Seperti dua Minggu belakang ini, Lia dan Zahra datang ke rumah Aisyah setelah selesai kuliah. Setelah Zahra menemani Aisyah semalaman waktu itu, kini mereka jadi lebih sering ke rumah Aisyah, takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ditambah dengan kondisi Aisyah yang semakin miris, tubuh Aisyah menjadi jauh lebih kurus dari sebelumnya, dan dia jadi lebih sering melamun sekarang. Dan yang lebih menyebalkan lagi, Aisyah tidak ingin pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kondisinya.
Hampir setiap hari Zahra dan Lia mengajak Aisyah untuk pergi ke rumah sakit, tapi Aisyah tetap kekeh menolak, dan mengatakan jika kondisinya baik-baik saja. Tentu saja Asiyah berbohong, bahkan anak kecil pun akan langsung tahu jika Aisyah tengah sakit.
Zahra berdecak sebal menatap Aisyah yang lagi-lagi terlihat melamun di depan layar tv yang menyala. Lia pun menoleh ketika mendengar suara decakan Zahra, lalu ia menatap Aisyah.
"Ai, kita ke rumah sakit ya? Liat tuh, badan kamu udah kurus banget ini. Suhu tubuh kamu juga naik turun terus, aku takut kamu kenapa-napa Ai," pinta Lia dengan suara lembut.
Aisyah menatap Lia dengan senyuman pura-pura yang selalu ia paksakan, dan berucap seperti biasanya, "Aku beneran nggak papa Li," Yah, seperti itulah Aisyah.
"Emang dog tuh Kak Raihan! Ke mana sih sebenarnya? Jadi orang dewasa tuh kalau ada masalah harusnya diselesaikan, bukan malah ngilang kayak gini!" geram Lia gemas dengan sikap kekanakan Raihan yang tak kunjung hilang sampai sekarang.
Aisyah menghembuskan napas berat, "Mas Raihan nggak salah Li. Aku yang salah, seharusnya aku bisa jaga di--"
"Stop nyalahin diri kamu sendiri Ai! Kamu nggak salah, emang bener kata Lia. Seharusnya kalau ada masalah itu dibicarakan baik-baik, bukan malah lari ke perempuan lain!" semprot Zahra.
Aisyah menundukkan kepalanya dalam. Mendengar kata 'perempuan lain' dari mulut Zahra membuat Aisyah kembali mengingat Aletta. Apa sekarang Raihan sedang bersama wanita itu? Apa mereka masih memiliki hubungan? Entahlah, Aisyah selalu sedih memikirkan semua ini. Karena ia tak kunjung mendapatkan jawabannya. Atau mungkin, sebenarnya Aisyah sudah tahu jawabannya, tapi ia menolak untuk mempercayainya.
"Perempuan lain?" tanya Lia bingung. Ya, Aisyah yang melarang Zahra memberitahu hal ini kepada siapapun, termasuk Lia.
"Maksudnya Kak Raihan main perempuan lain di belakang Aisyah? Bener Ra?" tanya Lia menuntut.
Zahra menatap Aisyah. Lagi, Aisyah kembali melamun dengan tatapan kosong.
"Bentar," ujar Zahra berbisik.
"Ai, kamu istirahat dulu nggak papa. Nanti aku pulang agak malem sama Lia," ujar Zahra membuyarkan lamunan Aisyah.
Aisyah menoleh sejenak, lalu ia menganggukkan kepalan, "Makasih ya kalian mau nemenin aku. Aku nggak tahu lagi harus gimana, kalian terlalu baik sama aku," ujar Aisyah dengan wajah sendu.
"Jangan gitu ih Ai. Kita nggak papa, lagian kamu nggak ngerepotin. Kita mah seneng-seneng aja, ya kan Ra?" ujar Lia membalas Aisyah.
Zahra mengusap lembut bahu Aisyah, "Iya Ai. Sekarang kamu istirahat ya? Kalau ada apa-apa, entah obat kamu habis, atau kamu berubah pikiran mau ke rumah sakit, kamu bisa telfon aku atau Lia, oke?"
Aisyah tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku ke atas dulu ya?" Aisyah bangkit, lalu berjalan ke belakang, lalu menaiki beberapa anak tangga yang akan membawanya ke kamar.
Setelah memastikan Aisyah masuk ke dalam kamar, Lia segera menatap tajam Aisyah, menuntut penjelasan.
"Maksud kamu tadi apa Ra? Nggak bener kan kalau Kak Raihan main wanita lain di belakang Aisyah?" tanya Lia, jujur saja, ia tidak ingin Zahra mengatakan jika itu benar. Karena ia tahu, itu pasti akan sangat menyakitkan untuk Aisyah.
Zahra menghembuskan napas pendek, "Gue juga nggak tau Li. Waktu itu pas gue nginep di rumah Aisyah. Sebelumnya gue ketemu Aisyah yang baru beli obat di apotek. Terus pas di jalan, kita liat kalau Kak Raihan lagi sama cewek itu di restoran, makan bareng," ujar Zahra menjelaskan.
Lia menatap Zahra dengan tatapan tidak percaya, "Seriusan Lo Ra! Gila apa tuh orang. Istrinya sakit gara-gara mikirin dia, tapi dianya malah enak-enak sama cewek lain," Lia geram kepada mantan kakak kelasnya itu. Bisa-bisanya wanita sebaik Aisyah dikhianati sampai seperti ini.
"Kan gue udah bilang, gue nggak tahu. Gue juga nggak bisa bilang kalau Kak Raihan sama tuh cewek masih ada hubungan. Gue yakin Aisyah juga pengen berpikir kayak gitu, tapi... gue yakin itu pasti sulit, apalagi kondisinya udah kayak gini," ujar Zahra iba. Ia benar-benar tidak menyangka Aisyah akan menikah dengan Raihan, dan ia juga lebih tidak menyangka lagi, orang yang dulunya sangat mencintai Aisyah, bisa menjadi seseorang yang yang begitu menyakiti Aisyah.
"Cewek itu? Maksud Lo Kak Aletta Ra?" tanya Lia.
"You know," jawab Zahra singkat.
"Masalahnya yang waktu itu kan Ra?" tanya Lia memastikan, dan Zahra menganggukkan kepalanya. Zahra bisa yakin akan hal itu karena setelah kejadian itu Raihan tidak pernah lagi menemui ataupun menghubungi Aisyah lagi. Bagiamana Zahra tahu? Tanpa diberitahu pun Zahra yakin, karena jika Raihan dan Aisyah bertemu, Aisyah tidak akan tetap bertahan di rumah ini, dan Raihan pasti sudah kembali ke rumah ini.
"Kak Raihan punya otak nggak sih sebenarnya?! Jelas-jelas itu bukan salah Aisyah! Itu juga bukan keinginan Aisyah kan? Kenapa malah dia yang marah? Seharusnya Aisyah yang marah, waktu itu Aisyah pergi juga gara-gara ngelihat Kak Raihan sama Aletta kan? Kenapa seolah-olah jadi Aisyah yang salah?" omel Lia kesal.
Zahra pun juga berpikir demikian. Seharusnya Raihan bertanya dulu kejelasannya, bukan malah pergi seperti ini. Tapi, ia juga yakin, selama ini Raihan pasti juga tidak tenang dengan masalah ini.
"Kalau sampai gue sendiri yang mergokin Kak Raihan sama Aletta...."
Zahra mengernyit kecil, "Kenapa?" tanya Zahra.
"Gue bakal tampar wajahnya saat itu juga!" Lia menatap tajam ke depan, "itu nadzar gue!" lanjut Lia lagi.
.
.
.
Aisyah masih belum tidur, walaupun tadi ia sudah mengatakan akan istirahat pada Lia dan Zahra, namun nyatanya sampai sekarang matanya masih terbuka, bahkan setelah Lia dan Zahra benar-benar keluar dari rumah besar ini.
For Your Information, Zahra memiliki satu kunci cadangan pintu utama. Itu Zahra yang meminta, karena sewaktu-waktu ia akan datang ataupun pulang malam seperti malam ini. Dan Aisyah pun menyetujuinya, karena ia yakin Zahra pasti dapat dipercaya.
Setelah Zahra dan Lia pulang, Zahra mengambil air wudhu, lalu mengaji. Setidaknya lembaran suci itu bisa sedikit mengurangi rasa gundah di dadanya. Setelah satu jam berlalu, Aisyah menyudahi mengajinya. Ia menaruh mukena-nya di tempatnya semula, lalu ia duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang
Flashback on
"Humaira, pertanyaan ke delapan,"
Aisyah menoleh menatap Raihan, "Apa kak?"
Raihan terlihat gugup, ia menatap Aisyah, lalu mengalihkan pandangannya, ia melakukannya beberapa kali sampai membuat kening Aisyah bertaut bingung.
"Ada apa kak?" tanya Aisyah lagi.
"A--apa kamu bakal suka sama aku di masa depan nanti?" tanya Raihan ragu.
Aisyah tersipu dengan pertanyaan Raihan, "Kok Kak Rai nanya begituan sih?"
Raihan mencebik kesal, "Ya kan aku cuma memastikan. Nanti kalau aku lamar kamu, kamu pasti mau kan? Kamu pasti mau jadi istri aku kan?"
Dan pertanyaan-pertanyaan itu berhasil membuat pipi Aisyah menjadi semerah tomat. Aisyah mengalihkan pandangannya dari Raihan, menutupi wajahnya yang sudah merah padam karena pertanyaan aneh Raihan.
"Ih Kak Rai, kan kita masih SMP. Jadi, ya aku nggak tau lah,"
Raihan menundukkan kepalanya lesu, "Loh, kok gitu sih? Kan waktu itu kamu bilang kamu bakal terus cinta sama aku Ra,"
Aisyah mendelik dengan ucapan Raihan, "Sejak kapan aku bilang begitu kak?"
Raihan terkekeh kecil, "Hehe, itu karangan aku aja sih. Tapi semoga jadi kenyataan,"
Flashback of
Tanpa sadar setetes air mata keluar dari sudut mata Aisyah, Aisyah mengusapnya, ia tersenyum tipis ketika mengingat masa lalu itu.
"Iya Mas, ucapan kamu waktu itu benar. Aku masih tetep cinta sama kamu," ujar Aisyah lirih, seolah ia tengah menjawab pertanyaan Raihan waktu itu.
Aisyah mengambil bantal, ia kembali menangis dan menutupi wajahnya dengan bantal, berusaha meredam suara tangisannya. Lagi-lagi hatinya terasa sakit ketika mengingat hubungannya dengan Raihan yang seperti ini.
Aisyah memang berharap agar ia bisa menikah dengan Raihan, pria yang sangat ia cintai selama ini. Tapi, ia juga tidak menyangka semuanya akan terasa sesulit ini. Ikatan pernikahan seharusnya membuat hubungannya dengan Raihan semakin dekat, tetapi yang Aisyah rasakan justru karena ikatan ini ia menjadi semakin jauh dari Raihan.
Suara notifikasi dari ponsel membuat Aisyah menjauhkan wajahnya dari bantalnya. Ia mengusap wajah sembabnya, lalu meraih benda persegi panjang itu dari atas nakas.
Aisyah membuka layar kunci ponselnya. Ada notifikasi dari salah satu aplikasi sosial media miliknya. Aisyah membukanya, itu dari akun butik-nya. Aisyah memulainya dari online terlebih dahulu, jika di masa depan bisnisnya ini bisa berhasil, mungkin ia akan memikirkan tempat untuk membuka butiknya sendiri.
Ratna sudah menyelesaikan tiga model pakaian rancangan Aisyah. Dan Aisyah sudah mempostingnya di akun khusus untuk usahanya ini. Ya, walaupun belum terlalu banyak orang yang melihatnya, tapi Aisyah berusaha sebaik mungkin untuk mempromosikannya, entah kepada keluarga, maupun teman-temannya. Bahkan Aisyah juga membuka toko online di beberapa aplikasi. Ya, dengan harapan agar pakaiannya cepat laku.
Aisyah membuka akun pribadinya. Ya, Aisyah juga punya satu akun pribadi sosial media miliknya. Sudah dari kuliah ia memilikinya, itupun terpaksa karena dulu ada seorang dosen yang menyuruhnya untuk membuat video tugas yang mengharuskannya untuk mempostingnya di sana.
Sebuah saran terlihat, dari nama akunnya sepertinya Aisyah tahu siapa orang itu. Aisyah mengklik akun dengan nama Raihan_afnan.nasir itu. Jelas, itu pasti milik Raihan. Aisyah yakin sekali akan hal itu.
Benar, itu milik Raihan. Hampir tidak ada foto Raihan, hanya foto tentang medis dan kedokteran saja. Ada satu foto Raihan, itupun bersama Aza dan ayah Irsyad. Aisyah tersenyum tipis, hatinya merasa senang ketika melihat foto itu. Raihan tersenyum menatap kamera.
"Tampan," ujar Aisyah tanpa sadar. Ia mengusap foto itu, tepatnya pada foto Raihan, rasa rindunya sedikit reda ketika melihat senyuman Raihan, walaupun senyuman itu sangat tipis, tapi itu terlihat sangat berharga untuk Aisyah.
Aisyah kembali menggulirnya ke atas, ia sedikit terkejut ketika melihat pengikut akun Raihan sampai puluhan ribu, dan kebanyakan dari pengikut Raihan adalah wanita.
"Pasti Mas Rai terkenal banget di kampus," gumam Aisyah.
Hanya ada beberapa akun yang Raihan ikuti. Matanya terpatri pada sebuah akun yang berhasil menarik perhatiannya. Ragu-ragu Aisyah menekan akun itu.
Ponsel Aisyah langsung jatuh dari tangannya. Jantungnya berpacu cepat ketika melihat sebuah foto yang dipublikasikan oleh akun itu. Dengan tangan bergetar Aisyah mengambil kembali ponselnya,
Itu, foto Raihan dan Aletta.
.
.
.
Raihan hendak masuk ke dalam apartemen-nya. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang memegang bahunya, dan otomatis Raihan menoleh untuk memastikan siapa orang itu.
"Reza?" Ya, itu Reza, sahabat sekaligus anak dari pemilik rumah sakit tempat kerja Raihan.
"Lo ke apartemen siapa?" tanya Reza dengan tatapan menyelidik.
Raihan menatap Reza penuh tanya, "Ngapain Lo ke sini?" tanya Raihan.
Reza berdecih, "Seharusnya gue yang tanya! Ngapain Lo ke sini? Ini apartemen Aletta kan? Jangan bilang kalau lo--"
"Shut up, Reza! Nggak usah mikir aneh-aneh!" kecam Raihan tidak suka dengan pemikiran Reza.
"Lah iya, makanya gue tanya. Supaya gue nggak berpikiran yang enggak-enggak. Gue tanya lagi, ngapain Lo di sini Raihan?" tanya Reza mengulangi pertanyaannya.
"Lo lupa, gue juga punya rumah di sini," ujar Raihan dingin. Ia masih kesal dengan tuduhan yang Reza berikan.
"Oh iya, apart Lo sebelahan kan sama apart Aletta?"
Raihan mendelik tajam, "Iya, iya. Beda lantai, sensi amat mas," ujar Reza lagi.
Raihan memutar bola matanya malas.
"Terus ngapain Lo ke apartemen? Nggak pulang?"
"Ngapain Lo banyak tanya sih?" sindir Raihan.
Reza mendesis kecil, "Lo mau ke mana? Mau cari makan kan? Kuy sama gue," ujar Reza mengalihkan pembicaraan. Ia memasukkan ponselnya ke dalam jas.
Satu alis Raihan terangkat, "Lo ngapain ke sini?"
Reza kembali menoleh, "Mutusin Lidya," ujar Reza santai.
Raihan kembali memutar bola matanya malas, sahabatnya ini tidak pernah berubah. Sejak MTs Reza benar-benar hobi mengoleksi mantan, bahkan sudah terhitung 87 mantan Reza, itupun yang Raihan tahu, ditambah dengan Lidya, berarti sudah ada 88 mantan Reza yang ia ketahui. Sebut saja Raihan kurang kegiatan karena menghitung jumlah mantan Reza, karena hal itu memanglah benar.
Akhirnya Reza dan Raihan pergi ke sebuah restoran dekat bangunan apartemen itu. Seorang pelayan datang membawakan buku menu untuk mereka,
"Nasi tumis kangkung udang. Sama teh hangat," ujar Raihan membacakan pesanannya.
"Chicken katsu tambah nasi. Minumnya coklat panas sama orange juice," ujar Reza.
Pelayan itu menuliskan pesanan Reza dan Raihan, "Nasi tumis kangkung udang, minumnya teh hangat. Chicken katsu plus nasi, minumnya coklat panas dan orange juice. Mohon ditunggu" ujar pelayan itu mengulang pesanan, lalu pergi dari sana.
"Capek banget gue sama Lidya, nafsuan jadi cewek. Geli gue," ujar Reza membuat Raihan kembali memutar bola matanya jengah.
"Kapan nikah?" tanya Raihan.
Reza mendelik tidak percaya dengan pertanyaan yang Raihan berikan, "Mentang-mentang udah nikah aja nanyain beginian. Risih gue dengernya," ujar Reza kesal. Hampir setiap hari Reza mendengarkan pertanyaan itu, entah dari orang tua, saudara, kerabat, sampai teman-temannya, apalagi setelah Raihan menikah. Reza benar-benar muak mendengarnya.
"Daripada Lo gonta-ganti cewek nggak jelas. Hati-hati, Aids," ujar Raihan memperingatkan.
Reza merinding mendengar ucapan Raihan, "Enak aja Lo. Gue pilih-pilih kali kalau masalah begituan, harus higienis gue mah," ujar Reza membela diri.
"Terserah,"
Tak lama kemudian pesanan datang. Mereka diam, Raihan tidak pernah memperbolehkan Reza membuka suara ketika sedang makan. Bukan cuma Reza, tapi hampir semua orang yang makan dengannya, karena selain mengganggu, itu juga tidak baik untuk tubuh. Beberapa menit kemudian mereka telah menghabiskan makanan mereka.
"Eh, jangan pergi dulu elah. Lo belum jawab pertanyaan gue tadi," ujar Reza menahan Raihan yang hendak pergi.
Raihan mengernyitkan keningnya, "Apa lagi?"
"Lo ngapain ke apartemen? Ke--"
Dengan malas Raihan memotong ucapan Reza, "Kan gue udah bilang, kalau gue punya rumah di apartemen," jawab Raihan jengah.
Reza berdecak kesal, "Buka itu maksud gue,"
"Terus apa?" tanya Raihan.
Reza menatap Raihan dengan tatapan serius, dan itu membuat Raihan bingung, "Lo ngapain ke apartemen, kenapa nggak pulang ke rumah?" tanya Reza memperjelas pertanyaannya.
Raihan terkejut dengan pertanyaan Reza namun ia tetap mempertahankan ekspresi datarnya.
"Emang gue nggak boleh ke apartemen, lagian Deket juga dari rumah sakit," ujar Raihan mencari alasan.
Barulah Reza paham, "Ohh, bener juga sih. Ngapain juga Lo kabur dari rumah, punya istri cantik kek Aisyah-eh, Humaira maksud gue," ujar Reza ambigu. Membuat Raihan menatapnya tajam.
"Kok Lo tau? Lo pernah liat wajah Aisyah?" tanya Raihan. Karena setahunya Aisyah sudah memakai nikab sejak lulus SMA, itupun karena ayahnya yang memberitahunya. Lalu, bagaimana Raihan bisa tahu wajah istrinya?
"Udah lama sih. Tapi ya waktu SMP aja dia udah cantik, apalagi sekarang, ya kan?" Reza menaik-turunkan alisnya menggoda Raihan.
Sedangkan Raihan malah terdiam, ia tidak paham dengan arah pembicaraan Reza.
"Lo pernah satu sekolah sama Aisyah?" tanya Raihan bingung.
Reza mengerjapkan matanya beberapa kali, "Lah. Lo nggak inget?" tanya Reza terkejut.
"Inget apaan?"
Reza membuka mulut tidak percaya, "Seriusan Lo nggak inget sama Aisyah Rai? Bukan! Bukan! Humaira deh, Lo nggak inget juga?" tanya Reza. Namun Raihan tetap menggelengkan kepalanya tidak tahu.
"Gila! Sumpah Rai Lo nggak inget?"
"Nggak Reza! Emang ada apaan sih?" tanya Raihan. Awalnya Reza berpikir kalau Raihan hanya bercanda. Tapi, ketika melihat Raihan yang terlihat seperti orang linglung membuatnya percaya jika Raihan benar-benar tidak tahu akan ucapannya.
"Terus Lo ngapain nikahin Aisyah? Gue pikir Lo nikahin dia gara-gara tahu kalau dia cewek itu," terka Reza.
Raihan berdecak sebal. Sebenarnya apa maksud Reza ia benar-benar tidak tahu dan tidak paham maksud ucapan sahabatnya itu.
"Gue dijodohin. Gue udah pernah bilang kan?" ujar Raihan.
"Tapi kan Lo milih sendiri Rai. Jadi ya, gue pikir Lo sengaja milih Aisyah," ujar Reza yang masih terlihat tidak percaya dengan ketidaktahuan Raihan tentang Aisyah.
"CK! Sebenarnya kenapa sih?"
Reza tersenyum miring, "Aisyah...."
Raihan diam, menunggu kelanjutan ucapan Reza.
"First love Lo!"
.
.
.