya Ratna ketika melihat Aisyah berbalik lagi.
"Hehe, ambil ini," ujar Aisyah sembari menunjukkan nikab-nya. Aisyah segera memakai nikab berwarna coklat itu, lalu kembali untuk membukakan pintu.
"Assalamualaikum Aisyah," Binar di wajah Aisyah langsung hilang ketika Zahra dan Lia-lah yang muncul dari balik pintu.
"Waalaikumsalam Zahra, Lia," ujar Aisyah sembari mengajak kedua temannya itu masuk.
"Loh, Ini siapa Ai?" tanya Lia ketika melihat Ratna juga berada di rumah itu.
Aisyah mengedarkan pandangannya keluar rumah, ia masih berharap Raihan datang. Ia menghela napas rendah lalu menutup pintu dan berbalik menatap ketiga gadis itu yang juga menatapnya.
"Kenapa?" tanya Aisyah sembari melepaskan nikab-nya.
"Kak Rai belum pulang Ai?" tanya Zahra ketika memahami raut wajah Aisyah.
Aisyah memaksakan senyumannya, lalu berjalan mendekati mereka, "Lagi sibuk di rumah sakit," ujar Aisyah, walaupun ia tidak tahu apakah Raihan benar-benar berada di rumah sakit atau tidak.
"Dia nggak ngabarin kamu lagi Ai?" tanya Lia curiga.
"Em, ngabarin kok," Lewat Kak Fauzan.
"Eh, gimana kalau makan dulu. Aku udah masak tadi," ujar Aisyah mengajak ketiga wanita itu. Ia berjalan ke belakang duluan.
Lia menatap Zahra, begitupun sebaliknya. Sedangkan Ratna hanya menatap kedua wanita yang baru ia kenal itu dengan tatapan bingung, karena ia memang tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka.
"Yuk Ratna," ajak Lia. Ratna mengangguk, lalu mereka bertiga berjalan beriringan menuju ruang makan.
"Ai, kamu beneran nggak papa?" Pertanyaan dari Zahra berhasil memancing Lia dan Ratna menatap ke arah Aisyah yang baru saja tiba di meja makan dengan membawa sarapan.
"Kak Ai nggak papa? Wajah kakak pucat itu," ujar Ratna yang baru sadar.
"Ai, kita ke rumah sakit aja gimana? Kemarin kamu juga belum sehat penuh kan?" ajak Lia khawatir.
"Bener kata Lia Ai, mending ke rumah sakit aja gimana? Cuma check doang kalau kamu nggak mau nginep. Ntar aku antar," tawar Zahra.
Aisyah hanya menampilkan senyuman, lalu menggelengkan kepala pelan, "Aku beneran nggak apa-apa. Tadi aku juga udah minum obat, nanti juga sembuh sendiri kan," ujar Aisyah seolah-olah mengatakan kalau ia sedang baik-baik saja.
"Ya udah yuk. Makan dulu," ujar Aisyah sembari mendudukkan dirinya di kursi makan yang biasa ia duduki.
Lia, Ratna, dan Zahra saling tatap. Seolah mereka tengah berbicara lewat tatapan itu. Lalu secara bersamaan mereka menatap Aisyah dengan tatapan berbeda, walaupun intinya sama, mereka kasihan dengan keadaan gadis malang itu.
.
.
.
Satu Minggu Kemudian....
Ini sudah kelima kalinya Raihan ditegur dokter karena kelalaiannya, membuat Raihan sedikit syok karena ia tidak pernah ditegur sampai sebanyak itu dalam seharinya. Sedangkan ini baru empat jam ia berada di rumah sakit, tapi ia sudah ditegur sampai sebanyak itu. Sekarang Raihan berada di ruangan khusus loker dokter muda. Ia mengambil obat dari dalam loker, dan meminumnya, itu adalah vitamin dan obat stamina. Ia tidak bisa istirahat dengan tenang selama beberapa hari ini, kepalanya selalu dipenuhi dengan berbagai macam hal yang membuatnya pening sendiri.
Raihan mengambil ponselnya, ada banyak pesan terkirim untuknya. Dan notifikasi teratas adalah milik Aletta. Mata Raihan tak sengaja melihat kontak pesan Aisyah. Tangannya gatal untuk memencet room-chatnnya dengan istrinya itu. Sudah satu Minggu tidak ada panggilan ataupun pesan dari Aisyah. Salah, bukan Aisyah yang tidak menghubunginya, melainkan ia yang melarang Aisyah menghubunginya lewat nomor Aisyah yang sudah ia block.
Raihan menghembuskan napas kasar, ia mengembalikan ponselnya ke dalam loker. Ia harus segera ke UGD sekarang, Raihan mengambil jas putihnya, lalu mengenakannya sebelum keluar dari ruangan itu.
"Rai!" panggil Dokter Andi. Raihan pun menolehkan kepalanya, "Iya?"
"Lo nggak papa?" tanya Dokter Andi. Karena beberapa hari ini ia telah mendapati Raihan sering sekali ditegur dokter, padahal biasanya Raihan-lah yang selalu mendapatkan pujian karena kecepatannya dalam belajar, dan kesigapannya dalam menangani pasien, jadi sedikit aneh ketika ia melihat Raihan ditegur oleh dokter karena alasan lalai.
Raihan menganggukkan kepalanya singkat, "Gue nggak papa,"
"Ada masalah keluarga ya?" tanya Dokter Andi hati-hati.
Raihan mendongak menatap Dokter Andi bingung. Dan itu membuat dokter Andi sadar akan pertanyaannya yang terlalu membahas masalah pribadi.
"Nggak, bukannya gue mau ikut campur. Gue cuma kaget aja Lo tiba-tiba nggak fokus sama pasien. Jadi, gue pikir mungkin aja Lo ada masalah," ujar Dokter Andi.
Raihan menghela napas rendah, "Gue nggak papa," ujar Raihan singkat. Lalu pria itu berlalu pergi meninggalkan Dokter Andi.
Dokter Andi hanya menatap punggung Raihan yang mulai menjauh. Ia tidak apa-apa dengan sikap dingin Raihan, karena ia sudah terbiasa akan hal itu. Tapi, ia mengenal Raihan sejak SMA, walaupun tidak terlalu dekat, setidaknya ia dapat memahami hal kecil seperti ini. Terlihat sekali dari raut wajahnya jika pria itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Mungkin bukan tubuhnya, tapi pikiran Raihan yang sepertinya sedang banyak tekanan, dan Andi yakin Raihan tidak memiliki teman untuk menceritakan masalahnya. Memang, Raihan itu tipe orang yang berteman dengan siapa saja, tapi hanya sekadar saling kenal saja, Raihan tidak punya sahabat atau hal yang hampir mirip dengan itu.
Andi berdecak kecil, "Ngapain gue ngurusin urusan orang sih!" Ia benar-benar benci kepribadiannya yang terlalu mengurusi kehidupan orang lain, seperti sekarang contohnya. Ia sangat ingin mendengar Raihan menceritakan semuanya, dengan tujuan agar Raihan kembali fokus seperti semula. Tapi ketika melihat kepribadian pria itu, Andi yakin, bahkan jika ia adalah orang terdekat pria itu, Raihan pasti tidak akan menceritakan masalah yang dia hadapi kepada dirinya.
"Stop! Mending sekarang fokus sama pasien!" ujar Dokter Andi memutus pikirannya yang terlalu belibet itu.
.
.
.
Satu Minggu telah berlalu, tapi Raihan tetap tak kunjung pulang. Kondisi Aisyah juga semakin tidak sehat dari hari ke hari, kulitnya semakin pucat, tubuhnya juga semakin kurus, dan hal itu membuat Ratna, Lia, dan Zahra khawatir dengannya. Aisyah tidak mau diajak ke rumah sakit karena Raihan tidak mengijinkannya. Salah! Bukannya tidak mengijinkan, melainkan karena Raihan sudah memblokir nomor Aisyah dan hal itu membuat Aisyah tidak bisa meminta izin pada pria itu.
Sekarang Aisyah berada di rumah sendirian. Baru saja Ratna pulang untuk menjahit rancangannya. Sedangkan Zahra dan Lia akan datang setelah jam kuliah mereka selesai.
Hari sudah semakin petang, dan Aisyah masih merasakan sakit di kepalanya, padahal ia sudah rutin meminum obat dari dokter satu Minggu yang lalu. Aisyah pergi ke kamarnya, hendak mengambil obat. Aisyah menarik laci tempatnya menyimpan obat
"Loh, obatnya udah habis?" tanya Aisyah pada dirinya sendiri sembari melihat wadah kosong itu.
"Mending beli obat aja dulu ya?" tanya Aisyah bimbang. Lagipula ini adalah hal mendesak, dan Raihan juga tidak bisa dihubungi. Sepertinya ia harus keluar untuk membeli obat sendiri, daripada sakitnya lebih parah, nanti malah sahabat-sahabatnya yang bingung, pikir Aisyah.
Musthafa ar-Ruhaibani mengatakan,
ويحرم خروج الزوجة بلا إذن الزوج أو بلا ضرورة ، كإتيانٍ بنحو مأكل ; لعدم من يأتيها به
Seorang istri diharamkan untuk keluar tanpa izin suami, kecuali karena alasan darurat. Seperti membeli makanan, karena tidak ada yang mengantarkan makanan kepadanya. (Mathalib Ulin Nuha, 5/271)l
Aisyah menghembuskan napas panjang, ia sudah memutuskan, "Iya, mending aku beli sekarang,"
Aisyah mengambil nikab-nya, lalu memakainya. Ia mengambil dompet, dan memasukkannya ke dalam tas. Setelah memastikan semuanya siap, ia keluar dari rumah setelah memastikan semua pintu terkunci.
Aisyah lebih memilih berjalan kaki, ia trauma dengan kejadian satu Minggu yang lalu. Lagipula apoteknya juga lumayan dekat, jadi tidak masalah jika ia berjalan saja ke sana. Aisyah mengucapkan syukur karena ada beberapa orang juga yang berjalan di sekililingnya, ada yang joging malam, ataupun sekadar jalan-jalan mencari angin. Beberapa menit kemudian Aisyah sampai di apotek.
Apotek cukup ramai membuat Aisyah harus mengantri selama beberapa meni , "Beli obat pusing mbak," ujar Aisyah ketika tiba gilirannya.
"Gejala lainnya mbak?" tanya Si Mbak Apoteker.
"Pusing, mual, sama nggak napsu makan mbak," jawab Aisyah.
"Buat setelan aja ya mbak?" tanya apoteker itu lagi.
"Iya mbak,"
"Untuk satu hari minum?"
"Iya mbak,"
"Tunggu sebentar ya?" Mbak Apoteker itu pergi dari sana untuk meracik obat untuk Aisyah. Aisyah pun duduk di kursi panjang yang disediakan.
Beberapa menit kemudian apoteker itu kembali muncul, "Ini mbak obatnya," Aisyah berdiri untuk menerima obat itu. Ia memberikan selembar uang kepada si Apoteker, lalu ia pergi dari sana setelah mendapatkan kembaliannya.
Kepalanya masih sedikit pusing, Aisyah berjalan perlahan-lahan agar rasa pusing itu tidak semakin terasa.
"Aisyah!" Aisyah reflek menoleh ketika mendengar namanya dipanggil, "Zahra?" tanya Aisyah ketika tiba-tiba Zahra berada di sampingnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aisyah pada gadis itu. Pasalnya rumah dan kampus Zahra cukup jauh dari tempatnya, dan lagi Zahra berjalan kaki sendiri, tanpa Lia.
"Aku kerja part time di perpustakaan Deket sini, ini aku mau ke rumah kamu," jawab Zahra, "terus kamu ngapain di luar malem-malem begini?"
"Ini beli obat," ujar Aisyah sembari menunjukkan kresek obatnya pada Zahra.
"Ya Allah Ai. Kan kamu bisa minta tolong aku atau Lia buat beliin. Kamu lagi sakit, nggak baik keluar sendirian," omel Zahra.
Aisyah terkekeh kecil, "Ya maaf. Aku cuma nggak mau nyusahin kalian," jawab Aisyah menenangkan Zahra.
Zahra mencubit kecil lengan Aisyah, "Kamu nggak nyusahin kita Aisyah. Berhenti berpikiran kayak gitu. Kalau Lia denger, pasti kamu udah diomelin panjang lebar gara-gara ngomong kayak gitu," ujar Zahra.
Aisyah tersenyum dari balik nikab-nya, ia benar-benar beruntung memiliki Zahra, Lia, dan Ratna di saat-saat seperti ini, "Makasih Zahra," ujar Aisyah lembut.
Tiba-tiba langkah Aisyah berhenti, membuat Zahra juga ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa berhenti Ai?" Aisyah tidak menjawab.
"Mas Rai...." gumam Aisyah dengan tatapan tidak percaya ketika melihat Raihan bersama dengan Aletta duduk berhadapan di salah satu meja di restoran. Mata Aisyah mulai memerah, ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak turun.
Dan Zahra melihat itu. Ia segera mengikuti arah pandangan Aisyah yang tertuju pada sebuah restoran di sebuah restoran seberang jalan. Zahra langsung membelalakkan matanya tidak percaya ketika melihat Raihan bersama dengan wanita yang ia pikir adalah pacar Raihan.
"Ai! Dia Kak Raihan kan?" tanya Zahra, ia menoleh--terkejut ketika melihat Aisyah baru saja mengusap air matanya, dan itu berhasil menyulut emosi Zahra.
Zahra menggenggam pergelangan tangan Aisyah, "Mending sekarang kita ke sana!" ajak Zahra.
Aisyah menggelengkan kepalanya cepat, ia berusaha melepaskan cekalan tangan Zahra, "Nggak Zahra!" tolak Aisyah.
Zahra menatap Aisyah marah karena Aisyah terlalu membebaskan Raihan, padahal ia sudah melihatnya secara langsung seperti ini. Namun tatapan Zahra langsung berubah ketika melihat Aisyah yang berusaha terlihat baik-baik saja di depannya, padahal ia tahu jika Aisyah tengah berusaha keras untuk menahan gejolak di dadanya.
Zahra menatap Aisyah iba, "Ai, lebih baik kamu ke sana. Kak Raihan itu suami kamu, itu hak kamu buat negur dia kan?" pinta Zahra, ia tidak bisa melihat keadaan ini, apalagi Aisyah yang notabenenya adalah istri sah Raihan.
"Zahra. Aku nggak papa kok. Aku aja yang kurang baik untuk Mas Raihan. Aku nggak bisa ngelindungin diri aku sendiri, dan itu yang membuat Mas Rai marah. Semua ini salah aku, Zahra," ujar Aisyah menahan perasaannya sendiri.
"Aisyah! Itu bukan salah kamu! Itu bukan kemauan kamu. Dan seharusnya Kak Raihan mendengarkan penjelasan kamu dulu, bukannya malah lari sama perempuan lain kayak gini!"
Aisyah menunduk dalam, "Ini aku yang salah Zahra. Aku nggak bisa ja--"
Zahra memotong ucapan Aisyah, "Kamu nggak salah, Aisyah! Nggak ada satupun orang yang mau diposisi itu. Kamu jangan salahin diri kamu sendiri!" ucap Zahra menekankan.
Runtuh sudah pertahanan Aisyah, ia menarik Zahra ke dalam pelukannya. Ia menangis di pelukan gadis itu. Zahra sedikit terkejut, tapi dengan cepat ia menyesuaikan diri. Zahra masih menatap tajam pada dua orang yang sibuk berbincang di restoran itu. Ia benar-benar ingin marah, tapi ia bisa apa, di saat orang yang berkesangkutan malah memilih menutup mata dan memilih untuk menanggung semua rasa sakit ini sendiri.
Setelah cukup puas menangis, Aisyah menjauhkan dirinya dari Zahra. Ia mengusap air matanya, dan kini matanya sudah benar-benar memerah.
"Kita pulang ya? Kondisi kamu belum baik. Nanti aku nginep di rumah kamu, aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian di saat seperti ini," ujar Zahra sembari mengusap lembut Khimar Aisyah.
"Tapi aku nggak mau nyusah--"
"Kamu nggak nyusahin aku! Malah aku bakal marah kalau kamu tetep nggak mau terima bantuan kecil ini, Aisyah," pinta Zahra.
Aisyah menghembuskan napas untuk menenangkan diri, lalu ia menganggukkan kepalanya.
Zahra tersenyum puas, "Yuk! Pulang, pasti kamu udah masak kan tadi?" tanya Zahra mengalihkan pembicaraan. Mereka pun mulai melanjutkan perjalanan mereka.
Aisyah terkekeh kecil, "Iya, aku udah masak agak banyak tadi. Tapi tadi malah dikabarin kalau Lia sama Ratna nggak bisa datang. Aku pikir kalau Lia nggak datang, kamu juga nggak datang," ujar Aisyah.
"Ya udah, yuk habisin makanannya dulu. Terus kamu minum obat, terus tidur,"
Aisyah menatap Zahra dengan rasa terima kasih yang amat besar di dalam hatinya.
"Makasih Zahra,"
.
.
.
Raihan baru saja pulang dari rumah sakit pukul delapan malam. Ia sudah bersiap untuk kembali ke hotel, tapi karena sebuah panggilan, ia harus pergi ke restoran dulu untuk menemui si pemanggil itu.
Raihan mengedarkan pandangannya mencari Aletta, wanita yang terus menerornya beberapa hari ini. Hanya butuh waktu dua detik untuk ia menemukan Aletta yang duduk di balik jendela kaca hotel. Ia menghampiri Aletta.
"Ada apa lagi?" tanya Raihan dengan tatapan jengah. Sedangkan Aletta menoleh dengan tatapan bahagianya karena akhirnya si pujaan hati datang.
"Mendingan kamu duduk dulu deh. Nggak enak tau kalau ngobrol sambil berdiri," ujar Aletta, dan Raihan menurutinya saja agar cepat selesai. Ia benar-benar lelah hari ini, ditambah dengan beban pikirannya yang tak kunjung berkurang. Ia hanya ingin langsung istirahat dengan tenang.
"Ada apa Aletta? Aku nggak punya banyak waktu buat ngeladenin kamu," ujar Raihan tajam.
"Ih, dengerin dulu dong sa--" Raihan segera memotong ucapan Aletta, "Aletta!" peringat Raihan sebelum Aletta kembali melanjutkan ucapannya.
Aletta mencebik kesal, "Kenapa sih Rai? Lagian hubungan kamu sama si cewek teroris itu juga hampir kandas kan?"
Raihan menggenggam erat tangannya sendiri ketika mendengar ucapan Aletta. Ia benar-benar ingin melampiaskan kekesalannya akibat ucapan Aletta, namun sebisa mungkin ia menahannya. Ini tempat umum, dan alasan kedua adalah karena Aletta bukanlah tipe wanita yang bisa mengerti hanya dengan sekali penjelasan.
"Berhenti berulah Aletta!" ujar Raihan tajam.
"Emang apa salahnya dari ucapan aku? Bener kan, lagian si cewek sok suci itu juga nggak benar-benar baik kok. Penampilannya aja yang tertutup, tapi sebenarnya murahan," ujar Aletta sinis.
Raihan menghembuskan napas berat. Ia benar-benar menyesal sudah menceritakan semua masalahnya kepada mantan kekasihnya itu. Aletta benar-benar memanfaatkan keadaan dengan sangat baik.
"Kamu nggak berhak ngomong begitu tentang istri aku, Aletta!" peringat Raihan lagi.
Aletta memutar bola matanya malas, "Ya terserah kamu lah. Intinya cewek itu nggak lebih baik dari aku," ujar Aletta dengan percaya dirinya.
Raihan mengalihkan pandangannya jengah, "Kamu mau ngomong apasih? Aku capek Aletta,"
Dengan santainya Aletta menggelengkan kepala, "Emang aku butuh alasan ya buat hubungin kamu? Aku kangen tau sama kamu Rai, dua hari ini kamu nggak hubungin aku," ujar Aletta manja.
Raihan hanya menghela napas tanpa menanggapi ucapan Aletta.
"Oh ya, kata Dokter Andi besok kamu cuti kan, gimana kalau kita jalan-jalan?" ajak Aletta.
"Nggak bisa,"
"Oke, kalau gitu aku main ke kamar hotel kamu, gimana?" ancam Aletta.
Raihan berdecak, "Terserah kamu!"
"Yeay!"
Raihan menatap ke luar kaca restoran, ia sedikit menyipitkan matanya ketika melihat seseorang yang mirip dengan orang yang ia kenal.
"Aisyah?" tanya Raihan lirih.
"Apa kamu bilang?" tanya Aletta karena ia hanya mendengar samar ucapan Raihan.
Raihan langsung menatap Aisyah, "Bukan apa-apa," jawab Raihan.
Aletta mulai berbicara banyak pada Raihan. Sedangkan Raihan masih menatap Aisyah yang berada di seberang jalan dengan seorang wanita. Lalu mereka berpelukan. Jauh dalam lubuk hati Raihan, ia sangat ingin pergi menemui Aisyah, ia benar-benar merindukan gadis itu, merindukan masakannya, pertanyaan-pertanyaan yang Aisyah berikan, suara lembut Aisyah, ia merindukan semua tentang istrinya.
"Aisyah, aku rindu," ujar Raihan dalam hati.
.
.
.