Anya membanting freezer dengan keras ketika tak menemukan apa yang ia cari di dalamnya. Saking kesalnya, ia bahkan mencak-mencak satu per satu anak tangga tanpa menghiraukan panggilan mamanya. Setelah sampai di kamar yang pintunya tertempel kertas HVS bertuliskan “Arga ganteng”, Anya membuka knop tak santai tanpa permisi. Membuat pemuda yang semula asik menatap layar ponsel dengan tengkurap kini menghela napas pelan.
"Abang yang udah ambil es krim Anya di freezer, 'kan?” tanya Anya setengah menjerit. Gadis itu berkacak pinggang sebal.
“Kalau iya emangnya kenapa?” jawab pemuda itu santai.
Anya kontan melompat ke atas kasur dan langsung menduduki tubuh kakaknya itu. “Abang harus ganti es krim Anya! Itu persediaan Anya buat nonton drakor, ngerti enggak?”
“Tubuh lo berat, Nya. Turun dulu!”
Bukannya turun, Anya justru melompat-melompat tanpa bersalah. Hal tersebut jelas membuat pemuda itu mengaduh berkali-kali. “Sakit, Nya!”
“Abanv harus ganti es krim gue! Enggak mau tahu! Pokoknya Abang harus ganti es krim Anya!”
“Ogah!”
Mendapat penolakan itu, Anya langsung menjambak rambut dan memukul punggung kakaknya dengan brutal.
“Sakit woi! Lo mau bunuh Abang lo sendiri?”
“Selagi Abang belum ganti es krim Anya! Anya enggak akan mau turun dari sini!” ancam Anya.
“Lagian kalau lo makan es krim terus, pipi lo bakal makin gembul. Apa lo mau?”
“Abang kan tahu, Anya enggak peduli sama penampilan. Jadi lo salah orang kalau mau nakut-nakutin dengan gaya kayak gitu.”
“Makanya jomblo, penampilan diri sendiri aja enggak lo rawat.”
“Anya malah mau meruqyah Kak Agatha yang ternyata suka sama makhluk gila kayak Abang!”
“Gila jangan teriak gila.”
Anya mencebik lagi. Berurusan dengan abangnya ini tak akan ada habisnya. Arga selalu punya seribu kalimat untuk melawan perkataannya.
Arga dan Anya adalah saudara tetapi berasa musuh bebuyutan. Umur mereka hanya berjarak dua tahun. Mereka sering sekali membuat seisi rumah geleng-geleng kepala karena saking seringnya bertengkar. Bahkan sesuatu yang kecil bisa menjadi sangat besar jika mereka yang memperebutkan. Keduanya sama-sama keras kepala, tidak mau mengalah dan gengsian.
Namun, di balik semua itu, saudara tetaplah menjadi persinggahan ternyaman saat orang asing menyakiti. Begitulah yang terjadi pada keduanya. Arga memang menyebalkan dan selalu membuat Anya kesal, tetapi Arga adalah kakak terbaik untuk Anya. Pemuda itu selalu bisa memposisikan diri sebagai sosok terhebat di hati adiknya.
“Astagfirullah. Kalian berdua memang enggak pernah bisa akur sebentar, ya. Baru juga pulang sekolah, udah pada berantem aja,” ucap wanita berumur empat puluh tahunan itu saat pertama kali masuk kamar Arga. Beliau tampak menggeleng takjub, menatap keduanya.
“Bangun dari tubuh Abangmu, Nya. Kasihan Abangmu kesakitan gitu.”
Anya mendengus kasar ketika Mama menggapai pergelangan tangannya dan mengajak dirinya untuk turun. Gadis itu tentu tidak menolak, karena bagaimana pun, prinsip sopan harus ia pegang teguh. Rasanya seperti anak kurang ajar jika menyentak tangan Mama.
Arga akhirnya bisa bernapas lega, lalu mendudukkan dirinya dengan tegak. “Mama ngidam apa sih pas hamil Anya? Sampai enggak bisa jadi gadis feminim kayak yang lain.”
Mendengar ejekan tersebut, Anya hendak memukul kepala kakaknya, tetapi lagi-lagi tertahan oleh tangan Bunda.
“Udah, Nya. Enggak sopan ah sama Abang sendiri galak gitu.”
“Tuh, dengerin. Enggak sopan,” ulang Arga dengan menekan setiap suku katanya.
“Masalahnya Bang Arga udah ngambil es krim Anya dari freezer, Ma. Kan itu juga namanya dosa.”
Mendengar rengekan Anya, Arga kontan memutar bola matanya malas.
“Arga, kamu juga. Jangan ngambil sesuatu yang bukan milikmu. Enggak baik. Dosa.”
Kini giliran Anya yang menjulurkan lidahnya ke arah Arga. Seakan puas karena mendapat pembelaan dari Mama.
“Pokoknya Bang Arga harus ganti es krim Anya. Titik. Kalau enggak, gue sumpahin lo putus sama Kak Agatha.”
Arga mendelik, rasanya ingin sekali menyumpah serapahi adiknya. Namun, ingat masih ada Mama di sana, Arga mengatupkan bibir kembali.
“Sudah. Sekarang Anya kamu balik kamar! Dan kamu Ar, kamu harus mengganti es krim adikmu.”
“Bang Arga Putra Akbar, jangan lupa, ya. Gue tunggu malam ini di kamar,” ucap Anya sebelum berlari ke luar kamar.
***
Anya memasukkan semua barang yang menurutnya berguna untuk dibawa di PTA Dika (Penerimaan Tamu Ambalan Diponegoro Kartini). Besok adalah hari di mana PTA pertama dilaksanakan. Jika bukan karena embel-embel wajib untuk SIBA atau Siswa Baru, Anya adalah orang pertama yang akan memilih rebahan cantik di kasur dengan beberapa drakor dan camilannya daripada harus mengikuti kegiatan pramuka yang katanya tidak takut kotor itu hingga sering bermain lumpur.
“Lo mau kemah apa pindahan rumah, banyak banget bawaannya.” Arga mendadak masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Abang kalau ke kamar Anya, bisa enggak untuk ketuk pintu dulu?”
“Lo ke kamar gue enggak pernah ketuk pintu.”
“Anya kan perempuan, Bang.”
“Gue juga tahu.”
“Udah ah, males gue ribut sama Abang lagi. Nanti ujung-ujungnya Mama ngomel kayak tadi sore.”
“Siapa juga yang nyuruh lo bertengkar sama gue. Gue juga males kali.”
“Es krim gue mana?” tanya Anya, lantas mengalihkan pandangan ke Arga yang duduk di bibir kasurnya.
“Nih, buat lo. Semoga diabetes deh.”
Walau sempat menatap Arga geram karena mendoakan hal buruk sekali padanya, raut muka binar langsung memenuhi ekspresi gadis itu ketika mengetahui isi dari kantong plastik yang Arga sodorkan tadi.
“Serius ini buat Anya semua?” tanya Anya yang masih membagi tatapan antara kakaknya dan kantong plastik.
Di dalam benda berwarna putih itu, ada 2 es krim cokelat dengan merk yang sama dan satu cokelat batang Silverqueen.
“Jatah tabungan gue seminggu tuh buat beliin lo kayak begituan,” ujar Arga dengan senyum merekah. Meski isi kantong celananya berkurang, ia senang melihat pancaran kebahagiaan dari Anya. “Childish lo enggak pernah hilang ya. Heran gue.”
Tak lagi memedulikan sindiran Arga, gadis itu segera bangkit dari lantai dan memeluk kakaknya dengan erat. “Abang memang selalu baik sama gue. Kalau gini gantinya, rela mah kalau es krim Anya dicolong mulu.”
Arga menjitak pelan kepala Anya, tetapi selanjutnya mengusap kepala itu lembut.
“Lo emang Kakak terbaik. Walaupun kadang nyebelin.”
“Daripada kalau lo ngambek suka nyubitin perut gue. Mending gue sogok aja pakai cokelat.”
“Dua hari Anya kemah. Jangan kangen sama Anya, ya.”
Anya kembali ke posisi semula lantas membuka es krimnya dengan antusias.
“Justru gue bakal seneng karena enggak akan ada yang ganggu gue lagi.”
Tbc.