Raihan masih termenung di atas tempat tidurnya. Dengan tatapan lurus ke depan, ia kembali mengingat ucapan Reza kepadanya ketika makan malam tadi.
Flashback on
"Aisyah...."
"First love Lo!"
Mata Raihan langsung terbuka lebar menatap Reza dengan tatapan sulit diartikan.
"Ma--maksud Lo?"
"Gila! Lo lupa Rai? Gue aja sekali liat langsung tahu kalau itu Aisyah!" ujar Reza memprovokasi
Sedangkan Reza malah semakin terkejut ketika melihat ekspresi Raihan. Ia tidak salah dengar kan?
"Dia, cewek yang buat Lo berubah! Inget! Lo pernah diemin gue sebulan gara-gara tuh cewek!" Reza mengacak rambutnya, "sumpah! Lo lupa Rai?"
Melihat Raihan yang terlihat seperti orang linglung membuat Reza geram sendiri, "Nama istri Lo siapa deh?"
Raihan terdiam sejenak, berusaha mengingat nama istrinya, "Humaira..."
"Aisyah Nafiza? Sekarang inget?" sahut Reza.
Flashback of
Dan sekarang Raihan benar-benar mengingatnya. Aisyah, ralat, tapi Humaira Aisyah Nafiza, gadis yang sering ia panggil Humaira. Gadis yang sudah membuatnya dekat dengan Sang Ilahi, gadis yang merupakan alasan utamanya untuk berubah selama ini, gadis yang memotivasinya untuk menjadi seorang dokter. Dan dia adalah Aisyah? Istrinya?
Deg!
Raihan mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ia baru menyadarinya sekarang? Sungguh! Raihan menepuk kepalanya pening.
"Kak Rai?" "Mas Rai?" Panggilan lembut dari sosok Humaira yang ia kenal kembali menyeruak masuk ke dalam kepalanya, bersahutan dengan panggilan dari Aisyah dengan suara lembut yang sekilas terdengar sama.
"Bodoh!"
Bagaimana ia bisa se-telat ini menyadarinya? Bahkan suara dan wajahnya benar-benar mirip. Apalagi namanya? Bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting itu?
Raihan menghembuskan napas panjang.
"Ya Allah. Hamba janji, jika Aisyah jodoh hamba. Hamba akan menjaga, melindungi, dan mencintainya setulus hati," Seketika Raihan mengingat do'a yang pernah ia ucapkan ketika dirinya menyadari kalau ia telah mencintai Aisyah.
Namun, apa yang ia lakukan sekarang. Berkali-kali ia menyakiti Aisyah, membuat air mata kecewa turun dari mata indahnya. Semua janji yang ia ucapkan dulu seolah bersautan di kepalanya, mengomelinya habis-habisan karena ia sudah melupakan semua janji yang ia ucapkan di masa lalu.
"Apa cuma pakaian kamu aja yang tertutup Aisyah?"
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kamu, Aisyah,"
"Aku pergi, jangan cari aku. Jangan coba datang ke rumah sakit buat cari aku. Instrospeksi diri!"
Kalimat terakhir yang ia ucapkan di rumah sakit kala itu seolah menjadi Boomerang untuknya. Raihan kembali memukul kepalanya keras. Hingga tanpa sadar air matanya menetes karena rasa bersalah.
"Aisyah...maaf,"
Raihan tidak bisa tidur nyenyak semalaman, ia baru bisa tidur setelah sholat subuh, itupun cuma dalam waktu 1 jam saja. Karena ia harus segera pergi ke rumah sakit pagi ini. Raihan segera bersiap dan keluar dari apartemennya.
Ya, mulai kemarin Raihan pindah ke apartemen. Karena keuangannya akan semakin membengkak jika ia terus menerus tinggal di hotel. Lagipula apartemen ini juga dekat dari rumah sakit tempatnya kerja. Juga...dekat dari rumahnya dan Aisyah.
Huft! Raihan terus kepikiran mengenai Aisyah sejak semalam. Perasaan bersalah semakin besar dari dalam dadanya kepada gadis itu. Aisyah selalu baik kepadanya, dia selalu pengertian mengenai pekerjaannya. Sedangkan dirinya? Bahkan selama ini Raihan belum bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dengan baik.
Raihan masuk ke dalam lift. Baru turun satu lantai, pintu lift kembali terbuka.
"Hai Rai!"
Raihan berdecak sebal ketika melihat Aletta muncul setelah pintu lift terbuka. Dengan wajah girangnya Aletta masuk ke dalam lift bersama Raihan. Lalu tak lama setelahnya ada seorang ibu-ibu dan anak gadisnya juga masuk ke dalam.
"Rai, kamu masih marah gara-gara waktu itu?" tanya Aletta dengan suara manjanya.
Raihan melirik Aletta sinis. Untuk apa Aletta membicarakan hal ini di depan orang lain?
"Rai, udah dong marahannya," Raihan tetap diam.
Aletta tersenyum, seolah menemukan ide agar Raihan mau memaafkan kesalahannya. Ia melangkah pelan mendekati ibu-ibu itu.
"Ibu, tuh liat. Pacar saya marah, dia diemin saya dari semalam," Raihan mendelik tajam dengan ucapan Aletta.
Sedangkan ibu-ibu itu terlihat terkejut karena ucapan wanita tak dikenalnya ini, "Kalian masih pacaran? Tinggal bareng gitu?" tanya ibu itu julid.
Aletta meneguk ludahnya sendiri, kenapa jadi ibu itu yang marah kepadanya?
"Eh ya ampun. Kita itu udah nikah dua hari yang lalu, maklum saya gampang lupa Buk," ujar Aletta membenahi ucapannya.
Namun malah membuat Raihan semakin menatap tajam wanita itu, ingin sekali dirinya memarahi Aletta, tapi tidak mungkin. Apalagi setelah ucapan sembrononya itu.
Ibu itu menoleh ke belakang, menatap Raihan yang hanya menatap dingin ke depan. Ibu itu terpana beberapa saat ketika melihat wajah tampan Raihan.
Lalu ibu itu menatap penampilan Aletta, "Oalah udah nikah. Baru dua hari aja udah marahan. Masnya juga cuma diem aja, pasti mbaknya kan yang salah? Lagian kalau udah berumah tangga itu seharusnya masalahnya harus ditutup rapat-rapat mbak. Apalagi mbak seorang istri, nggak baik kalau masalah keluarga diumbar seperti ini," ujar Ibu itu yang malah semakin sewot pada Aletta.
Aletta menggertakkan gigi kesal. Kenapa jadi dirinya yang kena? Aletta menghentakkan kakinya kesal setelah ibu itu keluar dari lift. Lalu disusul Raihan yang juga ikut keluar.
Aletta menatap Raihan dengan tatapan tidak percaya. Aletta menghembuskan napas panjang, lalu berjalan mengikuti Raihan dari belakang. Aletta berjalan sedikit cepat untuk menyamakan langkahnya dengan Raihan.
"Rai! Kok kamu diem aja sih? Tuh ibu-ibu ngeselin banget tau nggak sih?!" ujar Aletta kesal.
"Aku paling benci kamu bohong kayak tadi Aletta!" ujar Raihan tanpa memelankan laju langkahnya.
Aletta hanya mencebik kesal, "Lagian salah kamu nikah sama si cewek murahan itu. Gayanya doang tertutup-tertutup, tapi murahan. Kan harusnya kamu nikah sama aku!"
Langkah Raihan langsung terhenti.
Bruk!
"Aw!" pekik Aletta ketika kepalanya menabrak seseorang di depannya, Raihan.
"Kamu kenapa berhenti mendadak sih?" geram Aletta sembari mengusap keningnya yang sakit karena bertubrukan dengan punggung keras Raihan.
Raihan menolehkan kepalanya tajam, "Kamu ngomong buruk tentang istri aku sekali lagi aja. Aku nggak bakal mau ngomong sama kamu!" ujar Raihan dengan suara tajam menekankan. Lalu ia berjalan meninggalkan Aletta yang termenung dengan peringatan Raihan.
Sedangkan Aletta masih terdiam di tempatnya sembari menatap kepergian Raihan. Bulu kuduknya berhasil dibuat berdiri karena ucapan Raihan.
Raihan masuk ke dalam mobilnya, lalu menutup pintunya kasar. Ia benar-benar muak dengan Aletta, wanita itu semakin seenaknya sendiri tentangnya. Ia benar-benar akan mengakhiri hubungannya dengan Aletta hari ini. Tapi tidak sekarang, ia masih harus bekerja. Raihan malajukan mobilnya, pandangannya langsung teralih pada seorang wanita yang berjalan berjalan berlawanan arah dengan mobilnya.
"Aisyah..."
.
.
.